KETUBAN PECAH DINI (KPD)

Definisi

Ketuban pecah dini (KPD) didefinisikan sebagai pecahnya ketuban sebelum waktunya melahirkan. Hal ini dapat terjadi pada akhir kehamilan maupun jauh sebelum waktunya melahirkan. KPD preterm adalah KPD sebelum usia kehamilan 37 minggu. KPD yang memanjang adalah KPD yang terjadi lebih dari 12 jam sebelum waktunya melahirkan.

Kejadian KPD berkisar 5-10% dari semua kelahiran, dan KPD preterm terjadi 1% dari semua kehamilan. 70% kasus KPD terjadi pada kehamilan cukup bulan. KPD merupakan penyebab kelahiran prematur sebanyak 30%.

Gambar 1. Ketuban Pecah

Penyebab

Pada sebagian besar kasus, penyebabnya belum ditemukan. Faktor yang disebutkan memiliki kaitan dengan KPD yaitu riwayat kelahiran prematur, merokok, dan perdarahan selama kehamilan. Beberapa faktor risiko dari KPD :

  1. Inkompetensi serviks (leher rahim)
  2. Polihidramnion (cairan ketuban berlebih)
  3. Riwayat KPD sebelumya
  4. Kelainan atau kerusakan selaput ketuban
  5. Kehamilan kembar
  6. Trauma
  7. Serviks (leher rahim) yang pendek (<25mm) pada usia kehamilan 23 minggu
  8. Infeksi pada kehamilan seperti bakterial vaginosis

Gambar 2. Inkompetensi leher Rahim

Tanda dan Gejala

Tanda yang terjadi adalah keluarnya cairan ketuban merembes melalui vagina. Aroma air ketuban berbau manis dan tidak seperti bau amoniak, mungkin cairan tersebut masih merembes atau menetes, dengan ciri pucat dan bergaris warna darah. Cairan ini tidak akan berhenti atau kering karena terus diproduksi sampai kelahiran. Tetapi bila Anda duduk atau berdiri, kepala janin yang sudah terletak di bawah biasanya “mengganjal” atau “menyumbat” kebocoran untuk sementara.

Demam, bercak vagina yang banyak, nyeri perut, denyut jantung janin bertambah cepat merupakan tanda-tanda infeksi yang terjadi.

Penanganan Ketuban Pecah di Rumah

  1. Apabila terdapat rembesan atau aliran cairan dari vagina, segera hubungi dokter atau petugas kesehatan dan bersiaplah untuk ke Rumah Sakit
  2. Gunakan pembalut wanita (jangan tampon) untuk penyerapan air yang keluar
  3. Daerah vagina sebaiknya sebersih mungkin untuk mencegah infeksi, jangan berhubungan seksual atau mandi berendam
  4. Selalu membersihkan dari arah depan ke belakang untuk menghindari infeksi dari dubur
  5. Jangan coba melakukan pemeriksaan dalam sendiri

Terapi

Apabila terjadi pecah ketuban, maka segeralah pergi ke rumah sakit. Dokter kandungan akan mendiskusikan rencana terapi yang akan dilakukan, dan hal tersebut tergantung dari berapa usia kehamilan dan tanda-tanda infeksi yang terjadi. Risiko kelahiran bayi prematur adalah risiko terbesar kedua setelah infeksi akibat ketuban pecah dini. Pemeriksaan mengenai kematangan dari paru janin sebaiknya dilakukan terutama pada usia kehamilan 32-34 minggu. Hasil akhir dari kemampuan janin untuk hidup sangat menentukan langkah yang akan diambil.

Kontraksi akan terjadi dalam waktu 24 jam setelah ketuban pecah apabila kehamilan sudah memasuki fase akhir. Semakin dini ketuban pecah terjadi maka semakin lama jarak antara ketuban pecah dengan kontraksi. Jika tanggal persalinan sebenarnya belum tiba, dokter biasanya akan menginduksi persalinan dengan pemberian oksitosin (perangsang kontraksi) dalam 6 hingga 24 jam setelah pecahnya ketuban. Tetapi jika memang sudah masuk tanggal persalinan dokter tak akan menunggu selama itu untuk memberi induksi pada ibu, karena menunda induksi bisa meningkatkan resiko infeksi.

Apabila paru bayi belum matang dan tidak terdapat infeksi setelah kejadian KPD, maka istirahat dan penundaan kelahiran (bila belum waktunya melahirkan) menggunakan magnesium sulfat dan obat tokolitik. Apabila paru janin sudah matang atau terdapat infeksi setelah kejadian KPD, maka induksi untuk melahirkan mungkin diperlukan.

Penggunaan steroid untuk pematangan paru janin masih merupakan kontroversi dalam KPD. Penelitan terbaru menemukan keuntungan serta tidak adanya risiko peningkatan terjadinya infeksi pada ibu dan janin. Steroid berguna untuk mematangkan paru janin, mengurangi risiko sindrom distress pernapasan pada janin, serta perdarahan pada otak.

Penggunaan antibiotik pada kasus KPD memiliki 2 alasan. Yang pertama adalah penggunaan antibiotik untuk mencegah infeksi setelah kejadian KPD preterm. Dan yang kedua adalah berdasarkan hipotesis bahwa KPD dapat disebabkan oleh infeksi dan sebaliknya KPD preterm dapat menyebabkan infeksi. Keuntungan didapatkan pada wanita hamil dengan KPD yang mendapatkan antibiotik yaitu, proses kelahiran diperlambat hingga 7 hari, berkurangnya kejadian korioamnionitisserta sepsis neonatal (infeksi pada bayi baru lahir).

Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan secara langsung cairan yang merembes tersebut dapat dilakukan dengan kertas nitrazine, kertas ini mengukur pH (asam-basa). pH normal dari vagina adalah 4-4,7 sedangkan pH cairan ketuban adalah 7,1-7,3. Tes tersebut dapat memiliki hasil positif yang salah apabila terdapat keterlibatan trikomonas, darah, semen, lendir leher rahim, dan air seni. Pemeriksaan melalui ultrasonografi (USG) dapat digunakan untuk mengkonfirmasi jumlah air ketuban yang terdapat di dalam rahim.

Komplikasi KPD

Komplikasi paling sering terjadi pada KPD sebelum usia kehamilan 37 minggu adalah sindrom distress pernapasan, yang terjadi pada 10-40% bayi baru lahir. Risiko infeksi meningkat pada kejadian KPD. Semua ibu hamil dengan KPD prematur sebaiknya dievaluasi untuk kemungkinan terjadinya korioamnionitis (radang pada korion dan amnion). Selain itu kejadian prolaps atau keluarnya tali pusar dapat terjadi pada KPD.

Risiko kecacatan dan kematian janin meningkat pada KPD preterm. Hipoplasia paru merupakan komplikasi fatal yang terjadi pada KPD preterm. Kejadiannya mencapai hampir 100% apabila KPD preterm ini terjadi pada usia kehamilan kurang dari 23 minggu.

Gambar 3. Keluarnya Tali Pusar

Pencegahan

Beberapa pencegahan dapat dilakukan namun belum ada yang terbukti cukup efektif. Mengurangi aktivitas atau istirahat pada akhir triwulan kedua atau awal triwulan ketiga dianjurkan.

SOURCE : KLIK DOKTER

MENJAHIT LASERASI PERINEUM ATAU EPISIOTOMI

MENJAHIT LASERASI PERINEUM ATAU EPISIOTOMI

Tujuan menjahit laserasi atau episiotomi adalah untuk menyatukan kembali jaringan tubuh (mendekatkan) dan mencegah kehilangan darah yang tidak perlu (memastikan hemostasis). Ingat bahwa setiap kali jarum masuk ke dalam jaringan tubuh, jaringan akan terluka dan menjadi tempat yang potensial untuk timbulnya infeksi. Oleh sebab itu pada saat menjahit laserasi atau episiotomi gunakan benang yang cukup panjang dan gunakan sesedikit mungkin jahitan untuk mencapai tujuan pendekatan dan hemostasis.

