KETUBAN PECAH DINI (KPD)

Definisi

Ketuban pecah dini (KPD) didefinisikan sebagai pecahnya ketuban sebelum waktunya melahirkan. Hal ini dapat terjadi pada akhir kehamilan maupun jauh sebelum waktunya melahirkan. KPD preterm adalah KPD sebelum usia kehamilan 37 minggu. KPD yang memanjang adalah KPD yang terjadi lebih dari 12 jam sebelum waktunya melahirkan.

Kejadian KPD berkisar 5-10% dari semua kelahiran, dan KPD preterm terjadi 1% dari semua kehamilan. 70% kasus KPD terjadi pada kehamilan cukup bulan. KPD merupakan penyebab kelahiran prematur sebanyak 30%.

Gambar 1. Ketuban Pecah

Penyebab

Pada sebagian besar kasus, penyebabnya belum ditemukan. Faktor yang disebutkan memiliki kaitan dengan KPD yaitu riwayat kelahiran prematur, merokok, dan perdarahan selama kehamilan. Beberapa faktor risiko dari KPD :

  1. Inkompetensi serviks (leher rahim)
  2. Polihidramnion (cairan ketuban berlebih)
  3. Riwayat KPD sebelumya
  4. Kelainan atau kerusakan selaput ketuban
  5. Kehamilan kembar
  6. Trauma
  7. Serviks (leher rahim) yang pendek (<25mm) pada usia kehamilan 23 minggu
  8. Infeksi pada kehamilan seperti bakterial vaginosis

Gambar 2. Inkompetensi leher Rahim

Tanda dan Gejala

Tanda yang terjadi adalah keluarnya cairan ketuban merembes melalui vagina. Aroma air ketuban berbau manis dan tidak seperti bau amoniak, mungkin cairan tersebut masih merembes atau menetes, dengan ciri pucat dan bergaris warna darah. Cairan ini tidak akan berhenti atau kering karena terus diproduksi sampai kelahiran. Tetapi bila Anda duduk atau berdiri, kepala janin yang sudah terletak di bawah biasanya “mengganjal” atau “menyumbat” kebocoran untuk sementara.

Demam, bercak vagina yang banyak, nyeri perut, denyut jantung janin bertambah cepat merupakan tanda-tanda infeksi yang terjadi.

Penanganan Ketuban Pecah di Rumah

  1. Apabila terdapat rembesan atau aliran cairan dari vagina, segera hubungi dokter atau petugas kesehatan dan bersiaplah untuk ke Rumah Sakit
  2. Gunakan pembalut wanita (jangan tampon) untuk penyerapan air yang keluar
  3. Daerah vagina sebaiknya sebersih mungkin untuk mencegah infeksi, jangan berhubungan seksual atau mandi berendam
  4. Selalu membersihkan dari arah depan ke belakang untuk menghindari infeksi dari dubur
  5. Jangan coba melakukan pemeriksaan dalam sendiri

Terapi

Apabila terjadi pecah ketuban, maka segeralah pergi ke rumah sakit. Dokter kandungan akan mendiskusikan rencana terapi yang akan dilakukan, dan hal tersebut tergantung dari berapa usia kehamilan dan tanda-tanda infeksi yang terjadi. Risiko kelahiran bayi prematur adalah risiko terbesar kedua setelah infeksi akibat ketuban pecah dini. Pemeriksaan mengenai kematangan dari paru janin sebaiknya dilakukan terutama pada usia kehamilan 32-34 minggu. Hasil akhir dari kemampuan janin untuk hidup sangat menentukan langkah yang akan diambil.

Kontraksi akan terjadi dalam waktu 24 jam setelah ketuban pecah apabila kehamilan sudah memasuki fase akhir. Semakin dini ketuban pecah terjadi maka semakin lama jarak antara ketuban pecah dengan kontraksi. Jika tanggal persalinan sebenarnya belum tiba, dokter biasanya akan menginduksi persalinan dengan pemberian oksitosin (perangsang kontraksi) dalam 6 hingga 24 jam setelah pecahnya ketuban. Tetapi jika memang sudah masuk tanggal persalinan dokter tak akan menunggu selama itu untuk memberi induksi pada ibu, karena menunda induksi bisa meningkatkan resiko infeksi.

Apabila paru bayi belum matang dan tidak terdapat infeksi setelah kejadian KPD, maka istirahat dan penundaan kelahiran (bila belum waktunya melahirkan) menggunakan magnesium sulfat dan obat tokolitik. Apabila paru janin sudah matang atau terdapat infeksi setelah kejadian KPD, maka induksi untuk melahirkan mungkin diperlukan.

Penggunaan steroid untuk pematangan paru janin masih merupakan kontroversi dalam KPD. Penelitan terbaru menemukan keuntungan serta tidak adanya risiko peningkatan terjadinya infeksi pada ibu dan janin. Steroid berguna untuk mematangkan paru janin, mengurangi risiko sindrom distress pernapasan pada janin, serta perdarahan pada otak.

Penggunaan antibiotik pada kasus KPD memiliki 2 alasan. Yang pertama adalah penggunaan antibiotik untuk mencegah infeksi setelah kejadian KPD preterm. Dan yang kedua adalah berdasarkan hipotesis bahwa KPD dapat disebabkan oleh infeksi dan sebaliknya KPD preterm dapat menyebabkan infeksi. Keuntungan didapatkan pada wanita hamil dengan KPD yang mendapatkan antibiotik yaitu, proses kelahiran diperlambat hingga 7 hari, berkurangnya kejadian korioamnionitisserta sepsis neonatal (infeksi pada bayi baru lahir).

Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan secara langsung cairan yang merembes tersebut dapat dilakukan dengan kertas nitrazine, kertas ini mengukur pH (asam-basa). pH normal dari vagina adalah 4-4,7 sedangkan pH cairan ketuban adalah 7,1-7,3. Tes tersebut dapat memiliki hasil positif yang salah apabila terdapat keterlibatan trikomonas, darah, semen, lendir leher rahim, dan air seni. Pemeriksaan melalui ultrasonografi (USG) dapat digunakan untuk mengkonfirmasi jumlah air ketuban yang terdapat di dalam rahim.

Komplikasi KPD

Komplikasi paling sering terjadi pada KPD sebelum usia kehamilan 37 minggu adalah sindrom distress pernapasan, yang terjadi pada 10-40% bayi baru lahir. Risiko infeksi meningkat pada kejadian KPD. Semua ibu hamil dengan KPD prematur sebaiknya dievaluasi untuk kemungkinan terjadinya korioamnionitis (radang pada korion dan amnion). Selain itu kejadian prolaps atau keluarnya tali pusar dapat terjadi pada KPD.

Risiko kecacatan dan kematian janin meningkat pada KPD preterm. Hipoplasia paru merupakan komplikasi fatal yang terjadi pada KPD preterm. Kejadiannya mencapai hampir 100% apabila KPD preterm ini terjadi pada usia kehamilan kurang dari 23 minggu.

Gambar 3. Keluarnya Tali Pusar

Pencegahan

Beberapa pencegahan dapat dilakukan namun belum ada yang terbukti cukup efektif. Mengurangi aktivitas atau istirahat pada akhir triwulan kedua atau awal triwulan ketiga dianjurkan.

SOURCE : KLIK DOKTER

LIMA BENANG MERAH DALAM ASUHAN PERSALINAN DAN KELAHIRAN BAYI

LIMA BENANG MERAH DALAM ASUHAN PERSALINAN DAN KELAHIRAN BAYI

LIMA BENANG MERAH DALAM

ASUHAN PERSALINAN DAN KELAHIRAN BAYi

(sumber pelatihan APN)

Ada lima aspek dasar, atau Lima Benang Merah, yang penting dan saling terkait dalam asuhan persalinan yang bersih dan aman. Berbagai aspek tersebut melekat pada setiap persalinan, baik normal maupun patologis. Lima Benang Merah tersebut adalah :

  1. Membuat keputusan klinik
  2. Asuhan sayang ibu dan sayang bayi
  3. Pencegahan infeksi
  4. Pencatatan (Rekam medis)
  5. Rujukan

Lima Benang Merah ini akan selalu berlaku dalam penatalaksanaan persalinan, mulai dari kala satu hingga kala empat, termasuk penatalaksanaan bayi baru lahir.

  1. 1. Membuat keputusan klinik

Membuat keputusan klinik adalah proses pemecahan masalah yang akan digunakan untuk merencanakan asuhan bagi ibu dan bayi baru lahir. Hal ini merupakan suatu proses sistematik dalam mengumpulkan dan analisis informasi, membuat diagnosis kerja (menentukan kondisi yang dikaji adalah normal atau bermasalah), membuat rencana tindakan yang sesuai dengan diagnosis, melaksanakan rencana tindakan dan akhirnya mengevaluasi hasil asuhan atau tindakan yang telah diberikan kepada ibu dan/atau bayi baru lahir.

Ada empat langkah proses pengambilan keputusan klinik[1]:

  1. Pengumpulan Data
  2. Diagnosis
  3. Penatalaksana Asuhan dan Perawatan
  4. Evaluasi
    1. Data Subjektif
    2. Data Objektif
    1. Membuat Rencana
    2. Melaksanakan Rencana
  1. 1.Pengumpulan data

Klien dan penoloug persalinan memainkan peranan pcnting dalam langkah pertama proses membuat keputusan klinik. Data dapat dikumpulkan melalui kunjungan antenatal yang. teratur. Sayangnya, sebagian besar ibu melakukan kunjungan ke penolong persalinan bila merasa mempunyai suatu masalah, inisalnya: mengalaini perdarahan, merasa nyeri bila berkeinih, atau merasa bahwa janinnya tidak bergerak. Bila ibu datang untuk mendapatkan pertolongan, kumpulkan data dan informasi untuk membuat diagnosis secara tepat dan menerapkan tindakan yang sesuai. Yang dikumpulkan adalah data subjektif dan data objektif. Data subjektif adalah informasi yang diceritakan ibu tentang apa yang dirasakannya, apa yang sedang dialaininya dan apa yang telah dialaininya. Data subjektif juga meliputi informasi tambahan yang diceritakan oleh anggota keluarga tentang status ibu, terutama jika thu merasa sangat nyeri atau sangat sakit. Data objektif adalah informasi yang dikumpulkan berdasarkan pemeriksaan/pengamatan terhadap ibu atau bayi baru lahir.

Kelengkapan dan ketelitian dalam proses pengumpulan data adalah sangat penting.

Kumpulkan data dengan cara :

  • Berbicara dengan ibu, mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai kondisi ibu dan riwayat perjalanan penyakit.
  • Mengamati tingkah laku ibu dan apakah ibu terlihat sehat atau sakit, nyaman atau terganggu (kesakitan).
  • Melakukan pemeriksaan fisik.
  • Melakukan pemeriksaan tambahan lainnya bila perlu, inisalnya pemeriksaan laboratorium (konsentrasi Hb, uji fungsi hati atau ginjal).

2. Diagnosis

Setelah data dikumpulkan, penolong persalinan dapat melakukan analisis data dan segera membuat diagnosis secara tepat. Pencarian dan pengumpulan data untuk diagnosis, bukanlah proses linier (berada pada suatu garis lurus) melainkan proses sirkuler (melingkar) yang berlangsung secara terus-menerus. Suatu diagnosis kerja diuji dan dipertegas atau dikaji ulang berdasarkan pengamatan dan temuan yang diperoleh secara terus-menerus. Informasi yang terkumpul akan memperkuat atau memperlemah diagnosis yang telah dibuat. Jika dukungan terhadap diagnosis kerja sangat lemah, diperlukan data dan bukti baru sehingga dihasilkan diagnosis definitif. Setelah ini barulah bidan tersebut dapat merencanakan penatalaksanaan kasus secara tepat.

