LIMA BENANG MERAH DALAM ASUHAN PERSALINAN DAN KELAHIRAN BAYI

LIMA BENANG MERAH DALAM ASUHAN PERSALINAN DAN KELAHIRAN BAYI

LIMA BENANG MERAH DALAM

ASUHAN PERSALINAN DAN KELAHIRAN BAYi

(sumber pelatihan APN)

Ada lima aspek dasar, atau Lima Benang Merah, yang penting dan saling terkait dalam asuhan persalinan yang bersih dan aman. Berbagai aspek tersebut melekat pada setiap persalinan, baik normal maupun patologis. Lima Benang Merah tersebut adalah :

  1. Membuat keputusan klinik
  2. Asuhan sayang ibu dan sayang bayi
  3. Pencegahan infeksi
  4. Pencatatan (Rekam medis)
  5. Rujukan

Lima Benang Merah ini akan selalu berlaku dalam penatalaksanaan persalinan, mulai dari kala satu hingga kala empat, termasuk penatalaksanaan bayi baru lahir.

  1. 1. Membuat keputusan klinik

Membuat keputusan klinik adalah proses pemecahan masalah yang akan digunakan untuk merencanakan asuhan bagi ibu dan bayi baru lahir. Hal ini merupakan suatu proses sistematik dalam mengumpulkan dan analisis informasi, membuat diagnosis kerja (menentukan kondisi yang dikaji adalah normal atau bermasalah), membuat rencana tindakan yang sesuai dengan diagnosis, melaksanakan rencana tindakan dan akhirnya mengevaluasi hasil asuhan atau tindakan yang telah diberikan kepada ibu dan/atau bayi baru lahir.

Ada empat langkah proses pengambilan keputusan klinik[1]:

  1. Pengumpulan Data
  2. Diagnosis
  3. Penatalaksana Asuhan dan Perawatan
  4. Evaluasi
    1. Data Subjektif
    2. Data Objektif
    1. Membuat Rencana
    2. Melaksanakan Rencana
  1. 1.Pengumpulan data

Klien dan penoloug persalinan memainkan peranan pcnting dalam langkah pertama proses membuat keputusan klinik. Data dapat dikumpulkan melalui kunjungan antenatal yang. teratur. Sayangnya, sebagian besar ibu melakukan kunjungan ke penolong persalinan bila merasa mempunyai suatu masalah, inisalnya: mengalaini perdarahan, merasa nyeri bila berkeinih, atau merasa bahwa janinnya tidak bergerak. Bila ibu datang untuk mendapatkan pertolongan, kumpulkan data dan informasi untuk membuat diagnosis secara tepat dan menerapkan tindakan yang sesuai. Yang dikumpulkan adalah data subjektif dan data objektif. Data subjektif adalah informasi yang diceritakan ibu tentang apa yang dirasakannya, apa yang sedang dialaininya dan apa yang telah dialaininya. Data subjektif juga meliputi informasi tambahan yang diceritakan oleh anggota keluarga tentang status ibu, terutama jika thu merasa sangat nyeri atau sangat sakit. Data objektif adalah informasi yang dikumpulkan berdasarkan pemeriksaan/pengamatan terhadap ibu atau bayi baru lahir.

Kelengkapan dan ketelitian dalam proses pengumpulan data adalah sangat penting.

Kumpulkan data dengan cara :

  • Berbicara dengan ibu, mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai kondisi ibu dan riwayat perjalanan penyakit.
  • Mengamati tingkah laku ibu dan apakah ibu terlihat sehat atau sakit, nyaman atau terganggu (kesakitan).
  • Melakukan pemeriksaan fisik.
  • Melakukan pemeriksaan tambahan lainnya bila perlu, inisalnya pemeriksaan laboratorium (konsentrasi Hb, uji fungsi hati atau ginjal).

2. Diagnosis

Setelah data dikumpulkan, penolong persalinan dapat melakukan analisis data dan segera membuat diagnosis secara tepat. Pencarian dan pengumpulan data untuk diagnosis, bukanlah proses linier (berada pada suatu garis lurus) melainkan proses sirkuler (melingkar) yang berlangsung secara terus-menerus. Suatu diagnosis kerja diuji dan dipertegas atau dikaji ulang berdasarkan pengamatan dan temuan yang diperoleh secara terus-menerus. Informasi yang terkumpul akan memperkuat atau memperlemah diagnosis yang telah dibuat. Jika dukungan terhadap diagnosis kerja sangat lemah, diperlukan data dan bukti baru sehingga dihasilkan diagnosis definitif. Setelah ini barulah bidan tersebut dapat merencanakan penatalaksanaan kasus secara tepat.

Untuk membuat diagnosis:

  • Pastikan bahwa data-data yang ada dapat mendukung diagnosis.
  • Antisipasi masalah atau penyulit yang mungkin terjadi setelah diagnosis definitif dibuat.
  • Perhatikan bahwa mungkin terdapat sejumlah diagnosis banding atau diagnosis ganda.
  1. 3. Penatalaksanaan asuhan atau perawatan

Berdasarkan data yang terkumpul dan diagnosis definitif, susun rencana penatalaksanaan sebagai elemen asuhan atau perawatan yang memadai bagi ibu dan/atau bayi baru lahir. Mungkin terdapat beberapa pilihan intervensi efektif; diskusikan dengan ibu dan keluar ganya untuk meinilih cara pengobatan yang paling sesuai dan efektif.

Pilihan ini akan dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk :

  • Bukti-bukti klinik (pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, dll).
  • Keinginan-keinginan dan kepercayaan ibu.
  • Tempat di mana asuhan diberikan (di rumah, rumah sakit, puskesmas, dli) dan waktu di mana asuhan diperlukan (slang atau malam).
  • Perlengkapan, bahan-bahan dan obat-obatan yang tersedia.
  • Biaya yang diperlukan.
  • Tingkat keterampilan dan pengalaman penolong persalinan.
  • Akses ke tempat rujukan, transportasi yang tersedia dan jarak ke tempat rujukan.
  • Sistem dan surnberdaya yang dapat memberikan dukungan bagi ibu (suaini, anggota keluarga dan sahabat).

Setelah membuat rencana asuhan, laksanakan rencana tersebut secara tepat waktu dan mengacu pada keselamatan kiien. Hal ini penting untuk menghindarkan timbulnya penyuiit dan memastikan bahwa ibu dan/atau bayi baru lahir akan menerima asuhan atau perawatan yang mereka butuhkan.

  1. 4. Evaluasi

Penatalaksanaan yang telah dikerjakan harus dievaluasi untuk menilai tingkat efektivitasnya. Tentukan apakah perlu dikaji ulang atau diteruskan sesuai dengan kebutuhan saat itu atau kemajuan pengobatan. Proses pengumpulan data, membuat diagnosis, penatalaksanaan intervensi atau tindakan, dan evaluasi adalah proses sirkuler (melingkar). Lanjutkan evaluasi asuhan yang telah diberikan kepada ibu dan bayi baru lahir. Jika pada saat evaluasi ditemukan bahwa status ibu atau bayi baru lahir menunjukkan adanya perubahan, sesuaikan asuhan lanjutan untuk memenuhi perubahan kebutuhan tersebut.

Rangkuman

Membuat keputusan klinik adalah komponen esensial dalam asuhan bersih dan aman kepada ibu selama persalinan, kelahiran dan masa nifas, dan bayi baru lahir. Proses membuat suatu keputusan klinik memungkinkan dihasilkannya keputusan-keputusan yang benar dan tepat waktu bagi asuhan spesifik yang diperlukan seorang ibu atau bayi baru lahir. Proses ini mencegah terjadinya penyulit dan memungkinkan pengenalan dini tanda -tanda atau gejala-gejala adanya penyulit. Dalam bab-bab berikutnya akan dibahas pendekatan – pendekatan baru, termasuk penatalaksanaan kala tiga persalinan, penatalaksanaan atonia uteri, dan asuhan bayi baru lahir. Proses membuat keputusan klinik harus diterapkan dalam pelaksanaan asuhan ini, baik asuhan yang sedang dijalankan maupun yang terdahulu.


[1] Untuk para peserta yang telah mengikuti pelatihan LSS, langkah-langkah ini disebut “Tanya/dengar, lihat/raba, indentifikasi masalahnya, ambil tindakan yang sesuai”

Advertisements

ASUHAN SAYANG IBU DAN SAYANG BAYI (BUKU APN)

BUKU APN

  1. 2. Asuhan sayang ibu dan sayang bayi

Asuhan sayang ibu adalah asuhan dengan prinsip saling menghargai budaya, kepercayaan dan keinginan sang Ibu. Cara yang paling mudah untuk membayangkan asuhan sayang ibu adalah dengan menanyakan pada din kita sendiri, Seperti inikah asuhan yang ingin saya dapatkan?” atau “Apakah asuhan seperti ini, yang saya inginkan untuk keluarga saya yang sedang hainil”

Salah satu prinsip dasar asuhan sayang ibu adalah dengan mengikutsertakan suaini dan keluarga selama proses persalinan dan kelahiran bayi. Banyak hasil penelitian menunjukkan bahwa jika para ibu diperhatikan dan diberi dukungan selama persalinan dan kelahiran bayi serta mengetahui dengan baik mengenai proses persalinan dan asuhan yang akan mereka terima, mereka akan mendapatkan rasa aman dan keluaran yang lebih baik (Enkin, et al, 2000). Antara lain, juga disebutkan bahwa asuhan tersebut dapat mengurangi jumlah persalinan dengan tindakan seperti inisalnya ekstraksi vakum, cunam, dan seksio sesar. Persalinan juga akan berlangsung lebih cepat (Enkin, et al, 2000).

Asuhan sayang ibu dalam proses persalinan:

  1. Panggil ibu sesuai namanya, hargai dan perlakukan ibu sesuai martabatnya.
  2. Jelaskan asuhan dan perawatan yang akan diberikan pada ibu sebelum memulai asuhan tersebut.
  3. Jelaskan proses persalinan kepada ibu dan keluarganya.
  4. Anjurkan ibu untuk bertanya dan membicarakan rasa takut atau khawatir.
  5. Dengarkan dan tanggapi pertanyaan dan kekhawatiran ibu.
  6. Berikan dukungan, besarkan hatinya dan tenteramkan perasaan ibu beserta anggota keluarga yang lain.
  7. Anjurkan ibu untuk ditemani suaini dan/atau anggota keluarga yang lain selama persalinan dan kelahiran bayinya.
  8. Ajarkan suaini dan anggota-anggota keluarga mengenai cara-cara bagaimana mereka dapat memperhatikan dan mendukung ibu selama persalinan dan kelahiran bayinya.
  9. Lakukan praktek-praktek pencegahan infeksi yang baik secara konsisten.

10. Hargai privasi ibu.

11. Anjurkan ibu untuk mencoba berbagai posisi selama persalinan dan kelahiran bayi.

12. Anjurkan ibu untuk ininum cairan dan makan makanan ringan bila ia menginginkannya.

13. Hargai dan perbolehkan praktek-praktek tradisional yang tidak memberi pengaruh yang merugikan.

14. Hindari tindakan berlebihan dan mungkin membahayakan seperti episiotoini, pencukuran dan klisma.

15. Anjurkan ibu untuk memeluk bayinya segera setelah lahir.

16. Membantu memulai pemberian ASI dalam satu jam pertama setelah kelahiran bayi.

17. Siapkan rencana rujukan (bila diperlukan).

18. Mempersiapkan persalinan dan kelahiran bayi dengan baik dan bahan-bahan, perleng kapan dan obat-obatan yang diperlukan. Siap untuk melakukan resusitasi bayi baru lahir pada setiap kelahiran bayi.

Asuhan sayang ibu pada masa postpartum

  • Anjurkan ibu untuk selalu berdekatan dengan bayinya (rawat gabung).
  • Bantu ibu untuk mulai membiasakan rnenyusui dan anjurkan pemberian ASI sesuai perinintaan.
  • Ajarkan ibu dan keluarganya mengenai nutrisi dan istirahat yang cukup setelah melahirkan.
  • Anjurkan suaini dan anggota-anggota keluarga untuk memeluk bayi dan rnensyukuri kelahiran bayi.
  • Ajarkan ibu dan anggota-anggota keluarganya tentang bahaya dan tanda-tanda bahaya yang dapat diamati dan anjurkan mereka untuk mencari pertolongan jika terdapat masalah atau kekhawatiran.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa banyak ibu di Indonesia yang masih tidak mau meininta pertolongan tenaga penolong persalinan terlatih untuk memberikan asuhan selama persalinan dan kelahiran bayi. Sebagian dan mereka memberi alasan bahwa penolong persalinan terlatih tidak benar-benar memper hatikan kebutuhan atau kebudayaan, tradisi dan keinginan pribadi para ibu dalam persalinan dan kelahiran bayinya. Alasan lain yang juga berperan adalah bahwa sebagian besar fasilitas kesehatan meiniliki peraturan dan prosedur kurang bersahabat dan menakutkan bagi para ibu. Peraturan dan prosedur tersebut termasuk: tidak memperkenankan ibu untuk berjalan-jalan selama proses persalinan, tidak mengizinkan anggota keluarga menemani ibu, meni batasi ibu hanya pada posisi tertentu selama persalinan dan kelahiran bayi dan meinisahkan ibu dan bayi segera setelah bayi dilahirkan.

  1. 3. Pencegahan infeksi

Tujuan pencegahan infeksi dalam pelayanan asuhan kesehatan

Tindakan pencegahan infeksi (P1) tidak terpisah dan komponen-komponen lain dalam asuhan selama persalinan dan kelahiran bayi. Tindakan ini harus diterapkan dalam setiap aspek asuhan untuk melindungi ibu, bayi baru lahir, keluarga, penolong persalinan dan tenaga kesehatan lainnya dengan jalan menghindarkan transinisi penyakit yang disebabkan oleh bakteri, virus dan jamur. Juga upaya-upaya untuk menurunkan risiko terjangkit atau terinfeksi inikroorganisme yang menimbulkan penyakit-penyakit berbahaya yang hingga kini belum ditemukan cara pengobatannya, seperti inisalnya Hepatitis dan HIV/AIDS.

Tindakan-tindakan pencegahan infeksi dalam pelayanan asuhan kesehatan:

  • meininimalkan infeksi yang disebabkan oleh inikroorganisme.
  • menurunkan risiko penularan penyakit yang mengancam jiwa seperti hepatitis dan HIV/AIDS .

Di masa lalu, tujuan utama pencegahan infeksi adalah untuk mencegah infeksi serius pascabedah. Meskipun infeksi serius pascabedah masih merupakan masalah di banyak negara, munculnya HIV/AIDS dan masalah berkelanjutan akibat hepatitis telah mengubah secara dramatik fokus pencegahan infeksi. Karena HIV dan hepatitis makin sering terjadi, risiko terinfeksi penyakit-penyakit tersebut juga akan semakin meningkat.

Penolong persalinan dapat terpapar hepatitis dan HIV di tempat kerjanya melalui:

  • percikan darah atau cairan tubuh pada mata, hidung, mulut atau melalui diskontinuitas permukaan kulit (inisalnya luka atau lecet yang kecil).
  • luka tusuk yang disebabkan oleh jarum yang terkontaininasi atau peralatan tajam lain nya, baik pada saat prosedur dilakukan atau pada saat memroses peralatan.

Memakai sarung tangan, mengenakan perlengkapan pelindung pribadi (kaca mata, masker, celemek, dll) dapat melindungi penolong terhadap kemungkinan terkena percikan, berhati -hati saat menangani benda tajam dan melakukan dekontaininasi serta memroses peralatan yang terkontaininasi secara benar, merupakan cara-cara efektif untuk meininimaikan risiko infeksi, tidak hanya bagi ibu/bayi baru lahir, tapi juga terhadap penolong persalinan dan staf kesehatan lainnya.

Pencegahan infeksi adalah bagian esensial dan asuhan lengkap yang diberikan kepada ibu dan bayi baru lahir dan harus dilaksanakan secara rutin pada saat menolong persalinan dan kelahiran, saat memberikan asuhan dasar selama kunjungan antenatal atau pascapersalinan bayi baru lahir atau saat menatalaksana penyulit.

Definisi tindakan-tindakan dalam pencegahan infeksi

  • Asepsis atau teknik aseptik adalah istilah umum yang biasa digunakan dalam pelayanan kesehatan. Istilah ini dipakai untuk menggambarkan semua usaha yang dilakukan dalam mencegah masuknya inikroorganisme kedalam tubuh yang mungkin akan menyebabkan infeksi. Teknik aseptik membuat prosedur lebih aman bagi ibu, bayi baru lahir dan penolong persalinan dengan cara menurunkan jumlah inikroorganisrne pada kulit, jaringan dan benda-benda mati hingga tingkat yang aman, atau dengan menghilangkannya secara keseluruhan.
  • Antisepsis mengacu pada pencegahan infeksi dengan cara membunuh atau menghambat pertumbuhan inikroorganisme pada kulit atau jaringan tubuh Iainnya.
  • Dekontaininasi adalah tindakan yang dilakukan untuk memastikan bahwa petugas kesehatan dapat menangani secara aman, benda-benda yang terkontaininasi darah dan cairan tubuh. Peralatan medis, sarung tangan dan permukaan (seperti inisalnya meja pemeriksaan) harus didekontaininasi segera setelah terpapar darah atau cairan tubuh.
  • Mencuci dan membilas adalah tindakan-tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan semua darah, cairan tubuh atau benda asing (inisalnya debu, kotoran) dan kulit atau instrumen.
  • Disinfeksi adalah tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan hampir semua inikro organisme pcnyebab penyakit pada benda-benda mati atau instrumen.
  • Disinfeksi tingkat tinggi (DTT) adalah tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan semua inikroorganisrne kecuali endospora bakteri dengan cara merebus atau secara kiiniawi.
  • Sterilisasi adalah tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan semua inikroorganisme (bakteri, jamur, parasit dan virus) termasuk endospora bakteri pada benda-benda mati atau instrumen.

Prinsip-prinsip pencegahan infeksi

Pencegahan infeksi yang efektif didasarkan pada prinsip-prinsip berikut :

  • Setiap orang (ibu, bayi baru lahir, penolong persalinan) harus dianggap dapat menu larkan penyakit karena infeksi yang tcrjadi bersifat asimptomatik (tanpa gejala).
  • Setiap orang harus dianggap berisiko terkena infeksi.
  • Permukaan tempat pemeriksaan, peralatan dan benda-benda lain yang akan dan telah bersentuhan dengan kulit tak utuh/selaput mukosa atau darah, harus dianggap terkon taininasi sehingga setelah selesai digunakan harus dilakukan proses pencegahan infeksi secara benar.
  • Jika tidak diketahui apakah permukaan, peralatan atau benda lainnya telah diproses dengan benar, harus dianggap telah terkontaininasi.
  • Risiko infeksi tidak bisa dihilangkan secara total, tapi dapat dikurangi hingga sekecil mungkin dengan menerapkan tindakan-tindakan pencegahan infeksi yang benar dan konsisten.

Tindakan-tindakan pencegahan infeksi

Ada berbagai praktek pencegahan infeksi yang membantu mencegah rnikroorganisme berpindah dan satu individu ke individu lainnya (ibu, bayi baru lahir dan para penolong persalinan) dan menyebarkan infeksi.

Tindakan-tindakan pencegahan infeksi termasuk hal-hal berikut :

  • cuci tangan
  • meinakai sarung tangan
  • memakai perlengkapan pelindung (celemeklbaju penutup, kacamata, sepatu tertutup)
  • menggunakan asepsis atau teknik aseptik
  • memproses alat bekas pakai
  • menangani peralatan tajam dengan aman
  • menjaga kebersihan dan kerapian lingkungan serta pembuangan sampah secara benar

Cuci tangan

Cuci tangan adalah prosedur yang paling penting dan pencegahan penyebaran infeksiyang menyebabkan kesakitan dan kematian ibu dan bayi baru lahir.

Cuci tangan harus dilakukan :

  • Segera setelah tiba di tempat kerja.
  • Sebelum melakukan kontak fisik secara langsung dengan ibu dan bayi yang baru dilahirkan.
  • Setelah kontak fisik langsung dengan ibu atau bayi baru lahir.
  • Sebelum memakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril.
  • Setelah melepaskan sarung tangan (tangan bisa terkontaininasi jika sarung tangan ber lubang atau robek).
  • Setelah menyentuh benda yang mungkin terkontaininasi oleh darah atau cairan tubuh lainnya atau setelah menyentuh selaput lendir (mukosa), inisalnya hidung, mulut, mata, vagina meskipun saat itu sedang menggunakan sarung tangan.
  • Setelah ke kamar mandi.
  • Sebelum pulang kerja.

Untuk mencuci tangan :

Lepaskan perhiasan di tangan dan pergelangan.

  • Lepaskan perhiasan di tangan dan pergelangan
  • Basahi tangan dengan air bersih dan mengalir.
  • Gosok dengan kuat kedua tangan, gunakan sabun biasa atau yang mengandung anti inikroba selama 15 sampai 30 detik (pastikan menggosok sela-sela jari). Tangan yang terlihat kotor harus dicuci lebih lama.
  • Bilas tangan dengan air bersih yang mengalir.
  • Biarkan tangan kering dengan cara diangin-anginkan atau keringkan dengan kertas tisu yang bersih dan kening atau handuk pribadi yang bersih dan kering.