Keuntungan-keuntungan teknik penjahitan jelujur:

  • Mudah dipelajari (hanya perlu belajar satu jenis penjahitan dan satu atau dua jenis simpul)
  • Tidak terlalu nyeri karena lebih sedikit benang yang digunakan
  • Menggunakan lebih sedikit jahitan

Mempersiapkan penjahitan

  1. Bantu ibu mengambil posisi litotomi sehingga bokongnya berada di tepi tempat tidur atau meja. Topang kakinya dengan alat penopang atau minta anggota keluarga untuk memegang kaki ibu sehingga ibu tetap berada dalam posisi litotomi.
  2. Tempatkan handuk atau kain bersih di bawah bokong ibu.
  3. Jika mungkin, tempatkan lampu sedemikian rupa sehingga perineum bisa dilihat dengan jelas.
  4. Gunakan teknik aseptik pada saat memeriksa robekan atau episiotomi, memberikan anestesi lokal dan menjahit luka (Lihat Bab 1).
  5. Cuci tangan menggunakan sabun dan air bersih yang mengalir.
  6. Pakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau yang steril.
  7. Dengan menggunakan teknik aseptik, persiapkan peralatan dan bahan-bahan disinfeksi tingkat tinggi untuk penjahitan (peralatan dan bahan-bahan ini tercantum di lampiran 5)
  8. Duduk dengan posisi santai dan nyaman sehingga luka bisa dengan mudah dilihat dan penjahitan bisa dilakukan tanpa kesulitan.
  9. Gunakan kain/kasa disinfeksi tingkat tinggi atau bersih untuk menyeka vulva, vagina dan perineum ibu dengan lembut, bersihkan darah atau bekuan darah yang ada sambil menilai dalam dan luasnya luka.

10.  Periksa vagina, serviks dan perineum secara lengkap. Pastikan bahwa laserasi/sayatan perineum hanya merupakan derajat satu atau dua (lihat Bab 5). Jika laserasinya dalam atau episiotomi telah meluas, periksa lebih jauh untuk memeriksa bahwa tidak terjadi robekan derajat tiga atau empat. Masukkan jari yang bersarung tangan ke dalam anus dengan hati-hati dan angkat jari tersebut perlahan-lahan untuk mengidentifikasi sfingter ani. Raba tonus atau ketegangan sfingter. Jika sfingter terluka, ibu mengalami laserasi derajat tiga atau empat dan harus dirujuk segera. Ibu juga dirujuk jika mengalami laserasi serviks.

11.  Ganti sarung tangan dengan sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril yang baru setelah melakukan pemeriksaan rektum.

12.  Berikan anestesia lokal (kajilah teknik untuk memberikan anestesia lokal di bawah ini).

13.  Siapkan jarum (pilih jarum yang batangnya bulat, tidak pipih) dan benang. Gunakan benang kromik 2-0 atau 3-0. Benang kromik bersifat lentur, kuat, tahan lama dan paling sedikit menimbulkan reaksi jaringan.

14.  Tempatkan jarum pada pemegang jarum dengan sudut 90 derajat, jepit dan jepit jarum tersebut.

Memberikan anestesia lokal

 

Berikan anestesia lokal pada setiap ibu yang memerlukan penjahitan laserasi atau episiotomi. Penjahitan sangat menyakitkan dan menggunakan anestesia lokal merupakan asuhan sayang ibu. Jika ibu dilakukan tindakan episiotomi dengan anestesia lokal, lakukan pengujian pada luka untuk mengetahui bahwa bahan anestesia masih bekerja. Sentuh luka dengan jarum yang tajam atau cubit dengan forseps atau cunam. Jika ibu merasa tidak nyaman, ulangi pemberian anestesia lokal.

Gunakan tabung suntik steril sekali pakai dengan jarum ukuran 22 panjang 4 cm. Jarum yang lebih panjang atau tabung suntik yang lebih besar bisa digunakan, tapi, jarum harus berukuran 22 atau lebih kecil tergantung pada tempat yang memerlukan anestesia. Obat standar untuk anestesia lokal adalah 1% lidokain tanpa epinefrin (silokain). Jika lidokain 1% tidak tersedia, gunakan lidokain 2% yang dilarutkan dengan air steril atau normal salin dengan perbandingan 1:1 (sebagai contoh, larutkan 5 ml lidokain 2% dengan 5 ml air steril atau normal salin untuk membuat larutan lidokain 1%).

  1. Jelaskan pada ibu apa yang akan anda lakukan dan bantu ibu merasa santai.
  2. Hisap 10 ml larutan lidokain 1% ke dalam alat suntik sekali pakai ukuran 10 ml (tabung suntik yang lebih besar boleh digunakan, jika diperlukan). Jika lidokain 1 % tidak tersedia, larutkan 1 bagian lidokain 2% dengan 1 bagian normal salin atau air steril yang sudah disuling.
  3. Tempelkan jarum ukuran 22 sepanjang 4 cm ke tabung suntik tersebut.
  4. Tusukkan jarum ke ujung atau pojok laserasi atau sayatan lain tarik jarum sepanjang tepi luka (ke arah bawah di antara mukosa dan kulit perineum).
  5. Aspirasi (tarik pendorong tabung suntik) untuk memastikan bahwa jarum tidak berada di dalam pembuluh darah. Jika darah masuk ke tabung suntik, jangan suntikkan lidokain dan tarik jarum seluruhnya. Pindahkan posisi jarum dan suntikkan kembali.

Alasan: Ibu bisa mengalami kejang dan kematian bisa terjadi jika lidokain disuntikkan ke dalam pembuluh darah.


  1. Suntikkan anestesia sejajar dengan permukaan luka pada saat jarum suntik ditarik perlahan-lahan.
  2. Tarik jarum hingga sampai ke bawah tempat di mana jarum tersebut disuntikkan.
  3. Arahkan lagi jarum ke daerah di atas tengah luka dan ulangi langkah ke-4. Tusukkan jarum untuk ketiga kalinya seperti yang ditunjukkan di Gambar L-4.1 dan sekali lagi ulangi langkah ke-4 sehingga tiga garis di satu sisi luka mendapatkan anestesia lokal (lihat garis putus-putus pada Gambar L-4.1). Ulangi proses ini di sisi lain dari luka tersebut. Setiap sisi luka akan memerlukan kurang lebih 5 ml lidokain 1% untuk mendapatkan anestesia yang cukup.
  4. Tunggu selama dua menit dan biarkan anestesia tersebut bekerja dan kemudian uji daerah yang dianestesia dengan cara dicubit dengan forseps atau disentuh dengan jarum yang tajam. Jika ibu merasakan jarum atau cubitan tersebut, tunggu dua menit lagi dan kemudian uji kembali sebelum mulai menjahit luka.