Untuk membuat diagnosis:

  • Pastikan bahwa data-data yang ada dapat mendukung diagnosis.
  • Antisipasi masalah atau penyulit yang mungkin terjadi setelah diagnosis definitif dibuat.
  • Perhatikan bahwa mungkin terdapat sejumlah diagnosis banding atau diagnosis ganda.
  1. 3. Penatalaksanaan asuhan atau perawatan

Berdasarkan data yang terkumpul dan diagnosis definitif, susun rencana penatalaksanaan sebagai elemen asuhan atau perawatan yang memadai bagi ibu dan/atau bayi baru lahir. Mungkin terdapat beberapa pilihan intervensi efektif; diskusikan dengan ibu dan keluar ganya untuk meinilih cara pengobatan yang paling sesuai dan efektif.

Pilihan ini akan dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk :

  • Bukti-bukti klinik (pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, dll).
  • Keinginan-keinginan dan kepercayaan ibu.
  • Tempat di mana asuhan diberikan (di rumah, rumah sakit, puskesmas, dli) dan waktu di mana asuhan diperlukan (slang atau malam).
  • Perlengkapan, bahan-bahan dan obat-obatan yang tersedia.
  • Biaya yang diperlukan.
  • Tingkat keterampilan dan pengalaman penolong persalinan.
  • Akses ke tempat rujukan, transportasi yang tersedia dan jarak ke tempat rujukan.
  • Sistem dan surnberdaya yang dapat memberikan dukungan bagi ibu (suaini, anggota keluarga dan sahabat).

Setelah membuat rencana asuhan, laksanakan rencana tersebut secara tepat waktu dan mengacu pada keselamatan kiien. Hal ini penting untuk menghindarkan timbulnya penyuiit dan memastikan bahwa ibu dan/atau bayi baru lahir akan menerima asuhan atau perawatan yang mereka butuhkan.

  1. 4. Evaluasi

Penatalaksanaan yang telah dikerjakan harus dievaluasi untuk menilai tingkat efektivitasnya. Tentukan apakah perlu dikaji ulang atau diteruskan sesuai dengan kebutuhan saat itu atau kemajuan pengobatan. Proses pengumpulan data, membuat diagnosis, penatalaksanaan intervensi atau tindakan, dan evaluasi adalah proses sirkuler (melingkar). Lanjutkan evaluasi asuhan yang telah diberikan kepada ibu dan bayi baru lahir. Jika pada saat evaluasi ditemukan bahwa status ibu atau bayi baru lahir menunjukkan adanya perubahan, sesuaikan asuhan lanjutan untuk memenuhi perubahan kebutuhan tersebut.

Rangkuman

Membuat keputusan klinik adalah komponen esensial dalam asuhan bersih dan aman kepada ibu selama persalinan, kelahiran dan masa nifas, dan bayi baru lahir. Proses membuat suatu keputusan klinik memungkinkan dihasilkannya keputusan-keputusan yang benar dan tepat waktu bagi asuhan spesifik yang diperlukan seorang ibu atau bayi baru lahir. Proses ini mencegah terjadinya penyulit dan memungkinkan pengenalan dini tanda -tanda atau gejala-gejala adanya penyulit. Dalam bab-bab berikutnya akan dibahas pendekatan – pendekatan baru, termasuk penatalaksanaan kala tiga persalinan, penatalaksanaan atonia uteri, dan asuhan bayi baru lahir. Proses membuat keputusan klinik harus diterapkan dalam pelaksanaan asuhan ini, baik asuhan yang sedang dijalankan maupun yang terdahulu.


[1] Untuk para peserta yang telah mengikuti pelatihan LSS, langkah-langkah ini disebut “Tanya/dengar, lihat/raba, indentifikasi masalahnya, ambil tindakan yang sesuai”

ASUHAN SAYANG IBU DAN SAYANG BAYI (BUKU APN)

BUKU APN

  1. 2. Asuhan sayang ibu dan sayang bayi

Asuhan sayang ibu adalah asuhan dengan prinsip saling menghargai budaya, kepercayaan dan keinginan sang Ibu. Cara yang paling mudah untuk membayangkan asuhan sayang ibu adalah dengan menanyakan pada din kita sendiri, Seperti inikah asuhan yang ingin saya dapatkan?” atau “Apakah asuhan seperti ini, yang saya inginkan untuk keluarga saya yang sedang hainil”

Salah satu prinsip dasar asuhan sayang ibu adalah dengan mengikutsertakan suaini dan keluarga selama proses persalinan dan kelahiran bayi. Banyak hasil penelitian menunjukkan bahwa jika para ibu diperhatikan dan diberi dukungan selama persalinan dan kelahiran bayi serta mengetahui dengan baik mengenai proses persalinan dan asuhan yang akan mereka terima, mereka akan mendapatkan rasa aman dan keluaran yang lebih baik (Enkin, et al, 2000). Antara lain, juga disebutkan bahwa asuhan tersebut dapat mengurangi jumlah persalinan dengan tindakan seperti inisalnya ekstraksi vakum, cunam, dan seksio sesar. Persalinan juga akan berlangsung lebih cepat (Enkin, et al, 2000).

Asuhan sayang ibu dalam proses persalinan:

  1. Panggil ibu sesuai namanya, hargai dan perlakukan ibu sesuai martabatnya.
  2. Jelaskan asuhan dan perawatan yang akan diberikan pada ibu sebelum memulai asuhan tersebut.
  3. Jelaskan proses persalinan kepada ibu dan keluarganya.
  4. Anjurkan ibu untuk bertanya dan membicarakan rasa takut atau khawatir.
  5. Dengarkan dan tanggapi pertanyaan dan kekhawatiran ibu.
  6. Berikan dukungan, besarkan hatinya dan tenteramkan perasaan ibu beserta anggota keluarga yang lain.
  7. Anjurkan ibu untuk ditemani suaini dan/atau anggota keluarga yang lain selama persalinan dan kelahiran bayinya.
  8. Ajarkan suaini dan anggota-anggota keluarga mengenai cara-cara bagaimana mereka dapat memperhatikan dan mendukung ibu selama persalinan dan kelahiran bayinya.
  9. Lakukan praktek-praktek pencegahan infeksi yang baik secara konsisten.

10. Hargai privasi ibu.

11. Anjurkan ibu untuk mencoba berbagai posisi selama persalinan dan kelahiran bayi.

12. Anjurkan ibu untuk ininum cairan dan makan makanan ringan bila ia menginginkannya.

13. Hargai dan perbolehkan praktek-praktek tradisional yang tidak memberi pengaruh yang merugikan.

14. Hindari tindakan berlebihan dan mungkin membahayakan seperti episiotoini, pencukuran dan klisma.

15. Anjurkan ibu untuk memeluk bayinya segera setelah lahir.

16. Membantu memulai pemberian ASI dalam satu jam pertama setelah kelahiran bayi.

17. Siapkan rencana rujukan (bila diperlukan).

18. Mempersiapkan persalinan dan kelahiran bayi dengan baik dan bahan-bahan, perleng kapan dan obat-obatan yang diperlukan. Siap untuk melakukan resusitasi bayi baru lahir pada setiap kelahiran bayi.

Asuhan sayang ibu pada masa postpartum

  • Anjurkan ibu untuk selalu berdekatan dengan bayinya (rawat gabung).
  • Bantu ibu untuk mulai membiasakan rnenyusui dan anjurkan pemberian ASI sesuai perinintaan.
  • Ajarkan ibu dan keluarganya mengenai nutrisi dan istirahat yang cukup setelah melahirkan.
  • Anjurkan suaini dan anggota-anggota keluarga untuk memeluk bayi dan rnensyukuri kelahiran bayi.
  • Ajarkan ibu dan anggota-anggota keluarganya tentang bahaya dan tanda-tanda bahaya yang dapat diamati dan anjurkan mereka untuk mencari pertolongan jika terdapat masalah atau kekhawatiran.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa banyak ibu di Indonesia yang masih tidak mau meininta pertolongan tenaga penolong persalinan terlatih untuk memberikan asuhan selama persalinan dan kelahiran bayi. Sebagian dan mereka memberi alasan bahwa penolong persalinan terlatih tidak benar-benar memper hatikan kebutuhan atau kebudayaan, tradisi dan keinginan pribadi para ibu dalam persalinan dan kelahiran bayinya. Alasan lain yang juga berperan adalah bahwa sebagian besar fasilitas kesehatan meiniliki peraturan dan prosedur kurang bersahabat dan menakutkan bagi para ibu. Peraturan dan prosedur tersebut termasuk: tidak memperkenankan ibu untuk berjalan-jalan selama proses persalinan, tidak mengizinkan anggota keluarga menemani ibu, meni batasi ibu hanya pada posisi tertentu selama persalinan dan kelahiran bayi dan meinisahkan ibu dan bayi segera setelah bayi dilahirkan.

  1. 3. Pencegahan infeksi

Tujuan pencegahan infeksi dalam pelayanan asuhan kesehatan

Tindakan pencegahan infeksi (P1) tidak terpisah dan komponen-komponen lain dalam asuhan selama persalinan dan kelahiran bayi. Tindakan ini harus diterapkan dalam setiap aspek asuhan untuk melindungi ibu, bayi baru lahir, keluarga, penolong persalinan dan tenaga kesehatan lainnya dengan jalan menghindarkan transinisi penyakit yang disebabkan oleh bakteri, virus dan jamur. Juga upaya-upaya untuk menurunkan risiko terjangkit atau terinfeksi inikroorganisme yang menimbulkan penyakit-penyakit berbahaya yang hingga kini belum ditemukan cara pengobatannya, seperti inisalnya Hepatitis dan HIV/AIDS.

Tindakan-tindakan pencegahan infeksi dalam pelayanan asuhan kesehatan:

  • meininimalkan infeksi yang disebabkan oleh inikroorganisme.
  • menurunkan risiko penularan penyakit yang mengancam jiwa seperti hepatitis dan HIV/AIDS .

Di masa lalu, tujuan utama pencegahan infeksi adalah untuk mencegah infeksi serius pascabedah. Meskipun infeksi serius pascabedah masih merupakan masalah di banyak negara, munculnya HIV/AIDS dan masalah berkelanjutan akibat hepatitis telah mengubah secara dramatik fokus pencegahan infeksi. Karena HIV dan hepatitis makin sering terjadi, risiko terinfeksi penyakit-penyakit tersebut juga akan semakin meningkat.

Penolong persalinan dapat terpapar hepatitis dan HIV di tempat kerjanya melalui:

  • percikan darah atau cairan tubuh pada mata, hidung, mulut atau melalui diskontinuitas permukaan kulit (inisalnya luka atau lecet yang kecil).
  • luka tusuk yang disebabkan oleh jarum yang terkontaininasi atau peralatan tajam lain nya, baik pada saat prosedur dilakukan atau pada saat memroses peralatan.

Memakai sarung tangan, mengenakan perlengkapan pelindung pribadi (kaca mata, masker, celemek, dll) dapat melindungi penolong terhadap kemungkinan terkena percikan, berhati -hati saat menangani benda tajam dan melakukan dekontaininasi serta memroses peralatan yang terkontaininasi secara benar, merupakan cara-cara efektif untuk meininimaikan risiko infeksi, tidak hanya bagi ibu/bayi baru lahir, tapi juga terhadap penolong persalinan dan staf kesehatan lainnya.

Pencegahan infeksi adalah bagian esensial dan asuhan lengkap yang diberikan kepada ibu dan bayi baru lahir dan harus dilaksanakan secara rutin pada saat menolong persalinan dan kelahiran, saat memberikan asuhan dasar selama kunjungan antenatal atau pascapersalinan bayi baru lahir atau saat menatalaksana penyulit.