Inikroorganisme tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang lembab atau air yang tidak mengalir, oleh karena itu ingat pedoman berikut pada saat mencuci tangan :

  • Bila menggunakan sabun padat (inisalkan sabun batangan), gunakan dalam potongan potongan kecil dan tempatkan sabun dalam wadah yang berlubang-lubang untuk mencegah air menggenangi sabun tersebut.
  • Jangan mencuci tangan dengan jalan mencelupkannya ke dalam wadah berisi air meskipun air tersebut sudah ditambah larutan antiseptik. Inikroorganisme dapat bertahan hidup dan berkembang biak dalam larutan tersebut.
  • Bila tidak tersedia air mengalir :

– Gunakan ember tertutup dengan keran yang bisa ditutup pada saat mencuci tangan dan dibuka kembali jika akan membilas.

– Gunakan botol yang sudah diberi lubang agar air bisa mengalir.

– Ininta orang lain menyiramkan air ke tangan, atau

– Gunakan pencuci tangan yang mengandung anti inikroba berbahan dasar alkohol (campurkan 100 ml 60-90% alkohol dengan 2 ml gliserin. Gunakan kurang lebih 2 ml dan gosok kedua tangan hingga kering, ulangi tiga kali).

  • Keringkan tangan anda dengan handuk bersih dan kering. Jangan menggunakan han duk yang juga digunakan oleh orang lain. Handuk basah lembab adalah tempat yang baik untuk inikroorganisme berkembang biak.
  • Bila tidak ada saluran air untuk membuang air yang sudah digunakan, kumpulkan air di baskom dan buang ke saluran limbah atau jamban di kamar mandi.

Memakai sarung tangan

Pakai sarung tangan sebelum rnenyentuh sèsuatu yang basah (kulit tak utuh, selaput mu kosa, darah atau cairan tubuh lainnya) atau peralatan, sarung tangan atau sampah yang terkontaininasi.

Jika sarung tangan diperlukan, ganti sarung tangan untuk menangani setiap ibu atau bayi baru lahir setelah terjadi kontak langsung untuk menghindari kontaininasi silang atau gu nakan sarung tangan yang berbeda untuk situasi yang berbeda pula (Tabel 1-1).

  • Gunakan sarung tangan steril atau sarung tangan DTT untuk prosedur apapun yang akan mengakibatkan kontak dengan jaringan di bawah kulit seperti persalinan, penjahitan atau pengambilan darah.
  • Gunakan sarung tangan pemeriksaan yang bersih untuk menangani darah atau cairan tubuh.
  • Gunakan sarung tangan rumah tangga atau sarung tangan tebal untuk mencuci peralatan, menangani sampah, juga membersihkan darah dan cairan tubuh.

Tabel 1-1: Tindakan yang memerlukan sarung tangan

Prosedur/Tindakan Sarung tanganyang diperlukan Sarung tangan disinfeksi tingkattinggi Sarungtangan sterail
Memeriksa tekanan darah atau suhu, menyuntik Tidak Tidak Tidak
Menolong persalinan dan kelahiran, menjahit laserasi atau episiotoini Ya Bisa diterima Dianjurkan
Mengambil contoh darah/pemasangan IV Ya Tidak Tidak
Menghisap lendir dan jalan napas bayi baru lahir Ya Ya Tidak
Memegang dan membersihkan peralatan yang terkontaininasi Ya Tidak Tidak
Memegang sampah yang terkontaini-nasi Ya Tidak Tidak
Membersihkanpercikan darah atau cairan tubuh Ya Tidak Tidak

1 Jika sterilisasi tidak memungkinkan sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi adalah satu-satunya alternatif yang bisa diterima.

2 Sarung tangan periksa yang bersih bisa diterima.

3 Sarung tangan tebal atau sarung tangan rumah taugga dan lateks adalah yang paling praktis untuk tujuan ini.

Tabel diadaptasi dan CDC, 1989 dan DH1HS. 1988.

Sarung tangan sekali pakai lebih dianjurkan. tapi jika sarananya sangat terbatas, sarung tangan bisa digunakan berulang kali jika dilakukan dekontaininasi, cuci dan bilas, disinfeksi tingkat tinggi atau sterilisasi. Jika sarung tangan sekali pakai digunakan berulang kali, jangan diproses lebih dan tiga kali karena mungkin telah terjadi robekan! lubang yang tidak terlihat atau sarung tangan dapat robek pada saat sedang digu nakan.

Ingat :Jangan gunakan sarung tangan jika sarung tangan tersebut tak utuhm tipis

atau berlubang dan robek. Buang dan gunakan sarung tangan yang lain.

Menggunakan teknik aseptik

Teknik aseptik membuat prosedur menjadi lebih aman bagi ibu/bayi baru lahir dan penolong persalinan. Teknik aseptik meliputi aspek :

  • penggunaan perlengkapan pelindung pribadi antisepsis
  • antisepsis
  • menjaga sterilitas/disinfeksi tingkat tinggi

Perlengkapan pelindung pribadi

Perlengkapan pelindung pribadi mencegah pemaparan terhadap infeksi dengan menggunakan penghalang (kaca mata pelindung, masker wajah, sepatu boot atau sepatu tertutup, celemek) selama melaksanakan prosedur klinik. Hal ini dapat melindungi penolong terhadap percikan dan luka terkena benda tajam. Masker wajah dan celemek plastik sederhana dapat dibuat sesuai dengan kebutuhan dan sumber daya yang ada di masing-masing daerah jika perlengkapan sekali pakai tidak tersedia.

Antisepsis

Antisepsis adalah tindakan yang dilakukan untuk mencegah infeksi dengan cara membunuh atau mengurangi jumlah inikroorganisme pada jaringan tubuh atau kulit. Karena kulit dan selaput lendir (mukosa) tidak dapat disterilisasi, penggunaan antiseptik bisa meininimalkan jumlah inikroorganisme yang akan mengkontaininasi luka terbuka sehingga dapat terjadi infeksi. Cuci tangan yang teratur di antara kontak dengan setiap ibu/bayi baru lahir akan membantu untuk menghilangkan sebagian besar inikroorganisme pada kulit.

Antiseptik vs larutan disinfektan

Meskipun istilah antiseptik dan disinfektan .kadang-kadang digunakan secara bergantian, ternyata larutan antiseptik dan disinfektan digunakan untuk tujuan yang berbeda. Larutan antiseptik digunakan pada kulit atau jaringan hidup sehingga daya eliininasi inikroorga nisme tidak sekuat disinfektan. Larutan disinfektan digunakan untuk dekontaininasi per alatan dan benda-benda yang digunakan dalam prosedur bedah. Membersihkan secara rutin permukaan tempat periksa atau meja operasi dengan disinfektan yang sesuai, baik yang terkontaininasi ataupun tidak, (setidaknya sekali dalam sehari) adalah cara yang mudah dan murah untuk disinfeksi suatu permukaan.

Larutan antiseptik seperti alkohol, memerlukan waktu beberapa menit setelah dioleskan agar memberikan efek yang optimal. Karena itu, penggunaan antiseptik tidak diperlukan untuk suatu tindakan kecil yang membutuhkan waktu segera (inisalnya penyuntikan oksi tosin secara IM selama penatalaksanaan aktif persalinan kala tiga, memotong tali pusat) asalkan peralatan yang digunakan sudah diproses hingga disinfeksi tingkat tinggi atau steril.

Larutan antiseptik berikut bisa diterima :

  • Alkohol (60-90%): etil, isopropil, atau metil spiritus.
  • Setriinid atau klorheksidin glukonat, berbagai konsentrasi: Savlon®.
  • Klorheksidin glukonat (4%): Hibiscrub®, Hibitane®, Hibiclens®.
  • Heksaklorofen (3%): Phisohex®.
  • Paraklorometaksilenol (PCMX atau kloroksilenol), berbagai konsentrasi: Dettol.
  • Iodine (1-3%), larutan yang dicampur alkohol atau encer (e.g. Lugol®) atau tinctur (io dine dalam alkohol 70%).

Catatan: Iodine tidak boleh digunakan pada permukaan mukosa seperti inisalnya vagina.

  • lodofor, berbagai konsentrasi, inisalnya Betadine.

Klorheksidin glukonat dan iodofor adalah antiseptik yang paling baik untuk digunakan pada mukosa. Persiapkan kulit atau jaringan dengan cara mengusapkan kapas atau kasa yang sudah dibasahi larutan antiseptik dengan gerakan memutar, bergerak melingkar dan tengah ke luar seperti spiral.

Larutan disinfektan berikut ini bisa diterima :

  • Klorin pemutih 0,5% (untuk dekontaininasi permukaan yang lebar dan DTT peralatan)
  • Glutaraldehida 2% (bisa digunakan untuk dekontaininasi tapi karena mahal biasanya hanya digunakan untuk disinfeksi tingkat tinggi atau sterilisasi kiiniawi)

Catatan: Jangan gunakan disinfektan dengan senyawa fenol untuk disinfeksi peralatan atau bahan yang akan dipakaikan pada bayi baru lahir, karena mern bahayakan kondisi kesehatan bayi tersebut.

Antiseptik dan larutan disinfektan bisa terkontaininasi. Inikroorganisme yang dapat mengkontaininasi antiseptik di antaranya adalah Stafilokokus, baksil Gram-negatif dan beberapa macam endospora. Organisme-organisme tersebut bisa menyebabkan infeksi nosokoinial herantai jika larutan yang terkontaininasi digunakan untuk mencuci tangan atau dioleskan pada kulit klien.

Cegah kontaininasi larutan antiseptik dan disinfektan dengan cara:

  • hanya menggunakan air matang untuk mengencerkan (jika pengenceran diperlukan)
  • berhati-hati untuk tidak mengkontaininasi pinggiran wadah pada saat menuangkan larutan ke wadah yang lebih kecil (pinggiran wadah larutan utama tidak boleh bersen tuhan dengan wadah yang lebih kecil)
  • mengosongkan dan mencuci wadah dengan sabun dan air serta membiarkannya kering dengan cara diangin-anginkan setidaknya sekali seininggu (tempelkan label bertulisakan tanggal pengisian ulang)
  • menuangkan larutan antiseptik ke gulungan kapas atau kasa (jangan merendam gulung an kapas atau kasa di dalam wadah ataupun mencelupkannya ke dalam larutan antiseptik)
  • menyimpan larutan di tempat yang dingin dan gelap

Pemeliharaan teknik steril/disinfeksi tingkat tinggi

Di manapun prosedur dilakukan, daerah steril harus dibuat dan dipelihara untuk menurunkan risiko kontaininasi di area prosedur tersebut dilakukan. Peralatan atau benda-benda disinfeksi tingkat tinggi, bisa ditempatkan pada daerah steril. Prinsip menjaga daerah steril harus digunakan untuk prosedur yang membutuhkan kondisi disinfeksi tingkat tinggi (AVSC, 1999). Pelihara sterilitas dengan jalan meinisahkan benda-benda steril atau disinfeksi tingkat tinggi (“bersih”) dan benda-benda yang terkontaininasi (‘kotor’). Jika mungkin gunakan baju dan sarung tangan steril dan sediakan serta jaga lingkungan yang steril.

Sediakan dan pelihara daerah steril/disinfeksi tingkat tinggi :

  • Gunakan kain steril.
  • Berhati-hati jika membuka bungkusan atau meinindahkan benda-benda ke daerah yang steril/disinfeksi tingkat tinggi.
  • Hanya benda-benda steril/disinfeksi tingkat tinggi atau petugas dengan baju yang sesuai, yang diperkenankan untuk memasuki daerah steril/disinfeksi tingkat tinggi.
  • Anggap benda apapun yang basah, terpotong atau robek sebagai benda yang terkon taininasi.
  • Tempatkan daerah steril/disinfeksi tingkat tinggi jauh dan pintu atau jendela.
  • Cegah orang-orang yang tidak memakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril menyentuh peralatan yang ada di daerah steril.

Memproses alat bekas pakai

Pemrosesan peralatan dan benda-benda lainnya dengan upaya pencegahan infeksi, dire komendasikan untuk melalui tiga langkah pokok yaitu:

  • Dekontaininasi
  • Pencucian dan pembilasan
  • Disinfeksi tingkat tinggi atau sterilisasi

Benda-benda steril atau disinfeksi tingkat tinggi harus disimpan dalam keadaan kering dan bebas debu. Bungkusan-bungkusan yang tetap kering dan utuh bisa digunakan dalam waktu satu ininggu. Peralatan steril yang dibungkus dalam kantong plastik bersegel dan tetap kering serta kemasannya tetap utuh, dapat bertahan dalam waktu satu bulan. Benda benda disinfeksi tingkat tinggi bisa disimpan di dalam wadah tertutup yang sudah didis infeksi tingkat tinggi selama satu ininggu, asalkan tetap kering dan bebas debu. Jika peralatan-peralatan tersebut tidak digunakan dalam tenggang waktu penyimpanan tersebut maka harus diproses kembali sebelum digunakan.

Jenis prosedur dan tindakan apapun yang dilakukan, cara pemrosesan peralatan atau perlengkapan tersebut tetap sama seperti yang digambarkan pada Gambar 1-1.

Gambar 1-1: Pemrosesan peralatan bekas pakai

l Untuk menyiapkan wadah yang didisinfeksi tingkat tinggi, rebus (jika kecil) aau isi dengan larutan klorin 0,5% selama 20 nIenit (larutan klorin bisa dipindah ke wadah yang lain untuk digunakan ulang dalain waktu 24 al Bilas wadah dengan air matang dan angin-anginkan sampai kering sebelum digunakan.

Dekontaininasi

Dekontaininasi adalah langkah pertama yang penting dalam menangani peralatan, perlengkapan, sarung tangan dan benda-benda lainnya yang terkontaininasi. Dekontaininasi membuat benda-benda lebih aman untuk ditangani petugas pada saat dilakukan pembersihan. Untuk perlindungan lebih jauh, pakai sarung tangan karet yang tebal atau sarung tangan rumah tangga dan lateks, jika menangani peralatan yang sudah digunakan atau kotor.

Segera setelah digunakan, masukkan benda-benda yang terkontaininasi ke dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit. Ini akan dengan cepat mematikan virus Hepatitis B dan HIV. Pastikan bahwa benda-benda yang terkontaininasi, telah terendam seluruhnya dalam larutan klorin. Daya kerja larutan klorin akan cepat mengalaini penurunan sehingga harus diganti paling sedikit setiap 24 jam, atau lebih cepat jika terlihat telah kotor atau keruh. Lihat Gambar 1-2 dan 1-3 untuk rumus persiapan larutan klorin.

Jumlah bagian air =Contoh: Untuk membuat larutan klorin 0,5% dari larutan klorin 5,25%

  1. Jumlah bagian air =
  2. Tambahkan 9 bagian (pembulatan ke bawah dan 9,5) air ke dalam

1 bagian larutan kiorin konsentrat (5,25%)

Catatan: air tidak perlu dimasak

Gambar 1-2: Rumus untuk membuat Jarutan klorin 0,5% dan larutan konsentrat

berbentuk cair

Sumber: Pocket Guide for Fainily Planning Service Providers, JHPIEGO, 1995

Jumlah bagian air =Contoh: Untuk membuat larutan klorin 0,5% dari bubuk klorin

yang bisa melepaskan klorin (seperti kalsium hipoklorida)

yang mengandung 35% klorin

  1. Gram/liter = x 1000 = 14,3 gram/liter
  2. Tambahkan 14 gram (pembulatan ke bawah dari 14,3) bubuk klorin

ke dalam 1 liter air bersih

Gambar 1:3: Rumus untuk membuat larutan klorin 0,5% dari bubuk klorin kering

Sumber: Pocket Guide for Fainily Planning Service Providers, JHPIEGO, 1995

Pencucian dan pembilasan

Pencucian adalah cara paling efektif untuk menghilangkan sebagian besar inikroorganisme pada peralatan/perlengkapan yang kotor atau sudah digunakan. Baik sterilisasi maupun disinfeksi tingkat tinggi menjadi kurang efektif tanpa proses pencucian sebelumnya. Jika benda-benda yang terkontaininasi tidak dapat dicuci segera setelah didekontaininasi, bilas peralatan dengan air untuk mencegah korosi dan menghilangkan bahan-bahan organik, lalu cuci dengan seksama secepat mungkin.

Seperti yang diperlihatkan pada Tabel 1-2, sebagian besar inikroorganisme (hingga 80%) yang terdapat dalam darah dan bahan-bahan organik lainnya bisa dihilangkan selama proses pencucian. Pencucian juga dapat menurunkan jumlah endospora bakeri yang menyebabkan tetanus dan gangren, pencucian ini penting karena residu bahan-bahan organik bisa menjadi tempat bagi inikroorganisme (termasuk endospora) dan melindungi inikroorganisme terhadap proses sterilisasi atau disinfeksi kiiniawi. Sebagai contoh virus hepatitis B bisa tetap hidup pada darah yang hanya 10-8 ml (yang tidak bisa dilihat dengan mata biasa) dan bisa menyebabkan infeksi jika terpercik ke mata. Jika perlengkapan untuk sterilisasi tidak tersedia, pencucian yang seksama merupakan cara mekanik satu-satunya untuk menghilangkan sebagian besar endospora bakteri.

Tabel 1-2: Efektivitas tindakan dalam pemrosesan alat bekas pakai

Dekon-taininasi Pencucian(hanya air) Pencucian(deterjen dan pembilasan) DTT1 Sterilisasi1
Efektivitas(menghilangkan atau menon-aktifkan inikro-organisme) Membunuh virusAIDS dan Hepatitis Hanya50% Hingga 80% 95% 100%
Waktu kerja yang di-perlukan agar proses berjalan efektif Rendam selama10 menit CuciHinggabersih Cuci hingga terlihat bersih Rebus, kukus atau secaraKiiniawi: 20 menit Kukus:20-30 menit 106 kPa, 121oC.Panas kering:

60 menit pada suhu 170oC.

1Perlu didahului oleh dekontaininasi dan pencucian.

Perlengkapan/bahan-bahan untuk mencuci peralatan termasuk:

  • sarung tangan karet yang tebal atau sarung tangan rumah tangga dari lateks
  • sikat halus (boleh menggunakan sikat gigi)
  • tabung suntik (ininimal ukuran 10 ml; untuk membilas bagian dalam kateter, tcrrnasuk kateter penghisap lendir)
  • wadah plastik atau baja antikarat (stainless steel)
  • air bersih
  • sabun atau deterjen

Tahap-tahap pencucian dan pembilasan:

  1. Pakai sarung tangan karet yang tebal pada kedua tangan.
  2. Ambil peralatan bekas pakai yang sudah didekontaininasi (hati-hati bila memegang peralatan yang tajam, seperti gunting dan jarum jahit).
  3. Agar tidak merusak benda-benda yang terbuat dari plastik atau karet, jangan dicuci segera bersamaan dengan peralatan yang terbuat dari logam.
  4. Cuci setiap benda tajam secara terpisah dan hati-hati :
    1. Gunakan sikat dengan air dan sabun untuk menghilangkan sisa darah dan kotoran.
    2. Buka engsel gunting dan klem.
    3. Sikat dengan seksama terutama di bagian sambungan dan pojok peralatan.
    4. Pastikan tidak ada sisa darah dan kotoran yang tertinggal pada peralatan.
    5. Cuci setiap benda sedikitnya tiga kali (atau lebih jika perlu) dengan air dan sabun atau deterjen.
    6. Bilas benda-benda tersebut dengan air bersih.
  5. Ulangi prosedur tersebut pada benda-benda lain.
  6. Jika peralatan akan didisinfeksi tingkat tinggi secara kiiniawi (inisalkan dalam larutan klorin 0,5%) tempatkan peralatan dalam wadah yang bersih dan biarkan kering se belum memulai proses DTT.

Alasan: Jika peralatan masih basah mungkin akan mengencerkan larutan kiinia dan membuat larutan menjadi kurang efektif

  1. Peralatan yang akan didisinfeksi tingkat tinggi dengan cara dikukus atau direbus, atau disterilisasi di dalam otoklaf atau oven panas kering, tidak usah dikeringkan sebelum proses DTT atau sterilisasi dimulai.
  2. Selagi masih memakai sarung tangan, cuci sarung tangan dengan air dan sabun dan kemudian bilas secara seksama dengan menggunakan air bersih.
  3. Gantungkan sarung tangan dan biarkan dengan cara diangin-anginkan.

Bola karet penghisap tidak boleh dibersihkan dan digunakan ulang untuk lebih dari satu bayi. Bola karet seperti itu harus dibuang setelah digunakan. Secara ideal kateter penghisap lendir DeLee, harus dibuang setelah satu kali digunakan; jika hal ini tidak memungkinkan, kateter harus dibersihkan dan didisinfeksi tingkat tinggi dengan seksama. Kateter urin sangat sulit dibersihkan dan didisinfeksi tingkat tinggi. Menggunakan kateter tersebut pada lebih dari satu ibu dapat meningkatkan risiko infeksi jika tidak diproses dengan benar.

Untuk mencuci kateter (termasuk kateter penghisap lendir), lakukan tahap-tahap berikut ini:

  • Pakai sarung tangan karet yang tebal atau sarung tangan rumah tangga dari lateks pada kedua tangan.
  • Lepaskan penutup wadah penampung lendir (untuk kateter penghisap lendir).
  • Gunakan tabung suntik besar untuk mencuci bagian dalam kateter sedikitnya tiga kali (atau Lebih jika perlu) dengan air dan sabun atau deterjen.
  • Bilas kateter menggunakan tabung suntik dan air bersih.
  • Letakkan kateter dalam wadah yang bersih dan biarkan kering sebelum dilakukan proses DTT.

Catatan: Kateter harus didisinfeksi tingkat tinggi secara kimiawi (lihat di bawah). Kateter bisa rusak jika didisinfeksi tingkat tinggi dengan jalan direbus.