Penjahitan laserasi pada perineum

  1. Cuci tangan secara seksama dan gunakan sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril. Ganti sarung tangan jika sudah terkontaminasi, atau jika tertusuk jarum maupun peralatan tajam lainnya.
  2. Pastikan bahwa peralatan dan bahan-bahan yang digunakan untuk melakukan penjahitan sudah didisinfeksi tingkat tinggi atau steril.
  3. Setelah memberikan anestesia lokal dan memastikan bahwa daerah tersebut sudah di anestesi, telusuri dengan hati-hati menggunakan satu jari untuk secara jelas menentukan batas-batas luka. Nilai kedalaman luka dan lapisan jaringan mana yang terluka. Dekatkan tepi laserasi untuk menentukan bagaimana cara menjahitnya menjadi satu dengan mudah.
  4. Buat jahitan pertama kurang lebih 1 cm di atas ujung laserasi di bagian dalam vagina. Setelah membuat tusukan pertama, buat ikatan dan potong pendek benang yang lebih pendek dan ikatan (lihat Gambar L-4.2).
  5. Tutup mukosa vagina dengan jahitan jelujur, jahit ke bawah ke arah cincin himen (lihat Gambar L-4.3).
  6. Tepat sebelum cincin himen, masukkan jarum ke dalam mukosa vagina lalu ke bawah cincin himen sampai jarum ada di bawah laserasi (lihat Gambar L-4.4). Periksa bagian antara jarum di perineum dan bagian atas laserasi. Perhatikan seberapa dekat jarum ke puncak luka.
  7. Teruskan ke arah bawah tapi tetap pada luka, menggunakan jahitan jelujur, hingga mencapai bagian bawah laserasi. (lihat Gambar L-4.5). Pastikan bahwa jarak setiap jahitan sama dan otot yang terluka telah dijahit. Jika laserasi meluas ke dalam otot, mungkin perlu untuk melakukan satu atau dua lapis jahitan terputus-putus untuk menghentikan perdarahan dan/atau mendekatkan jaringan tubuh secara efektif.
  8. Setelah mencapai ujung laserasi, arahkan jarum ke atas dan teruskan penjahitan, menggunakan jahitan jelujur untuk menutup lapisan subkutikuler (lihat Gambar L-4 6 dan 1 -4 7) Jahitan ini akan menjadi jahitan lapis ke dua Periksa lubang bekas jarum (pada Gambar L-4.6 dan L-4.7). Jahitan lapis kedua ini akan meninggalkan luka yang tetap terbuka berukuran 0,5 cm atau kurang. Luka ini akan menutup dengan sendirinya pada saat penyembuhan luka.
  9. Tusukkan jarum dan robekan perineum ke dalam vagina. Lihat Gambar L-4.8 dan L-4.9. Jarum harus keluar dari belakang cincin himen.
  10. Ikat benang dengan membuat simpul di dalam vagina (Gambar L-4.9). Potong ujung benang dan sisakan sekitar 1,5 cm. Jika ujung benang dipotong terlalu pendek, simpul akan longgar dan laserasi akan membuka.
  11. Ulangi pemeriksaan vagina dengan lembut untuk memastikan bahwa tidak ada kasa atau peralatan yang tertinggal di dalam.
  12. Dengan lembut masukkan jari paling kecil ke dalam anus. Raba apakah ada jahitan pada rektum. Jika ada jahitan yang teraba, ulangi pemeriksaan rektum enam minggu pascapersalinan. Jika penyembuhan belum sempurna (misalkan jika ada fistula rektovaginal atau jika ibu melaporkan inkontinensia alvi atau feses), ibu segera dirujuk ke fasilitas kesehatan rujukan.
  13. Cuci daerah genital dengan lembut dengan sabun dan air disinfeksi tingkat tinggi, kemudian keringkan. Bantu ibu mencari posisi yang lebih nyaman.
  14. Nasehati ibu untuk:

 

  • menjaga perineumnya selalu bersih dan kering
  • hindari penggunaan obat-obatan tradisional pada perineumnya
  • cuci perineumnya dengan sabun dan air bersih yang mengalir tiga sampai empat kali per hari
  • kembali dalam seminggu untuk memeriksa penyembuhan lukanya. Ibu harus kembali lebih awal jika ia mengalami demam atau mengeluarkan cairan yang berbau busuk dari daerah lukanya atau jika daerah tersebut menjadi lebih nyeri.

Ingat:

  • Tidak usah menjahit laserasi derajat satu yang tidak mengalami perdarahan dan men-dekat dengan baik.
  • Gunakan sesedikit mungkin jahitan untuk mendekatkan jaringan dan memastikan hemostasis.
  • Selalu gunakan teknik aseptik.
  • Jika ibu mengeluh sakit pada saat penjahitan dilakukan, berikan lagi anestesia lokal untuk memastikan kenyamanan ibu, inilah yang disebut asuhan sayang ibu.

Penjahitan episiotomi

 

Secara umum prosedur untuk menjahit episiotomi sama dengan menjahit laserasi perineum. Jika episiotomi sudah dilakukan, lakukan penilaian secara hati-hati untuk memastikan lukanya tidak meluas. Sedapat mungkin, gunakan jahitan jelujur. Jika ada sayatan yang terlalu dalam hingga mencapai lapisan otot, mungkin diperlukan penjahitan secara terputus untuk merapatkan jaringan.

source : APN

ASUHAN BAYI BARU LAHIR

ASUHAN BAYI BARU LAHIR (BUKU ACUAN APN)

Pendahuluan

Bab ini menguraikan tentang asuhan yang diperlukan bagi bayi baru lahir (BBL). Walaupun sebagian proses persalinan terfokus pada ibu tetapi karena proses tersebut merupakan proses pengeluaran hasil kehainilan (bayi), maka penatalaksanaan suatu persalinan dikatakan berhasil apabila selain ibunya, bayi yang dilahirkan juga berada dalam kondisi yang optimal. Memberikan pertolongan dengan segera, aman dan bersih adalah bagian esensial dan asuhan bayi baru lahir. Sebagian besar (85%-90%) persalinan adalah normal, tetapi gangguan dalam kehainilan dan proses persalinan dapat mempengaruhi kesehatan bayi-bayi yang baru dilahirkan. Sebagian besar kesakitan dan kematian bayi baru lahir disebabkan oleh asfiksia, hipotermia dan atau infeksi. Kesakitan dan kematian bayi baru lahir dapat dicegah bila asfiksia segera dikenali dan ditatalaksana secara adekuat, dibarengi pula dengan penccgahan hipotermia dan infeksi.

Tujuan

Pada akhir bab ini, penolong persalinan akan dapat :

 

  1. Menjelaskan dan rnemperagakan langkah-langkah esensial dan asuhan BBL Asuhan Esensial Neonatal.
  2. Menjelaskan tindakan pencegahan infeksi yang berkaitan dengan asuhan BBL.
  3. Menjelaskan penilaian awal bayi baru lahir.
  4. Menjelaskan alasan dan cara melakukan pencegahan kehilangan panas.
  5. Menjelaskan teknik-teknik mengeringkan, menghangatkan dan rangsangan taktil pada BBL.
  6. Membahas alasan untuk menempatkan bayi bersama ibunya setiap saat.
  7. Membahas alasan untuk memulai pemberian AST secara dini.
  8. Menjelaskan posisi dan cara pemberian ASI yang tepat. (Cara pemberian itu sudah rnenjelaskan teknik menyusui sehingga tidak perlu disebutkan cara perlekatan karena bayi tidak melekat pada payudara melainkan menghisap puting susu).
  9. Menjelaskan perawatan payudara, gejala dan tanda tersumbatnya saluran ASI dan mastitis.

10.  Menjelaskan asuhan tali pusat yang tepat.

11.  Menjelaskan bagaimana memberikan upaya profilaksis terhadap gangguan pada mata.

12.  Menjelaskan dan memperagakan prosedur Resusitasi pada BBL yang mengalarni asfiksia.

13.  Menjelaskan dan memperagakan langkah-langkah esensial inisiasi dan restorasi pernapasan dengan ventilasi tekanan positif pada BBL yang mengalarni asfiksia.

14.  Menjelaskan penatalaksanaan awal BBL jika terdapat pewarnaan mekonium pada cairan ketuban.

15.  Menjelaskan bagaimana cara mengenali masalah-masalah penyerta yang memerlukan rujukan bagi hayi baru lahir.

Penatalaksanaan awal bayi baru lahir

Penatalaksanaan awal dimulai sejak proses persalinan hingga kelahiran bayi, dikenal sebagai Asuhan Esensial Neonatal yang meliputi:

  • Persalinan bersih dan aman.
  • Memulai/inisiasi pernapasan spontan.
  • Stabilisasi temperatur tubuh bayi/menjaga agar bayi tetap hangat.
  • ASI dini dan eksklusif.
  • Pencegahan infeksi.
  • Pemberian Imunisasi.

Persalinan bersih dan aman

 

Telah dibicarakan dalam bab-bab terdahulu, yang penting di sini agar selalu menerapkan upaya pencegahan infeksi yang baku (standar) dan ditatalaksana sesuai dengan ketentuan atau indikasi yang tepat.