Definisi tindakan-tindakan dalam pencegahan infeksi

  • Asepsis atau teknik aseptik adalah istilah umum yang biasa digunakan dalam pelayanan kesehatan. Istilah ini dipakai untuk menggambarkan semua usaha yang dilakukan dalam mencegah masuknya inikroorganisme kedalam tubuh yang mungkin akan menyebabkan infeksi. Teknik aseptik membuat prosedur lebih aman bagi ibu, bayi baru lahir dan penolong persalinan dengan cara menurunkan jumlah inikroorganisrne pada kulit, jaringan dan benda-benda mati hingga tingkat yang aman, atau dengan menghilangkannya secara keseluruhan.
  • Antisepsis mengacu pada pencegahan infeksi dengan cara membunuh atau menghambat pertumbuhan inikroorganisme pada kulit atau jaringan tubuh Iainnya.
  • Dekontaininasi adalah tindakan yang dilakukan untuk memastikan bahwa petugas kesehatan dapat menangani secara aman, benda-benda yang terkontaininasi darah dan cairan tubuh. Peralatan medis, sarung tangan dan permukaan (seperti inisalnya meja pemeriksaan) harus didekontaininasi segera setelah terpapar darah atau cairan tubuh.
  • Mencuci dan membilas adalah tindakan-tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan semua darah, cairan tubuh atau benda asing (inisalnya debu, kotoran) dan kulit atau instrumen.
  • Disinfeksi adalah tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan hampir semua inikro organisme pcnyebab penyakit pada benda-benda mati atau instrumen.
  • Disinfeksi tingkat tinggi (DTT) adalah tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan semua inikroorganisrne kecuali endospora bakteri dengan cara merebus atau secara kiiniawi.
  • Sterilisasi adalah tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan semua inikroorganisme (bakteri, jamur, parasit dan virus) termasuk endospora bakteri pada benda-benda mati atau instrumen.

Prinsip-prinsip pencegahan infeksi

Pencegahan infeksi yang efektif didasarkan pada prinsip-prinsip berikut :

  • Setiap orang (ibu, bayi baru lahir, penolong persalinan) harus dianggap dapat menu larkan penyakit karena infeksi yang tcrjadi bersifat asimptomatik (tanpa gejala).
  • Setiap orang harus dianggap berisiko terkena infeksi.
  • Permukaan tempat pemeriksaan, peralatan dan benda-benda lain yang akan dan telah bersentuhan dengan kulit tak utuh/selaput mukosa atau darah, harus dianggap terkon taininasi sehingga setelah selesai digunakan harus dilakukan proses pencegahan infeksi secara benar.
  • Jika tidak diketahui apakah permukaan, peralatan atau benda lainnya telah diproses dengan benar, harus dianggap telah terkontaininasi.
  • Risiko infeksi tidak bisa dihilangkan secara total, tapi dapat dikurangi hingga sekecil mungkin dengan menerapkan tindakan-tindakan pencegahan infeksi yang benar dan konsisten.

Tindakan-tindakan pencegahan infeksi

Ada berbagai praktek pencegahan infeksi yang membantu mencegah rnikroorganisme berpindah dan satu individu ke individu lainnya (ibu, bayi baru lahir dan para penolong persalinan) dan menyebarkan infeksi.

Tindakan-tindakan pencegahan infeksi termasuk hal-hal berikut :

  • cuci tangan
  • meinakai sarung tangan
  • memakai perlengkapan pelindung (celemeklbaju penutup, kacamata, sepatu tertutup)
  • menggunakan asepsis atau teknik aseptik
  • memproses alat bekas pakai
  • menangani peralatan tajam dengan aman
  • menjaga kebersihan dan kerapian lingkungan serta pembuangan sampah secara benar

Cuci tangan

Cuci tangan adalah prosedur yang paling penting dan pencegahan penyebaran infeksiyang menyebabkan kesakitan dan kematian ibu dan bayi baru lahir.

Cuci tangan harus dilakukan :

  • Segera setelah tiba di tempat kerja.
  • Sebelum melakukan kontak fisik secara langsung dengan ibu dan bayi yang baru dilahirkan.
  • Setelah kontak fisik langsung dengan ibu atau bayi baru lahir.
  • Sebelum memakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril.
  • Setelah melepaskan sarung tangan (tangan bisa terkontaininasi jika sarung tangan ber lubang atau robek).
  • Setelah menyentuh benda yang mungkin terkontaininasi oleh darah atau cairan tubuh lainnya atau setelah menyentuh selaput lendir (mukosa), inisalnya hidung, mulut, mata, vagina meskipun saat itu sedang menggunakan sarung tangan.
  • Setelah ke kamar mandi.
  • Sebelum pulang kerja.

Untuk mencuci tangan :

Lepaskan perhiasan di tangan dan pergelangan.

  • Lepaskan perhiasan di tangan dan pergelangan
  • Basahi tangan dengan air bersih dan mengalir.
  • Gosok dengan kuat kedua tangan, gunakan sabun biasa atau yang mengandung anti inikroba selama 15 sampai 30 detik (pastikan menggosok sela-sela jari). Tangan yang terlihat kotor harus dicuci lebih lama.
  • Bilas tangan dengan air bersih yang mengalir.
  • Biarkan tangan kering dengan cara diangin-anginkan atau keringkan dengan kertas tisu yang bersih dan kening atau handuk pribadi yang bersih dan kering.

Inikroorganisme tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang lembab atau air yang tidak mengalir, oleh karena itu ingat pedoman berikut pada saat mencuci tangan :

  • Bila menggunakan sabun padat (inisalkan sabun batangan), gunakan dalam potongan potongan kecil dan tempatkan sabun dalam wadah yang berlubang-lubang untuk mencegah air menggenangi sabun tersebut.
  • Jangan mencuci tangan dengan jalan mencelupkannya ke dalam wadah berisi air meskipun air tersebut sudah ditambah larutan antiseptik. Inikroorganisme dapat bertahan hidup dan berkembang biak dalam larutan tersebut.
  • Bila tidak tersedia air mengalir :

– Gunakan ember tertutup dengan keran yang bisa ditutup pada saat mencuci tangan dan dibuka kembali jika akan membilas.

– Gunakan botol yang sudah diberi lubang agar air bisa mengalir.

– Ininta orang lain menyiramkan air ke tangan, atau

– Gunakan pencuci tangan yang mengandung anti inikroba berbahan dasar alkohol (campurkan 100 ml 60-90% alkohol dengan 2 ml gliserin. Gunakan kurang lebih 2 ml dan gosok kedua tangan hingga kering, ulangi tiga kali).

  • Keringkan tangan anda dengan handuk bersih dan kering. Jangan menggunakan han duk yang juga digunakan oleh orang lain. Handuk basah lembab adalah tempat yang baik untuk inikroorganisme berkembang biak.
  • Bila tidak ada saluran air untuk membuang air yang sudah digunakan, kumpulkan air di baskom dan buang ke saluran limbah atau jamban di kamar mandi.

Memakai sarung tangan

Pakai sarung tangan sebelum rnenyentuh sèsuatu yang basah (kulit tak utuh, selaput mu kosa, darah atau cairan tubuh lainnya) atau peralatan, sarung tangan atau sampah yang terkontaininasi.

Jika sarung tangan diperlukan, ganti sarung tangan untuk menangani setiap ibu atau bayi baru lahir setelah terjadi kontak langsung untuk menghindari kontaininasi silang atau gu nakan sarung tangan yang berbeda untuk situasi yang berbeda pula (Tabel 1-1).

  • Gunakan sarung tangan steril atau sarung tangan DTT untuk prosedur apapun yang akan mengakibatkan kontak dengan jaringan di bawah kulit seperti persalinan, penjahitan atau pengambilan darah.
  • Gunakan sarung tangan pemeriksaan yang bersih untuk menangani darah atau cairan tubuh.
  • Gunakan sarung tangan rumah tangga atau sarung tangan tebal untuk mencuci peralatan, menangani sampah, juga membersihkan darah dan cairan tubuh.

Tabel 1-1: Tindakan yang memerlukan sarung tangan

Prosedur/Tindakan Sarung tanganyang diperlukan Sarung tangan disinfeksi tingkattinggi Sarungtangan sterail
Memeriksa tekanan darah atau suhu, menyuntik Tidak Tidak Tidak
Menolong persalinan dan kelahiran, menjahit laserasi atau episiotoini Ya Bisa diterima Dianjurkan
Mengambil contoh darah/pemasangan IV Ya Tidak Tidak
Menghisap lendir dan jalan napas bayi baru lahir Ya Ya Tidak
Memegang dan membersihkan peralatan yang terkontaininasi Ya Tidak Tidak
Memegang sampah yang terkontaini-nasi Ya Tidak Tidak
Membersihkanpercikan darah atau cairan tubuh Ya Tidak Tidak

1 Jika sterilisasi tidak memungkinkan sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi adalah satu-satunya alternatif yang bisa diterima.

2 Sarung tangan periksa yang bersih bisa diterima.

3 Sarung tangan tebal atau sarung tangan rumah taugga dan lateks adalah yang paling praktis untuk tujuan ini.

Tabel diadaptasi dan CDC, 1989 dan DH1HS. 1988.

Sarung tangan sekali pakai lebih dianjurkan. tapi jika sarananya sangat terbatas, sarung tangan bisa digunakan berulang kali jika dilakukan dekontaininasi, cuci dan bilas, disinfeksi tingkat tinggi atau sterilisasi. Jika sarung tangan sekali pakai digunakan berulang kali, jangan diproses lebih dan tiga kali karena mungkin telah terjadi robekan! lubang yang tidak terlihat atau sarung tangan dapat robek pada saat sedang digu nakan.

Ingat :Jangan gunakan sarung tangan jika sarung tangan tersebut tak utuhm tipis

atau berlubang dan robek. Buang dan gunakan sarung tangan yang lain.

Menggunakan teknik aseptik

Teknik aseptik membuat prosedur menjadi lebih aman bagi ibu/bayi baru lahir dan penolong persalinan. Teknik aseptik meliputi aspek :

  • penggunaan perlengkapan pelindung pribadi antisepsis
  • antisepsis
  • menjaga sterilitas/disinfeksi tingkat tinggi

Perlengkapan pelindung pribadi

Perlengkapan pelindung pribadi mencegah pemaparan terhadap infeksi dengan menggunakan penghalang (kaca mata pelindung, masker wajah, sepatu boot atau sepatu tertutup, celemek) selama melaksanakan prosedur klinik. Hal ini dapat melindungi penolong terhadap percikan dan luka terkena benda tajam. Masker wajah dan celemek plastik sederhana dapat dibuat sesuai dengan kebutuhan dan sumber daya yang ada di masing-masing daerah jika perlengkapan sekali pakai tidak tersedia.

Antisepsis

Antisepsis adalah tindakan yang dilakukan untuk mencegah infeksi dengan cara membunuh atau mengurangi jumlah inikroorganisme pada jaringan tubuh atau kulit. Karena kulit dan selaput lendir (mukosa) tidak dapat disterilisasi, penggunaan antiseptik bisa meininimalkan jumlah inikroorganisme yang akan mengkontaininasi luka terbuka sehingga dapat terjadi infeksi. Cuci tangan yang teratur di antara kontak dengan setiap ibu/bayi baru lahir akan membantu untuk menghilangkan sebagian besar inikroorganisme pada kulit.

Antiseptik vs larutan disinfektan

Meskipun istilah antiseptik dan disinfektan .kadang-kadang digunakan secara bergantian, ternyata larutan antiseptik dan disinfektan digunakan untuk tujuan yang berbeda. Larutan antiseptik digunakan pada kulit atau jaringan hidup sehingga daya eliininasi inikroorga nisme tidak sekuat disinfektan. Larutan disinfektan digunakan untuk dekontaininasi per alatan dan benda-benda yang digunakan dalam prosedur bedah. Membersihkan secara rutin permukaan tempat periksa atau meja operasi dengan disinfektan yang sesuai, baik yang terkontaininasi ataupun tidak, (setidaknya sekali dalam sehari) adalah cara yang mudah dan murah untuk disinfeksi suatu permukaan.

Larutan antiseptik seperti alkohol, memerlukan waktu beberapa menit setelah dioleskan agar memberikan efek yang optimal. Karena itu, penggunaan antiseptik tidak diperlukan untuk suatu tindakan kecil yang membutuhkan waktu segera (inisalnya penyuntikan oksi tosin secara IM selama penatalaksanaan aktif persalinan kala tiga, memotong tali pusat) asalkan peralatan yang digunakan sudah diproses hingga disinfeksi tingkat tinggi atau steril.