DTT dan Sterilisasi

Meskipun sterilisasi adalah cara yang paling efektif untuk mernbunuh mikroorganisme, sterilisasi tidak selalu memungkinkan dan tidak selalu pra DTT ada!ah satu-satunya alternatif untuk situasi tersebut. DTT bisa dicapai dengan cara merebus, mengukus atau secara kimiawi. Untuk peralatan, perebusan seringkali merupakan metoda DTT yang pa ling sederhana dan efisien.

Ingat:Agar DTT ataupun sterilisasi menjadi efektif, lakukan terlebih dahulu proses

dekontaminasi dan pencucian peralatan dengan sebaik-baiknya.

DTT dengan cara merebus

  • Gunakan panci dengan penutup yang rapat.
  • Ganti air setiap kali mendisinfeksi peralatan.
  • Rendam peralatan sehingga semuanya terendam di dalam air.
  • Mulai panaskan air.
  • Mulai hitung waktu saat air mulai mendidih.
  • Jangan tambahkan benda apapun ke dalam air mendidih setelah penghitungan waktu
  • dimulai.

– Rebus selama 20 menit.

– Catat lama waktu perebusan peralatan di dalam buku khusus.

– Biarkan peralatan kering dengan cara diangin-anginkan sebelum digunakan atau disimpan (jika peralatan dalam keadaan lembab maka tingkat pencapaian disinfeksi tingkat tinggi tidak terjaga).

– Setelah peralatan kering, gunakan segera atau simpan dalam wadah disinfeksi tingkat tinggi dan berpenutup. Peralatan bisa disimpan sampai satu minggu asalkan penutupnya tidak dibuka.

Disinfeksi tingkat tinggi dengan uap panas pada sarung tangan

Setelah sarung tangan didekontaminasi dan dicuci, maka sarung taogan mi siap DTT dengan uap tanpa diberi talek.

  • Gunakan panci perebus yang memiliki tiga susun nampan pengukus.
  • Gulung bagian atas sarung tangan sehingga setelah DTT selesai, sarung tangan dapat dipakai tanpa membuat kontarninasi baru.
  • Letakkan sarung tangan pada baki atau nampan pengukus yang berlubang di bawahnya. Agar mudah dikeluarkan dan bagian atas panci pengukus, letakkan sarung tangan dengan bagian jarinya ke arah tengah panci. Jangan menumpuk sarung tangan (lima sampai sepuluh pasang sarung tangan bisa diletakkan di panci pengukus, tergantung dari diameter panci).
  • Ulangi proses tersebut hingga semua nampan pengukus terisi sarung tangan. Susun tiga nampan pengukus di atas panci perebus yang berisi air. Letakkan sebuah panci perebus kosong di sebelah kompor.
  • Letakkan penutup di atas panci pengukus paling atas dan panaskan air hingga mendidih. Jika air mendidih perlahan, hanya sedikit uap air yang dihasilkan dan suhunya mungkin tidak cukup tinggi untuk membunuh mikroorganisme. Jika air mendidih terlalu cepat, air akan menguap dengan cepat dan bahan bakar akan terbuang.
  • Jika uap mulai keluar dari celah-celah di antara panci pengukus, mulailah penghitungan waktu. Catat lamanya pengukusan sarung tangan dalam buku khusus.
  • Kukus sarung tangan selama 20 menit.
  • Angkat nampan pengukus paling atas yang berisi sarung tangan dan goyangkan perlahan-lahan agar air yang tersisa pada sarung tangan dapat menetes keluar.
  • Letakkan nampan pengukus di atas panci perebus yang kosong di sebelah kompor.
  • Ulangi langkah tersebut hingga semua nampan pengukus yang berisi sarung tangan tersusun di atas panci perebus yang kosong. Letakkan penutup di atasnya hingga sarung tangan menjadi dingin dan kering tanpâ terkontaminasi.
Ingat :Jangan menempatkan nampan pengukus yang berlubang dan berisi sarung

tangan di atas meja atau tempat lain karena sarung tangan dapat terkontaminasi

oleh cemaran melalui lubang tersebut.

  • Biarkan sarung tangan kering dengan diangin-anginkan sampai kering di dalam panci selama 4-6 jam. Jika diperlukan segera, biarkan sarung tangan menjadi dingin selama 5-10 menit dan kemudian gunakan dalam waktu 30 menit pada saat masih basah atau lembab (setelah 30 menit bagian jan sarung tangan akan menjadi lengket dan membuat sarung tangan sulit dipakai atau digunakan).
  • Jika sarung tangan tidak akan dipakai segera, setelah kering, gunakan cunam penjepit atau pinset disinfeksi tingkat tinggi untuk memindahkan sarung tangan. Letakkan sarung tangan tersebut dalam wadah disinfeksi tingkat tinggi lalu tutup rapat (sarung tangan bisa disimpan di dalam panci pengukus yang berpenutup rapat). Sarung tangan tersebut bisa disimpan sampai satu minggu.

DTT kimiawi

Bahan kimia yang dianjurkan untuk DTT adalah kionin dan glutaraldehid (Cidex®). Alko hol, iodine dan lodofor tidak digolongkan sebagai disinfektan tingkat tinggi. Alkohol tidak membunuh virus, dan spesies Pseudomonas bisa tumbuh dalam larutan iodine. Larutan larutan tersebut hanya boleh digunakan sebagai disinfektan jika disinfektan yang dianjurkan tidak tersedia. Lysol®, Karbol® dan Densol® (asam karbolik 5% atau fenol 1-2%) digolongkan sebagai disinfektan tingkat rendah dan tidak dapat digunakan untuk dekon taminasi atau proses DTT. Tablet formalin hanya efektif dalam suhu tinggi dan dalam bentuk gas jenuh. Penggunaan tablet formalin sangat tidak dianjurkan. Meletakkan tablet bersama sarung tangan, bahan-bahan atau perlengkapan dalam botol kaca yang tertutup ti dak efektif. Penelitian memhuktikan Formaldehid (formalin) adalah karsinogenik sehingga tidak boleh digunakan.

Larutan disinfektan tingkat tinggi yang siap tersedia dan tidak mahal adalah kiorin. Karena larutan kiorin bersifat korosif dan proses DTT memerlukan perendaman selama 20 menit peralatan yang sudah didisinfeksi tingkat tinggi secara kimiawi harus segera dibilas dengan air matang. Lihat Gambar 1-2 dan 1-3 untuk rumus yang digunakan dalam membuat larutan.

Langkah-langkah kunci pada disinfeksi tingkat tinggi kimiawi :

  • Letakkan peralatan yang kering, sudah didekontarninasi dan dicuci kedalam wadah. Kemudian isi wadah tersebut dengan larutan kimia. Ingat: jika peralatan, masih dalam kondisi basah sebelum direndam dalam larutan kimia maka dapat terjadi pengenceran tambahan terhadap larutan tersebut dan membuatnya menjadi kurang efektif.
  • Pastikan bahwa peralatan terendam seluruhnya dalam larutan kimia.
  • Rendam peralatan selama 20 menit.
  • Catat lama waktu peralatan direndarn dalam larutan kimia di buku khusus.
  • Bilas peralatan dengan air matang dan angin-anginkan sampai kering di wadah disin feksi tingkat tinggi yang berpenutup.
  • Setelah kering peralatan dapat digunakan dengan segera atau disimpan dalam wadah disinfeksi tingkat tinggi yang berpenutup rapat.

DTT kateter secara kimiawi :

  • Siapkan larutan kiorin 0,5% (lihat Gambar 1-2 dan 1-3).
  • Pakai sarung tangan karet yang tebal atau sarung tangan rurnah tangga dan lateks pada kedua tangan.
  • Letakkan kateter yang sudah dicuci dan kering di dalam larutan kiorin. Gunakan tabung suntik steril atau disinfeksi tingkat tinggi yang besar untuk membilas bagian dalam kateter dengan larutan kiorin. Ulangi pembilasan tiga kali. Pastikan kateter terendam dalam larutan.
  • Biarkan kateter terendam selama 20 menit.
  • Gunakan tabung suntik disinfeksi tingkat tinggi atau steril yang besar dan air yang direbus sedikitnya 20 menit untuk membilas kateter.
  • Biarkan kateter kering dengan cara diangin-anginkan dan kemudian segera digunakan atau disimpan dalam wadah disinfeksi tingkat tinggi yang bersih.
Ingat : Selalu ikuti prinsip-prinsip pemrosesan peralatan yang benar.Sebelum menggunakan kembali benda atau peralatan yang terkon-taminasi :

  1. Dekontaminasi
  2. cuci, bilas dan keringkan jika perlu
  3. sterilisasi atau disinfeksi tingkat tinggi
  4. gunakan segera atau simpan dalam wadah yang sesuai

Penggunaan peralatan tajam secara aman

Luka tusuk karena peralatan tajam (misalkan jarum) adalah salah satu cara utama terjadinya infeksi HIV dan hepatitis B di antara para penolong persalinan. Oleh karena itu, perhatikan pedoman berikut :

  • Letakkan benda-benda tajam di atas baki steril atau disinfeksi tingkat tinggi atau dengan menggunakan “daerah aman” yang sudah ditentukan (daerah khusus untuk meletakkan dan mengambil peralatan tajam).
  • Hati-hati saat melakukan penjahitan agar tidak tertusuk jarum secara tidak sengaja.
  • Gunakan pemegang jarum dan pinset pada saat menjahit. Jangan pernah meraba jarum atau memegang jarum jahit dengan tangan.
  • Jangan menutup kembali, melengkungkan, mematahkan atau melepaskan jarum yang akan dibuang.
  • Buang benda-benda tajam dalam wadah tahan bocor dan segel dengan perekat jika su dah dua per tiga penuh. Jangan memindahkan benda-benda tajam tersebut ke wadah yang lain. Wadah benda tajam yang sudah disegel tadi harus dibakar di dalam insinerator.
  • Jika benda-benda tajam tidak bisa dibuang secara aman dengan cara insinerasi, bilas tiga kali dengan larutan klorin 0,5% untuk dekontaminasi, tutup kembali ujung atau hagian tajam dengan penutupnya menggunakan teknik satu tangan dan kemudian di tanam dalam tanah.

Cara melakukan teknik satu tangan:

– Letakkan penutup jarum pada permukaan yang keras dan rata

– Pegang tabung suntik dengan satu tangan dan gunakan jarum untuk “mengait penutup jarum. Jangan memegang penutup jarum dengan tangan lainnya.

– Jika jarum sudah tertutup seluruhnya, pegang bagian bawah jarum dan gunakan tangan yang lain untuk merapatkan penutupnya.

Pembuangan sampah secara benar dan mengatur kebersihan dan kerapian

Pembuangan sampah

Sampah terdiri dari yang terkontaminasi dan tidak terkontaminasi. Sampah yang tidak terkontaminasi tidak mengandung risiko bagi petugas yang menanganinya. Sampah dari limbah persalinan dan kelahiran adalah sampah terkontaminasi. Jika tidak dibuang dengan benar, sampah terkontaminasi berpotensi untuk menginfeksi siapapun yang melakukan kontak atau menangani sampah tersebut, termasuk anggota masyarakat. Sampah terkontaminasi termasuk darah, nanah, urin, kotoran manusia dan benda-benda yang tercemar oleh cairan tubuh. Lakukan pembuangan sampah dengan hati-hati.

Tujuan pembuangan sampah secara benar adalah :

  • mencegah penyebaran infeksi kepada petugas klinik yang menangani sarnpah dan masyarakat sekitarnya.
  • melindungi orang-orang yang menangani sampah dan cedera tidak sengaja terhadap benda-benda tajam yang sudah terkontaminasi.

Setelah selesai melakukan suatu tindakan (misalkan asuhan persalinan) dan sebelum melepaskan sarung tangan, letakkan sampah terkontaminasi (kasa, gulungan kapas, perban, dll) ke dalam tempat sampah kedap air/kantung plastik, sebelurn dibuang. Hindarkan terjadinya kontak sampah terkontaminasi dengan permukaan luar kantung. Pembuangan secara benar untuk benda-benda tajam yang terkontaminasi adalah dengan rnenempatkannya dalam wadah tahan bocor (misalkan botol air mineral dan plastik atau botol infus), kotak karton yang tebal atau wadah yang terbuat dari logam.

Singkirkan sampah terkontaminasi dengan cara dibakar. Jika hal ini tidak memungkinkan, kubur bersama wadahnya. Sampah yang tidak terkontaminasi bisa dibuang di dalam wadah sampah biasa.

Mengatur kebersihan dan kerapian

Pembersihan yang teratur dan seksama akan mengurangi mikroorganisrne yang ada pada setiap permukaan, mencegah infeksi dan kecelakaan.

Ingat hal-hal berikut untuk mengatur kebersihan dan kerapian :

  • Pastikan bahwa satu ember yang berisi larutan pemutih kiorin 0,5 % yang belum di pakai tersedia setiap saat.
  • Gunakan disinfektan yang dianjurkan untuk membersihkan peralatan yang tidak bersentuhan dengan darah atau sekresi tubuh (stetoskop Pinnards, Doppler, termometer, inkubator) di antara pemakaian, dan terutama di antara ibu atau bayi yang berbeda.
  • Jika menggunakan oksigen, gunakan kanula nasal yang bersih, steril atau disinfeksi tingkat tinggi setiap kali dibutuhkan. Mengusap kanula dengan alkohol tidak akan mencegah terjadinya infeksi.
  • Segera bersihkan percikan darah, tuangkan larutan kiorin pemutih 0,5% kemudian seka dengan kain atau pel.
  • Bungkus atau tutupi linen bersih dan simpan dalam kereta dorong atau lemari tertutup untuk mencegah kontaminasi debu.
  • Setelah setiap penggunaan bersihkan tempat tidur, meja dan troli prosedur dengan kain yang dibasahi larutan kiorin 0,5% dan deterjen.
  • Setelah setiap kelahiran, seka celemek dengan larutan klorin 0,5%.
  • Bersihkan lantai dengan lap kering, jangan disapu. Seka lantai dan permukaan datar setiap hari atau lebih sering (bila perlu) dengan campuran larutan kiorin 0,5% dan deterjen.
  • Ikuti pedoman umum tentang kebersihan dan kerapian:

– Bersihkan dan atas ke bawah sehingga kotoran yang jatuh pada saat pembersihan bisa dihilangkan.

– Selalu pakai sarung tangan karet tebal atau sarung tangan rumah tangga dan lateks.

– Gosok permukaan.

– Tempelkan petunjuk kebersihan khusus untuk unit tersebut di daerah yang terlihat. Cantumkan secara rind dan tepat tentang apa yang perlu dilakukan dan seberapa sering prosedur itu dikerjakan. Ajarkan pula pengaturan kebersihan dan tanggung jawab kepada staf. Buat daftar tilik untuk kegiatan rutin kebersihan dan kerapian.

– Bersihkan dinding, gorden dan tirai vertikal sesering mungkin untuk mencegah terkumpulnya debu.

– Jika dinding atau gorden terpercik oleh darah, segera bersihkan dengan larutan klorin 0,5%.

Pertimbangan-pertimbangan mengenai pencegahan infeksi di luar institusi

Persalinan dan kelahiran bayi bisa terjadi di luar institusi, bisa di rumah, klinik bersalin swasta, polindes atau puskesmas. Jika proses ini berlangsung di rumah, hati-hati agar benda-benda yang terkontaminasi tidak menyentuh daerah yang telah dibersihkan dan disiapkan untuk suatu prosedur. Bagian berikut ini membahas beberapa perubahan dan pemikiran untuk tindakan-tindakan pencegahan infeksi dalam beberapa situasi.

Cuci Tangan

Pastikan bahwa teman dan anggota keluarga mencuci tangan mereka.

Sarung Tangan

Jika sarung tangan steril atau disinfeksi tingkat tinggi tidak tersedia, pakai sarung tangan bersih.

Pelindung pribadi

Gunakan penghalang atau pelindung untuk rnencegah darah atau cairan tubuh terpercik ke mata atau mulut. Kacamata yang murah bisa digunakan sebagai pelindung mata jika ka camata khusus tidak tersedia. Jika barier protektif tidak tersedia, hindarkan segala ke mungkinan terpercik bahan berbahaya. Jika darah atau cairan tubuh terpercik ke kulit, cuci dan bilas dengan segera.

Teknik aseptik

Terapkan prinsip menjaga daerah steril dengan menjauhkan benda-benda terkontaminasi atau kotor’ dan benda-benda bersih atau disinfeksi tingkat tinggi. Pastikan bahwa semua peralatan yang ada dalam partus set dan set jahit serta benda-benda lainnya yang mungkin kontak dengan jaringan di bawah kulit, telah didisinfeksi tingkat tinggi atau sedapat mungkin gunakan perlengkapan steril.

Penanganan peralatan tajam secara aman

Hati-hati dengan peralatan tajam; jangan tertinggal di rumah setelah menolong proses per salman. Gunakan botol plastik dengan tutup atau wadah yang memadai untuk menampung benda tajam yang telah digunakan. Botol kaca berpenutup bisa digunakan untuk wadah dekontaminasi benda tajam dengan larutan klorin 0,5%.

Pembuangan sampah

Tempatkan plasenta di dalam kantung plastik atau tembikar dan irf keIu tentang bagaimana cara menguburkannya. Cuci secara terpisah linen yang terkontaminasi oleh darah dengan linen lainnya kemudian jemur di terik matahari. Bakar atau kubur sam pah terkontaminasi lainnya.

4. Pencatatan (dokumentasi)

Catat semua asuhan yang telah diberikan kepada ibu dan/atau bayinya. Jika asuhan tidak dicatat, dapat dianggap bahwa tidak pernah dilakukan asuhan yang dimaksud. Pencatatan adalah bagian penting dari proses membuat keputusan klinik karena memungkinkan penolong persalinan untuk terus menerus memperhatikan asuhan yang diberikan selama proses persalinan dan kelahiran bayi. Mengkaji ulang catatan memungkinkan untuk menganalisis data yang telah dikumpu dan dapat lebih efektif dalam merumuskan suatu diagnosis serta membuat rencana asuhan atau perawatan bagi ibu atau bayinya. Partograf adalah bagian terpenting dan proses pencatatan selama persalinan. Lihat bagian mengenai Partograf di Bab 2 untuk penjelasan lengkap mengenai partograf.

Pencatatan rutin adalah penting karena :

  • Dapat digunakan sebagai alat bantu untuk membuat keputusan klinik dan mengevaluasi apakah asuhan atau perawatan sudah sesuai dan efektif, untuk mengidentirikasi kesenjangan pada asuhan yang diberikan dan untuk membuat perubahan dan peningkatan rencana asuhan atau perawatan.
  • Dapat digunakan untuk tolok ukur keberhasilan dalam proses membuat keputusan klinik; sedangkan sebagai metode keperawatan, informasi ini harus dapat dibagikan atau diteruskan kepada tenaga kesehatan lainnya.
  • Merupakan catatan permanen tentang asuhan, perawatan dan obat yang diberikan.
  • Dapat dibagikan di antara para penolong persalinan. Hal ini penting jika memerlukan rujukan di mana lebih dan satu penolong persalinan memberikan asuhan pada ibu atau bayi baru lahir.
  • Dapat mempermudah kelangsungan asuhan dan saw kunjungan ke kunjungan berikutnya, dan satu penolong persalinan kepada penolong persalinan Iainnya, atau dan seorang penolong persalinan ke fasilitas kesehatan lainnya. Melalui pencatatan rutin, penolong persalinan rnendapatkan informasi yang relevan dan setiap ibu atau bayi baru lahir yang diasuhnya.
  • Dapat digunakan untuk penelitian atau studi kasus.
  • Diperlukan untuk memberi masukan data statistik sebagai catatan nasional dan daerah, termasuk catatan kematian dan kesakitan ibu/bayi baru lahir.

Aspek-aspek penting dalam pencatatan adalah :

  • Tanggal dan waktu asuhan tersebut diberikan.
  • Identifikasi penolong persalinan.
  • Paraf atau tanda tangan (dan penolong persalinan) pada semua catatan.
  • Mencakup informasi yang berkaitan secara tepat, dicatat dengan jelas, dan dapat dibaca.
  • Ketersediaan sistem penyimpanan catatan atau data pasien.
  • Kerahasiaan dokumen-dokurnen medis.