Memulai/inisiasi pernapasan spontan

 

Begitu bayi lahir segera dilakukan inisiasi pernapasan spontan dengan melakukan penilaian awal, sebagai berikut:

  • Segera lakukan penilaian awal pada bayi baru lahir secara cepat dan tepat (0-30 detik).
  • Evaluasi data yang terkumpul, buat diagnosis dan tentukan rencana untuk asuhan bayi baru lahir (lihat Bab 1 mengenai pembahasan pengumpulan data dan membuat keputusan klinik).
  • Nilai kondisi bayi baru lahir secara cepat dengan mempertimbangkan atau menanyakan 5 pertanyaan sebagai berikut:
  1. 1. Apakah air ketuban jernih, tidak bercampur mekonium?
  2. 2. Apakah bayi bernapas spontan?
  3. 3. Apakah kulit bayi berwarna kemerahan?
  4. 4. Apakah tonus/kekuatan otot bayi cukup?
  5. 5. Apakah ini kehainilan cukup bulan?
  • Bila kelima pertanyaan tersebut jawabannya “Ya”, maka bayi dapat diberikan kepada ibunya untuk segera menciptakan hubungan emosional, kemudian di lakukan asuhan bayi baru lahir normal sebagai berikut:
    • Keringkan bayi dengan kain/handuk yang bersih, kering dan hangat, kemudian lingkupi tubuh bayi dengan kain/handuk kering dan hangat yang lain.
    • Bersihkan mulut dan hidung bayi secukupnya. Tidak perlu dilakukan penghisapan lendir.
    • Hangatkan tubuh bayi (selimuti dengan kain yang kering dan hangat, beri tutup kepala).
    • Berikan bayi pada ibunya untuk membangun hubungan emosional dan pemberian ASI secara dini.
  • Bila salah satu atau lebih pertanyaan tersebut jawabannya “Tidak”, maka segera lakukan Langkah Awal Resusitasi Bayi Baru Lahir (lihat di bagian Penatalaksanaan Bayi Baru Lahir dengan Komplikasi di bagian selanjutnya dalam bab ini).
  • Rangsangan taktil

Upaya ini merupakan cara untuk mengaktifkan berbagai refleks protektif pada tubuh bayi baru lahir. Mengeringkan tubuh bayi juga merupakan tindakan stimulasi. Untuk bayi yang sehat, hal ini biasanya cukup untuk merangsang terjadinya pernapasan spontan. Jika bayi tidak memberikan respon terhadap pengeringan dan rangsangan taktil, kemudian menunjukkan tanda-tanda kegawatan, segera lakukan tindakan untuk membantu pernapasan (lihat di bagian Penatalaksanaan Bayi Baru Lahir dengan Komplikasi di bagian selanjutnya dalam bab ini).

Stabilisasi temperatur tubuh bayi menjaga agar bayi tetap hangat

Pencegahan kehilangan panas

Bayi baru lahir tidak dapat mengatur temperatur tubuhnya secara memadai, dan dapat dengan cepat kedinginan jika kehilangan panas tidak segera dicegah. Bayi yang mengalami kehilangan panas (hipotermia) berisiko tinggi untuk jatuh sakit atau meninggal. Jika bayi dalam keadaan basah atau tidak diselimuti, mungkin akan mengalami hipotermia, meskipun berada dalam ruangan yang relatif hangat. Bayi prematur atau berat badan lahir rendah sangat rentan terhadap terjadinya hipotermia.

Mekanisme kehilangan panas

Kehilangan panas tubuh pada bayi baru lahir dapat terjadi melalui mekanisme berikut :

  • Evaporasi adalah cara kehilangan panas yang utama pada tubuh bayi. Kehilangan panas terjadi karena menguapnya cairan ketuban pada permukaan tubuh setelah bayi lahir karena tubuh bayi tidak segera dikeringkan. Hal yang sama dapat terjadi setelah bayi dimandikan.

Gambar 4-1: Mekanisme kehilangan panas pada bayi baru lahir

Sumber: WHO/RHT/MSM/97-2.

  • Konduksi adalah kehilangan panas melalui kontak langsung antara tubuh bayi dengan permukaan yang dingin. Bayi yang diletakkan di atas meja, tempat tidur atau timbangan yang dingin akan cepat mengalami kehilangan panas tubuh akibat proses konduksi.
  • Konveksi adalah kehilangan panas yang terjadi saat bayi terpapar dengan udara sekitar yang lebih dingin. Bayi yang dilahirkan atau ditempatkan dalam ruang yang dingin akan cepat mengalami kehilangan panas. Kehilangan panas juga dapat terjadi jika ada tiupan kipas angin, aliran udara atau penyejuk ruangan.
  • Radiasi adalah kehilangan panas yang terjadi saat bayi ditempatkan dekat benda yang mempunyai temperatur tubuh lebih rendah dan temperatur tubuh bayi. Bayi akan mengalami kehilangan panas melalui cara ini meskipun benda yang lebih dingin tersebut tidak bersentuhan langsung dengan tubuh bayi.

Upaya untuk mencegah kehilangan panas

Kehilangan panas tubuh bayi dapat dihindarkan melalui upaya-upaya berikut ini :

  • Keringkan bayi secara seksama.
  • Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih, kering dan hangat.
  • Tutupi kepala bayi.
  • Anjurkan ibu untuk memeluk dan memberikan ASI.
  • Jangan segera menimbang atau memandikan bayi baru lahir.
  • Tempatkan bayi di lingkungan yang hangat.

Keringkan bayi secara seksama

Segera setelah lahir, segera keringkan permukaan tubuh sebagai upaya untuk mencegah kehilangan panas akibat evaporasi cairan ketuban pada permukaan tubuh bayi. Hal ini juga merupakan rangsangan taktil untuk membantu bayi memulai pernapasan.

Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih dan hangat

Segera setelah tubuh bayi dikeringkan dan tali pusat dipotong, ganti handuk atau kain yang telah dipakai kemudian selimuti bayi dengan selimut atau kain hangat, kering dan bersih. Kain basah yang diletakkan dekat tubuh bayi akan menyebabkan bayi tersebut mengalami kehilangan panas tubuh. Jika selimut bayi harus dibuka untuk melakukan suatu prosedur, segera selimuti kembali dengan handuk atau selimut kering, segera setelah prosedur tersebut selesai.

Tutupi kepala bayi

Pastikan bahwa bagian kepala bayi ditutupi setiap saat. Bagian kepala bayi memiliki luas permukaan yang cukup besar sehingga bayi akan dengan cepat kehilangan panas tubuh jika bagian kepalanya tidak tertutup.

Anjurkan ibu untuk memeluk dan memberikan ASI

Memeluk bayi akan membuat bayi tetap hangat dan merupakan upaya pencegahan kehilangan panas yang sangat baik. Anjurkan ibu untuk sesegera mungkin menyusukan bayinya setelah lahir. Pemberian ASI, sebaiknya dimulai dalam waktu satu jam setelah bayi lahir (lihat bagian pemberian ASI di bagian selanjutnya dalam bab ini).

Lakukan penimbangan setelah bayi mengenakan pakaian

Karena bayi baru lahir mudah mengalami kehilangan panas tubuh, (terutama jika tidak berpakaian) sebelum melakukan penimbangan, selimuti tubuh bayi dengan kain atau selimut bersih dan kering. Timbang selimut atau kain secara terpisah, kemudian kurangi berat selimut atau kain tersebut dan total berat bayi saat memakai selimut tadi.

Jangan memandikan bayi setidak-tidaknya 6 jam setelah lahir

Tunda untuk memandikan bayi hingga sedikitnya enam jam setelah lahir. Memandikan bayi dalam beberapa jam pertama kehidupannya dapat mengarah pada kondisi hipotermia dan sangat membahayakan keselamatan bayi.