Larutan antiseptik berikut bisa diterima :

  • Alkohol (60-90%): etil, isopropil, atau metil spiritus.
  • Setriinid atau klorheksidin glukonat, berbagai konsentrasi: Savlon®.
  • Klorheksidin glukonat (4%): Hibiscrub®, Hibitane®, Hibiclens®.
  • Heksaklorofen (3%): Phisohex®.
  • Paraklorometaksilenol (PCMX atau kloroksilenol), berbagai konsentrasi: Dettol.
  • Iodine (1-3%), larutan yang dicampur alkohol atau encer (e.g. Lugol®) atau tinctur (io dine dalam alkohol 70%).

Catatan: Iodine tidak boleh digunakan pada permukaan mukosa seperti inisalnya vagina.

  • lodofor, berbagai konsentrasi, inisalnya Betadine.

Klorheksidin glukonat dan iodofor adalah antiseptik yang paling baik untuk digunakan pada mukosa. Persiapkan kulit atau jaringan dengan cara mengusapkan kapas atau kasa yang sudah dibasahi larutan antiseptik dengan gerakan memutar, bergerak melingkar dan tengah ke luar seperti spiral.

Larutan disinfektan berikut ini bisa diterima :

  • Klorin pemutih 0,5% (untuk dekontaininasi permukaan yang lebar dan DTT peralatan)
  • Glutaraldehida 2% (bisa digunakan untuk dekontaininasi tapi karena mahal biasanya hanya digunakan untuk disinfeksi tingkat tinggi atau sterilisasi kiiniawi)

Catatan: Jangan gunakan disinfektan dengan senyawa fenol untuk disinfeksi peralatan atau bahan yang akan dipakaikan pada bayi baru lahir, karena mern bahayakan kondisi kesehatan bayi tersebut.

Antiseptik dan larutan disinfektan bisa terkontaininasi. Inikroorganisme yang dapat mengkontaininasi antiseptik di antaranya adalah Stafilokokus, baksil Gram-negatif dan beberapa macam endospora. Organisme-organisme tersebut bisa menyebabkan infeksi nosokoinial herantai jika larutan yang terkontaininasi digunakan untuk mencuci tangan atau dioleskan pada kulit klien.

Cegah kontaininasi larutan antiseptik dan disinfektan dengan cara:

  • hanya menggunakan air matang untuk mengencerkan (jika pengenceran diperlukan)
  • berhati-hati untuk tidak mengkontaininasi pinggiran wadah pada saat menuangkan larutan ke wadah yang lebih kecil (pinggiran wadah larutan utama tidak boleh bersen tuhan dengan wadah yang lebih kecil)
  • mengosongkan dan mencuci wadah dengan sabun dan air serta membiarkannya kering dengan cara diangin-anginkan setidaknya sekali seininggu (tempelkan label bertulisakan tanggal pengisian ulang)
  • menuangkan larutan antiseptik ke gulungan kapas atau kasa (jangan merendam gulung an kapas atau kasa di dalam wadah ataupun mencelupkannya ke dalam larutan antiseptik)
  • menyimpan larutan di tempat yang dingin dan gelap

Pemeliharaan teknik steril/disinfeksi tingkat tinggi

Di manapun prosedur dilakukan, daerah steril harus dibuat dan dipelihara untuk menurunkan risiko kontaininasi di area prosedur tersebut dilakukan. Peralatan atau benda-benda disinfeksi tingkat tinggi, bisa ditempatkan pada daerah steril. Prinsip menjaga daerah steril harus digunakan untuk prosedur yang membutuhkan kondisi disinfeksi tingkat tinggi (AVSC, 1999). Pelihara sterilitas dengan jalan meinisahkan benda-benda steril atau disinfeksi tingkat tinggi (“bersih”) dan benda-benda yang terkontaininasi (‘kotor’). Jika mungkin gunakan baju dan sarung tangan steril dan sediakan serta jaga lingkungan yang steril.

Sediakan dan pelihara daerah steril/disinfeksi tingkat tinggi :

  • Gunakan kain steril.
  • Berhati-hati jika membuka bungkusan atau meinindahkan benda-benda ke daerah yang steril/disinfeksi tingkat tinggi.
  • Hanya benda-benda steril/disinfeksi tingkat tinggi atau petugas dengan baju yang sesuai, yang diperkenankan untuk memasuki daerah steril/disinfeksi tingkat tinggi.
  • Anggap benda apapun yang basah, terpotong atau robek sebagai benda yang terkon taininasi.
  • Tempatkan daerah steril/disinfeksi tingkat tinggi jauh dan pintu atau jendela.
  • Cegah orang-orang yang tidak memakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril menyentuh peralatan yang ada di daerah steril.

Memproses alat bekas pakai

Pemrosesan peralatan dan benda-benda lainnya dengan upaya pencegahan infeksi, dire komendasikan untuk melalui tiga langkah pokok yaitu:

  • Dekontaininasi
  • Pencucian dan pembilasan
  • Disinfeksi tingkat tinggi atau sterilisasi

Benda-benda steril atau disinfeksi tingkat tinggi harus disimpan dalam keadaan kering dan bebas debu. Bungkusan-bungkusan yang tetap kering dan utuh bisa digunakan dalam waktu satu ininggu. Peralatan steril yang dibungkus dalam kantong plastik bersegel dan tetap kering serta kemasannya tetap utuh, dapat bertahan dalam waktu satu bulan. Benda benda disinfeksi tingkat tinggi bisa disimpan di dalam wadah tertutup yang sudah didis infeksi tingkat tinggi selama satu ininggu, asalkan tetap kering dan bebas debu. Jika peralatan-peralatan tersebut tidak digunakan dalam tenggang waktu penyimpanan tersebut maka harus diproses kembali sebelum digunakan.

Jenis prosedur dan tindakan apapun yang dilakukan, cara pemrosesan peralatan atau perlengkapan tersebut tetap sama seperti yang digambarkan pada Gambar 1-1.

Gambar 1-1: Pemrosesan peralatan bekas pakai

l Untuk menyiapkan wadah yang didisinfeksi tingkat tinggi, rebus (jika kecil) aau isi dengan larutan klorin 0,5% selama 20 nIenit (larutan klorin bisa dipindah ke wadah yang lain untuk digunakan ulang dalain waktu 24 al Bilas wadah dengan air matang dan angin-anginkan sampai kering sebelum digunakan.

Dekontaininasi

Dekontaininasi adalah langkah pertama yang penting dalam menangani peralatan, perlengkapan, sarung tangan dan benda-benda lainnya yang terkontaininasi. Dekontaininasi membuat benda-benda lebih aman untuk ditangani petugas pada saat dilakukan pembersihan. Untuk perlindungan lebih jauh, pakai sarung tangan karet yang tebal atau sarung tangan rumah tangga dan lateks, jika menangani peralatan yang sudah digunakan atau kotor.

Segera setelah digunakan, masukkan benda-benda yang terkontaininasi ke dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit. Ini akan dengan cepat mematikan virus Hepatitis B dan HIV. Pastikan bahwa benda-benda yang terkontaininasi, telah terendam seluruhnya dalam larutan klorin. Daya kerja larutan klorin akan cepat mengalaini penurunan sehingga harus diganti paling sedikit setiap 24 jam, atau lebih cepat jika terlihat telah kotor atau keruh. Lihat Gambar 1-2 dan 1-3 untuk rumus persiapan larutan klorin.

Jumlah bagian air =Contoh: Untuk membuat larutan klorin 0,5% dari larutan klorin 5,25%

  1. Jumlah bagian air =
  2. Tambahkan 9 bagian (pembulatan ke bawah dan 9,5) air ke dalam

1 bagian larutan kiorin konsentrat (5,25%)

Catatan: air tidak perlu dimasak

Gambar 1-2: Rumus untuk membuat Jarutan klorin 0,5% dan larutan konsentrat

berbentuk cair

Sumber: Pocket Guide for Fainily Planning Service Providers, JHPIEGO, 1995

Jumlah bagian air =Contoh: Untuk membuat larutan klorin 0,5% dari bubuk klorin

yang bisa melepaskan klorin (seperti kalsium hipoklorida)

yang mengandung 35% klorin

  1. Gram/liter = x 1000 = 14,3 gram/liter
  2. Tambahkan 14 gram (pembulatan ke bawah dari 14,3) bubuk klorin

ke dalam 1 liter air bersih

Gambar 1:3: Rumus untuk membuat larutan klorin 0,5% dari bubuk klorin kering

Sumber: Pocket Guide for Fainily Planning Service Providers, JHPIEGO, 1995

Pencucian dan pembilasan

Pencucian adalah cara paling efektif untuk menghilangkan sebagian besar inikroorganisme pada peralatan/perlengkapan yang kotor atau sudah digunakan. Baik sterilisasi maupun disinfeksi tingkat tinggi menjadi kurang efektif tanpa proses pencucian sebelumnya. Jika benda-benda yang terkontaininasi tidak dapat dicuci segera setelah didekontaininasi, bilas peralatan dengan air untuk mencegah korosi dan menghilangkan bahan-bahan organik, lalu cuci dengan seksama secepat mungkin.

Seperti yang diperlihatkan pada Tabel 1-2, sebagian besar inikroorganisme (hingga 80%) yang terdapat dalam darah dan bahan-bahan organik lainnya bisa dihilangkan selama proses pencucian. Pencucian juga dapat menurunkan jumlah endospora bakeri yang menyebabkan tetanus dan gangren, pencucian ini penting karena residu bahan-bahan organik bisa menjadi tempat bagi inikroorganisme (termasuk endospora) dan melindungi inikroorganisme terhadap proses sterilisasi atau disinfeksi kiiniawi. Sebagai contoh virus hepatitis B bisa tetap hidup pada darah yang hanya 10-8 ml (yang tidak bisa dilihat dengan mata biasa) dan bisa menyebabkan infeksi jika terpercik ke mata. Jika perlengkapan untuk sterilisasi tidak tersedia, pencucian yang seksama merupakan cara mekanik satu-satunya untuk menghilangkan sebagian besar endospora bakteri.

Tabel 1-2: Efektivitas tindakan dalam pemrosesan alat bekas pakai

Dekon-taininasi Pencucian(hanya air) Pencucian(deterjen dan pembilasan) DTT1 Sterilisasi1
Efektivitas(menghilangkan atau menon-aktifkan inikro-organisme) Membunuh virusAIDS dan Hepatitis Hanya50% Hingga 80% 95% 100%
Waktu kerja yang di-perlukan agar proses berjalan efektif Rendam selama10 menit CuciHinggabersih Cuci hingga terlihat bersih Rebus, kukus atau secaraKiiniawi: 20 menit Kukus:20-30 menit 106 kPa, 121oC.Panas kering:

60 menit pada suhu 170oC.

1Perlu didahului oleh dekontaininasi dan pencucian.

Perlengkapan/bahan-bahan untuk mencuci peralatan termasuk:

  • sarung tangan karet yang tebal atau sarung tangan rumah tangga dari lateks
  • sikat halus (boleh menggunakan sikat gigi)
  • tabung suntik (ininimal ukuran 10 ml; untuk membilas bagian dalam kateter, tcrrnasuk kateter penghisap lendir)
  • wadah plastik atau baja antikarat (stainless steel)
  • air bersih
  • sabun atau deterjen

Tahap-tahap pencucian dan pembilasan:

  1. Pakai sarung tangan karet yang tebal pada kedua tangan.
  2. Ambil peralatan bekas pakai yang sudah didekontaininasi (hati-hati bila memegang peralatan yang tajam, seperti gunting dan jarum jahit).
  3. Agar tidak merusak benda-benda yang terbuat dari plastik atau karet, jangan dicuci segera bersamaan dengan peralatan yang terbuat dari logam.
  4. Cuci setiap benda tajam secara terpisah dan hati-hati :
    1. Gunakan sikat dengan air dan sabun untuk menghilangkan sisa darah dan kotoran.
    2. Buka engsel gunting dan klem.
    3. Sikat dengan seksama terutama di bagian sambungan dan pojok peralatan.
    4. Pastikan tidak ada sisa darah dan kotoran yang tertinggal pada peralatan.
    5. Cuci setiap benda sedikitnya tiga kali (atau lebih jika perlu) dengan air dan sabun atau deterjen.
    6. Bilas benda-benda tersebut dengan air bersih.
  5. Ulangi prosedur tersebut pada benda-benda lain.
  6. Jika peralatan akan didisinfeksi tingkat tinggi secara kiiniawi (inisalkan dalam larutan klorin 0,5%) tempatkan peralatan dalam wadah yang bersih dan biarkan kering se belum memulai proses DTT.