Ibu harus diberikan salinan catatan medik (catatan klinik antenatal, dokumen dokumen rujukan, dll) beserta panduan yang jelas mengenai:

  • Maksud dan dokumen-dokumen tersebut.
  • Kapan harus dibawa.
  • Kepada siapa harus diberikan.
  • Bagaimana cara penyimpanan yang aman di rumah atau selama perjalanan ke tempat rujukan.
Ingat :

  • Catat semua data, hasil pemeriksaan, diagnosis, obat-obatan, asuhan/ perawatan, dan lain-lain.
  • Jika tidak dicatat, dianggap asuhan tersebut tidak pernah dilakukan.
  • Pastikan setiap partograf bagi setiap pasien diisi denga lengkap dan benar

5. Rujukan

Rujukan dalam kondisi optimal dan tepat waktu ke fasilitas kesehatan rujukan atau yang memiliki sarana lebih Iengkap diharapkan mampu menyelamatkan jiwa para ibu dan bayi baru lahir. Meskipun sebagian besar ibu menjalani persalinan normal, namun sekitar 10- 15% di antaranya akan mengalami masalah selama proses persalinan dan kelahiran Sehingga perlu dirujuk ke fasilitas kesehatan rujukan. Sangatlah sulit untuk menduga kapan penyulit akan terjadi, sehingga kesiapan untuk merujuk ibu dan/atau bayinya ke fasilitas kesehatan rujukan secara optimal dan tepat waktu jika penyulit terjadi. Setiap tenaga penolong/fasilitas pe!ayanan, harus mengetahui lokasi fasilitas rujukan terdekat yang mampu untuk melayani kegawatdaruratan obstetri dan bayi baru lahir seperti :

  • Pembedahan, termasuk bcdah sesar
  • Transfusi darah
  • Persalinan menggunakan ekstraksi vakum atau cunam
  • Antibiotik IV
  • Resusitasi bayi haru lahir dan asuhan lanjutan bayi baru lahir

Informasi tentang pelayanan yang tersedia di tempat rujukan, ketersediaan pelayanan purna waktu. biaya pelayanan dan waktu serta jarak yang ditempuh ke tempat rujukan merupakan hal penting yang harus diketahui oleh klien dan penolong persalinan. Jika terjadi penyulit. upaya rujukan akan melalui alur yang tepat dan waktu yang singkat. Jika ibu dan bayi baru lahir mengalami penyulit dan dirujuk ke tempat yang tidak sesuai, mereka akan kehilangan waktu yang berharga dan kesempatan terbaik untuk menyelamatkan jiwa mereka.

Pada saat kunjungan antenatal, jelaskan bahwa petugas kesehatan, klien dan suami akan selalu berupaya untuk mendapatkan pertolongan terbaik, termasuk kemungkinan rujukan setiap ibu hamil apabila terjadi penyulit. Pada saat terjadi penyulit seringkali tidak cukup waktu untuk membuat rencana rujukan sehingga keterlambatan dalam membuat keputusan dapat membahayakan jiwa klien. Anjurkan ibu untuk mcmbahas rujukan dan membuat rencana rujukan bersama suami dan keluarganya serta tawarkan untuk berbicara dengan suami dan keluarganya untuk menjelaskan antisipasi rencana rujukan.

Masukkan persiapan-persiapan dan informasi berikut ke dalam rencana rujukan :

  • Siapa yang akan menemani ibu atau bayi baru lahir.
  • Tempat-tempat rujukan mana yang lebih disukai ibu dan keluarga? (Jika ada lebih dan satu kemungkinan tempat rujukan, pilih tempat rujukan yang paling sesuai berdasarkan jenis asuhan yang diperlukan).
  • Sarana transportasi yang akan digunakan dan siapa yang akan mengendarainya. Ingat bahwa transportasi harus tersedia segera, baik siang maupun malam.
  • Orang yang ditunjuk menjadi donor darah, jika transfusi darah diperlukan.
  • Uang yang disisihkan untuk asuhan medis, transportasi, obat-obatan dan bahan-bahan.
  • Siapa yang akan tinggal dan menemani anak-anak yang lain pada saat ibu tidak di rumah.

Kaji ulang tentang keperluan dan tujuan upaya rujukan pada ibu dan keluarganya. Kesempatan ini harus dilakukan selama ibu melakukan kunjungan asuhan antenatal atau pada saat awal persalinan, jika memungkinkan. Jika ibu belum membuat rencana selama kehamilannya, penting untuk mendiskusikan rencana rujukan dengan ibu dan keluarganya pada saat saat awal persalinan. Jika kemudian timbul masalah pada saat persalinan dan rencana rujukan belum dibicarakan, maka seringkali sulit untuk membuat persiapan-pcrsiapan dengan cepat. Rujukan tepat waktu merupakan unggulan asuhan sayang ibu dalam mendukung keselamatan ibu.

Singkatan BAKSOKU dapat digunakan untuk mengingat hal-hal penting dalam mempersiapkan rujukan untuk ibu :

B: (Bidan) Pastikan bahwa ibu dan/atau bayi baru lahir didampingi oleh penolong persalinan yang kompeten dan merniliki kernampuan untuk menatalak sana kegawatdaruratan obstetri dan bayi baru lahir untuk dibawa ke fasilitas rujukan.

A: (Alat) Bawa perlengkapan dan bahan-bahan untuk asuhan persalinan, masa ni fas dan bayi baru lahir (tabung suntik, selang IV, dli) bersama ibu ke tempat rujukan. Perlengkapan dan bahan-bahan tersebut mungkin diperlukan jika ihu melahirkan sedang dalam perjalanan.

K: (Keluarga) Beritahu ibu dan keluarga mengenai kondisi terakhir ibu dan/atau hayi dan mengapa ibu dan/atau bayi perlu dirujuk. Jehiskan pada mereka alasan dan keperluan upaya rujukan tersebut. Suami atau anggota keluarga yang lain harus menemani ibu dan/atau bayi baru lahir ke tempat rujukan.

S: (Surat) Berikan surat ke tempat rujukan. Surat ini harus memberikan identifikasi mengenai ibu dan/atau bayi baru lahir, cantumkan alasan rujukan dan uraikan hasil pemeriksaan, asuhan atau obat-obatan yang diterima ibu danlatau bayi baru lahir. Lampirkan partograf kemajuan persalinan ibu pada saat rujukan.

0: (Obat) Bawa obat-obatan esensial pada saat mengantar ibu ke tempat rujukan. Obat-obatan mungkin akan diperlukan selama perjalanan.

K: (Kendaraan) Siapkan kendaraan yang paling memungkinkan untuk merujuk ibu dalam kondisi yang cukup nyaman. Selain itu, pastikan bahwa kondisi kendaraan tersebut cukup baik untuk rnencapai tempat rujukan dalam waktu yang tepat.

U: (Uang) Ingatkan pada keluarga agar membawa uang dalam jumlah yang cukup untuk membeli obat-obatan yang diperlukan dan bahan-bahan kesehatan lain yang diperlukan selama ibu dan/bayi baru lahir tinggal di fasilitas rujukan.

source : buku APN

ASUHAN PERSALINAN KALA I

ASUHAN PERSALINAN KALA I

KALA I

Pendahuluan

Persalinan adalah proses alamiah dimana terjadi dilatasi serviks, lahirnya bayi dan plasenta dan rahirn ibu. Bab ini akan memberikan gambaran mengenai kala satu persalinan dan asuhan bagi ibu selama waktu tersebut, dan juga mendefinisikan proses fisiologis persalinan normal. Juga dijelaskan bagaimana cara memberikan asuhan sayang ibu selama persalinan, melakukan anamnesis dan melakukan pemeriksaan fisik pada ibu dalam persalinan. Selain itu, dikaji pula tentang deteksi dini dan penatalaksanaan awal berbagai masalah dan penyulit, kapan dan bagaimana cara merujuk ibu.

Di sini juga akan dijelaskan tentang penggunaan partograf. Partograf adalah alat bantu untuk membuat keputusan klinik, memantau, mengevaluasi dan menatalaksana persalinan dan kewajiban untuk menggunakannya secara rutin pada setiap persalinan. Partograf dapat digunakan untuk deteksi dini masalah dan penyulit untuk sesegera mungkin menatalaksana masalah tersebut atau merujuk ibu dalam kondisi optimal. Partograf tidak digunakan Selama fase laten persalinan, instrumen ini merupakan salah satu komponen dan pemantauan dan penatalaksanaan proses persalinan secara lengkap. Pada prinsipnya, setiap penolong persalinan diwajibkan untuk rnemantau dan mendokumentasikan secara seksama kesehatan dan kenyamanan ibu dan janin dan awal hingga akhir persalinan.

Tujuan

Pada akhir bab ini, penolong persalinan akan dapat :

  1. Menjelaskan batasan persalinan.
  2. Menjelaskan batasan kala satu persalinan.
  3. Membedakan apakah ibu sudah inpartu atau belum.
  4. Memahami langkah-Iangkah esensial untuk melakukan anamnesis rutin dan pemeriksaan fisik pada ibu yang sudah inpartu.
  5. Mengidentifikasi kapan ibu berada dalam fase aktif persalinan.
  6. Memberikan asuhan sayang ibu selama kala satu persalinan.
  7. Penggunaan partograf secara rutin dan tepat untuk mendokumentasikan dan memantau kernajuan persalinan serta keseliatan dan kenyarnanan ibu dan bayi, penuntun untuk membuat keputusan klinik dan deteksi dini rnasalah dan penyulit.
  1. Mengambil tindakan secara tepat sasaran dan waktu. Jika terjadi penyulit dan perlu dirujuk, dapat dilakukan dengan sesegera mungkin.

Batasan

Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput ketuban keluar dan rahim ibu. Persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi pada usia kehamilan cukup bulan (setelah 37 rninggu) tanpa disertai adanya penyulit.

Persalinan dimulai (inpartu) pada saat uterus berkontraksi dan menyebabkan perubahan pada serviks (membuka dan menipis) dan berakhir dengan lahirnya plasenta secara lengkap. Ibu belum inpartu jika kontraksi uterus tidak mengakibatkan perubahan pada serviks.

Tanda dan gejala inpartu termasuk :

Penipisan dan pembukaan serviks.

  • Kontraksi uterus yang mengakibatkan perubahan pada serviks (frekuensi minimal 2 kali dalam 10 menit).
  • Keluarnya lendir bercampur darah (‘show’) melalui vagina.

Fase-fase dalam kala satu persalinan

Kala satu persalinan dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus dan pembukaan sehingga mencapai pembukaan lengkap (10 cm). Persalinan kala satu dibagi menjadi dua fase, yaitu fase laten dan fase aktif.

Fase laten persalinan :

  • Dimulai sejak awal kontraksi yang menyebabkan penipisan dan pembukaan serviks Secara bertahap.
  • Pembukaan serviks kurang dan 4 cm.
  • Biasanya berlangsung di bawah hingga 8 jam.

Fase aktif persalinan :

  • Frekuensi dan lama kontraksi uterus urnumnya meningkat (kontraksi dianggap adekuat/memadai jika terjadi tiga kali atau lebih dalam waktu 10 menit, dan berlangsung selama 40 detik atau lebih).
  • Serviks membuka dan 4 ke 10 cm, biasanya dengan kecepatan 1 cm atau lebih per jam hingga pembukaan lengkap (10 cm).
  • Terjadi penurunan bagian terbawah janin.

Menyiapkan kelahiran

Tujuan :

  • Menyiapkan ruangan untuk persalinan dan kelahiran bayi.
  • Menyiapkan sernua perlengkapan, bahan-bahan dan obat-obat esensial.
  • Menyiapkan rujukan.
  • Memberikan asuhan sayang ibu selama persalinan.
  • Melakukan upaya Pencegahan Infeksi (P1) yang direkomendasikan.

Menyiapkan ruangan untuk persalinan dan kelahiran bayi

Persalinan dan kelahiran bayi mungkin tcrjadi di rumah (rumah ibu, rumah kerabat), di tempat bidan, di puskesmas, Polindes atau rumah sakit. Pastikan ketersediaan bahan-bahan dan sarana yang rncmadai dan upaya pencegahan infeksi dilaksanakan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.

Di manapun persalinan dan kelahiran bayi terjadi, diperlukan hal-hal pokok seperti berikut ini :

  • Ruangan yang hangat dan bersih, merniliki sirkulasi udara yang baik dan terlindung dan tiupan angin.
  • Sumber air bersih yang mengalir untuk cuci tangan dan mandi ibu sebelum dan sesudah melahirkan.
  • Air disinfeksi tingkat tinggi (air yang dididihkan dan didinginkan) untuk membersih kan vulva dan perineum sebelurn periksa dalam selama persalinan dan membersihkan perineum ihu setelah bayi lahir.
  • Air bersih dalarn jumlah yang cukup, kionin, dcterjen, kain pembersih, kain pel dan sarung tangan karet untuk rnernbersihkan ruangan, lantai, perabotan, dekontaminasi dan proses peralatan (lihat Bab 1).
  • Karnar mandi yang bersih untuk kebersihan pribadi ibu dan penolong persalinan. Pastikan hahwa kamar kecil dan kamar mandi telah didekontaminasi dengan larutan kiorin 0,5%, dibersihkan dengan deterjen dan air sebelum persalinan dimulai (untuk melindungi ibu dan risiko infeksi), dan setelah bayi lahir (melindungi keluarga terhadap nisiko infeksi dan darah dan sekret tubuh ibu).
  • Tempat yang lapang untuk ibu ber selama persalinan, melahirkan bayi dan memberikan asuhan bagi ibu dan bayinya setelah persalinan. Pastikan bahwa ibu mendapatkan privasi.
  • Penerangan yang cukup, baik siang maupun malam.
  • Tempat tidur yang bersih untuk ihu. Tutupi kasur dengan plastik atau lembaran yang mudah dibersihkan jika terkontarninasi selama persalinan atau kelahiran bayi.
  • Tempat yang bersih untuk memberikan asuhan bayi baru lahir.
  • Meja yang bersih atau tempat tertentu untuk menaruh peralatan persalinan.

Menyiapkan perlengkapan, bahan-bahan dan obat-obatan yang dibutuhkan

Daftar perlengkapan, bahan-bahan dan obat-obatan yang dibutuhkan untuk asuhan dasar persalinan dan kelahiran bayi diuraikan dalam Lampiran 5. Pastikan kelengkapan jenis dan jumlah bahan-bahan yang diperlukan dan dalam keadaan siap pakai untuk setiap persalinan dan kelahiran. Jika tempat persalinan dan kelahiran bayi, jauh dan fasilitas kesehatan, bawalah semua keperluan yang dibutuhkan ke lokasi persalinan. Kegagalan untuk menyediakan semua perlengkapan, bahan-bahan dan obat-obat esensial pada saat asuhan diberikan, akan meningkatkan risiko terjadinya penyulit pada ibu dan bayi baru lahir yang dapat membahayakan keselamatan jiwa mereka.

Pada setiap persalinan dan kelahiran bayi :

  • Periksa semua peralatan sebelum dan setelah memberikan asuhan. Ganti peralatan yang hilang atau rusak dengan segera.
  • Periksa semua obat-obatan dan bahan-bahan sebelum dan setelah menolong ibu bersalin dan melahirkan. Segera ganti obat apapun yang telah digunakan atau hilang.
  • Pastikan bahwa perlengkapan dan bahan-bahan sudah bersih dan siap pakai. “Partus set”, “set jahit”, dan peralatan resusitasi bayi baru lahir sudah dalam kondisi disinfeksi tingkat tinggi atau steril (Bacalah pemrosesan peralatan di Bab 1).

Menyiapkan rujukan

Kaji ulang rencana rujukan (lihat Bab 1) bersama ibu dan keluarganya. Jika terjadi penyulit, keterlambatan untuk merujuk ke fasilitas kesehatan yang sesuai dapat, membahayakan jiwa ibu dan atau bayinya. Jika perlu dirujuk, siapkan dan sertakan dokumentasi tertulis semua asuhan dan perawatan dan hasil penilaian (termasuk partograf) yang telah dilakukan untuk dibawa ke fasilitas rujukan.

Jika ibu datang untuk asuhan persalinan dan kelahiran bayi dan ia tidak siap dengan rencana rujukan, lakukan konseling terhadap ibu dan keluarganya tentang keperluan rencana ru jukan. Bantu mereka membuat rencana rujukan pada saat awal persalinan (lihat Bab 1).

Memberikan asuhan sayang ibu

Persalinan adalah saat yang menegangkan dan menggugah emosi ibu dan keluarganya, malahan dapat pula menjadi saat yang menyakitkan dan rnenakutkan bagi ibu. Untuk meringankan kondisi tersebut, pastikan bahwa setiap ibu akan mendapatkan asuhan sayang ibu selama persalinan dan kelahiran.

Kaji prinsip-prinsip umum asuhan sayang ibu yang dijelaskan di Bab 1 secara khusus :

  • Sapa ibu dengan ramah dan sopan, bersikap dan bertindak dengan tenang dan berikan dukungan penuh selama persalinan dan kelahiran bayi
  • Jawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh ibu atau anggota keluarganya.
  • Anjurkan suami dan anggota keluarga ibu untuk hadir dan memberikan dukungannya.
  • Waspadai tanda penyulit selama persalinan dan lakukan tindakan yang sesuai jika diperlukan.
  • Siap dengan rencana rujukan.

Asuhan sayang ibu selama persalinan termasuk :

  • Memberikan dukungan emosional.
  • Membantu pengaturan posisi.
  • Memberikan cairan dan nutrisi.
  • Keleluasaan untuk ke kamar mandi secara teratur.
  • Pencegahan infeksi.

Dukungan emosional

Dukung dan anjurkan suami dan anggota keluarga yang lain untuk mendampingi ibu Selama persalinan dan kelahiran. Anjurkan mereka untuk berperan aktif dalam mendukung dan mengenali langkah-langkah yang mungkin akan sangat membantu kenyamanan ibu. Hargai keinginan ibu untuk didampingi oleh teman atau saudara yang khusus (Enkiri, et al, 2000).

Bekerjasama dengan anggota keluarga untuk :

  • Mengucapkan kata-kata yang membesarkan hati dan pujian kepada ibu.
  • Membantu ibu bernapas pada saat kontraksi.
  • Memijat punggung, kaki atau kepala ibu dan tindakan-tindakan bermanfaat lainnya.
  • Menyeka muka ibu dengan lembut, menggunakan kain yang dibasahi air hangat atau dingin.
  • Menciptakan suasana kekeluargaan dan rasa aman.

Mengatur posisi

Anjurkan ibu untuk mencoba posisi-posisi yang nyaman selama persalinan dan kelahiran. Anjurkan pula suami dan pendamping laihnya untuk membantu ibu berganti posisi. Ibu boleh berjalan. berdiri, duduk, jongkok, berbaring miring atau rnerangkak. Posisi tegak seperti berjalan, berdiri atau jongkok dapat membantu turunnya kepala bayi dan seringkali mempersingkat waktu persalinan. Bantu ibu untuk sering berganti posisi selama persalinan. Jangan membuat ibu dalam posisi telentang, beritahukan agar ia tidak mengambil posisi tersebut.

Alasan: Jika ibu berbaring telentang, berat uterus dan isinya ‘janin, cairan ketuban, plasenta, dli) akan inenekan vena cava inferior Hal iizi inenyebabkan turunnya aliran darah dan sirkulasi ibu ke plasenta. Kondisi seperti ini, akan menyebabkan hipoksia/ kekurangan oksigen pada janin. Posisi telentang juga akan memperlambat kemajuan persalinan (Enkiri, et aI, 2000).

Pemberian cairan dan nutrisi

Anjurkan ibu untuk mendapat asupan (makanan ringan dan rninum air) selama persalinan dan kelahiran bayi. Sebagian ibu masih ingin makan selama fase laten persalinan, tapi setelah memasuki fase aktif, mereka hanya menginginkan cairan saja. Anjurkan anggota keluarga menawarkan ibu minum sesering mungkin dan makanan ringan selarna persalinan.

Alasan: Makanan ringan dan cairan yang cukup selaina persalinan akan niemberikan le bih banyak energi dan rnencegah dehidrasi. Dehidrasi bisa meinperlambat kontraksi dan/atau membuat kontraksi menjadi tidak teratur dan kurang efektif

Kamar mandi

Anjurkan ibu untuk mengosongkan kandung kemihnya secara rutin selama persalinan. Ibu harus berkemih paling sedikit setiap 2 jam, atau lebih sering jika terasa ingin berkemih atau jika kandung kemih dirasakan penuh. Periksa kandung kemih pada saat akan memeriksa denyut jantung janin (lihat/palpasi tepat di atas simfisis pubis untuk mengetahui apakah kandung kemih penuh). Anjurkan dan antarkan ibu untuk berkeniih di kamar mandi. Jika ibu tidak dapat berjalan ke kamar mandi, berikan wadah penampung urin.

Alasan: Kandung kernih yang penuh akan :

  • Memperlambat turunnya bagian terbawah janin dan mungkin menyebabkan partus macet.
  • Menyebabkan ibu tidak nyanlan.
  • Meningkatkan risiko perdarahan pascapersalinan yang disebabkan atonia uteri.
  • Mengganggu penatalaksanaan distosia bahu.
  • Meningkatkan risiko infeksi saluran kemih pascapersalinan.

Selama persalinan berlangsung, tidak dianjurkan untuk melakukan kateterisasi kandung kemih secara rutin.

Kateterisasi kandung kemih hanya dilakukan jika kandung kemih penuh dan ibu tidak dapat berkemih sendiri.

 

Alasan: Kateterisasi menimbulkan rasa sakit, meningkatkan risiko infeksi dan perlukan saluran kemih ibu.

Anjurkan ibu untuk buang air besar jika perlu. Jika ibu merasa ingin buang air besar saat persalinan aktif, lakukan periksa dalam untuk memastikan bahwa apa yang dirasakan ibu bukan disebabkan oleh tekanan kepala bayi pada rektum. Jika ibu belum siap melahirkan, perbolehkan ibu untuk ke kamar mandi.

Jangan melakukan klisma secara rutin selama persalinan. Klisma tidak akan memperpendek waktu persalinan, menurunkan angka infeksi bayi baru lahir atau infeksi luka pas capersalinan, malahan akan meningkatkan jumlah tinja yang keluar selama kala dua persalinan (Enkiri, et al, 2000).