Saat melakukan persiapan untuk memandikan bayi, ikuti rekomendasi-rekomendasi berikut:

  • Tunggu sedikitnya enam jam setelah lahir, sebelum memandikan bayi. Waktu tunggu menjadi lebih lama jika bayi mengalami asfiksia atau hipotermia.
  • Sebelum memandikan bayi, pastikan bahwa temperatur tubuh bayi telah stabil (temperatur aksila antara 36,5°C – 37,5°C). Jika temperatur tubuh bayi di bawah 36,5°C, selimuti kembali tubuh bayi secara longgar, tutupi bagian kepalanya dan tempatkan bayi bersama ibunya di tempat tidur atau lakukan kontak kulit langsung ibu bayi kemudian selimuti keduanya. Tunda waktu untuk memandikan bayi hingga temperatur tubuh bayi tetap stabil paling sedikit setelah satu jam dilakukan observasi.
  • Jangan memandikan bayi yang mengalami masalah pernapasan.
  • Sebelum memandikan bayi, pastikan ruangan tersebut hangat dan tidak ada hembusan angin. Siapkan handuk bersih dan kering untuk mengeringkan bayi dan beberapa lembar kain atau selimut bersih dan kering untuk menyelimuti bayi setelah dimandikan.
  • Mandikan bayi secara cepat dengan air yang bersih dan hangat.
  • Segera keringkan bayi dengan menggunakan handuk bersih dan kering.
  • Ganti handuk yang basah dan segera selimuti kembali bayi dengan kain atau selimut bersih dan kering secara longgar. Pastikan bagian kepala bayi ditutupi dengan baik (Bayi dibaringkan dalam dekapan ibunya dan diselimuti dengan baik).
  • Tempatkan bayi di tempat tidur yang sama dengan ibunya dan anjurkan ibu untuk menyusukan bayinya.

Tempatkan bayi di lingkungan yang hangat

 

Tempatkan bayi di lingkungan yang hangat. Idealnya, segera setelah lahir bayi harus ditempatkan bersama ibunya di tempat tidur yang sama. Menempatkan bayi bersama ibunya adalah cara yang paling mudah untuk menjaga bayi agar tetap hangat, mendorong upaya untuk menyusui dan mencegah bayi terpapar infeksi.

Asuhan tali pusat

 

Mengikat tali pusat

Setelah plasenta dilahirkan dan kondisi ibu dianggap stabil (lihat Bab 5), ikat atau jepitkan (jika tersedia) klem plastik tali pusat pada puntung tali pusat.

  • Basuh tangan yang masih menggunakan sarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5%, untuk membersihkan darah dan sekresi tubuh lainnya.
  • Bilas tangan dengan air matang atau disinfeksi tingkat tinggi.
  • Keringkan tangan (bersarung tangan) tersebut dengan handuk atau kain bersih dan kering.
  • Ikat puntung tali pusat sekitar 1 cm dari pusat bayi dengan menggunakan benang DTT atau klem plastik tali pusat atau potongan slang karet infus (DTT atau steril). Lakukan simpul kunci atau jepitkan secara mantap klem tali pusat tersebut.
  • Jika menggunakan benang tali pusat, lingkarkan benang di sekeliling puntung tali pusat dan lakukan pengikatan kedua dengan simpul kunci di bagian tali pusat pada sisi yang berlawanan.
  • Lepaskan klem penjepit tali pusat dan letakkan di dalam larutan klorin 0,5%.
  • Selimuti kembali bayi dengan kain bersih dan kering. Pastikan bahwa bagian kepala bayi tertutup dengan baik.

Menangani tali pusat

  • Jangan membungkus pusar atau perut ataupun mengoleskan bahan atau ramuan apapun ke puntung tali pusat, dan nasehati keluarga untuk tidak memberikan apapun pada pusar bayi.
  • Mengusapkan alkohol ataupun povidon iodin masih diperkenankan sepanjang tidak menyebabkan tali pusat basah/lembab.
  • Beri nasehat pada ibu dan keluarganya sebelum penolong meninggalkan bayi:

–         Lipat popok di bawah puntung tali pusat.

–         Jika puntung tali pusat kotor, cuci secara hati-hati dengan air matang (DTT) dan sabun. Keringkan secara seksama dengan kain bersih.

–         Jelaskan pada ibu bahwa ia harus mencari bantuan perawatan jika pusar menjadi merah atau mengeluarkan nanah atau darah,

–         Jika pusar menjadi merah atau rnengeluarkan nanah atau darah, segera rujuk bayi tersebut ke fasilitas yang mampu untuk memberikan asuhan bayi baru lahir secara lengkap.

Memulai pemberian ASI (menyusui)

Pastikan bahwa pemberian ASI dimulai dalam waktu 30 menit setelah bayi lahir. Anjurkan ibu untuk memeluk dan mencoba untuk menyusukan bayinya segera setelah tali pusat di klem dan dipotong. Tenteramkan ibu bahwa penolong akan membantu ibu menyusukan bayi setelah plasenta lahir dan penjahitan laserasi selesai dikerjakan. Anggota keluarga mungkin bisa membantunya untuk memulai pemberian ASI lebih awal. Setelah semua prosedur yang diperlukan diselesaikan, ibu sudah bersih dan mengganti baju, (lihat Bab 5) bantu ibu untuk rnenyusukan bayinya.

Pemberian ASI memiliki beberapa keuntungan

Memulai pemberian ASI secara dini akan :

  • Merangsang produksi air susu ibu (ASI)
  • Memperkuat refleks menghisap (refleks menghisap awal pada bayi, paling kuat dalarn beberapa jam pertarna setelah lahir). Memulai pemberian ASI secara dini akan memberikan pengaruh yang positif bagi kesehatan bayi.
  • Mempromosikan hubungan emosional antara ibu dan bayinya.
  • Memberikan kekebalan pasif segera kepada bayi melalui kolostrum.
  • Merangsang kontraksi uterus.

Pedoman umum untuk Ibu saat menyusui

  • Mulai menyusui segera setelah lahir, dalam 30 menit pertama.
  • Jangan berikan makanan atau minuman lain kepada bayi (misalnya air, madu, larutan air gula atau pengganti susu ibu) kecuali ada indikasi yang jelas (atas alasan-alasan medis). Jarang sekali para ibu tidak cukup memiliki air susu sehingga bayi memerlukan asupan susu buatan tambahan (Enkin, et al, 2000).
  • Berikan ASI saja selama enam bulan pertama kehidupannya.
  • Berikan ASI pada bayi sesuai dengan kebutuhannya, baik siang maupun malam (delapan kali atau lebih dalam 24 jam) selama bayi menginginkannya.

Jelaskan pada ibu dan keluarganya tentang manfaat kontak langsung ibu-bayi dan perbolehkan untuk menyusui sesering mungkin untuk merangsang produksi ASI. Pastikan bahwa jumlah air susu ibu memadai (Enkin, et al, 2000). Yakinkan ibu dan keluarganya bahwa kolostrum (susu selama beberapa hari pertama setelah kelahiran) mernpunyai nilai nutrisi yang tinggi dan mengandung semua unsur yang diperlukan oleh bayi. Minta ibu untuk membiarkan bayinya menyusu tanpa henti sesuai dengan yang diinginkannya. Pada saat bayi melepaskan puting susu, minta ibu untuk menawarkan puting susu sebelahnya. Jelaskan pada ibu bahwa membatasi waktu untuk bayi menyusu akan mengurangi jumlah nutrisi yang seharusnya diterima oleh bayi dan akan menurunkan produksi susunya (Enkin, et al, 2000). Anjurkan ibu untuk bertanya tentang pemberian ASI dan berikan jawaban sejelas dan selengkap mungkin. Anjurkan ibu untuk mencari pertolongan dan pemberi asuhan jika ada masalah dengan pemberian ASI.

Posisi yang tepat untuk menyusui

Posisi yang tepat untuk bayi, sangat penting dalam menjamin keberhasilan pemberian ASI dan mencegah lecet atau retak pada puting susu (Enkin, et al, 2000). Periksa bahwa ibu telah rneletakkan bayinya pada posisi yang tepat dan bayi melakukan kontak dengan ibunya secara benar. Berikan bantuan dan dukungan jika ibu memerlukannya, terutama jika ibu baru pertama kali menyusukan atau ibu berusia sangat muda.