Alasan: Jika peralatan masih basah mungkin akan mengencerkan larutan kiinia dan membuat larutan menjadi kurang efektif

  1. Peralatan yang akan didisinfeksi tingkat tinggi dengan cara dikukus atau direbus, atau disterilisasi di dalam otoklaf atau oven panas kering, tidak usah dikeringkan sebelum proses DTT atau sterilisasi dimulai.
  2. Selagi masih memakai sarung tangan, cuci sarung tangan dengan air dan sabun dan kemudian bilas secara seksama dengan menggunakan air bersih.
  3. Gantungkan sarung tangan dan biarkan dengan cara diangin-anginkan.

Bola karet penghisap tidak boleh dibersihkan dan digunakan ulang untuk lebih dari satu bayi. Bola karet seperti itu harus dibuang setelah digunakan. Secara ideal kateter penghisap lendir DeLee, harus dibuang setelah satu kali digunakan; jika hal ini tidak memungkinkan, kateter harus dibersihkan dan didisinfeksi tingkat tinggi dengan seksama. Kateter urin sangat sulit dibersihkan dan didisinfeksi tingkat tinggi. Menggunakan kateter tersebut pada lebih dari satu ibu dapat meningkatkan risiko infeksi jika tidak diproses dengan benar.

Untuk mencuci kateter (termasuk kateter penghisap lendir), lakukan tahap-tahap berikut ini:

  • Pakai sarung tangan karet yang tebal atau sarung tangan rumah tangga dari lateks pada kedua tangan.
  • Lepaskan penutup wadah penampung lendir (untuk kateter penghisap lendir).
  • Gunakan tabung suntik besar untuk mencuci bagian dalam kateter sedikitnya tiga kali (atau Lebih jika perlu) dengan air dan sabun atau deterjen.
  • Bilas kateter menggunakan tabung suntik dan air bersih.
  • Letakkan kateter dalam wadah yang bersih dan biarkan kering sebelum dilakukan proses DTT.

Catatan: Kateter harus didisinfeksi tingkat tinggi secara kimiawi (lihat di bawah). Kateter bisa rusak jika didisinfeksi tingkat tinggi dengan jalan direbus.

DTT dan Sterilisasi

Meskipun sterilisasi adalah cara yang paling efektif untuk mernbunuh mikroorganisme, sterilisasi tidak selalu memungkinkan dan tidak selalu pra DTT ada!ah satu-satunya alternatif untuk situasi tersebut. DTT bisa dicapai dengan cara merebus, mengukus atau secara kimiawi. Untuk peralatan, perebusan seringkali merupakan metoda DTT yang pa ling sederhana dan efisien.

Ingat:Agar DTT ataupun sterilisasi menjadi efektif, lakukan terlebih dahulu proses

dekontaminasi dan pencucian peralatan dengan sebaik-baiknya.

DTT dengan cara merebus

  • Gunakan panci dengan penutup yang rapat.
  • Ganti air setiap kali mendisinfeksi peralatan.
  • Rendam peralatan sehingga semuanya terendam di dalam air.
  • Mulai panaskan air.
  • Mulai hitung waktu saat air mulai mendidih.
  • Jangan tambahkan benda apapun ke dalam air mendidih setelah penghitungan waktu
  • dimulai.

– Rebus selama 20 menit.

– Catat lama waktu perebusan peralatan di dalam buku khusus.

– Biarkan peralatan kering dengan cara diangin-anginkan sebelum digunakan atau disimpan (jika peralatan dalam keadaan lembab maka tingkat pencapaian disinfeksi tingkat tinggi tidak terjaga).

– Setelah peralatan kering, gunakan segera atau simpan dalam wadah disinfeksi tingkat tinggi dan berpenutup. Peralatan bisa disimpan sampai satu minggu asalkan penutupnya tidak dibuka.

Disinfeksi tingkat tinggi dengan uap panas pada sarung tangan

Setelah sarung tangan didekontaminasi dan dicuci, maka sarung taogan mi siap DTT dengan uap tanpa diberi talek.

  • Gunakan panci perebus yang memiliki tiga susun nampan pengukus.
  • Gulung bagian atas sarung tangan sehingga setelah DTT selesai, sarung tangan dapat dipakai tanpa membuat kontarninasi baru.
  • Letakkan sarung tangan pada baki atau nampan pengukus yang berlubang di bawahnya. Agar mudah dikeluarkan dan bagian atas panci pengukus, letakkan sarung tangan dengan bagian jarinya ke arah tengah panci. Jangan menumpuk sarung tangan (lima sampai sepuluh pasang sarung tangan bisa diletakkan di panci pengukus, tergantung dari diameter panci).
  • Ulangi proses tersebut hingga semua nampan pengukus terisi sarung tangan. Susun tiga nampan pengukus di atas panci perebus yang berisi air. Letakkan sebuah panci perebus kosong di sebelah kompor.
  • Letakkan penutup di atas panci pengukus paling atas dan panaskan air hingga mendidih. Jika air mendidih perlahan, hanya sedikit uap air yang dihasilkan dan suhunya mungkin tidak cukup tinggi untuk membunuh mikroorganisme. Jika air mendidih terlalu cepat, air akan menguap dengan cepat dan bahan bakar akan terbuang.
  • Jika uap mulai keluar dari celah-celah di antara panci pengukus, mulailah penghitungan waktu. Catat lamanya pengukusan sarung tangan dalam buku khusus.
  • Kukus sarung tangan selama 20 menit.
  • Angkat nampan pengukus paling atas yang berisi sarung tangan dan goyangkan perlahan-lahan agar air yang tersisa pada sarung tangan dapat menetes keluar.
  • Letakkan nampan pengukus di atas panci perebus yang kosong di sebelah kompor.
  • Ulangi langkah tersebut hingga semua nampan pengukus yang berisi sarung tangan tersusun di atas panci perebus yang kosong. Letakkan penutup di atasnya hingga sarung tangan menjadi dingin dan kering tanpâ terkontaminasi.
Ingat :Jangan menempatkan nampan pengukus yang berlubang dan berisi sarung

tangan di atas meja atau tempat lain karena sarung tangan dapat terkontaminasi

oleh cemaran melalui lubang tersebut.

  • Biarkan sarung tangan kering dengan diangin-anginkan sampai kering di dalam panci selama 4-6 jam. Jika diperlukan segera, biarkan sarung tangan menjadi dingin selama 5-10 menit dan kemudian gunakan dalam waktu 30 menit pada saat masih basah atau lembab (setelah 30 menit bagian jan sarung tangan akan menjadi lengket dan membuat sarung tangan sulit dipakai atau digunakan).
  • Jika sarung tangan tidak akan dipakai segera, setelah kering, gunakan cunam penjepit atau pinset disinfeksi tingkat tinggi untuk memindahkan sarung tangan. Letakkan sarung tangan tersebut dalam wadah disinfeksi tingkat tinggi lalu tutup rapat (sarung tangan bisa disimpan di dalam panci pengukus yang berpenutup rapat). Sarung tangan tersebut bisa disimpan sampai satu minggu.

DTT kimiawi

Bahan kimia yang dianjurkan untuk DTT adalah kionin dan glutaraldehid (Cidex®). Alko hol, iodine dan lodofor tidak digolongkan sebagai disinfektan tingkat tinggi. Alkohol tidak membunuh virus, dan spesies Pseudomonas bisa tumbuh dalam larutan iodine. Larutan larutan tersebut hanya boleh digunakan sebagai disinfektan jika disinfektan yang dianjurkan tidak tersedia. Lysol®, Karbol® dan Densol® (asam karbolik 5% atau fenol 1-2%) digolongkan sebagai disinfektan tingkat rendah dan tidak dapat digunakan untuk dekon taminasi atau proses DTT. Tablet formalin hanya efektif dalam suhu tinggi dan dalam bentuk gas jenuh. Penggunaan tablet formalin sangat tidak dianjurkan. Meletakkan tablet bersama sarung tangan, bahan-bahan atau perlengkapan dalam botol kaca yang tertutup ti dak efektif. Penelitian memhuktikan Formaldehid (formalin) adalah karsinogenik sehingga tidak boleh digunakan.

Larutan disinfektan tingkat tinggi yang siap tersedia dan tidak mahal adalah kiorin. Karena larutan kiorin bersifat korosif dan proses DTT memerlukan perendaman selama 20 menit peralatan yang sudah didisinfeksi tingkat tinggi secara kimiawi harus segera dibilas dengan air matang. Lihat Gambar 1-2 dan 1-3 untuk rumus yang digunakan dalam membuat larutan.

Langkah-langkah kunci pada disinfeksi tingkat tinggi kimiawi :

  • Letakkan peralatan yang kering, sudah didekontarninasi dan dicuci kedalam wadah. Kemudian isi wadah tersebut dengan larutan kimia. Ingat: jika peralatan, masih dalam kondisi basah sebelum direndam dalam larutan kimia maka dapat terjadi pengenceran tambahan terhadap larutan tersebut dan membuatnya menjadi kurang efektif.
  • Pastikan bahwa peralatan terendam seluruhnya dalam larutan kimia.
  • Rendam peralatan selama 20 menit.
  • Catat lama waktu peralatan direndarn dalam larutan kimia di buku khusus.
  • Bilas peralatan dengan air matang dan angin-anginkan sampai kering di wadah disin feksi tingkat tinggi yang berpenutup.
  • Setelah kering peralatan dapat digunakan dengan segera atau disimpan dalam wadah disinfeksi tingkat tinggi yang berpenutup rapat.

DTT kateter secara kimiawi :

  • Siapkan larutan kiorin 0,5% (lihat Gambar 1-2 dan 1-3).
  • Pakai sarung tangan karet yang tebal atau sarung tangan rurnah tangga dan lateks pada kedua tangan.
  • Letakkan kateter yang sudah dicuci dan kering di dalam larutan kiorin. Gunakan tabung suntik steril atau disinfeksi tingkat tinggi yang besar untuk membilas bagian dalam kateter dengan larutan kiorin. Ulangi pembilasan tiga kali. Pastikan kateter terendam dalam larutan.
  • Biarkan kateter terendam selama 20 menit.
  • Gunakan tabung suntik disinfeksi tingkat tinggi atau steril yang besar dan air yang direbus sedikitnya 20 menit untuk membilas kateter.
  • Biarkan kateter kering dengan cara diangin-anginkan dan kemudian segera digunakan atau disimpan dalam wadah disinfeksi tingkat tinggi yang bersih.
Ingat : Selalu ikuti prinsip-prinsip pemrosesan peralatan yang benar.Sebelum menggunakan kembali benda atau peralatan yang terkon-taminasi :

  1. Dekontaminasi
  2. cuci, bilas dan keringkan jika perlu
  3. sterilisasi atau disinfeksi tingkat tinggi
  4. gunakan segera atau simpan dalam wadah yang sesuai

Penggunaan peralatan tajam secara aman

Luka tusuk karena peralatan tajam (misalkan jarum) adalah salah satu cara utama terjadinya infeksi HIV dan hepatitis B di antara para penolong persalinan. Oleh karena itu, perhatikan pedoman berikut :

  • Letakkan benda-benda tajam di atas baki steril atau disinfeksi tingkat tinggi atau dengan menggunakan “daerah aman” yang sudah ditentukan (daerah khusus untuk meletakkan dan mengambil peralatan tajam).
  • Hati-hati saat melakukan penjahitan agar tidak tertusuk jarum secara tidak sengaja.
  • Gunakan pemegang jarum dan pinset pada saat menjahit. Jangan pernah meraba jarum atau memegang jarum jahit dengan tangan.
  • Jangan menutup kembali, melengkungkan, mematahkan atau melepaskan jarum yang akan dibuang.
  • Buang benda-benda tajam dalam wadah tahan bocor dan segel dengan perekat jika su dah dua per tiga penuh. Jangan memindahkan benda-benda tajam tersebut ke wadah yang lain. Wadah benda tajam yang sudah disegel tadi harus dibakar di dalam insinerator.
  • Jika benda-benda tajam tidak bisa dibuang secara aman dengan cara insinerasi, bilas tiga kali dengan larutan klorin 0,5% untuk dekontaminasi, tutup kembali ujung atau hagian tajam dengan penutupnya menggunakan teknik satu tangan dan kemudian di tanam dalam tanah.