Pencegahan infeksi

Menjaga lingkungan yang bersih merupakan hal penting dalam mewujudkan kelahiran yang bersih dan aman bagi ibu dan bayinya (lihat Bab 1). Hal ini tergolong dalam unsur esensial asuhan sayang ibu. Kepatuhan dalam menjalankan praktek-praktek pencegahan infeksi yang baik juga akan melindungi penolong persalinan dan keluarga ibu dan infeksi. Ikuti praktek-praktek pencegahan infeksi yang sudah ditetapkan, ketika mempersiapkan persalinan dan kelahiran. Anjurkan ibu untuk mandi pada awal persalinan dan pastikan bahwa ibu memakai pakaian yang bersih. Mencuci tangan sesering mungkin. menggunakan peralatan stenil atau disinfeksi tingkat tinggi dan sarung tangan pada saat diperlukan (lihat Bab 1). Anjurkan anggota keluarga untuk mencuci tangan mereka sebelum dan setelah melakukan kontak dengan ibu dan/atau bayi baru lahir.

Alasan: Pencegalian infeksi sangat penting dalam menurunkan kesakitan dan kematian ibu dan bayi baru lahir. Upaya dan keterampilan dalam melaksanakan prosedur pencegahan infeksi yang baik, akan melindungi penolong persalinan terhadap risiko infeksi.

Anamnesis dan pemeriksaan fisik rutin bagi ibu yang sedang bersalin

Asuhan sayang ibu yang baik dan aman selama persalinan memerlukan: anamnesis dan pemeriksaan fisik secara seksama. Pertama, sapa ibu dan beritahukan apa yang akan anda lakukan. Jelaskan pada ibu tujuan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh ibu. Selama anamnesis dan pemeriksaan fisik, perhatikan tanda-tanda penyulit atau gawat darurat dan segera lakukan tindakan yang sesuai bila diperlukan (Lihat Tabel 2-1 hal. 14) untuk memastikan persalinan yang aman. Catat semua temuan anamnesis dan pemeriksaan fisik secara seksama dan Iengkap. Kemudian jelaskan hasil pemeriksaan dan kesimpulannya pada ibu dan keluarganya.

Anamnesis

Tujuan dan anamnesis adalah mengumpulkan informasi tentang riwayat kesehatan dan kehamilan. Informasi ini digunakan dalam proses membuat keputusan klinik untuk menentukan diagnosis dan mengembangkan rencana asuhan atau perawatan yang sesuai.

Tanyakan pada ibu :

  • Nama, umur dan alarnat
  • Gravida dan para
  • Hari pertama haid terakhir
  • Kapan bayi akan lahir (menurut taksiran ibu)
  • Alergi obat-obatan
  • Riwayat kehamilan yang sekarang:

–         Apakah ihu pernah inelakukan peineriksaan antenatal? Jika ya, periksa kartu asuhan antenatalnya (jika inungkiri).

–         Pernahkah ibu mendapat masalah selama kehamilannya (misalnya perdarahan, hipertensi, dll)?

–         Kapan mulai kontraksi?

–         Apakah kontraksi teratur? Seberapa sering terjadi kontraksi?

–         Apakah ibu masih merasakan gerakan bayi?

–         Apakah selaput ketuban sudah pecah? Jika ya, apa warna cairan ketuban? Apakah kental atau encer? Kapan selaput ketuban pecah? (Periksa perineum ibu dan lihat! air ketuban di pakaiannya.)

–         Apakah keluar cairan bercampur darah dan vagina ibu? Apakali berupa bercak atau darah segar pervaginain? (Periksa perineum ibu dan lihat darah di pakaian nya.)

–         Kapankah ibu terakhir kali makan atau minum?

–         Apakah ibu men galami kesulitan untuk berkeinih?

  • Riwayat kehamilan sebelumnya :

–         Apakah ada masalah selama persalinan atau kelahiran sebeluinnya (bedah sesar persalinan dengan ekstraksi vakuin atau forseps, induksi oksitosin, hipertensi yang diinduksi oleh kehamilan, preekiampsia/eklampsia, perdarahan pascapersalinan)?

–         Berapa berat badan bayi paling besar pernah ibu lahirkan?

–         Apakah ibu mempunyai masalah dengan bayi-bayi sebelumnya?

  • Riwayat medis lainnya (masalah pernapasan, hipertensi, gangguan jantung, berkemih dll).
  • Masalah medis saat ini (sakit kepala, gangguan penglihatan, pusing atau nyeri epigastrium). Jika ada, periksa tekanan darahnya dan jika mungkin periksa protein dalam urin ibu.
  • Pertanyaan tentang hal-hal lain yang belum jelas atau berbagai bentuk kekhawatiran lainnya.

Dokumentasikan semua temuan. Setelah anamnesis Iengkap, lakukan pemeriksaan fisik.

Pemeriksaan fisik

Tujuan pemeriksaan fisik adalah untuk menilai kesehatan dan kenyamanan fisik ibu dan bayinya. Informasi yang dikumpulkan dan pemeriksaan fisik akan digunakan bersama dengan informasi dan hasil anamnesis untuk proses membuat keputusan klinik untuk menentukan diagnosis serta mengembangkan rencana asuhan atau perawatan yang paling sesuai.

Jelaskan pada ibu dan keluarganya tentang apa yang akan dilakukan selama pemeriksaan dan jelaskan pula aiasannya. Anjurkan mereka untuk bertanya dan menjawab pertanyaan yang diajukan sehingga mereka memahami kepentingan pemeriksaan.

Langkah-langkah dalam melakukan pemeriksaan fisik :

  • Cuci tangan sebelum memulai pemeriksaan fisik.
  • Bersikaplah lemah lembut dan sopan, tenteramkan hati ibu dan bantu ibu agar merasa nyaman. Jika ibu tegang atau gelisah, anjurkan untuk menarik napas perlahan dan dalam.
  • Minta ibu untuk mengosongkan kandung kemihnya. (Jika perlu, periksa jumlah urin, protein dan aseton dalam urin).
  • Nilai kesehatan dan keadaan umum ibu, suasana hatinya, tingkat kegelisahan atau nyeri, warna konjungtiva, kebersihan, status nutrisi dan kecukupan air tubuh.
  • Nilai tanda-tanda vital ibu (tekanan darah, temperatur, nadi dan pernapasan). Agar su paya bisa menilai tekanan darah dan nadi ibu dengan akurat, lakukan pemeriksaan di antara dua kontraksi.
  • Lakukan pemeriksaan abdomen (lihat hal. 2-9).
  • Lakukan pemeriksaan dalam (lihat hal. 2-12).

Pemeriksaan abdomen

Pemeriksaan abdomen digunakan untuk :

  1. Menentukan tinggi fundus
  2. Memantau kontraksi uterus
  3. Memantau denyut jantung janin
  4. Menentukan presentasi
  5. Menentukan penurunan bagian terbawah janin

Sebelum memulai pemeriksaan, pastikan bahwa ibu sudah mengosongkan kandung kemihnya. Minta ibu berbaring, tempatkan bantal di bawah kepala dan bahunya kemudian minta ibu untuk menekukkan lututnya. Jika ibu gugup, bantu untuk santai dan tenang dengan cara meminta ibu menarik napas dalam.

 

  1. 1. Menentukan tinggi fundus

Pastikan tidak terjadi kontraksi selama penilaian. Ukur tinggi fundus dengan menggunakan pita pengukur. Mulai dan tepi atas simfisis pubis, rentangkan hingga ke puncak fundus uteri mengikuti aksis atau linea medialis pada abdomen (lihat Gambar 2 Pita pengukur harus menempel pada kulit abdomen. Jarak antara tepi atas simfisis pubis dan pun cak fundus uteri adalah tinggi fundus.

  1. 2. Memantau kontraksi uterus

Gunakan jarum detik yang ada pada jam dinding atau jam tangan untuk mcmantau kon traksi uterus. Letakkan tangan (dengan hati-hati) di atas uterus dan rasakan jum]ah kon traksi yang terjadi dalam kurun waktu 10 menit. Tentukan durasi atau lama setiap kontraksi berlangsung. Pada fase aktif, minimal terjadi dua kontraksi dalam waktu 10 menit, lama kontraksi 40 detik atau lehih. Di antara dua kontraksi. dinding uterus melunak kembali dan mengalami relaksasi.

  1. 3. Memantau denyut jantung janin

Gunakan jarum detik yang ada pada jam dinding atau jam tangan dan scbuah fetoskop Pinnards atau Doppler untuk memantau denyut jantung janin (DJJ); Dengan fetoskop dengarkan denyut jantung janin yang dihantarkan melalui dinding abdomen. Tentukan titik tertentu pada dinding abdomen di mana DJJ terdengar paling kuat.

Tips :Jika DJJ sulit ditemukan palpasi abdomen dan tentukan dataran punggung bayi. Biasanya denyut jantung bayi lebih mudah digeser melalui dinding abdomen yang sesuai dengan dataran punggung bayi.

Nilai DJJ selama dan segera setelah kontraksi uterus. Mulailah penilaian sebelum atau selama puncak kontraksi. Dengarkan DJJ selama minimal 60 detik, dengarkan sampai sedikitnya 30 detik setelah kontraksi berakhir. Lakukan penilaian DJJ tersebut pada lebih dan satu kontraksi. Jika DJJ kurang dan 120 atau lebih dan 160, pertimbangkan adanya gangguan sirkulasi utero-plasenter padajanin. Jika DJJ kurang dan 100 atau lebih dan 180 per menit, baringkan ibu ke sisi kiri dan anjurkan ibu untuk santai. Lakukan penilaian ulang denyut jantung 5 menit kemudian untuk menentukan apakah DJJ tetap abnormal., Jika DJJ tidak mengalami perbaikan, siapkan untuk segera dirujuk (lihat Tabel 2-1).

  1. 4. Menentukan presentasi

Untuk menentukan presentasi bayi (apakah presentasi kepala atau bokong/sungsang) :

  • Berdiri di samping ibu, menghadap ke arah kepalanya (pastikan lutut ihu ditekuk).
  • Dengan ibu jari dan jari tengah dan satu taugan (hati-hati tapi mantap) pegang bagian bawah abdomen ibu, tepat di atas simfisis pubis. Bagian terbawah janin atau presentasi dapat diraba di antara ibu jari dan jari tengah.
  • Jika bagian terbawah janin belum masuk ke dalam rongga panggul, bagian tersebut masih bisa digerakkan. Jika bagian terbawah janin sudah masuk ke dalam panggul maka bagian tersebut tidak dapat digerakkan lagi.
  • Untuk menentukan apakah presentasi adalah kepala atau bokong, pertimbangkan bentuk, ukuran dan kepadatan bagian tersebut. Jika bulat, keras dan mudah digerakkan
    mungkin presentasi kepala, atau jika tidak beraturan, lebih besar, tidak keras dan sulit digerakkan mungkin bokong. Sungsang berarti terbalik dan ini diidentikkan dengan bokong sebagai kebalikan dan kepala. Jika presentasinya bukan kepala, lihat Tabel 2-1.
  • ·
  1. 5. Menentukan penurunan janin

Akan lebih nyaman bagi ibu jika penurunan janin ditentukan melalui pemeriksaan abdomen dibandingkan dengan pemeriksaan dalam. Menilai penurunan melalui palpasi abdomen juga memberikan informasi mengenai kemajuan persalinan dan membantu mencegah pemeriksaan dalam yang tidak perlu.

Nilai penurunan kepala janin dengan hitungan per lima bagian kepala janin yang bisa di palpasi di atas simfisis pubis (ditentukan oleh jumlah jan yang bisa ditempatkan di bagian kepala di atas simfisis pubis, lihat Gambar 2-2).

Kepala janin adalah:

  • 5/5 (lima per lima) jika keseluruhan kepala janin dapat diraba di atas simfisis pubis.
  • 4/5 jika sebagian besar kepala janin berada di atas simfisis pubis.
  • 3/5 jika hanya tiga dan lima jam bagian kepala janin teraba di atas simfisis pubis.
  • 2/5 jika hanya dua dan lima jan bagian kepala janin berada di atas simfisis pubis. Berarti hampir seluruh kepala telah turun ke dalam saluran panggul (bulatnya kepala tidak dapat diraba dan kepala janin tidak dapat digerakkan).
  • 1/5 jika hanya sebagian kecil kepala dapat diraba di atas simfisis pubis.
  • 0/5 jika kepalajanin tidak teraba dan luar atau seluruhnya sudah melalui simfisis pubis.

Rujuk primigravida yang berada dalam fase aktif persalinan dengan kepala janin masih 5/5 (Tabel 2-1).

Alasan: Kepala harus sudah mulai masuk ke dalam rongga panggui pada fase aktif kala satu persalinan. Bila kepala tidak dapat turun, mungkin diameternya lebih besar dibandingkan dengan rongga panggul ibu. Bila ada dugaan disproporsi kepala panggul (cefalo pelvic disproportion atau CPD), untuk mendapatkan keluaran yang optimal, sebaiknya ibu segera dirujuk kefasilitas kesehatan yang dapat melaksanakan tindakan seksio sesar. Bila kepalajanin tidak dapat turun, risiko untuk terjadi tali pusat menumbung akan lebih tinggi pada saat selaput ketuban pecah.

Pemeriksaan dalam

Sebelum melakukan pemeriksaan dalam, tangan dicuci dengan sabun dan air bersih yang mengalir, kemudian keringkan dengan handuk kering dan bersih’. Minta ibu untuk berkemih dan membasuh regio genitalia dengan sabun dan air bersih (jika ibu belum melakukannya). Jelaskan pada ibu setiap langkah yang akan dilakukan selama pemeriksaan. Tenteramkan dan anjurkan ibu untuk nicks. Pastikan privasi ibu terjaga selama pemeriksaan dilakukan.

Langkah-langkah dalam melakukan pemeriksaan dalam termasuk :

  1. Tutupi badan ihu sebanyak mungkin dengan sarung atau selimut.
  2. Minta ibu berbaring telentang dengan lutut ditekuk dan paha dibentangkan (mungkin akan membantu jika ibu menempelkan kedua telapak kakiriya satu sama lain).
  3. Menggunakan sarung tangan DTT atau steril pada saat melakukan pemeriksaan.
  4. Menggunakan kasa atau gulungan kapas DTT yang dicelupkan ke air DTT atau larutan antiseptik. Membasuh labia secara hati-hati, seka dan depan kebelakang untuk menghindarkan kontarninasi feses (tinja).
  5. Memeriksa genitalia eksterna, apakah terdapat luka atau massa (termasuk kon dilornata), varikositas vulva atau rektum, atau luka parut di perineum.
  6. Nilai cairan vagina dan tentukan apakah terdapat bercak darah, perdarahan pervaginam atau mekonium:
  7. Jika ada perdarahan per vaginam, jangan lakukan pemeriksaan dalam. Lihat Tabel 2-1.
  8. Jika ketuban sudah pecah, lihat warna dan bau air ketuban. Jika mekonium ditemukan, lihat apakah kental atau encer dan periksa DJJ (lihat Tabel 2-1):
    1. Jika mekonium encer dan DJJ normal, teruskan memantau DJJ secara seksama menurut petunjuk pada partograf. Jika ada tanda-tanda akan terjadinya gawat janin, lihat Tabel 2-1 dan rujuk segera.
    2. Jika mekonium kental, nilai DJJ dan rujuk segera (lihat Tabel 2-1).
    3. Jika ban busuk, lihat Tabel 2-1. Ibu mungkin mengalami infeksi.
  9. Dengan hati-hati pisahkan labia dengan jari manis dan ibu jari tangan (gunakan sarung tangan pemeriksa). Masukkan jari telunjuk dengan hati-hati, diikuti oleh jari tengah. Pada saat kedua jari berada di dalam vagina, jangan mengeluarkannya sebelum pemeriksaan selesai. Jika ketuban belum pecah, jangan lakukan amniotomi (memecah kannya).

Alasan: Amniotomi ineningkatkan risiko infeksi pada ibu dan bayi, serta gawat janin.

  1. Nilai vagina. Luka parut lama di vagina bisa memberikan indikasi luka atau episiotomi sebelumnya, hal ini mungkin menjadi informasi penting pada saat kelahiran bayi.
  2. Nilai pembukaan dan penipisan serviks.

10.  Pastikan tali pusat umbilikus dan/atau bagian-bagian kecil (tangan atau kaki bayi) tidak teraba pada saat melakukan pemeriksaan per vaginam. Jika teraba, ikuti langkah-Iangkah kedaruratan di Tabel 2-1 dan segera rujuk ibu ke fasilitas kesehatan yang sesuai.

11.  Nilai penurunan janin dan tentukan apakah kepala sudah masuk ke dalam panggul. Bandingkan penurunan kepala dengan temuan-temuan dan pemeriksaan abdomen Untuk menentukan kemajuan persalinan.

12.  Jika kepala dapat dipalpasi, raba fontanela dan sutura sagitalis untuk menilai penyusupan tulang kepala dan/atau tumpang tindihnya, dan apakah kepala janin Sesuai dengan diameter jalan lahir.

13.  Jika pemeriksaan sudah lengkap, keluarkan kedua jan pemeriksa dengan hati-hati, celupkan sarung tangan ke dalam larutan dekontaminasi, lepaskan sarung tangan secara terbalik dan rendam dalam larutan dekontaminasi selama 10 menit.

14.  Cuci kedua tangan dan segera keringkan dengan handuk bersih dan kering.

15.  Bantu ibu untuk mengambil posisi yang lebih nyaman.

16.  Jelaskan hasil-hasil pemeriksaan pada ibu dan ke!uarganya.

Setelah melengkapi anamnesis dan pemeriksaan fisik

Ketika anamnesis dan pemeriksaan telah lengkap :

  1. Catat semua hasil anamnesis dan temuan pemeriksaan fisik secara teliti dan lengkap.
  2. Gunakan informasi yang terkumpul untuk menentukan apakah ibu sudah dalam persalinan (inpartu). Jika pembukaan serviks kurang dan 4 cm, berarti ibu masih dalam fase laten persalinan. Lakuikan penilaian ulang setelah 4 jam sejak pemeriksaan pertama. Jika pembukaan serviks 4 cm atau lebih, ibu telah masuk dalam fase aktif persalinan; mulailah mencatat kemajuan persalinan pada partograf (lihat bawah).
  3. Tentukan ada tidaknya masalah atau penyulit yang harus ditatalaksana secara khusus.
  4. Setiap kali selesai melakukan penilaian, analisis data yang terkumpul, buat diagnosis berdasarkan informasi tersebut. Susun rencana penatalaksanaan asuhan bagi ibu. Penatalaksanaan itu selalu berdasarkan pada hash temuan penilaian.

Contoh: Jika setelah menyelesaikan penilaian awal diagnosisnya adalah kehamilan intrauterin, cukup bulan, dalam fase aktif kala satu persalinan dengan DJJ dan tanda tanda vital normal. Rencana selanjutnya adalah terus mernantau kondisi ibu serta janin menurut parameter-parameter pada partograf dan memberikan asuhan sayang ibu. Jika hasil diagnosis menunjukkan suatu ahnormalitas atau komplikasi, maka rencana selan jutnya mencakup persiapan untuk rujukan segera, memperbaiki kondisi umum ibu, merujuk sambil terus menerus memantau dan me!akukan pertolongan awal terhadap masalah tersebut dan tetap memberikan asuhan sayang ibu (kaji ulang bagian Membuat keputusan klinik di Bab 1).

  1. Jelaskan semua temuan, diagnosis dan rencana penatalaksanaan kepada ibu dan keluar ganya sehingga mereka memahami asuhan yang akan diberikan.

Mengenali masalah dan penyulit secara dini

Pada saat memberikan asuhan kepada ibu yang sedang bersalin, penolong harus selalu waspada terhadap masalah atau penyulit yang mungkin terjadi. Ingat bahwa menunda pemberian asuhan kegawatdaruratan akan meningkatkan risiko kematian dan kesakitan ibu dan bayi baru lahir. Selama anamnesis dan penieriksaan fisik, tetap waspada terhadap indikasi-indikasi seperti yang tertera pada Tabel 2-1 dan lakukan tindakan segera. Lakukan langkah dan tindakan yang scsuai untuk mernastikan proses persalinan yang aman bagi ibu dan keselamatan bagi bayi yang dilahirkan.