Ingat bahwa ibu yang berpengalaman juga mungkin memerlukan bantuan untuk memulai menyusukan bayi barunya.

Jelaskan pada ibu bagaimana memeluk bayi dan, mulai menyusukan bayinya

  • Beritahukan pada ibu untuk memeluk tubuh bayi secara lurus agar muka bayi menghadap ke payudara ibu dengan hidung bayi di depan puting susu ibu. Posisinya harus sedemikian rupa sehingga perut bayi rnenghadap ke perut ibu. Ibu harus menopang seluruh tubuh bayi, tidak hanya leher dan bahunya.
  • Beritahukan pada ibu untuk mendekatkan bayinya ke payudara jika bayi tampak siap untuk menghisap puting susu. Tanda-tanda siap menyusu adalah bila bayi membuka mulut, mencari, menoleh dan bergerak mencari sesuatu.
  • Tunjukkan pada ibu bagaimana membantu bayinya untuk menempelkan mulut bayi pada puting susu.
  • Beritahukan pada ibu untuk :

–         Menyentuhkan bibir bayi dengan puting susunya.

–         Menunggu hingga mulut bayi terbuka lebar.

–         Mendekatkan bayi dengan cepat ke payudaranya sehingga bibir bawah bayi tepat di bawah puting susu.

Nilai posisi menyentuhkan mulut bayi pada puting payudara dan caranya menghisap

Tanda-tanda bayi menempel dengan baik pada payudara adalah :

  • Dagu menyentuh payudara ibu
  • Mulut terbuka lebar
  • Mulut bayi menutupi seluas mungkin areola (tidak hanya puting saja)
  • Bibir bayi bagian bawah melengkung keluar
  • Bayi menghisap dengan perlahan dan kuat, serta kadang-kadang berhenti
  • Tidak terdengar suara apapun kecuali suara bayi menelan.

Perawatan payudara

Jelaskan pada ibu bagaimana merawat payudaranya :

  • Jika posisi bayi tidak baik, minta ibu untuk berhenti menyusukan bayinya. Atur ulang posisi bayi, dan kemudian teruskan pemberian ASI. Jika posisi bayi terhadap payudara tidak benar maka bayi tidak akan menerima nutrisi yang cukup dan puting susu ibu mungkin mengalami trauma.
  • Minta ibu untuk memastikan bahwa ia menjaga puting susunya tetap bersih dan kering. Anjurkan ibu untuk mengeringkan payudaranya setelah menyusui. Gunakan kain bersih dan kering ; minta ia dengan lembut mengeluarkan sedikit ASI dan kemudian mengoleskannya ke puting susu. Hal ini dapat mencegah retak dan lecet. Ibu harus membiarkan payudaranya kering oleh udara, sebelum berpakaian.
  • Yakinkan ibu bahwa jika puting susunya lecet dan retak, hal itu tidak akan memba hayakan jika ibu terus memberikan ASI. Jika puting susu ibu lecet dan retak, amati cara ibu saat menyusui, jika terjadi kesalahan, bantu ibu untuk memperbaiki teknik pemberian ASI. Anjurkan ibu untuk melanjutkan perawatan payudara seperti yang telah di. jelaskan sebelumnya.
  • Bersama ibu dan keluarganya, kaji tanda dan gejala tersumbatnya saluran ASI atau mastitis. Anjurkan ibu untuk mencari perawatan segera (tapi meneruskan pemberian ASI) jika ia mengalami masalah dengan payudaranya.

Gangguan pada payudara dapat berupa :

–         Bintik merah, garis atau bintik panas pada salah satu payudaranya

–         Benjolan dengan rasa nyeri

–         Temperatur tubuh lebih dan 38°C, perasaan yang umurnnya terjadi saat tidak enak badan dan atau sakit.

Pencegahan infeksi

Bayi baru lahir sangat rentan terhadap infeksi. Saat melakukan penanganan bayi baru lahir, pastikan untuk melakukan tindakan pencegahan infeksi berikut ini:

  • Cuci tangan secara seksama sebelum dan setelah melakukan kontak dengan bayi.
  • Pakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi yang belum dimandikan.
  • Pastikan bahwa semua peralatan, termasuk klem gunting dan benang tali pusat telah didisinfeksi tingkat tinggi atau steril. Jika menggunakan bola karet penghisap, pakai yang bersih dan baru.
Jangan pernah menggunakan bola karet penghisap dari satu bayi ke bayi yang lain.
  • Pastikan bahwa semua pakaian, handuk, selimut serta kain yang digunakan untuk bayi, telah dalam keadaan bersih.
  • Pastikan bahwa timbangan, pita pengukur, termometer, stetoskop dan benda-benda lainnya yang akan bersentuhan dengan bayi dalam keadaan bersih (dekontaininasi, cuci, dan keringkan setiap kali setelah digunakan [ Bab 1]).

Upaya profilaksis terhadap gangguan pada mata

Bayi bisa diberi ASI dan “bertemu” dengan ibu dan keluarganya sebelum mendapatkan tetes mata profilaktik (larutan perak nitrat 1%) atau salep (salep tetrasiklin % atau salep mata eritroinisin 0,5%). Tetes mata atau salep antibiotika tersebut harus diberikan dalam waktu satu jam pertama setelah kelahiran. Upaya profilaksis untuk gangguan pada mata tidak akan efektif jika tidak diberikan dalam satu jam pertama kehidupannya.

Teknik pemberian profilaksis mata

  • Cuci tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir.
  • Jelaskan pada keluarganya tentang apa yang anda lakukan, yakinkan mereka bahwa obat tersebut akan sangat menguntungkan bayinya.
  • Berikan salep atau tetes mata dalam satu garis lurus, mulai dan sudut medial mata (dekat hidung bayi) menuju ke sudut lateral mata (dekat telinga bayi).
  • Pastikan ujung mulut tabung salep atau tabung penetes tidak menyentuh mata bayi.
  • Jangan menghapus salep atau tetes mata dan mata bayi dan minta agar keluarganya tidak rnenghapus obat tersebut.
Ingat :

  • Nilai bayi dalam waktu beberapa detik dari 30 detik pertama kehidupannya dengan menjawab lima pertanyaan pada penilaian awal, bila salah satu jawaban “tidak” lakukan langkah awal resusitasi.
  • Cuci tangan setiap kali sebelum dan setelah melakukan kontak dengan bayi.
  • Gunakan perlengkapan dan bahan-bahan disinfeksi tingkat tinggi atau steril.
  • Jangan menghisap lendir bayi secara rutin.
  • Keringkan dan berikan rangsangan pada bayi segera setelah lahir.
  • Ganti handuk basah dengan selimut atau kain bersih dan kering.
  • Tunda untuk menimbang bayi selama beberapa jam, jaga agar bayi tetap diselimuti dengan baik selama ditimbang.
  • Tunggu sedikinya 6 jam setalah lahir, sebelum bayi dimandikan.
  • Jaga agar tubuh dan kepala bayi terselimuti dengan baik, setiap saat.
  • Anjurkan ibu untuk memulai pemberian ASI dalam satu jam pertama kehidupannya.
  • Anjurkan ibu untuk menempatkan bayinya di tempat tidur yang sama.
  • Berikan asuhan tali pusat.
  • Berikan profilaksis mata dalam satu jam setelah kelahiran.
  • Berikan profilaksis mata dalam satu jam setelah kelahiran.

Penata bayi baru lahir dengan komplikasi

Jika bayi menunjukkan tanda penyulit pada saat penilaian awal. (bayi tidak bernapas secara spontan, atau napas megap-megap atau kulit bayi berwarna biru atau pucat)berarti bayi mengalami asfiksia, maka segera lakukan Langkah Awal Prosedur Resusitasi bayi baru lahir. Dalam menyambut setiap kelahiran, lakukan persiapan peralatan dan prosedur gawat darurat bayi baru lahir (lihat daftar titik perlengkapan dan bahan-bahan yang esensial pada lampiran B-1).