Cara melakukan teknik satu tangan:

– Letakkan penutup jarum pada permukaan yang keras dan rata

– Pegang tabung suntik dengan satu tangan dan gunakan jarum untuk “mengait penutup jarum. Jangan memegang penutup jarum dengan tangan lainnya.

– Jika jarum sudah tertutup seluruhnya, pegang bagian bawah jarum dan gunakan tangan yang lain untuk merapatkan penutupnya.

Pembuangan sampah secara benar dan mengatur kebersihan dan kerapian

Pembuangan sampah

Sampah terdiri dari yang terkontaminasi dan tidak terkontaminasi. Sampah yang tidak terkontaminasi tidak mengandung risiko bagi petugas yang menanganinya. Sampah dari limbah persalinan dan kelahiran adalah sampah terkontaminasi. Jika tidak dibuang dengan benar, sampah terkontaminasi berpotensi untuk menginfeksi siapapun yang melakukan kontak atau menangani sampah tersebut, termasuk anggota masyarakat. Sampah terkontaminasi termasuk darah, nanah, urin, kotoran manusia dan benda-benda yang tercemar oleh cairan tubuh. Lakukan pembuangan sampah dengan hati-hati.

Tujuan pembuangan sampah secara benar adalah :

  • mencegah penyebaran infeksi kepada petugas klinik yang menangani sarnpah dan masyarakat sekitarnya.
  • melindungi orang-orang yang menangani sampah dan cedera tidak sengaja terhadap benda-benda tajam yang sudah terkontaminasi.

Setelah selesai melakukan suatu tindakan (misalkan asuhan persalinan) dan sebelum melepaskan sarung tangan, letakkan sampah terkontaminasi (kasa, gulungan kapas, perban, dll) ke dalam tempat sampah kedap air/kantung plastik, sebelurn dibuang. Hindarkan terjadinya kontak sampah terkontaminasi dengan permukaan luar kantung. Pembuangan secara benar untuk benda-benda tajam yang terkontaminasi adalah dengan rnenempatkannya dalam wadah tahan bocor (misalkan botol air mineral dan plastik atau botol infus), kotak karton yang tebal atau wadah yang terbuat dari logam.

Singkirkan sampah terkontaminasi dengan cara dibakar. Jika hal ini tidak memungkinkan, kubur bersama wadahnya. Sampah yang tidak terkontaminasi bisa dibuang di dalam wadah sampah biasa.

Mengatur kebersihan dan kerapian

Pembersihan yang teratur dan seksama akan mengurangi mikroorganisrne yang ada pada setiap permukaan, mencegah infeksi dan kecelakaan.

Ingat hal-hal berikut untuk mengatur kebersihan dan kerapian :

  • Pastikan bahwa satu ember yang berisi larutan pemutih kiorin 0,5 % yang belum di pakai tersedia setiap saat.
  • Gunakan disinfektan yang dianjurkan untuk membersihkan peralatan yang tidak bersentuhan dengan darah atau sekresi tubuh (stetoskop Pinnards, Doppler, termometer, inkubator) di antara pemakaian, dan terutama di antara ibu atau bayi yang berbeda.
  • Jika menggunakan oksigen, gunakan kanula nasal yang bersih, steril atau disinfeksi tingkat tinggi setiap kali dibutuhkan. Mengusap kanula dengan alkohol tidak akan mencegah terjadinya infeksi.
  • Segera bersihkan percikan darah, tuangkan larutan kiorin pemutih 0,5% kemudian seka dengan kain atau pel.
  • Bungkus atau tutupi linen bersih dan simpan dalam kereta dorong atau lemari tertutup untuk mencegah kontaminasi debu.
  • Setelah setiap penggunaan bersihkan tempat tidur, meja dan troli prosedur dengan kain yang dibasahi larutan kiorin 0,5% dan deterjen.
  • Setelah setiap kelahiran, seka celemek dengan larutan klorin 0,5%.
  • Bersihkan lantai dengan lap kering, jangan disapu. Seka lantai dan permukaan datar setiap hari atau lebih sering (bila perlu) dengan campuran larutan kiorin 0,5% dan deterjen.
  • Ikuti pedoman umum tentang kebersihan dan kerapian:

– Bersihkan dan atas ke bawah sehingga kotoran yang jatuh pada saat pembersihan bisa dihilangkan.

– Selalu pakai sarung tangan karet tebal atau sarung tangan rumah tangga dan lateks.

– Gosok permukaan.

– Tempelkan petunjuk kebersihan khusus untuk unit tersebut di daerah yang terlihat. Cantumkan secara rind dan tepat tentang apa yang perlu dilakukan dan seberapa sering prosedur itu dikerjakan. Ajarkan pula pengaturan kebersihan dan tanggung jawab kepada staf. Buat daftar tilik untuk kegiatan rutin kebersihan dan kerapian.

– Bersihkan dinding, gorden dan tirai vertikal sesering mungkin untuk mencegah terkumpulnya debu.

– Jika dinding atau gorden terpercik oleh darah, segera bersihkan dengan larutan klorin 0,5%.

Pertimbangan-pertimbangan mengenai pencegahan infeksi di luar institusi

Persalinan dan kelahiran bayi bisa terjadi di luar institusi, bisa di rumah, klinik bersalin swasta, polindes atau puskesmas. Jika proses ini berlangsung di rumah, hati-hati agar benda-benda yang terkontaminasi tidak menyentuh daerah yang telah dibersihkan dan disiapkan untuk suatu prosedur. Bagian berikut ini membahas beberapa perubahan dan pemikiran untuk tindakan-tindakan pencegahan infeksi dalam beberapa situasi.

Cuci Tangan

Pastikan bahwa teman dan anggota keluarga mencuci tangan mereka.

Sarung Tangan

Jika sarung tangan steril atau disinfeksi tingkat tinggi tidak tersedia, pakai sarung tangan bersih.

Pelindung pribadi

Gunakan penghalang atau pelindung untuk rnencegah darah atau cairan tubuh terpercik ke mata atau mulut. Kacamata yang murah bisa digunakan sebagai pelindung mata jika ka camata khusus tidak tersedia. Jika barier protektif tidak tersedia, hindarkan segala ke mungkinan terpercik bahan berbahaya. Jika darah atau cairan tubuh terpercik ke kulit, cuci dan bilas dengan segera.

Teknik aseptik

Terapkan prinsip menjaga daerah steril dengan menjauhkan benda-benda terkontaminasi atau kotor’ dan benda-benda bersih atau disinfeksi tingkat tinggi. Pastikan bahwa semua peralatan yang ada dalam partus set dan set jahit serta benda-benda lainnya yang mungkin kontak dengan jaringan di bawah kulit, telah didisinfeksi tingkat tinggi atau sedapat mungkin gunakan perlengkapan steril.

Penanganan peralatan tajam secara aman

Hati-hati dengan peralatan tajam; jangan tertinggal di rumah setelah menolong proses per salman. Gunakan botol plastik dengan tutup atau wadah yang memadai untuk menampung benda tajam yang telah digunakan. Botol kaca berpenutup bisa digunakan untuk wadah dekontaminasi benda tajam dengan larutan klorin 0,5%.

Pembuangan sampah

Tempatkan plasenta di dalam kantung plastik atau tembikar dan irf keIu tentang bagaimana cara menguburkannya. Cuci secara terpisah linen yang terkontaminasi oleh darah dengan linen lainnya kemudian jemur di terik matahari. Bakar atau kubur sam pah terkontaminasi lainnya.

4. Pencatatan (dokumentasi)

Catat semua asuhan yang telah diberikan kepada ibu dan/atau bayinya. Jika asuhan tidak dicatat, dapat dianggap bahwa tidak pernah dilakukan asuhan yang dimaksud. Pencatatan adalah bagian penting dari proses membuat keputusan klinik karena memungkinkan penolong persalinan untuk terus menerus memperhatikan asuhan yang diberikan selama proses persalinan dan kelahiran bayi. Mengkaji ulang catatan memungkinkan untuk menganalisis data yang telah dikumpu dan dapat lebih efektif dalam merumuskan suatu diagnosis serta membuat rencana asuhan atau perawatan bagi ibu atau bayinya. Partograf adalah bagian terpenting dan proses pencatatan selama persalinan. Lihat bagian mengenai Partograf di Bab 2 untuk penjelasan lengkap mengenai partograf.

Pencatatan rutin adalah penting karena :

  • Dapat digunakan sebagai alat bantu untuk membuat keputusan klinik dan mengevaluasi apakah asuhan atau perawatan sudah sesuai dan efektif, untuk mengidentirikasi kesenjangan pada asuhan yang diberikan dan untuk membuat perubahan dan peningkatan rencana asuhan atau perawatan.
  • Dapat digunakan untuk tolok ukur keberhasilan dalam proses membuat keputusan klinik; sedangkan sebagai metode keperawatan, informasi ini harus dapat dibagikan atau diteruskan kepada tenaga kesehatan lainnya.
  • Merupakan catatan permanen tentang asuhan, perawatan dan obat yang diberikan.
  • Dapat dibagikan di antara para penolong persalinan. Hal ini penting jika memerlukan rujukan di mana lebih dan satu penolong persalinan memberikan asuhan pada ibu atau bayi baru lahir.
  • Dapat mempermudah kelangsungan asuhan dan saw kunjungan ke kunjungan berikutnya, dan satu penolong persalinan kepada penolong persalinan Iainnya, atau dan seorang penolong persalinan ke fasilitas kesehatan lainnya. Melalui pencatatan rutin, penolong persalinan rnendapatkan informasi yang relevan dan setiap ibu atau bayi baru lahir yang diasuhnya.
  • Dapat digunakan untuk penelitian atau studi kasus.
  • Diperlukan untuk memberi masukan data statistik sebagai catatan nasional dan daerah, termasuk catatan kematian dan kesakitan ibu/bayi baru lahir.

Aspek-aspek penting dalam pencatatan adalah :

  • Tanggal dan waktu asuhan tersebut diberikan.
  • Identifikasi penolong persalinan.
  • Paraf atau tanda tangan (dan penolong persalinan) pada semua catatan.
  • Mencakup informasi yang berkaitan secara tepat, dicatat dengan jelas, dan dapat dibaca.
  • Ketersediaan sistem penyimpanan catatan atau data pasien.
  • Kerahasiaan dokumen-dokurnen medis.

Ibu harus diberikan salinan catatan medik (catatan klinik antenatal, dokumen dokumen rujukan, dll) beserta panduan yang jelas mengenai:

  • Maksud dan dokumen-dokumen tersebut.
  • Kapan harus dibawa.
  • Kepada siapa harus diberikan.
  • Bagaimana cara penyimpanan yang aman di rumah atau selama perjalanan ke tempat rujukan.
Ingat :

  • Catat semua data, hasil pemeriksaan, diagnosis, obat-obatan, asuhan/ perawatan, dan lain-lain.
  • Jika tidak dicatat, dianggap asuhan tersebut tidak pernah dilakukan.
  • Pastikan setiap partograf bagi setiap pasien diisi denga lengkap dan benar

5. Rujukan

Rujukan dalam kondisi optimal dan tepat waktu ke fasilitas kesehatan rujukan atau yang memiliki sarana lebih Iengkap diharapkan mampu menyelamatkan jiwa para ibu dan bayi baru lahir. Meskipun sebagian besar ibu menjalani persalinan normal, namun sekitar 10- 15% di antaranya akan mengalami masalah selama proses persalinan dan kelahiran Sehingga perlu dirujuk ke fasilitas kesehatan rujukan. Sangatlah sulit untuk menduga kapan penyulit akan terjadi, sehingga kesiapan untuk merujuk ibu dan/atau bayinya ke fasilitas kesehatan rujukan secara optimal dan tepat waktu jika penyulit terjadi. Setiap tenaga penolong/fasilitas pe!ayanan, harus mengetahui lokasi fasilitas rujukan terdekat yang mampu untuk melayani kegawatdaruratan obstetri dan bayi baru lahir seperti :

  • Pembedahan, termasuk bcdah sesar
  • Transfusi darah
  • Persalinan menggunakan ekstraksi vakum atau cunam
  • Antibiotik IV
  • Resusitasi bayi haru lahir dan asuhan lanjutan bayi baru lahir

Informasi tentang pelayanan yang tersedia di tempat rujukan, ketersediaan pelayanan purna waktu. biaya pelayanan dan waktu serta jarak yang ditempuh ke tempat rujukan merupakan hal penting yang harus diketahui oleh klien dan penolong persalinan. Jika terjadi penyulit. upaya rujukan akan melalui alur yang tepat dan waktu yang singkat. Jika ibu dan bayi baru lahir mengalami penyulit dan dirujuk ke tempat yang tidak sesuai, mereka akan kehilangan waktu yang berharga dan kesempatan terbaik untuk menyelamatkan jiwa mereka.