Tabel 2-1: Indikasi-indikasi untuk melakukan tindakan dan/atau rujukan segera selama kala satu persalinan

Temuan-temuan anamnesis dan/atau pemeriksaan Rencana untuk asuhan atau perawatan
Riwayat bedah sesar
  1. Segara rujuk ke fasilitas yang mempunyai kemampuan untuk melakukan bedah sesar.
  2. Dampingi ibu ke tempat rujukan, berikan dukungan dan semangat.
Perdarahan pervaginam selain dari lendir bercampur darah (show) Jangan melakukan pemeriksaan dalam

  1. Baringkan ibu ke sisi kiri
  2. Pasang infus menggunakan jarum berdiameter besar (ukuran 16 atau 18) dan berikan Ringer Laktat atau cairan garam fisiologis (NS)
  3. Segera rujuk ke fasilitas yang memiliki kemampuan untuk melakukan bedah besar.
  4. Dampingi ibu ke tempat rujukan.
Kurang dari 37 minggu (persalinan kurang bulan)
  1. Segara rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan penatalaksanaan kegawatdaruratan obsteri dan bayi baru lahir.
  2. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan dukungan serta semangat

 


Temuan-temuan anamnesis dan/atau pemeriksaan
Rencana untuk asuhan atau perawatan
Ketuban pecah disertai dengan keluarnya mekonium kental
  1. Baringkan ibu miring ke kiri,
  2. Dengarkan DJJ.
  3. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan pena-talaksanaan untuk melakukan bedah sesar.
  4. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan bawa partus set, kateter penghisap lendir DeLee dan handuk/kain untuk menge-ringkan dan menyelimuti bayi kalau ibu melahirkan di jalan.
Ketuban pecah bercampur dengan sedikit mekonium disertai tanda-tanda gawat janin
  1. Dengarkan DJJ, jika ada tanda-tanda gawat janin laksanakan asuhan yang sesuai (lihat di bawah).
Ketuban telah pecah (lebih dari 24 jam )atauKetuban pecah pada kehamilan kurang bulan (usia kehamilan kurang dari 37 minggu)
  1. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan me- lakukan asuhan kegawat daruratan obstetri.
  2. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan dukungan serta semangat.
Tanda-tanda atau gejala-gejala infeksi:• temperatur tubuh > 38° c• menggigil

• nyeri abdomen

• cairan ketuban yang berbau

  1. Baringkan ibu miring ke kiri.
  2. Pasang infus menggunakan jarum berdiameter besar (ukuran 16 atau 18) dan berikan Ringer Laktat atau cairan garam fisio logis (NS) dengan tetesan 125 ml/jam.
  3. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan pena- talaksanaan kegawat daruratan obstetri.
  4. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan dukungan serta Semangat.
Tekanan darah lebih dari 160/ 110 dan/atau terdapat protein dalam urin (preeklampsia berat)
  1. Baringkan ibu miring ke kiri.
  2. Pasang infus menggunakan jarum berdiameter besar (ukuran 16 atau 18) dan berikan Ringer Laktat atau cairan garam fisio logis (NS).
  3. Jika mungkin berikan dosis awal 4 g MgSO4 20% IV selama 20 menit.
  4. Suntikan 10 g MgSO4 50% (5 g IM pada bokong kiri dan kanan).
  5. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kapabilitas asuhan kegawatdaruratan obstetri dan bayi baru lahir.
  6. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan semangat serta dukungan.
Tinggi tundus 40 cm atau lebih (makrosomia, polihidramniosis, kehamilan ganda)
  1. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan untuk melakukan bedah sesar.
  2. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan semangat dan dukungan.

AlasanJika diagnosisnya adalah polihidramnion, mungkin ada masalah-masalah lain dengan janinnya. Dengan adanya makrosomia, risiko distosia bahu dan perdarahan pasca persalinan akan lebih besar

 

 

Temuan-temuan anamnesis dan/atau pemeriksaan Rencana untuk asuhan atau perawatan
DJJ kurang dari 100 atau lebih dari 180 kali/menit pada dua kali penilaian dengan jarak 5 menit (gawat janin)
  1. Baringkan bu miring ke kiri dan anjurkan untuk bernapas secara teratur.
  2. Pasang infus menggunakan jarum berdiameter besar (ukuran 16 atau 18) dan berikan Ringer Laktat atau cairan garam fisio logis (NS) dengan tetesan 125 ml/jam.
  3. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan penatalaksanaan kegawatdaruratan obstetri dan bayi baru lahir.
  4. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan dukungan dan semangat.
Primipira dalam persalinan fase aktif dengan palpasi kepala janin masih 5/5
  1. Baringkan ibu miring ke kiri.
  2. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan pembedahan bedah sesar.
  3. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan dukungan dan semangat.
Presentasi bukan belakang kepala(sungsang, letak lintang, dll)
  1. Baringkan ibu miring ke kiri.
  2. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan pena talaksanaan kegawatdaruratan obstetri dan bayi baru lahir.
  3. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan dukungan dan semangat.
Presentasi ganda (majemuk)(adanya bagian janin, seperti misalnya lengan atau tangan, bersamaan dengan presentasi belakang kepala)
  1. Baringkan ibu dengan posisi lutut menempel ke dada atau miring ke kiri.
  2. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan penatalaksanaan kegawatdaruratan obstetri danbayi baru lahir.
  3. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan   berikan semangat serta dukungan.
Tali pusat menumbung (jika tali pusat masih berdenyut)
  1. Gunakan sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi, letakkan satu tangan di vagina dan jauhkan kepala janin dari tali pusat janin. Gunakan tangan yang lain pada abdomen untuk membantu menggeser bayi dan menolong hagian terbawah bayi tidak menekan tali pusatnya (keluarga mungkin dapat membantu).
  2. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan penatalaksanaan kegawatdaruratan obstetni dan bayi baru lahir.
  3. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan semangat serta dukungan.

ATAU

  1. Minta ibu untuk mengambil posisi bersujud di mana posisi bokong tinggi melebihi kepala ibu, hingga tiba ke tempat rujukan.
  2. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan penn talaksanaan kegawatdaruratan obstetri dan bayi baru lahir.
  3. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan semangat serta dukungan.
Temuan-temuan anamnesis dan/atau pemeriksaan Rencana untuk asuhan atau perawatan
Tanda dan gejala syok:

  • Nadi cepat, lemah (lebih dari 110 kali/menit)
  • Tekanan darahnya rendah (sistolik kurang dan 90 mmHg)
  • Pucat
  • Berkeringat atau kulit lembab, dingin
  • Napas cepat (lebih dari 30 kali/ menit)
  • Cemas, bingung atau tidak sadar
  • Produksi urin sedikit (kurang dari 30 ml/jam)
  1. baringkan ibu miring ke kiri.
  2. Jika mungkin naikkan kedua kak ibu untuk meningkatkan aliran darah ke jantung.
  3. Pasang infus menggunakan jarum berdiameter besar (ukuran 16 atau 18) dan berikan Ringer Laktat atau cairan garam fisiologis (NS). Infuskan 1 liter dalam waktu 15-20 menit; jika mungkin infuskan 2 liter dalam waktu satu jam pertama, kemudian turunkan tetesan menjadi 125 ml/jam.
  4. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan pena- talaksanaan kegawatdaruratan obstetri dan bayi baru lahir.
  5. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan semangat serta dukungan.
Tanda dan gejala persalinan dengan fase laten yang memanjang:

  • pembukaan serviks kurang dari 4 cm setelah 8 jam
  • kontraksi teratur (lebih dari 2 dalam 10 menit)
  1. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kapabilitas kegawatdaruratan obstetri dan bayi baru lahir.
  2. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan dukungan serta semangat.
Tanda dan gejala belum inpartu:

  • kurang dari 2 kontraksi dalam 10 menit, berlangsung kurang dari 20 detik
  • tidak ada perubahan senviks dalam waktu 1 sampai 2 jam
  1. Anjurkan ibu untuk minum dan makan.
  2. Anjurkan ibu untuk bergerak bebas dan leluasa.
  3. Jika kontraksi berhenti dan/atau tidak ada perubahan serviks, evatuasi DJJ, jika tidak ada tanda-tanda kegawatan pada ibu dan janin, persilahkan ibu pulang dengan nasehat untuk:
  • Menjaga cukup makan dan minum.
  • Datang untuk meridapatkan asuhan jika terjadi peningkatan frekuensi dan lama kontraksi.
Tanda dan gejala partus lama:

  • pembukaan serviks meng-arah ke sebelah kanan garis waspada (partograf)
  • pembukaan serviks kurang dari 1 cm per jam
  • kurang dari 2 kontraksi dalam wak tu 10 menit, masing-masing berlangsung kurang dari 40 detik.
  1. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan pena- talaksanaan kegawatdaruratan obstetri dan bayi baru lahir.
  2. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan dukungan serta semangat.
Rujuk ibu :Apabila didapati salah satu atau lebih penyulit seperti berikut :

  1. Riwayat bedah sesar
  2. Perdarahan pervaginam
  3. Persalinan kurang bulan (usia kehamilan kurang dari 37 minggu)
  4. Ketuban pecah dengan mekonium yang kental
  5. Ketuban pecah lama (lebih dari 24 jam)
  6. Ketuban pecah pada persalinan kurang bulan (kurang dari 37 minggu usia kehamilan)
  7. Ikterus
  8. Anemia berat
  9. Tanda/gejala infeksi
  10. Preeklampsia/Hipertensi dalam kehamilan
  11. Tinggi fundus 40 cm atau lebih
  12. Gawat janin
  13. Primipara dalam fase aktif persalinan dengan palpasi kepala janin masih 5/5
  14. Presentasi bukan belakang kepala
  15. Presentasi majemuk
  16. Kehamilan gemeli
  17. Tali pusat menumbung
  18. Syok

Menggunakan Partograf

Partograf adalah alat bantu yang digunakan selama fase aktif persalinan. Tujuan utama dan penggunaan partograf adalah untuk :

  • Mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan menilai pembukaan serviks melalui pemeriksaan dalam.
  • Mendeteksi apakah proses persalinan berjalan secara normal. Dengan demikian, juga dapat melakukan deteksi secara dini setiap kemungkinan terjadinya partus lama.

Jika digunakan secara tepat dan konsisten, maka partograf akan membantu penolong persalinan untuk :

–         Mencatat kemajuan persalinan.

–         Mencatat kondisi ibu dan janinnya.

–         Mencatat asuhan yang diberikan selama persalinan dan kelahiran.

–         Menggunakan informasi yang tercatat untuk secara dini mengidentifikasi adanya nenvulit.

Partograf harus digunakan :

  • Untuk semua ibu dalam fase aktif kala satu persalinan sebagai elemen penting asuhan persalinan. Partograf harus digunakan, baik tanpa ataupun adan penyulit. Partograf akan membantu penolong persalinan dalam memantau, mengevaluasi dan membuat keputusan klinik baik persalinan normal maupun yang disertai dengan penyulit.
  • Selama persalinan dan kelahiran di semua tempat (rumah, puskesmas, klinik bidan swasta, rumah sakit, dll).
  • Secara rutin oleh sernua penolong persalinan yang memberikan asuhan kepada ibu selama persalinan dan kelahiran (Spesialis Obgin, bidan, dokter umum, residen dan mahasiswa kedokteran).

Penggunaan partograf secara rutin akan memastikan para ibu dan bayinya mendapatkan asuhan yang aman dan tepat waktu. Selain itu, juga mencegah terjadinya penyulit yang dapat mengancam keselamatan jiwa mereka.

Pencatatan selama fase laten persalinan

Seperti yang sudah dibahas di awal bab ini kala satu persalinan dibagi menjadi fase laten dan fase aktif yang clibatasi oleh pembukaan serviks :

  • fase laten : pembukaan serviks kurang dan 4 cm
  • fase aktif : pcrnbukaan serviks dan 4 sampai 10 cm

Selama fase laten persalinan, semua asuhan, pengamatan dan pemeriksaan harus di catat. Hal ini dapat direkani secara terpisah dalam catatan kemajuan persalinan atau pada Kartu Menuju Sehat (KMS) Ibu Hamil. Tanggal dan waktu harus dituliskan setiap kali membuat catatan selama fase laten persalinan. Semua asuhan dan intervensi harus dicatat.

Kondisi ibu dan bayi juga harus dinilai dan dicatat secara seksama, yaitu :

  • denyut jantung janin: setiap 1/2 jam
  • frekuensi dan lamanya kontraksi uterus: setiap 1/2 jam
  • nadi: setiap 1/2 jam
  • pembukaan serviks: setiap 4 jam
  • penurunan: setiap 4 jam
  • tekanan darah dan temperatur tubuh: setiap 4 jam
  • produksi urin, aseton dan protein: setiap 2 sampai 4 jam

Jika ditemui tanda-tanda penyulit, penilaian kondisi ibu dan bayi, harus lebih sering di lakukan. Lakukan tindakan yang sesuai apabila dalam diagnosis keja ditetapkan adanya penyulit dalam persalinan. Jika frekuensi kontraksi berkurang dalam satu atau dua jam pertama, nilai ulang kesehatan dan kondisi aktual ibu dan bayinya. Bila tidak ada tanda-tanda kegawatan atau penyulit. Ibu dipulangkan di rumah, penolong persalinan boleh meninggalkan ibu hanya setelah dipastikan bahwa ibu dan bayinya dalam kondisi baik. Pesankan pada ibu dan keluarganya untuk memberitahu penolong persalinan jika terjadi peningkatan frekuensi kontraksi (perlu diskusi).

Pencatatan selama fase aktif persalinan: Partograf

Halaman depan partograf (lihat Gambar 2-3) mencantumkan bahwa observasi dimulai pada fase aktif persalinan dan menyediakan lajur dan kolom untuk mencatat hasil-hasil pemeriksaan selama fase aktif persalinan, terrnasuk :

  1. A. Informasi tentang ibu:

–         nama, umur;

–         gravida, para, abortus (keguguran);

–         nomor catatan medis/nomor puskesmas;

–         tanggal dan waktu mulai dirawat (atau jika di rumah, tanggal dan waktu penolong persalinan mulai merawat ibu);

–         waktu pecahnya selaput ketuban.

  1. B. Kondisi janin:

–         DJJ;

–         warna dan adanya air ketuban;

–         penyusupan (molase) kepala janin.

  1. C. Kemajuan persalinan:

–         pembukaan serviks;

–         penurunan bagian terbawah janin atau presentasi janin;

–         garis waspada dan garis bertindak.

  1. D. Jam dan waktu:

–         waktu mulainya fase aktif persalinan;

–         waktu aktual saat pemeriksaan atau penilaian.

  1. E. Kontraksi uterus:

–    frekuensi dan lamanya.

  1. F. Obat-obatan dan cairan yang diberikan:

–         oksitosin;

–         obat-obatan lainnya dan cairan IV yang diberikan.

  1. G. Kondisi ibu:

–     nadi, tekanan darah dan temperatur tubuh; urin (volume, aseton atau protein).

  1. H. Asuhan, pengamatan dan keputusan klinik lainnya (dicatat dalarn kolom yang tersedia di sisi partograf atau di catatan kemajuan persalinan).

Mencatat temuan pada Partograf

 

  1. A. Informasi tentang ibu

Lengkapi bagian awal (atas) partograf secara teliti pada saat rnemulai asuhan persalinan. Waktu kedatangan (tertulis sebagai: “jam” pada partograf) dan perhatikan kemungkinan ibu datang dalam fase laten persalinan. Catat waktu terjadinya pecah ketuban.

  1. B. Kesehatan dan kenyamanan janin

Kolom, lajur dan skala angka pada partograf adalah untuk pencatatan denyut jantung janin (DJJ), air ketuban dan penyusupan (kepala janin)

  1. 1. Denyut jantung janin

Dengan menggunakan metode seperti yang diuraikan pada bagian Pemeriksaan fisik dalam bab ini, nilai dan catat denyut jantung janin (DJJ) setiap 30 menit (lebih sering jika ada tanda-tanda gawat janin). Setiap kotak pada bagian ini menunjukkan waktu 30 menit. Skala angka di sebelah kolom paling kiri menunjukkan DJJ. Catat DJJ dengan memberi tanda titik pada garis yang sesuai dewngan angka yang menunjukkan DJJ. Kemudian hubungkan titik yang satu dengan titik lainnya dengan garis tidak terputus (Gambar 2-6).

Kisaran normal DJJ terpapar pada partograf di antara garis tebal angka l dan 100. Tetapi, penolong harus sudah waspada bila DJJ di bawah 120 atau di atas 160. Lihat Tabel 2-1 untuk tindakan-tindakan segera yang harus dilakukan jika DJJ melampaui kisaran normal ini. Catat tindakan-tindakan yang dilakukan pada ruang yang tersedia di salah satu dari kedua sisi partograf.

  1. 2. Warna dan adanya air ketuban

Nilai air ketuban setiap kali dilakukan pemeriksaan dalam, dan nilai warna air ketuban jika selaput ketuban pecah. Catat temuan-temuan dalam kotak yang sesuai di bawah lajur DJJ (Gambar 2-6). Gunakan lambang-lambang berikut ini :

  • U : ketuban utuh (belum pecah)
  • J : ketuban sudah pecah dan air ketuban jernih
  • M : ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur mekonium
  • D : ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur darah
  • K : ketuban sudah pecah dan tidak ada air ketuban (“kering”)

Mekonium dalam cairan ketuban tidak selalu menunjukkan adanya gawat janin. Jika terdapat mekonium, pantau DJJ secara seksama untuk mengenali tanda-tanda gawat janin selama proses persalinan. Jika ada tanda-tanda gawat janin (denyut jantung janin < 100 atau >180 kali per menit), ibu segera dirujuk ke fasilitas kesehatan yang sesuai (lihat Tabel 2-1)

Tetapi jika terdapat mekonium kental, segera rujuk ibu ke tempat yang memiliki asuhan kegawatdaruratan obstetri dan bayi baru lahir (lihat tabel 2-1)

  1. 3. Molase (penyusupan kepala janin)

Penyusupan adalah indikator penting tentang seberapa jauh kepala bayi dapat menyesuaikan diri dengan bagian keras panggul ibu. Tulang kepala yang saling menyusup atau tumpang tindih, menunjukkan kemungkinan adanya disproporsi tulang panggul (CPD). Ketidakmampuan akomodasi akan benar-benar terjadi jika tulang kepala yang saling menyusup tidak dapat dipisahkan. Apabila ada dugaan disproprosi tulang panggul, penting sekali untuk tetap memantau kondisi janin dan kemajuan persalinan. Lakukan tindakan pertolongan awal yang scsuai dan rujuk ibu dengan tanda-tanda disproporsi tulang panggul ke fasilitas kesehatan yang memadai.

Setiap kali melakukan pemeriksaan dalam, nilai penyusupan kepala janin. Catat temuan dikotak yang sesuai (Gambar 2-6) di bawah lajur air ketuban. Gunakan lambang-lambang berikut ini :

0    :     tulang-tulang kepala janin terpisah, sutura dengan mudah dapat dipalpasi

1    :     tulang-tulang kepala janin hanya saling bersentuhan

2    :     tulang-tulang kepala janin saling tumpang tindih, tapi masih dapat dipisahkan

3    :     tulang-tulang kepala janin tumpang tindih dan tidak dapat dipisahkan

C. Kemajuan persalinan

Kolom dan lajur kedua pada partograf adalah untuk pencatatan kemajuan persalinan. Angka 0-10 yang tertera di tepi kolom paling kiri adalah besarnya dilatasi serviks (Gambar 2-6). Masing-masing angka mempunyai lajur dan kotak tersendiri. Setiap angka/kotak menunjukkan besarnya pembukaan serviks. Kotak yang satu dengan kotak yang lain pada lajur di atasnya, menunjukkan penambahan dilatasi sebesar 1 cm. Skala angka 1-5 juga menunjukkan seberapa jauh penurunan janin. Masing-masing kotak di bagian ini menyatakan waktu 30 menit.

  1. 1. Pembukaan serviks

Dengan rnenggunakan metode yang dijelaskan di bagian Pemeriksaan Fisik dalam bab ini, nilai dan catat pembukaan serviks setiap 4 jam (lebih sering dilakukan jika ada tanda tanda penyulit). Saat ibu berada dalam fase aktif persalinan, catat pada partograf hasil temuan dan setiap pemeriksaan. Tanda “X’ harus ditulis di garis waktu yang sesuai dengan lajur besarnya pembukaan serviks. Beri tanda untuk temuan-temuan dan pemeriksaan dalam yang dilakukan pertama kali selama fase aktif persalinan di garis waspada. Hubungkan tanda ‘X” dan setiap perneriksaan dengan garis utuh (tidak terputus).

Contoh : Perhatikan contoh partograf untuk Ibu Rohati (Gambar 2-6) :

  • Pada pukul 17.00, pembukaan serviks 5 cm dan ibu ada dalam fase aktif. Pembukaan serviks dicatat di garis waspada” dan waktu pemeriksaan dituliskan di bawahnya.
  1. 3. Penurunan bagian terbawah atau presentasi janin

Dengan menggunakan metode yang dijelaskan di bagian Penieriksaan fisik di bab ini. Setiap kali melakukan pemeriksaan dalam (setiap 4 jam), atau lebih sering jika ada tanda tanda penyulit, nilai dan catat turunnya bagian tcrbawah atau presentasi janin.

Pada persalinan normal, kemajuan pernbukaan serviks umumnya diikuti dengan turunnya bagian terbawah atau presentasi janin. Tapi kadangkala, turunnya bagian terbawah/presentasi janin baru terjadi setelah pembukaan serviks sebesar 7 cm.

Kata-kata “Turunnya kepala” dan garis tidak terputus dan 0-5, tertera di sisi yang sama dengan angka pembukaan serviks. Berikan tanda “pada garis waktu yang sesuai. Sebagai contoh, jika kepala bisa dipalpasi 4/5, tuliskan tanda “S’ di nomor 4. Hubungkan tanda “0” dan setiap pemeriksaan dengan garis tidak terputus.

Contoh: Partograf untuk Ibu Rohati (Gambar 2-6) :

  • Pada pukul 17.00 penurunan kepala 3/5
  • Pada pukul 21.00 penurunan kepala 1/5
  1. 3. Garis waspada dan garis bertindak

Garis waspada dimulai pada pembukaan serviks 4 cm dan berakhir pada titik di mana pembukaan lengkap diharapkan terjadi jika laju pembukaan 1 cm per jam. Pencatatan Selama fase aktif persalinan harus dimulai di garis waspada. Jika pembukaan serviks mengarah ke sebelah kanan garis waspada (pembukaan kurang dan 1 cm per jam), maka harus dipertimbangkan adanya penyulit (misalnya fase aktif yang memanjang, macet, dll). Pertirnbangkan pula adanya tindakan intervensi yang diperlukan, misalnya persiapan rujukan ke fasilitas kesehatan rujukan (rumah sakit atau puskesmas) yang mampu menangani penyulit dan kegawatdaruratan obstetri. Garis bertindak tertera sejajar dengan garis waspada, dipisahkan oleh 8 kotak atau 4 jalur ke sisi kanan. Jika pembukaan serviks berada di sebelah kanan garis bertindak, maka tindakan untuk menyelesaikan persalinan harus dilakukan. Ibu harus tiba di tempat rujukan sebelum garis bertindak terlampaui.