Asfiksia

Asfiksia adalah kegagalan untuk memulai dan melanjutkan pernapasan secara spontan dan teratur pada saat bayi baru lahir atau beberapa saat sesudah lahir. Bayi mungkin lahir dalam kondisi asfiksia (asfiksia primer) atau mungkin dapat bernapas tetapi kemudian mengalami asfiksia beberapa saat setelah lahir (asfiksia sekunder).

Gejala dan tanda asfiksia adalah :

  • Tidak bernapas atau napas megap-megap atau pernapasan lambat (kurang dan 30 kali per menit).
  • Pernapasan tidak teratur, dengkuran atau retraksi (pelekukan dada).
  • Tangisan lemah atau merintih.
  • Warna kulit pucat atau biru.
  • Tonus otot lemas atau ekstremitas terkulai.
  • Denyut jantung tidak ada atau lambat (bradikerdia) (kurang dari 100 kali per menit).

Semua bayi yang menunjukkan tanda-tanda asfiksia memerlukan perawatan dan perhatian segera.

Penatalaksanaan Asfiksia

Penatalaksanaan asfiksia terdiri dan:

  1. Langkah Awal
  2. Langkah Resusitasi

 

Langkah Awal

  • Mencegah kehilangan panas, termasuk menyiapkan tempat yang kering dan hangat untuk melakukan pertolongan.
  • Memposisikan bayi dengan baik, (kepala bayi setengah tengadah/sedikit ekstensi atau mengganjal bahu bayi dengan kain).
  • Bersihkan jalan napas dengan alat penghisap yang tersedia.

Keterangan

Cara membersihkan jalan napas bayi

*        Membersihkan jalan napas dengan ketentuan sebagai berikut:

–         Bila air ketuban jernih (tidak bercampur mekonium), hisap lendir pada mulut baru pada hidung.

–         Bila air ketuban bercampur mekonium, mulai penghisapan lendir setelah kepala lahir, (berhenti sebentar untuk menghisap lendir di mulut dan hidung). Bila bayi menangis, napas teratur, lakukan asuhan bayi baru lahir normal. Bila bayi mengalami depresi, tidak menangis, lakukan upaya maksimal untuk mernbersihkan jalan napas dengan jalan membuka mulut lebih lebar dan menghisap lendir di mulut lebih dalam secara hati-hati.

*        Menilai bayi dengan melihat usaha napas, denyut jantung dan warna kulitnya

–         Bila bayi menangis, atau sudah bernapas dengan teratur, warna kulit kemerahan, lakukan asuhan bayi baru lahir normal.

–         Bila bayi tidak menangis atau megap-megap, warna kulit biru atau pucat, denyut jantung kurang dan 100 kali per menit, lanjutkan langkah resusitasi dengan melakukan ventilasi tekanan positif.

(Selanjutnya lihat Langkah Resusitasi)

  • Keringkan tubuh bayi dengan kain yang kering dan hangat, setelah itu gunakan kain kering dan hangat yang baru untuk melingkupi tubuh bayi sambil melakukan rangsangan taktil.
  • Letakkan kembali bayi pada posisi yang benar, kemudian nilai : usaha bernapas, frekuensi denyu jantung dan warna kulit.

Keterangan

Cara Memposisikan bayi dan Membersihkan jalan napas bayi

Memposisikan bayl dan inenibersihkan jalan napas bayi

*        Posisikan bayi untuk berbaring pada punggungnya atau miring dengan kepala/leher sedikit diekstensikan agar jalan napasnya terbuka dan memudahkan aliran udara. Hindarkan hiperekstensi kepala, atau menekuk kepala ke arah dada karena kedua perasat (manuver) ini dapat menghalangi jalan napas bayi. (Jika belum dilakukan, klem dan potong tali pusat untuk memudahkan pengaturan posisi seperti yang di inginkan).

  • Gunakan pengisap lendir De Lee yang telah diproses hingga tahap disinfeksi tingkat tinggi/steril atau bola karet penghisap yang baru dan bersih untuk rnenghisap lendir di mulut, kemudian hidung bayi secara halus dan lembut. Hisap mulut terlebih dulu untuk memastikan tidak ada sesuatu yang dapat teraspirasi oleh bayi saat hidungnya dihisap.Jangan menghisap jalan napas dengan kuat atau terlalu dalam karena hal ini dapat menyebabkan jantung bayi melambat atau bayi berhenti bernapas (Enkin, et al, 2000). Penghisapan lendir secara hati-hati akan membersihkan cairan dan lendir dari jalan napas dan dapat merangsang bayi untuk mulai bernapas. (Jika bayi tidak mulai bernapas, lihat diagram alur 4-1 Memulai Pernapasan pada Bayi Baru Lahir).

Rangsangan taktil

Jika bayi baru lahir tidak mulai bernapas secara memadai (setelah tubuhnya dikeringkan dan lendirnya dihisap) berikan rangsangan taktil secara singkat. Pada saat melakukan rangsangan taktil, pastikan bahwa bayi diletakkan dalam posisi yang benar dan jalan napasnya telah bersih. Rangsangan taktil harus dilakukan secara lembut dan hati-hati sebagai berikut :

  • Dengan lembut, gosok punggung, tubuh, kaki atau tangan (ekstremitas) satu atau dua kali.
  • Dengan lembut, tepuk atau sentil telapak kaki bayi (satu atau dua kali).

Berbagai bentuk rangsangan taktil yang dulu pernah dilakukan, sebagian besar dapat membahayakan bayi sehingga tidak lagi dilakukan pada bayi baru lahir (lihat Tabel 4-1).

Proses menghisap lendir, pengeringan, dan merangsang bayi tidak berlangsung lebih dan 30 sampai 60 detik dari sejak lahir hingga proses tersebut selesai. Jika bayi terus mengalami kesulitan bernapas, segera mulai tindakan ventilasi aktif terhadap bayi (lihat Diagram Alur 4-1 Memulai Pernapasan pada Bayi Baru Lahir). Meneruskan rangsangan pada bayi yang tidak memberi respons untuk bernapas hanya akan membuang waktu yang berharga untuk melakukan tindakan lanjut di fasilitas kesehatan rujukan, membahayakan kesehatan dan kenyamanan bayi.

Rangsangan yang kasar, keras atan terus menerus, tidak akan banyak menolong dan malahan dapat membahayakan bayi.

Tabel 4-1: Bentuk rangsangan taktil yang harus dihindari

Bentuk rangsangan taktil yang tidak boleh dilakukan Bahaya / resiko
Menepuk bokong Trauma dan luka
Meremas rongga dada FrakturPneumotoraksGawat napas

Kematian

Menekankan kedua paha bayi ke perutnya Ruptura hati atau hmpaPerdarahan di dalam
Mendilatasi sfingter ani Sfingter ani robek
Menempelkan kompres panas atau dingin atau menempatkan bayi di air panas atau dingin HipotermiaHipertermiaLuka bakar
Mengguncang bayi Kerusakan otak
Menlupkan oksigen atau udara dingin ke tubuh bayi Hipotermia

Suinber: Rachimhadhi et al, 1997 ; American Academy of Pediatrics, 2000

Langkah Resusitasi

 

  1. Bila bayi tidak menangis atau megap-megap, warna kulit bayi biru atau pucat, denyut jantung kurang dan 100 kali per menit, lakukan langkah resusitasi dengan melakukan ventilasi tekanan positif.
  2. Sebelumnya periksa dan pastikan bahwa alat resusitasi (balon resusitasi dan sungkup muka) telah tersedia dan berfungsi baik (lakukan tes untuk balon dan sungkup muka).
  3. Cuci tangan dan gunakan sarung tangan sebelum memegang atau memeriksa bayi.
  4. Selimuti bayi dengan kain yang kering dan hangat kecuali muka dan dada bagian atas, kemudian letakkan pada alas dan lingkungan yang hangat.
  5. Periksa ulang posisi bayi dan pastikan kepala telah dalam posisi setengah tengadah (sedikit ekstensi).
  6. Letakkan sungkup melingkupi dagu, hidung dan mulut sehingga terbentuk semacam pertautan antara sungkup dan wajah.
  7. Tekan balon resusitasi dengan dua jari atau dengan seluruh jari tangan (tergantung pada ukuran balon resusitasi).
  8. Lakukan pengujian pertautan dengan melakukan ventilasi sebanyak dua kali dan periksa gerakan dinding dada.
  9. Bila pertautan baik (tidak bocor) dan dinding dada mengembang, maka lakukan ventilasi dengan menggunakan oksigen (bila tidak tersedia oksigen gunakan udara ruangan).