Pada saat kunjungan antenatal, jelaskan bahwa petugas kesehatan, klien dan suami akan selalu berupaya untuk mendapatkan pertolongan terbaik, termasuk kemungkinan rujukan setiap ibu hamil apabila terjadi penyulit. Pada saat terjadi penyulit seringkali tidak cukup waktu untuk membuat rencana rujukan sehingga keterlambatan dalam membuat keputusan dapat membahayakan jiwa klien. Anjurkan ibu untuk mcmbahas rujukan dan membuat rencana rujukan bersama suami dan keluarganya serta tawarkan untuk berbicara dengan suami dan keluarganya untuk menjelaskan antisipasi rencana rujukan.

Masukkan persiapan-persiapan dan informasi berikut ke dalam rencana rujukan :

  • Siapa yang akan menemani ibu atau bayi baru lahir.
  • Tempat-tempat rujukan mana yang lebih disukai ibu dan keluarga? (Jika ada lebih dan satu kemungkinan tempat rujukan, pilih tempat rujukan yang paling sesuai berdasarkan jenis asuhan yang diperlukan).
  • Sarana transportasi yang akan digunakan dan siapa yang akan mengendarainya. Ingat bahwa transportasi harus tersedia segera, baik siang maupun malam.
  • Orang yang ditunjuk menjadi donor darah, jika transfusi darah diperlukan.
  • Uang yang disisihkan untuk asuhan medis, transportasi, obat-obatan dan bahan-bahan.
  • Siapa yang akan tinggal dan menemani anak-anak yang lain pada saat ibu tidak di rumah.

Kaji ulang tentang keperluan dan tujuan upaya rujukan pada ibu dan keluarganya. Kesempatan ini harus dilakukan selama ibu melakukan kunjungan asuhan antenatal atau pada saat awal persalinan, jika memungkinkan. Jika ibu belum membuat rencana selama kehamilannya, penting untuk mendiskusikan rencana rujukan dengan ibu dan keluarganya pada saat saat awal persalinan. Jika kemudian timbul masalah pada saat persalinan dan rencana rujukan belum dibicarakan, maka seringkali sulit untuk membuat persiapan-pcrsiapan dengan cepat. Rujukan tepat waktu merupakan unggulan asuhan sayang ibu dalam mendukung keselamatan ibu.

Singkatan BAKSOKU dapat digunakan untuk mengingat hal-hal penting dalam mempersiapkan rujukan untuk ibu :

B: (Bidan) Pastikan bahwa ibu dan/atau bayi baru lahir didampingi oleh penolong persalinan yang kompeten dan merniliki kernampuan untuk menatalak sana kegawatdaruratan obstetri dan bayi baru lahir untuk dibawa ke fasilitas rujukan.

A: (Alat) Bawa perlengkapan dan bahan-bahan untuk asuhan persalinan, masa ni fas dan bayi baru lahir (tabung suntik, selang IV, dli) bersama ibu ke tempat rujukan. Perlengkapan dan bahan-bahan tersebut mungkin diperlukan jika ihu melahirkan sedang dalam perjalanan.

K: (Keluarga) Beritahu ibu dan keluarga mengenai kondisi terakhir ibu dan/atau hayi dan mengapa ibu dan/atau bayi perlu dirujuk. Jehiskan pada mereka alasan dan keperluan upaya rujukan tersebut. Suami atau anggota keluarga yang lain harus menemani ibu dan/atau bayi baru lahir ke tempat rujukan.

S: (Surat) Berikan surat ke tempat rujukan. Surat ini harus memberikan identifikasi mengenai ibu dan/atau bayi baru lahir, cantumkan alasan rujukan dan uraikan hasil pemeriksaan, asuhan atau obat-obatan yang diterima ibu danlatau bayi baru lahir. Lampirkan partograf kemajuan persalinan ibu pada saat rujukan.

0: (Obat) Bawa obat-obatan esensial pada saat mengantar ibu ke tempat rujukan. Obat-obatan mungkin akan diperlukan selama perjalanan.

K: (Kendaraan) Siapkan kendaraan yang paling memungkinkan untuk merujuk ibu dalam kondisi yang cukup nyaman. Selain itu, pastikan bahwa kondisi kendaraan tersebut cukup baik untuk rnencapai tempat rujukan dalam waktu yang tepat.

U: (Uang) Ingatkan pada keluarga agar membawa uang dalam jumlah yang cukup untuk membeli obat-obatan yang diperlukan dan bahan-bahan kesehatan lain yang diperlukan selama ibu dan/bayi baru lahir tinggal di fasilitas rujukan.

source : buku APN

PERLENGKAPAN, BAHAN-BAHAN DAN OBAT-OBATAN ESENSIAL UNTUK ASUHAN PERSALINAN, KELAHIRAN MASA NIFAS SEGERA DAN BAYI BARU LAHIR

photogrid_1511156088542576822246.jpg

PERLENGKAPAN, BAHAN-BAHAN DAN OBAT-OBATAN ESENSIAL UNTUK ASUHAN PERSALINAN, KELAHIRAN MASA NIFAS SEGERA DAN BAYI BARU LAHIR


Benda-benda berikut ini harus tersedia pada setiap kelahiran; benda-benda tersebut dalam keadaan berfungsi baik, bersih, disinfeksi tingkat tinggi atau steril atau sebagaimana mestinya Beri tanda(Ö) jikatersedia
Partus set (di dalam wadah stenlis yang berpenutup)
2 klem Kelly atau 2 klem Kocher
Gunting tali pusat
Benang tali pusat atau klem plastik
Kateter Nelaton
Gunting Episiotomi
Alat pemecah selaput ketuban atau klem ½ Kocher
2 pasang sarung tangan DTT atau steril
Kasa atau kain kecil (untuk membersihkan jalan nafas bayi)
Gulungan kapas basah (menggunakan air DTT)
Tabung suntik 2 ½  atau 3 ml dengan jarum IM sekali pakai
Kateter penghisap De Lee (penghisap lendir) atau bola karet penghisap yang baru dan bersih
4 kain bersih (bisa disiapkan oleh keluarga)
3 handuk atau kain untuk mengeringkan dan menyelimuti bayi (bisa disediakan oleh keluarga)
Bahan-bahan
Partograf (halaman depan dan belakang)
Catatan kemajuan persalinan atau KMS Ibu Hamil
Kertas kosong atau formulir rujukan yang digunakan di daerah tersebut
Pena
Termometer
Pita pengukur
Pinnards, fetoskop atau doppler
Jam yang mempunyai jarum detik
Stetoskop
Benda-benda berikut ini harus tersedia pada setiap kelahiran; benda-benda tersebut dalam keadaan berfungsi baik, bersih, disinfeksi tingkat tinggi atau steril atau sebagaimana mestinya Beri tanda(Ö) jikatersedia
Tensimeter
Sarung tangan pemeriksaan bersih (5 pasang)
Sarung tangan OTT atau steril (5 pasang)
Sarung tangan rumah tangga (1 pasang)
Larutan klorin (Bayclin® 5,25% atau setara) atau klorin serbuk (kalsium hipoldo 35 % atau setara)
Perlengkapan pelindung pribadi : masker, kacamata, dan alas kaki yang tertutup
Sabun cuci tangan
Deterjen
Sikat kuku dan gunting kuku
Celemek plastik atau gaun penutup
Lembar plastik untuk alas tempat tidur ibu saat persalinan
Kantong plastik (untuk sampah)
Sumber air bersih yang mengalir
Wadah untuk larutan klorin 0,5% (bisa disediakan oleh keluarga)
Wadah untuk air OTT (bisa disediakan oleh keluarga)
Perlengkapan resusitasi bayi baru lahir
Balon resusitasi dan sungkup nomor 0 & 1
Lampu sorot 60 watt
Obat-obatan dan perlengkapan untuk asuhan rutin dan penata-laksanaan/penanganan penyulit
8 ampul Oksitosin 1 ml 10 U (atau 4 ampul Oksitosin 2 ml 10 U/ml)
20 ml Lidokain 1% tanpa epinefrin atau 10 ml Lidokain 2% tanpa epinefrin dan air sterilatau cairan garam fisiologis (NS) untuk pengenceran
3 botol Ringer Laktat atau cairan garam fisiologis (NS) 500 ml
Selang infus
2 kanula IV no. 16-18 C
2 ampul metil ergometrin maleat
2 vial larutan magnesium sulfat 40% (25 g)
6 tabung suntik 2 1/2 – 3 ml steril, sekali pakai dengan jarum IM
2 tabung suntik 5 ml steril, sekali pakai dengan jarum IM
110 ml tabung suntik steril, sekali pakai dengan jarum IM ukuran 22, panjang 4 cm atau lebih
10 kapsul /kaplet Amoksisilin/Ampisilin 500 mg atau Amoksisilin/ Ampisilin IV 2 g
Benda-benda berikut ini harus tersedia pada setiap kelahiran; benda-benda tersebut dalam keadaan berfungsi baik, bersih, disinfeksi tingkat tinggi atau steril atau sebagaimana mestinya Beri tanda(Ö) jikatersedia
Set jahit
1 tabung suntik 10 ml steril, sekali pakai dengan jarum IM ukuran 22, panjang 4 cm atau lebih
Pinset
Pegangan jarum
2 – 3 jarum jahit tajam (ukuran 9 & 11)
Benang Chromic (satu kali pemakaian) ukuran 2.0 dan/atau 3.0
1 pasang sarung tangan DTT atau steril
1 kain bersih (bisa disediakan oleh keluarga)

Benda-benda yang bisa disediakan oleh Ibu/Keluarga

 

Pastikan bahwa benda berikut tersedia pada setiap persalinan

 

Bahan-bahan Beri tanda(Ö) jikatersedia
Makanan dan minuman untuk ibu
Beberapa kain bersih (3 – 5)
Beberapa sarung bersih  (3 – 5)
Beberapa celana dalam bersih
Pembalut wanita
Handu k
Sabun
Kain penyeka
Wadah untuk air
Beberapa handuk atau selimut bersih untuk bayi (3 – 5)
Penutup kepala untuk bayi
Kantung plastik atau bejana tembikar untuk plasenta
Tempat sampah dengan penutup
Kain penyeka dan ember
Ember atau wadah tambahan

source :APN

photogrid_1511156088542576822246.jpg

MENJAHIT LASERASI PERINEUM ATAU EPISIOTOMI

MENJAHIT LASERASI PERINEUM ATAU EPISIOTOMI

Tujuan menjahit laserasi atau episiotomi adalah untuk menyatukan kembali jaringan tubuh (mendekatkan) dan mencegah kehilangan darah yang tidak perlu (memastikan hemostasis). Ingat bahwa setiap kali jarum masuk ke dalam jaringan tubuh, jaringan akan terluka dan menjadi tempat yang potensial untuk timbulnya infeksi. Oleh sebab itu pada saat menjahit laserasi atau episiotomi gunakan benang yang cukup panjang dan gunakan sesedikit mungkin jahitan untuk mencapai tujuan pendekatan dan hemostasis.