D. Jam dan waktu

  1. 1. Waktu mulainya fase aktif persalinan

Di bagian bawah partograf (pembukaan serviks dan penurunan) tertera kotak-kotak yang diberi angka 1-16. Setiap kotak menyatakan waktu satu jam sejak dimulainya fase aktif persalinan.

  1. 2. Waktu aktual saat pemeriksaan dilakukan

Di bawah lajur kotak untuk waktu mulainya fase aktif, tertera kotak-kotak untuk mencatat waktu aktual saat pemeriksaan dilakukan. Setiap kotak menyatakan satu jam penuh dan

berkaitan dengan dua kotak waktu tiga puluh menit pada lajur kotak diatasnya atau lajur kontraksi di bawahnya. Saat ibu masuk dalam fase aktif persalinan, catatkan pembukaan serviks di garis waspada. Kernudian catatkan waktu aktual pemeriksaan ini di kotak waktu yang sesuai. Sebagai contoh, jika pemeriksaan dalam menunjukkan ibu mengalami pembukaan 6 cm pada pukul 15.00, tuliskan tanda di garis waspada yang sesuai dengan angka 6 yang tertera di sisi luar kolom paling kiri dan catat waktu yang sesuai pada kotak waktu di bawahnya (kotak ketiga dan kiri).

E. Kontraksi uterus

Di bawah lajur waktu partograf terdapat lima lajur kotak dengan tulisan kontraksi per 10 menit” di sebelah luar kolom paling kiri. Setiap kotak menyatakan satu kontraksi. Setiap 30 menit, raba dan catat jumlah kontraksi dalam 10 menit dan lamanya kontraksi dalam satuan detik.

Nyatakan jumlah kontraksi yang terjadi dalam waktu 10 menit dengan mengisi angka pada kotak yang sesuai (Gambar 2-4). Sebagai contoh jika ibu mengalami 3 kontraksi dalam waktu satu kali 10 menit, isi 3 kotak.

Nyatakan Iamanya kontraksi dengan:

 

F. Obat-obatan dan cairan yang diberikan

Di bawah lajur kotak observasi kontraksi uterus tertera lajur kotak untuk mencatat oksitosin, obat-obat lainnya dan cairan IV.

  1. 1. Oksitosin

Jika tetesan (drip) oksitosin sudah dimulai, dokurnentasikan setiap 30 menit jumlah unit oksitosin yang diberikan per volume cairan IV dan dalam satuan tetesan per menit.

  1. 2. Obat-obatan lain dan cairan IV

Catat semua pemberian obat-obatan tambahan dan/atau cairan IV dalam kotak yang sesuai dengan kolom waktunya.

G. Kesehatan dan kenyamanan ibu

Bagian terakhir pada lembar depan partograf berkaitan dengan kesehatan dan kenyamanan ibu.

  1. 1. Nadi, tekanan darah dan temperatur tubuh

Angka di sebelah kiri bagian partograf ini berkaitan dengan nadi dan tekanan darah ibu.

  • Nilai dan catat nadi ibu setiap 30 menit selama fase aktifpersalinan. (lebih seringjika dicurigai adanya penyulit). Ben tanda titik pada kolom waktu yang sesuai (•).
  • Nilai dan catat tekanan darah ibu setiap 4 jam selama fase aktif persalinan (lebih sering jika dianggap akan adanya penyulit). Beri tanda panah pada partograf pada kolom waktu yang sesuai:
  • Nilai dan catat temperatur tubuh ibu (lebih lebih jika meningkat, atau dianggap adanya infeksi) setiap 2 jam dan catat temperatur tubuh dalam kotak yang sesuai.
  1. 2. Volume urin, protein atau aseton

Ukur dan catat jumlah produksi urin ibu sedikitnya setiap 2 jam (setiap kali ibu berkemih). Jika memungkinkan setiap kali ibu berkemih, lakukan pemeriksaan adanya ase ton atau protein dalam urin.

H. Asuhan, pengamatan dan keputusan klinik lainnya

 

Catat semua asuhan lain, hasil pengamatan dan keputusan klinik di sisi luar kolom partograf. atau buat catatan terpisah tentang kemajuan persalinan. Cantumkan juga tanggal dan waktu saat membuat catatan persalinan.

Asuhan, pengamatan dan/atau keputusan klinik mencakup :

  • Jumlah cairan per oral yang diberikan
  • Keluhan sakit kepala atau pengelihatan (pandangan) kabur
  • Konsu dengan penolong persalinan lainnya (Obgin, bidan, dokter umum)
  • Persiapan sebelum melakukan rujukan
  • Upaya rujukan
INGAT :

  1. Fase laten persalinan didefinisikan sebagai pembukaan serviks kurang dan 4 cm. Biasanya fase laten berlangsung tidak lebih dan 8 jam.
  2. Dokumentasikan asuhan, pengamatan dan pernenksaan selama fase laten persalinan pada catatan kemajuan persalinan yang dibuat secara terpisah atau pada kartu KMS.
  3. Fase aktif persalinan didefinisikan sebagai pembukaanserVikS dart 4 sampai 10 cm. Biasanya, selania fase aktif, terjadi pembukaan serviks sedikitnya 1 cm/jam..
  4. Saat persalinan maju dan fase laten ke fase aktif, dimulailah pencatatan pada garis waspada di patrograf.
  5. Jika ibu datang pada saat fase akiif persalinan pencatatan kemajuan pembukaan serviks dilakukan pada ganis waspada.
  6. Pada persalinan tanpa penyulit, catatan pembukaan seviks umumnya tidak akan melewati garis waspada.

Pencatatan pada lembar belakang Partograf

Halaman belakang partograf (Gambar 2-5) merupakan bagian untuk mencatat hal-hal yang terjadi selama proses persalinan dan kelahiran, serta tindakan-tindakan yang dilakukan sejak persalinan kala I hingga kala IV (termasuk bayi baru lahir). Itulah sebabnya bagian ini disebut sebagai Catatan Persalinan. Nilai dan catatkan asuhan yang diberikan pada ibu dalam masa nifas terutama selama persalinan kala empat untuk memungkinkan penolong persalinan mencegah terjadinya penyulit dan membuat keputusan klinik yang sesuai. Dokumentasi ini sangat penting untuk membuat keputusan klinik, terutama pada pemantauan kala IV (mencegah terjadinya perdarahan pascapersalinan). Selain itu, catatan persalinan (yang sudah diisi dengan lengkap dan tepat) dapat pula digunakan untuk menilai/memantau sejauh mana telah dilakukan pelaksanaan asuhan persalinan yang dan bersih aman.

CATATAN PERSALINAN
  1. Tanggal : ………………………………………………………………………………………….
  2. Nama bidan :……………………………………………………………………………………..
  3. Tempat Persalinan :

Rumah Ibu                                                 Puskesmas

Polindes                                                    Rumah Sakit

Klinik Swasta                                           Lainnya :…………………

  1. Alamat tempat persalinan :………………………………………………………………….
  2. Catatan:        rujuk, Kala : I / II / III / IV
  3. Alasan merujuk :………………………………………………………………………………..
  4. Tempat rujukan :………………………………………………………………………………..
  5. Pendamping pada saat merujuk:

Bidan                                                         Teman

Suami                                                        Dukun

Keluarga                                                    Tidak ada

KALA I

  1. Partograf melewati garis waspada: Y/T
  2. Masalah lain, sebutkan:……………………………………………………………………..

………………………………………………………………………………………………………..

  1. Penatalaksanaan masalah tsb:……………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………..

  1. Hasilnya……………………………………………………………………………………………

KALA II

  1. Episiotomi :

Ya, indikasi………………………………………………………………………………….             Tidak

  1. Pendamping pada saat persalinan:

Suami                                                        Dukun

Keluarga                                                    Tidak ada

Teman

  1. Gawat janin:

Ya, tindakan yang dilakukan:

a   ………………………………………………………………………………………………

b   ………………………………………………………………………………………………

c   ………………………………………………………………………………………………

Tidak

  1. Distosia bahu

Ya, tindakan yang dilakukan

a   ………………………………………………………………………………………………

b   ………………………………………………………………………………………………

c   ………………………………………………………………………………………………

Tidak

  1. Masalah lain, Sebutkan :…………………………………………………………………….
  2. Penatalaksanaan masalah tersebut:…………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………..

  1. Hasilnya……………………………………………………………………………………………

KALA III

  1. Lama kala III:…………………………………………………………………………. Menit
  2. Pemberian Oksitosin 10 U IM?

Ya, waktu : ……………………………menit sesudah persalinan

Tidak, alasan……………………………………………………………………………….

  1. Pemberian ulang Oksitosin (2x)?

Ya, alasan :………………………………………………………………………………….

Tidak

  1. Penegangan tali pusat terkendali?

Ya,

Tidak, alasan:………………………………………………………………………………

  1. Rangsangan taktil (pemijatan) fundus uteri?

Ya,

Tidak, alasan:………………………………………………………………………………

  1. Plasenta lahir lengkap (intact) : Ya/Tidak

Jika tidak lengkap, tindakan yang dilakukan:

a.    …………………………………………………………………………………………….

b.    …………………………………………………………………………………………….

  1. Plasenta tidak lahir > 30 menit: Ya/Tidak

Ya, tindakan:

a.   ……………………………………………………………………………………………..

b.   ……………………………………………………………………………………………..

c.   ……………………………………………………………………………………………..

  1. Laserasi:

Ya, dimana…………………………………………………………………………………..

Tidak

  1. Jika laserasi perineum, derajat : 1 / 2 / 3 / 4

Tindakan :

Penjahitan, dengan/tanpa anestasi

Tidak dijahit, alasan:…………………………………………………………………….

  1. Atonia uteri:

Ya, tindakan

a.   ……………………………………………………………………………………………..

b.   ……………………………………………………………………………………………..

c.   ……………………………………………………………………………………………..

Tidak

  1. Jumlah perdarahan:……………………………………………………………………… ml
  2. Masalah lain, sebutkan………………………………………………………………………
  3. Penatalaksanaan masalah tersebut:…………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………..

  1. Hasilnya:…………………………………………………………………………………………..

BAYI BARU LAHIR

  1. Berat Badan ………………………………………………………………………….. garam
  2. Panjang…………………………………………………………………………………. cm
  3. Jenis kelamin :  L/P
  4. Penilaian bayi baru lahir : baik / ada penyulit
  5. Bayi lahir:

Normal, tindakan:

mengeringkan

menghangatkan

rangsangan taktil

bungkus bayi dan tempatkan di sisi ibu

tindakan pencegahan infeksi mata

Asfiksia ringan/pucat/biru/lemas, tindakan:

mengeringkan                                     menghangatkan

rangsangan taktil                                lain-lain, sebutkan:

bebaskan jalan napas                        ………………………………..

bungkus bayi dan tempatkan di sisi ibu

Cacat bawaan, sebutkan:………………………………………………………………

Hipotermia, tindakan:

a.  …………………………………………………………………………………………

b.  …………………………………………………………………………………………

c.  …………………………………………………………………………………………

  1. Pemberian ASI

Ya, waktu:……………jam setelah bayi lahir

Tidak, alasan:………………………………………………………………………………

  1. Masalah lain, sebutkan:……………………………………………………………………..

Hasilanya:…………………………………………………………………………………………

PEMANTAUAN PERSALINAN KALA IV

Jam Ke Waktu Tekanan darah Nadi Temperatur Tinggi fundus uteri Kontraksi uterus Kandung kemih Perdarahan
1
2

Masalah Kala IV :…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Penatalaksanaan yang dilakukan untuk masalah tersebut:……………………………………………………………………………………………………………………………………………….

Bagaimana hasilnya?……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Gambar 2-5 : Halaman belakang partograf

Catatan persalinan adalah terdiri dari unsur-unsur berikut :

  1. A. Data dasar
  2. B. Kala I
  3. C. Kala II
  4. D. Kala III
  5. E. Bayi baru lahir
  6. F. Kala IV

Cara pengisian:

Berbeda dengan halaman depan yang harus diisi pada akhir setiap pemeriksaan, lembar belakang partograf ini diisi setelah seluruh proses persalinan selesai. Adapun cara pengisian catatan persalinan pada lembar belakang partograf secara lebih terinci disampaikan menurut unsur-unsurnya sebagai berikut.

  1. A. Data dasar

Data dasar terdiri dan tanggal, nama bidan, tempat persalinan, alamat tempat persalinan, catatan. alasan merujuk, tempat rujukan dan pendamping pada saat merujuk. Isi data pada masing-masing tempat yang telah disediakan, atau.dengan cara memberi tanda pada kotak di samping jawaban yang sesuai. Untuk pertanyaan nomor 5, lingkari jawaban yang sesuai dan untuk pertanyaan nomor 8 jawaban bisa lebih dari satu.

Data dasar yang perlu dipenuhi adalah sebagai berikut :

  1. Tanggal …………………………………………………………………
  2. Nama bidan …………………………………………………………..
  3. Tempat persalinan :

Rumah Ibu                            Puskesmas

Polindes                                Rumah Sakit

Klinik Swasta                        Lainnya : ………………

  1. Alamat tempat persalinan
  2. Catatan: ru kala: / II / III               / IV
  3. Alasan merujuk: …………………………………………………….
  4. Tempat rujukan …………………………………………………….
  5. Pendamping pada saat merujuk:

bidan                                      teman

suami                                     dukun

keluarga                                tidak ada

B. Kala I

 

Kala I terdiri dari pertanyaan-pertanyaan tentang partograf saat melewati garis waspada, masalah-masalah yang dihadapi, penatalaksanaannya, dan hasil penatalaksanaan tersebut. Untuk pertanyaan nomor 9, lingkari jawaban yang sesuai. Pertanyaan lainnya hanya diisi jika terdapat masalah lainnya dalam persalinan.

Pertanyaan pada kala I adalah sebagai berikut :

  1. Patrograf melewati garis waspada: Y / T…………..
  2. Masalah lain, sebutkan ………………………………….                                                    ………………………………………………………………..
  3. Penatalaksana masalah tsb: ……………………………                                                    ………………………………………………………………..
  4. Hasilnya: ……………………………………………………

C. Kala II

Kala II terdiri dan episiotomi, pendamping persalinan, gawat janin, distosia bahu, masalah penyerta, penatalaksanaan dan hasilnya. Beri tanda “ pada kotak di samping jawaban yang sesuai. Untuk pertanyaan nomor 13, jika jawabannya “Ya”, tulis indikasinya sedangkan untuk nomor 15 dan 16 jika jawabannya “Ya”, isi jenis tindakan yang telah dilakukan. Untuk pertanyaan nomor 14, jawaban bisa lebih dan 1. Sedangkan untuk ‘masalah lain’ hanya diisi apabila terdapat masalah lain pada Kala II.

Pertanyaan-pertanyaan pada Kala II adalah sebagai berikut:

  1. Episiotomi:

Ya, indikasi ………………………………………………………………………

Tidak

  1. Pendamping pada saat persalinan:

suami                         dukun

keluarga                    tidak ada

teman

  1. Gawat janin:

Ya, tindakan yang dilakukan:

a. ………………………………………………………………………………………

b. ………………………………………………………………………………………

c. ………………………………………………………………………………………

Tidak

  1. Distosia bahu

Ya, tindakan yang dilakukan:

a. ………………………………………………………………………………………

b. ………………………………………………………………………………………

c. ………………………………………………………………………………………

Tidak

  1. Masalah lain, sebutkan: …………………………………………………..
  2. Penatalaksanaan masalah tersebut: ………………………………                                                                 ………………………………………………………………………………………….
  3. Hasilnya: ………………………………………………………………………….

D. Kala III

Kala III terdiri dan lama kala III, pemberian oksitosin, penegangan tali pusat terkendali, pemijatan fundus, plasenta lahir Iengkap, plasenta tidak lahir> 30 menit, laserasi, atonia uteri, jumlah perdarahan, masalah penyerta, penatalaksanaan dan hasilnya. Isi jawaban pada tempat yang disediakan dan beri tanda pada kotak di samping jawaban yang sesuai. Untuk nomor 25, 26 dan 28 lingkari jawaban yang benar.

Pertanyaan pada kala III adalah sebagai berikut:

  1. Lama kala III …………………………………………………………… menit
  2. Pemberian Oksitosin 10 U IM?

Ya, waktu ……………………………….. menit sesudah persalinan

Tidak, alasan ……………………………………………………………………

  1. Pemberian ulang Oksitosin (2x)?

Ya, alasan : ……………………………………………………………………….

Tidak

  1. Penegangan tali pusat terkendali?

Ya

Tidak, alasan: …………………………………………………………………..

  1. Rangsangan taktil (pemijatan) fundus uteri?

Ya

Tidak, alasan: …………………………………………………………………..

  1. Plasenta lahir Iengkap (intact) : Ya / Tidak

Jika tidak Iengkap, tindakan yang dilakukan:

a. ……………………………………………………………………………………….

b. ……………………………………………………………………………………….

  1. Plasenta tidak ahir >30 menit: Ya / Tidak

Ya, tindakan:

a. ……………………………………………………………………………………….

b. ……………………………………………………………………………………….

c. ……………………………………………………………………………………….

  1. Laserasi:

Ya, dimana ………………………………………………………………………..

Tidak

  1. Jika laserasi perineum, derajat: 1/2/3 / 4

Tindakan:

Pen jahitan, dengan / tanpa anestesi

Tidak dijahit, alasan: ………………………………………………………..

  1. Atonia uteri:

Ya, tindakan:

a. ……………………………………………………………………………………….

b. ……………………………………………………………………………………….

c. ……………………………………………………………………………………….

Tidak

  1. Jumlah perdarahan:…………………………………………………….. ml
  2. Masalah lain, sebutkan …………………………………………………….
  3. Penatalaksanaan masalah tersebut:……………………………………………..                                                 …………………………………………………………………………………………..
  4. Hasilnya …………………………………………………………………………….

E. Bayi baru lahir

Informasi tentang bayi baru lahir terdiri dan berat dan panjang badan, jenis kelamin, penilaian kondisi bayi baru lahir, pemberian ASI, masalah penyerta, penatalaksanaan terpilih dan hasilnya. Isi jawaban pada tempat yang disediakan serta beri tanda pada kotak di samping jawaban yang sesuai. Untuk pertanyaan nomor 36 dan 37, lingkari jawaban yang sesuai sedangkan untuk nomor 38, jawaban bisa lebih dari satu.

Pertanyaan mengenai Bayi Baru Lahir adalah sebagai berikut:

  1. Berat badan ……………………………………………………………………… gram
  2. Panjang ……………………………………………………………………………. cm
  3. Jenis kelamin: UP
  4. Penilaian bayi baru lahir: baik I ada penyulit
  5. Bayi lahir:

Normal, tindakan:

mengeringkan

menghangatkan

rangsangan taktil

bungkus bayi dan tempatkan di sisi ibu

tindakan pencegahan infeksi mata

Asfiksia ringanlpucatlbiru/lemas, tindakan:

mengeringkan                       menghangatkan

rangsangan taktil                   lain-lain, sebutkan:

bebaskan jalan napas ……………………………………………

bungkus bayi dan tempatkan di sisi ibu

Cacat bawaan, sebutkan: ………………………………………….

Hipotermia, tindakan:

a. …………………………………………………………………………….

b. …………………………………………………………………………….

c. …………………………………………………………………………….

  1. Pemberiari ASI

Ya, waktu …………………………………………. jam setelah bayi lahir

Tidak, alasan: ……………………………………………………………

  1. Masalah lain, sebutkan: ……………………………………………………

Hasilnya: ……………………………………………………………………………

F. Kala IV

Kala IV berisi data tentang tekanan darah, nadi, suhu, tinggi fundus, kontraksi uterus, kandung kemih dan perdarahan. Pemantauan pada kala IV ini sangat penting terutama untuk menilai apakah terdapat risiko atau terjadi perdarahan pascapersalinan. Pengisian peman tauan kala IV dilakukan setiap 15 menit pada satu jam pertama setelah melahirkan, dan setiap 30 menit pada satu jam berikutnya. Isi setiap kolom sesuai dengan hasil pemeriksaan dan jawab pertanyaan mengenai masalah kala IV pada tempat yang telah disediakan. Bagian yang digelapkan tidak usah diisi.

Catatkan semua temuan selama kala empat persalinan di bagian ini :

Jam ke waktu Tekanan darah Nadi Temper-atur Tinggi fundus uteri Kontraksi uterus Kandung kemih Perdarahan
1
2

Masalah kala IV : …………………………………………………………

Penatalaksanaan masalah tersebut: …………………………………..

Hasilnya: …………………………………………………………………….

Contoh Partograf

Gambar 2-6 adalah contoh partograf yang sudah dilengkapi untuk kasus berikut :

Ibu Rohati adalah G1: P0: A0, berusia 23 tahun. Ia datang ke klinik bersalin bersama keluarganya untuk mendapatkan asuhan dan Bidan Ita di Rt 001/Rw 04, Kelurahan Tebet Timur, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan pada tanggal 20 Maret 2002 pukul 13.00. Ia mengatakan kepada bidan penolong bahwa ia sudah merasakan adanya kontraksi sejak pukul 05.00.