10.  Pertahankan kecepatan ventilasi sekitar 40 kali per 60 detik dengan tekanan yang tepat sambil melihat gerakan dada (naik turun) selama ventilasi.

11.  Bila dinding dada naik turun dengan baik berarti ventilasi berjalan secara adekuat.

12.  Bila dinding dada tidak naik, periksa ulang dan betulkan posisi bayi, atau terjadi kebocoran lekatan atau tekanan ventilasi kurang.

13.  Lakukan ventilasi selama 2 x 30 detik atau 60 detik : kemudian lakukan penilaian segera tentang upaya bernapas spontan dan warna kulit :

*        Bila frekuensi napas normal (30-60 kali per menit), hentikan ventilasi, lakukan kontak kulit ibu – bayi, lakukan asuhan normal bayi baru lahir (menjaga bayi tetap hangat, mulai pemberian ASI dini dan pencegahan infeksi dan imunisasi).

*        Bila bayi belum bernapas spontan ulangi lagi ventilasi selama 2 x 30 detik atau 60 detik, kemudian lakukan penilaian ulang.

*        Bila frekuensi napas menjadi normal (30-60 kali per menit), hentikan ventilasi, lakukan kontak kulit ibu – bayi, lakukan asuhan normal bayi baru lahir.

*        Bila bayi bernapas, tetapi terlihat retraksi dinding dada, lakukan ventilasi dengan menggunakan oksigen (bila tersedia).

*        Bila bayi masih tidak bernapas, megap-megap teruskan bantuan pernapasan dengan ventilasi.

*        Lakukan penilaian setiap 30 detik, dengan menilai usaha bernapas, denyut jantung dan warna kulit.

*        Jika bayi tidak bernapas secara teratur setelah ventilasi selama 2-3 menit, rujuk ke fasilitas pelayan Perawatan Bayi Risiko Tinggi.

*        Jika tidak ada napas sama sekali dan tidak ada perbaikan frekuensi denyut jantung bayi setelah ventilasi selama 20 menit, hentikan ventilasi, bayi dinyatakan meninggal (jelaskan pada keluarga bahwa upaya pertolongan gagal) dan beri dukungan emosional pada keluarga.

Memasang Pipa Lambung

Indikasi

Ventilasi dengan balon dan sungkup dalam waktu yang cukup lama (beberapa menit) dan bila perut bayi kelihatan membuncit, maka harus dilakukan pemasangan pipa lambung dan pertahankan selama ventilasi karena udara dari orofarings dapat masuk ke dalam esofagus dan lambung yang kemudian menyebabkan :

  1. Lambung yang terisi udara akan membesar dan menekan diafragma sehingga menghalangi paru-paru untuk berkembang.
  2. Udara dalam lambung dapat menyebabkan regurgitasi isi lambung dan mungkin dapat terjadi aspirasi.
  3. Udara dalam lambung dapat masuk ke usus dan menyebabkan diafragma tertekan.

Perawatan Pascaresusitasi

  • Setelah prosedur resusitasi berhasil, maka segera lakukan asuhan bayi normal dengan jalan :

–         Menjaga bayi tetap hangat, lakukan kontak kulit ibu – bayi.

–         Lakukan pemberian ASI sedini mungkin.

–         Pencegahan infeksi dan imunisasi.

Jika terjadi kesulitan bernapas : frekuensi napas > 60 kali per menit, atau < 30 kali per menit atau, terjadi sianosis sentral atau retraksi dada, merintih, segera tentukan klasifikasi masalah bayi dengan gangguan napas, kemudian segera dirujuk.

Tindakan Pascaresusitasi

  1. Buanglah kateter penghisap dan ekstraktor lendir sckali pakai (disposable) ke dalam kantong plastik atau tempat yang tidak bocor.
  2. Untuk kateter dan ekstraktor lendir yang dipakai daur ulang :

*        Rendam dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit (dekontaininasi).

*        Cuci dengan deterjen dan air bersih yang mengalir.

*        Gunakan semprit untuk membilas kateter/pipa.

*        Rebus atau disinfeksi secara kimiawi.

  1. Lepaskan katup dan sungkup, periksa apakah ada yang robek atau retak.
  2. Cuci katup dan sungkup dengan deterjen dan air, periksa apakah ada kerusakan, kemudian lakukan pembilasan dan keringkan.
  3. Pilih salah satu cara sterilisasi atau disinfeksi tingkat tinggi :

*        Sterilisasi dengan Autokiaf (Autoclave):

–         Suhu 120°C, selama 30 menit bila dibungkus, 20 menit bila tidak dibungkus.

*        DTT dengan :

–         Merebus/kukus selama 20 menit dihitung sejak air mendidih

–         Rendam dalam larutan kimiawi (klorin 0,1% atau cidex) selama 20 menit

  1. Cuci tangan dengan sabun dan air bersih mengalir, keringkan dengan kain bersih dan kering atau keringkan dengan udara.
  2. Setelah disinfeksi kimiawi, bilas seluruh alat dengan air bersih dan biarkan kering dengan udara.
  3. Pasang kembali balon.
  4. Lakukan pengujian untuk meyakinkan bahwa balon tetap berfungsi :

–         Tutup jalan udara keluar dengan telapak tangan dan amati apakah balon akan mengembang kembali bila tahanan pada jalan udara dilepaskan.

–         Ulangi percobaan tersebut dengan memakai sungkup yang sudah dipasang pada balon.

Catatan Medik

Catat hal-hal di bawah ini dengan rinci

  • Kondisi bayi saat lahir.
  • Tindakan yang diperlukan untuk memulai pernapasan.
  • Waktu antara lahir dengan mulainya pernapasan.
  • Pengamatan secara klinis selama dan sesudah tindakan resusitasi.
  • Hasil tindakan resusitasi.
  • Bila tindakan resusitasi gagal, cari penyebab kegagalan tindakan tersebut.
  • Nama-nama tenaga kesehatan yang menangani tindakan.

Mekonium pada cairan ketuban

Komplikasi lain yang sering ditemui dan membahayakan kesehatan bayi baru lahir adalah terdapatnya mekonium pada cairan ketuban. Sangat sulit untuk memperkirakan dengan tepat kapan terjadinya pengeluaran mekonium. Untuk itu penolong harus selalu siap terhadap adanya mekonium dalam cairan ketuban pada setiap kelahiran. Mekonium dalam cairan ketuban merupakan indikasi adanya gangguan pada bayi yang berkaitan dengan masalah intrauterin ataupun gangguan pernapasan karena aspirasi mekonium setelah bayi lahir. Amati bayi secara cermat terhadap tanda-tanda adanya penyulit setelah bayi dilahirkan. Jika bayi mengalami kesulitan bernapas, segera ikuti langkah-langkah penatalaksanaan asfiksia yang dibahas di awal bab ini.

Bila terdapat mekonium dalam cairan ketuban, petugas yang menolong persalinan harus bertindak proaktif, dengan jalan menghisap cairan dari mulut dan hidung bayi sebelum melahirkan bahu. Setelah bahu dan badan bayi lahir seluruhnya, segera dilakukan langkah awal prosedur resusitasi hingga tahap penilaian bayi.