Keuntungan-keuntungan teknik penjahitan jelujur:

  • Mudah dipelajari (hanya perlu belajar satu jenis penjahitan dan satu atau dua jenis simpul)
  • Tidak terlalu nyeri karena lebih sedikit benang yang digunakan
  • Menggunakan lebih sedikit jahitan

Mempersiapkan penjahitan

  1. Bantu ibu mengambil posisi litotomi sehingga bokongnya berada di tepi tempat tidur atau meja. Topang kakinya dengan alat penopang atau minta anggota keluarga untuk memegang kaki ibu sehingga ibu tetap berada dalam posisi litotomi.
  2. Tempatkan handuk atau kain bersih di bawah bokong ibu.
  3. Jika mungkin, tempatkan lampu sedemikian rupa sehingga perineum bisa dilihat dengan jelas.
  4. Gunakan teknik aseptik pada saat memeriksa robekan atau episiotomi, memberikan anestesi lokal dan menjahit luka (Lihat Bab 1).
  5. Cuci tangan menggunakan sabun dan air bersih yang mengalir.
  6. Pakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau yang steril.
  7. Dengan menggunakan teknik aseptik, persiapkan peralatan dan bahan-bahan disinfeksi tingkat tinggi untuk penjahitan (peralatan dan bahan-bahan ini tercantum di lampiran 5)
  8. Duduk dengan posisi santai dan nyaman sehingga luka bisa dengan mudah dilihat dan penjahitan bisa dilakukan tanpa kesulitan.
  9. Gunakan kain/kasa disinfeksi tingkat tinggi atau bersih untuk menyeka vulva, vagina dan perineum ibu dengan lembut, bersihkan darah atau bekuan darah yang ada sambil menilai dalam dan luasnya luka.

10.  Periksa vagina, serviks dan perineum secara lengkap. Pastikan bahwa laserasi/sayatan perineum hanya merupakan derajat satu atau dua (lihat Bab 5). Jika laserasinya dalam atau episiotomi telah meluas, periksa lebih jauh untuk memeriksa bahwa tidak terjadi robekan derajat tiga atau empat. Masukkan jari yang bersarung tangan ke dalam anus dengan hati-hati dan angkat jari tersebut perlahan-lahan untuk mengidentifikasi sfingter ani. Raba tonus atau ketegangan sfingter. Jika sfingter terluka, ibu mengalami laserasi derajat tiga atau empat dan harus dirujuk segera. Ibu juga dirujuk jika mengalami laserasi serviks.

11.  Ganti sarung tangan dengan sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril yang baru setelah melakukan pemeriksaan rektum.

12.  Berikan anestesia lokal (kajilah teknik untuk memberikan anestesia lokal di bawah ini).

13.  Siapkan jarum (pilih jarum yang batangnya bulat, tidak pipih) dan benang. Gunakan benang kromik 2-0 atau 3-0. Benang kromik bersifat lentur, kuat, tahan lama dan paling sedikit menimbulkan reaksi jaringan.

14.  Tempatkan jarum pada pemegang jarum dengan sudut 90 derajat, jepit dan jepit jarum tersebut.

Memberikan anestesia lokal

 

Berikan anestesia lokal pada setiap ibu yang memerlukan penjahitan laserasi atau episiotomi. Penjahitan sangat menyakitkan dan menggunakan anestesia lokal merupakan asuhan sayang ibu. Jika ibu dilakukan tindakan episiotomi dengan anestesia lokal, lakukan pengujian pada luka untuk mengetahui bahwa bahan anestesia masih bekerja. Sentuh luka dengan jarum yang tajam atau cubit dengan forseps atau cunam. Jika ibu merasa tidak nyaman, ulangi pemberian anestesia lokal.

Gunakan tabung suntik steril sekali pakai dengan jarum ukuran 22 panjang 4 cm. Jarum yang lebih panjang atau tabung suntik yang lebih besar bisa digunakan, tapi, jarum harus berukuran 22 atau lebih kecil tergantung pada tempat yang memerlukan anestesia. Obat standar untuk anestesia lokal adalah 1% lidokain tanpa epinefrin (silokain). Jika lidokain 1% tidak tersedia, gunakan lidokain 2% yang dilarutkan dengan air steril atau normal salin dengan perbandingan 1:1 (sebagai contoh, larutkan 5 ml lidokain 2% dengan 5 ml air steril atau normal salin untuk membuat larutan lidokain 1%).

  1. Jelaskan pada ibu apa yang akan anda lakukan dan bantu ibu merasa santai.
  2. Hisap 10 ml larutan lidokain 1% ke dalam alat suntik sekali pakai ukuran 10 ml (tabung suntik yang lebih besar boleh digunakan, jika diperlukan). Jika lidokain 1 % tidak tersedia, larutkan 1 bagian lidokain 2% dengan 1 bagian normal salin atau air steril yang sudah disuling.
  3. Tempelkan jarum ukuran 22 sepanjang 4 cm ke tabung suntik tersebut.
  4. Tusukkan jarum ke ujung atau pojok laserasi atau sayatan lain tarik jarum sepanjang tepi luka (ke arah bawah di antara mukosa dan kulit perineum).
  5. Aspirasi (tarik pendorong tabung suntik) untuk memastikan bahwa jarum tidak berada di dalam pembuluh darah. Jika darah masuk ke tabung suntik, jangan suntikkan lidokain dan tarik jarum seluruhnya. Pindahkan posisi jarum dan suntikkan kembali.

Alasan: Ibu bisa mengalami kejang dan kematian bisa terjadi jika lidokain disuntikkan ke dalam pembuluh darah.


  1. Suntikkan anestesia sejajar dengan permukaan luka pada saat jarum suntik ditarik perlahan-lahan.
  2. Tarik jarum hingga sampai ke bawah tempat di mana jarum tersebut disuntikkan.
  3. Arahkan lagi jarum ke daerah di atas tengah luka dan ulangi langkah ke-4. Tusukkan jarum untuk ketiga kalinya seperti yang ditunjukkan di Gambar L-4.1 dan sekali lagi ulangi langkah ke-4 sehingga tiga garis di satu sisi luka mendapatkan anestesia lokal (lihat garis putus-putus pada Gambar L-4.1). Ulangi proses ini di sisi lain dari luka tersebut. Setiap sisi luka akan memerlukan kurang lebih 5 ml lidokain 1% untuk mendapatkan anestesia yang cukup.
  4. Tunggu selama dua menit dan biarkan anestesia tersebut bekerja dan kemudian uji daerah yang dianestesia dengan cara dicubit dengan forseps atau disentuh dengan jarum yang tajam. Jika ibu merasakan jarum atau cubitan tersebut, tunggu dua menit lagi dan kemudian uji kembali sebelum mulai menjahit luka.

Penjahitan laserasi pada perineum

  1. Cuci tangan secara seksama dan gunakan sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril. Ganti sarung tangan jika sudah terkontaminasi, atau jika tertusuk jarum maupun peralatan tajam lainnya.
  2. Pastikan bahwa peralatan dan bahan-bahan yang digunakan untuk melakukan penjahitan sudah didisinfeksi tingkat tinggi atau steril.
  3. Setelah memberikan anestesia lokal dan memastikan bahwa daerah tersebut sudah di anestesi, telusuri dengan hati-hati menggunakan satu jari untuk secara jelas menentukan batas-batas luka. Nilai kedalaman luka dan lapisan jaringan mana yang terluka. Dekatkan tepi laserasi untuk menentukan bagaimana cara menjahitnya menjadi satu dengan mudah.
  4. Buat jahitan pertama kurang lebih 1 cm di atas ujung laserasi di bagian dalam vagina. Setelah membuat tusukan pertama, buat ikatan dan potong pendek benang yang lebih pendek dan ikatan (lihat Gambar L-4.2).
  5. Tutup mukosa vagina dengan jahitan jelujur, jahit ke bawah ke arah cincin himen (lihat Gambar L-4.3).
  6. Tepat sebelum cincin himen, masukkan jarum ke dalam mukosa vagina lalu ke bawah cincin himen sampai jarum ada di bawah laserasi (lihat Gambar L-4.4). Periksa bagian antara jarum di perineum dan bagian atas laserasi. Perhatikan seberapa dekat jarum ke puncak luka.
  7. Teruskan ke arah bawah tapi tetap pada luka, menggunakan jahitan jelujur, hingga mencapai bagian bawah laserasi. (lihat Gambar L-4.5). Pastikan bahwa jarak setiap jahitan sama dan otot yang terluka telah dijahit. Jika laserasi meluas ke dalam otot, mungkin perlu untuk melakukan satu atau dua lapis jahitan terputus-putus untuk menghentikan perdarahan dan/atau mendekatkan jaringan tubuh secara efektif.
  8. Setelah mencapai ujung laserasi, arahkan jarum ke atas dan teruskan penjahitan, menggunakan jahitan jelujur untuk menutup lapisan subkutikuler (lihat Gambar L-4 6 dan 1 -4 7) Jahitan ini akan menjadi jahitan lapis ke dua Periksa lubang bekas jarum (pada Gambar L-4.6 dan L-4.7). Jahitan lapis kedua ini akan meninggalkan luka yang tetap terbuka berukuran 0,5 cm atau kurang. Luka ini akan menutup dengan sendirinya pada saat penyembuhan luka.
  9. Tusukkan jarum dan robekan perineum ke dalam vagina. Lihat Gambar L-4.8 dan L-4.9. Jarum harus keluar dari belakang cincin himen.
  10. Ikat benang dengan membuat simpul di dalam vagina (Gambar L-4.9). Potong ujung benang dan sisakan sekitar 1,5 cm. Jika ujung benang dipotong terlalu pendek, simpul akan longgar dan laserasi akan membuka.
  11. Ulangi pemeriksaan vagina dengan lembut untuk memastikan bahwa tidak ada kasa atau peralatan yang tertinggal di dalam.
  12. Dengan lembut masukkan jari paling kecil ke dalam anus. Raba apakah ada jahitan pada rektum. Jika ada jahitan yang teraba, ulangi pemeriksaan rektum enam minggu pascapersalinan. Jika penyembuhan belum sempurna (misalkan jika ada fistula rektovaginal atau jika ibu melaporkan inkontinensia alvi atau feses), ibu segera dirujuk ke fasilitas kesehatan rujukan.
  13. Cuci daerah genital dengan lembut dengan sabun dan air disinfeksi tingkat tinggi, kemudian keringkan. Bantu ibu mencari posisi yang lebih nyaman.
  14. Nasehati ibu untuk:

 

  • menjaga perineumnya selalu bersih dan kering
  • hindari penggunaan obat-obatan tradisional pada perineumnya
  • cuci perineumnya dengan sabun dan air bersih yang mengalir tiga sampai empat kali per hari
  • kembali dalam seminggu untuk memeriksa penyembuhan lukanya. Ibu harus kembali lebih awal jika ia mengalami demam atau mengeluarkan cairan yang berbau busuk dari daerah lukanya atau jika daerah tersebut menjadi lebih nyeri.

Ingat:

  • Tidak usah menjahit laserasi derajat satu yang tidak mengalami perdarahan dan men-dekat dengan baik.
  • Gunakan sesedikit mungkin jahitan untuk mendekatkan jaringan dan memastikan hemostasis.
  • Selalu gunakan teknik aseptik.
  • Jika ibu mengeluh sakit pada saat penjahitan dilakukan, berikan lagi anestesia lokal untuk memastikan kenyamanan ibu, inilah yang disebut asuhan sayang ibu.

Penjahitan episiotomi

 

Secara umum prosedur untuk menjahit episiotomi sama dengan menjahit laserasi perineum. Jika episiotomi sudah dilakukan, lakukan penilaian secara hati-hati untuk memastikan lukanya tidak meluas. Sedapat mungkin, gunakan jahitan jelujur. Jika ada sayatan yang terlalu dalam hingga mencapai lapisan otot, mungkin diperlukan penjahitan secara terputus untuk merapatkan jaringan.

source : APN