Bidan Ita melakukan anamnesis secara seksama dan melakukan pemeriksaan fisik (lihat Bab 1). Ia menemukan :

  • Kehamilan cukup bulan, presentasi belakang kepala (verteks), dengan penurunan kepala janin 4/5, kontraksi uterus tiga kali dalam 10 menit, setiap kontraksi berlangsung 18 detik, dan DJJ 124 kali/menit.
  • Pembukaan serviks 3 cm, tidak ada penyusupan dan selaput ketuban utuh.
  • Tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 80, temperatur tubuh 36,8°C.
  • Ibu berkemih 200 ml sebelum pemeriksaan dalam, tidak ditemui protein dan aseton dalam urin.
  1. Berdasarkan data yang dikumpulkan pada pukul 13.00, bidan Ita membuat diagnosis bahwa ibu Rohati adalah primigravida, dalam fase laten persalinan dengan DJJ normal, pembukaan serviks 3 cm, tiga kontraksi dalam 10 menit, setiap kontraksinya berlangsung kurang dan 20 detik. Bidan Ita menentramkan hati ibu Rohati dan menganjurkannya untuk berjalan-jalan ditemani oleh suaminya dan banyak minum. Bidan Ita menuliskan tanggal dan waktu serta mencatat semua temuan dan asuhannya pada catatan kemajuan persalinan.

Bidan Ita meneruskan untuk memantau DJJ, kontraksi serta nadi dan kontraksi uterus ibu Rohati setiap jam. DJJ, nadi dan kontraksinya tetap normal. Bidan Ita mengukur produksi urin ibu Rohati setiap kali ia berkemih. Bidan Ita meneruskan pencatatan temuan-temuannya di catatan kernajuan persalinan. Bidan Ita terus memberikan dukungan persalinan dan menentramkan hati ibu Rohati.

  1. Pemeriksaan kedua dilakukan pukul 17.00. Ibu Rohati melaporkan bahwa kontraksinya terasa lebih kuat dan lebih nyeri. Bidan Ita melakukan pemeriksaan abdomen dan pemeriksaan dalam yang kedua: Ibu Rohati mengalami 4 kontraksi dalam 10 menit, masing-masing lamanya antara 20 sampai 40 detik, DJJ 134 kali/menit, penurunan bagian terbawah janin 3/5, pembukaan serviks 5 cm, tidak ada penyusupan kepala janin dan selaput ketubannya masih utuh. Tekanan darah ibu Rohati 120/70 mm Hg, nadinya 88, dan temperatur tubuhnya 37°C. Ia berkemih 100 ml sebelum pemeriksaan di lakukan.

 

Lihat gambar partograf (Gambar 2-6)

Pada pukul 17.00, ibu Rohati berada dalam fase aktif persalinan dan bidan ita mulai mencatat pada partograf. Ia mencatatkan pernbukaan serviks pada garis waspada dan semua temuan lainnya di garis waktu yang sesuai. Bidan Ita mulai menilai DJJ, kontraksi uterus dan nadi ibu Rohati setiap 30 menit dan menilai temperatur tubuhnya setiap 2 jam. Semua temuan dicatat di partograf dengan tepat (Gambar 2-6):

  • Pukul 17.30 DJJ 144/menit Kontraksi 4 kali dalam        10 menit selama 45 detik Nadi 80/menit.
  • Pukul 18.00 DJJ 144/menit Kontraksi 4 kali dalam        10 menit selama 45 detik Nadi 88/menit.
  • Pukul 18.30 DJJ 140/menit Kontraksi 4 kali dalarn       10 rnenit selama 45 detik Nadi 90/menit.
  • Pukul 19.00 DJJ 134/menit Kontraksi 4 kali dalam        10 menitselama 45 detik: Nadi 97/menit Suhu 36,8°C Urin 150 ml.
  • Pukul 19.30 DJJ 128/menit Kontraksi 4 kali dalam        10 menit selama 45 detik Nadi 88/menit.
  • Pukul 20.00 DJJ 128/menit Kontraksi 5 kali dalam        10 menit selama 45 detik Nadi 88/menit.
  • Pukul 20.30 DJJ 128/menit Kontraksi 5 kali dalam        10 menit selama 45 detik Nadi 90/menit Urin 80 ml
  1. Pada pukul 21.00, bidan Ita melakukan periksa ulang abdomen dan panggul. Hasilnya: DJJ 130 kali/menit, 5 kontraksi dalam 10 menit, rnasing-masing berlangsung lebih dari 45 detik penurunan kepalajanin 1/5. Pembukaan serviks 10cm, tidak ada penyusupan kepala janin, selaput ketuban pecah sesaat sebelum pemeriksaan jam 20.45, dan cairan ketuban jernih. Tekanan darah ibu 120/70mm Hg, temperatur tubuh 37°C, dan nadinya 80 kali/menit.
  2. Pada pukul 21.30, lahir seorang bayi perempuan, berat badan 3000 gram dan panjang 48 cm. Bayi menangis spontan. Dilakukan penatalaksanaan aktif kala tiga dan plasenta lahir 5 menit setelah bayi lahir. Tidak dilakukan episiotomi dan tidak terjadi laserasi. Perkiraan kehilangan darah kurang lebih 150 ml.
  1. Tidak ada penyulit terjadi pada 15 menit pertama kala empat (sampai pukul 21.45). Bi dan Ita menjlai keadaan umum dan kondisi kesehatan ibu Rohati setiap 15 menit Selama jam pertama setelah lahirnya plasenta. Temuan-temuannya adalah sebagai berikut (Gambar 2-7):
  • 21.50: TD 120/70, nadi 80, temperatur tubuh 37,2°C, tinggi fundus 3 jam di bawah pusat, tonus uterus baik (keras), kandung kemih kosong, perdarahan pervaginam dalam batas normal.
  • 22.05: TD 120/70, nadi 76, tinggi fundus 3 jan di bawah pusat, tonus uterus baik (keras), kandung kemih kosong, perdarahan pervaginam dalam batas normal.
  • 22.20: TD 110/70, nadi 76, tinggi fundus 3 jam di bawah pusat, tonus uterus baik, kandung kemih kosong, perdarahan pervaginam dalam batas normal.
  • 22.35: TD 110/70, nadi 76, tinggi fundus 3 jan di bawah pusat, tonus uterus baik, kandung kemih kosong, perdarahan pervaginam dalam batas normal.
  1. Selama jam kedua kala empat persalinan, bidan Ita menilai ibu Rohati setiap 30 menit. Temuannya adalah sebagai berikut (Gambar 2-7) :
  • 23.05: TD 110/70, nadi 80, temperatur tubuh 37° C, tinggi fundus dua jan di bawah pusat, tonus uterus baik, ibu Rohati berkemih dan produksi urin berjumlah 250 ml, perdarahan pervaginam dalam batas normal.
  • 23.35: TD 110/70, nadi 80, tinggi fundus dua jari di bawah pusat, tonus uterus baik, kandung kemih kosong, perdarahan pervaginam dalam batas normal.

sumber : buku APN

PENUNTUN BELAJAR PERSALINAN NORMAL (60 LANGKAH APN)

PENUNTUN BELAJAR PERSALINAN NORMAL (BUKU APN)

60 LANGKAH APN

Nilailah setiap kinerja langkah yang diamati dengan menggunakan skala sbb :

  1. 1. Perlu perbaikan : Langkah atau tugas tidak dikerjakan dengan benar atau dihilangkan
  2. 2. Mampu (bisa diterima dengan bimbingan) : Langkah dikerjakan dengan benar dan berurutan, tetapi kurang tepat dan/atau pelatih perlu membantu/mengingatkan hal-hal kecil yang tidak terlalu berarti
  3. 3. Mahir (dilakukan secara mandir tanpa bimbingan) : Langkah dikerjakan dengan benar, tepat tanpa ragu-ragu atau tanpa perlu bantuan dan sesuai dengan urutan.

T/S : Tindakan/langkah-langkah yang dilakukan tidak sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi

KEGIATAN KASUS
I. MELIHAT TANDA GEJALA KALA DUA
1. Mengamati tanda dan gejala persalinan kala dua:

  • Ibu mempunyai keinginan untuk meneran
  • Ibu merasakan tekanan yang semakin meningkat pada rektum dan/atau vaginanya.
  • Perineum menonjol.
  • Vulva-vagina dan sfingter anal membuka.
II. MENYIAPKAN PERTOLONGAN PERSALINAN
2. Memastikan perlengkapan, bahan dan obat-obatan esensial siap di gunakan. Mematahkan ampul oksitosin 10 unit dan menempatkan tabung suntik steril sekali pakai di dalam partus set
3. Mengenakan baju penutup atau celemek plastik yang bersih.
4. Melepaskan semua perhiasan yang dipakai di bawah siku. Mencuci kedua tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir dan mengeringkan tangan dengan handuk satu kali pakai/pribadi yang bersih.
5. Memakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi. Memakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril untuk semua pemeriksaan dalam.
6. Menghisap oksitosin 10 unit ke dalam tabung suntik (dengan memakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril) dan meletakkannya kembali di partus set/wadah disinfeksi tingkat tinggi atau steril tanpa mengkontaminasi tabung suntik.
KEGIATAN KASUS
III. MEMASTIKAN PEMBUKAAN LENGKAP DAN KEADAAN JANIN BAIK
7. Membersihkan vulva dan perineum, menyekanya dengan hati-hati dari depan ke belakang dengan menggunakan kapas atau kasa yang sudah dibasahi air disinfeksi tingkat tinggi. Jika mulut vagina, perineum atau anus terkontaminasi oleh kotoran ibu, membersihkan dengan seksama dengan cara menyeka dari depan ke belakang. Membuang kapas atau kasa yang terkontaminasi dalam wadah yang benar mengganti sarung tangan jika terkontaminasi (meletakkan kedua sarung tangan tersebut dengan benar di dalam larutan dekontaminasi, langkah # 9).
8. Dengan menggunakan teknik aseptik, melakukan pemeriksaan dalam untuk memastikan bahwa pembukaan serviks sudah lengkap.

  • Bila selaput ketuban belum pecah, sedangkan pembukaan sudah lengkap, lakukan amniotomi.
9. Mendekontaminasi sarung tangan dengan cara mencelupkan tangan yang masih memakai sarung tangan kotor kedalam larutan klorin 0,5% dan kemudian melepaskannya dalam keadaan terbalik serta me-rendamnya di dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit. Mencuci kedua tangan (seperti di atas)
10. Memeriksa denyut jantung janin (DJJ) setelah kontraksi berakhir untuk memastikan bahwa DJJ dalam batas normal ( 100-180 kali per menit).

  • Menagambil tindakan yang sesuai jika DJJ tidak normal.
  • Mendokumentasikan hasil-hasil pemeriksaan dalam, DJJ dan semua hasil-hasil penilaian serta asuhan lainnya pada partograf.
IV. MENYIAPKAN IBU DAN KELUARGA UNTUK MEMBANTU PROSES PIMPINAN MENERAN
11. Memberitahukan ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik.Membantu ibu berada dalam posisi yang nyaman sesuai keinginannya.

  • Menunggu hingga ibu mempunyai keinginan untuk meneran.  Melanjutkan pemantuan kesehatan dan kenyaman ibu serta janin sesuai dengan pedoman persalinan aktif dan mendokumentasikan temuan-temuan.
  • Menjelaskan kepada anggota keluarga bagaimana mereka dapat mendukung dan memberi semangat kepada ibu saat ibu mulai meneran.
12. Meminta bantuan kelurga untuk menyiapkan posisi ibu untuk meneran.  (pada saat ada his, bantu ibu dalam posisi setengah duduk dan pastikan ia merasa nyaman.
13. Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan yang kuat untuk meneran :

  • Membimbing ibu untuk meneran saat ibu mempunyai keinginan unuk meneran.
  • Mendukung dan memberi semangat atas usaha ibu untuk meneran.
  • Membantu ibu mengambil posisi yang nyaman sesuai pilihannya (tidak meminta ibu berbaring terlentang).
  • Menganjurkan ibu untuk beristirahat diantara kontraksi.
KEGIATAN KASUS
  • Menganjurkan keluarga untuk mendukung dan memberi semangat pada ibu.
  • Menganjurkan asupan cairan per oral.
  • Menilai DJJ setiap lima menit.
  • Jika bayi belum lahir atau kelahiran bayi belumk akan terjadi segera dalam waktu 120 menit (2 jam) meneran untuk ibu primipara atau 60 menit (1 jam) untuk ibu multipara merujuk segera.
Jika ibu tidak mempunyai keinginan untuk meneran

  • Menganjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau mengambil posisi yang nyaman. Jika ibu belum ingin meneran dalam 60 menit, menganjurkan ibu untuk mulai meneran pada puncak kontraksi-kontraksi tersebut dan beristirahat di antara kontraksi.
  • Jika  bayi belum lahir atau kelahhiran bayi belum akan terjadi segera setelah 60 menit meneran, merujuk ibu dengan segera.
V. PERSIAPAN PERTOLONGAN KELAHIRAN BAYI
14. Jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5-6 cm, meletakkan handuk bersih diatas perut ibu untuki mengeringkan bayi.

  • Sediakan tempat untuk antisipasi komplikasi persalinan (asfiksia), sebelah bawah kaki ibu tempat yang datar alas keras. Bereskan 2 kain dan 1 handuk. Dengan lampu sorot 60 watt (jarak 60 cm dan tubuh bayi).
15. Meletakkan kain yang bersih dilipat 1/3 bagian, di bawah bokong ibu.
16. Membuka partus set
17. Memakau sarung tangan DTT atau steril pada kedua tangan.
VI. MENOLONG KELAHIRAN BAYI
Lahirnya Kepala
18. Saat kepala bayi membuka vulva dengan diameter 5-6, lindungi perineum dengan satu tangan yang dilapisi kain tadi, letakkan tangan yang lain di kepala bayi dan lakukan tekanan yang lembut dan tidak menghambat kepala bayi, membiarkan kepala keluar perlahan-lahan. Menganjurkan ibu untuk meneran perlahan-lahan atau bernafas cepat saat kepala lahir.

  • Jika ada mekonium dalam cairan ketuban, segera hisap mulut dan hidung bayi setelah kepala lahir menggunakan penghisap yang baru dan bersih.
19. Dengan lembut menyeka muka, mulut dan hidung bayi dengan kain atau kasa yang bersih.
20. Memeriksa lilitan tali pusat dan mengambil tindakan yang sesuai jika hal itu terjadi, dan kemudian meneruskan segera proses kelahiran bayi :

  • Jika tali pusat melilit leher janin dengan longgar, lepaskan lewat bagian atas kepala bayi.
  • Jika tali pusat melilit leher bayi dengan erat, mengklemnya didua tempat, dan memotongnya.
21. Menunggu hingga kepala bayi melaukan putaran paksi luar secara spontan.
KEGIATAN KASUS
Lahirnya bahu
22. Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, tempatkan kedua tangan di masing-masing sisi bayi. Menganjurkan ibu untuk meneran saat kontraksi berikutnya. Dengan lembut menariknya ke arah bawah dan ke arah luar hngga bahu anterior muncul di bawah arkus pubis dan kemudian dengan lembut menarik ke arah atas luar untuk melahirkan bahu posterior.
Lahirnya badan dan tungkal
23. Setelah kedua bahu dilahirkan, menelusurkan tangan mulai kepala bayi yang berada di bagian bawah ke arah perineum tangan, membiarkan bahu dan lenganposterior lahir ke tangan tersebut. Mengendalikan kelahiran siku dan tangan bayi saat dilahirkan. Menggunakan tangan anterior (bagian atas) untuk mengendalikan siku dan tangan anterior bayi saat keduanya lahir.
24. Setelah tubuh dan lengan lahir, menelusurkan tangan yang ada di atas (anterior) dan punggung ke arah kaki bayi untuk menyangganya saat punggunig dan kaki lahir. Memegang kedua mata kaki bayi dan dengan hati-hati membantu kelahiran kaki.
VII. PENANGANAN BAYI BARU LAHIR
25. Menilai bayi dengan cepat (jika dalam penilaian terdapat jawaban tidak dari 5 pertanyaan, maka lakukan langkah awal), kemudian meletakkan bayi di atas perut ibu dengan posisi kepala bayi lebih rendah dan tubuhnya (bila tali pusat terlalu pendek, meletakkan bayi di tempat yang memungkinkan).
26. Segera mengeringkan bayi, membungkus kepala dan badan bayi kecuali bagian tali pusat.
27. Menjepit tali pusat menggunakan klem kira-kira 3 cm dan pusat bayi. Melakukan urutan pada tali pusat mulai dan klem ke arah ibu dan memasang klem kedua 2 cm dan klem pertama (ke arah ibu).
28. Memegang tali pusat dengan satu tangan, melindungi bayi dan gunting, dan memotong tali pusat di antara dua klem tersebut.
29. Mengganti handuk yang basah dan menyelimuti bayi dengan kain atau selimut yang bersih dan kering, menutupi bagian kepala, membiarkan tali pusat terbuka.Jika bayi mengalami kesulitan bernapas, mengambil tindakan yang sesuai.
30. Memberikan bayi kepada ibunya dan menganjurkan ibu untuk memeluk bayinya dan memulai pemberian ASI jika ibu menghendakinya.
VIII. PENATALAKSANAAN AKTIF PERSALINAN KALA TIGA
Oksitosin
31. Meletakkan kain yang bersih dan kening. Melakukan palpasi abdomen untuk menghilangkan kemungkinan adanya bayi kedua.
32. Memberitahu kepada ibu bahwa ia akan disuntik.
33. Dalam waktu 2 menit setelah kelahiran bayi, memberikan suntikan oksitosin 10 unit IM di 1/3 paha kanan atas ibu bagian luar, setelah mengaspirasinya terlebih dulu.
KEGIATAN KASUS
Penegangan tali pusat terkendali
34. Memindahkan klem pada tali pusat sekitar 5-10 cm dan vulva.
35. Meletakkan satu tangan di atas kain yang ada di perut ibu, tepat di atas tulang pubis, dan menggunakan tangan ini untuk melakukan palpasi kontraksi dan menstabilkan uterus. Memegang tali pusat dan klem dengan tangan yang lain.
36. Menunggu uterus berkontraksi dan kemudian melakukan penegangan ke arah bawah pada tali pusat dengan embut. Lakukan tekanan yang berlawanan arah pada bagian bawah uterus dengan cara menekan uterus ke arah atas dan belakang (dorso-kranial) dengan hati hati untuk membantu mencegah terjadinya inversio uteri. Jika plasenta tidak ahir setelah 30 – 40 detik, menghentikan penegangan tali pusat dan menunggu hingga kontraksi berikut mulai.

  • Jika uterus tidak berkontraksi, meminta ibu atau seorang anggota keluarga untuk me lakukan rangsangan puting susu.
Mengeluarkan plasenta
37. Setelah plasenta terlepas, meminta ibu untuk meneran sambil menarik tali pusat ke arah bawah dan kemudian ke arah atas, mengikuti kurve jalan lahir sambil meneruskan tekanan berlawanan arah pada uterus.

  • Jika tall pusat bertambah panjang, pindahkan klem hlngga berjarak sekitar 5-10 cm dan vulva.
  • Jika plasenta tidak lepas setelah melakukan penegangan tali pusat selama 15 menit :

–          Mengulangi pemberian oksitosin 10 unit IM

–          Menilai kandung kemih dan mengkateterisasi kandung kemih dengan menggunakan teknik aseptik jika peru.

–          Meminta keluarga untuk menyiapkan rujukan.

–          Mengulangi penegangan tali pusat selama 15 merilt berikutnya.

–          Merujuk ibu jika plasenta tidak lahir dalam waktu 30 menit sejak kelahiran bayi.

38. Jika plasenta terlihat di introitus vagina, melanjutkan kelahiran pasenta dengan mengguna kan kedua tangan. Memegang plasenta dengan dua tangan dan dengan hati-hati memutar plasenta hingga selaput ketuban terpilin. Dengan lembut dan perlahan melahirkan selaput ketuban tersebut.

  • Jika selaput ketuban robek, memakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril dan memeriksa vagina dan serviks ibu dengan seksama. Menggunakan jari-jari tangan atau klem atau forseps disinfeksi tingkat tinggi atau stenil untuk melepaskan bagian selaput yang tertinggal.
Rangsangan taktil (pemijatan) uterus
39. Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir, melakukan masase uterus, meletakkan telapak tangan di fundus dan melakukan masase dengan gerakan melingkar dengan lembut hingga uterus berkontraksi (fundus menjadi keras).
KEGIATAN KASUS
IX. MENILAI PERDARAHAN
40. Memeriksa kedua sisi plasenta balk yang menempel ke ibu maupun janin dan selaput ketuban untuk memastik bahwa selaput ketuban lengkap dan utuh. Meletakkan plasenta di dalam kantung plastik atau tempat khusus.

  • Jika uterus tidak berkontraksi setelah melakukan masase selama 15 detik rnengambil tindakan yang sesual.
41. Mengevaluasi adanya aserasi pada vagina dan perineum dan segera menjahit laserasi yang mengalami perdarahan aktif.
X. MELAKUKAN PROSEDUR PASCAPERSALINAN
42. Menilai ulang uterus dan memastikannya berkontraksi dengan baik.Mengevaluasi perdarahan per vaginam.
43. Mencelupkan kedua tangan yang memakai sarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5%, membilas kedua tangan yang masih bersarung tangan tersebut dengan air disinfeksi tingkat tinggi dan mengeringkannya dengan kain yang bersih dan kering.
44. Menempatkan klem tali pusat disinfeksi tingkat tinggi atau steril atau mengikatkan tali disinfeksi tingkat tinggi dengan simpul mati di sekeliling tali pusat sekitar 1 cm dan pusat.
45. Mengikat satu lagi simpul mati di bagian tali pusat yang berseberangan dengan simpul mati yang pertama.
46. Melepaskan klem bedah dan meletakkannya di dalam larutan klorin 0,5%.
47. Menyelimuti kembali bayi dan menutupi bagian kepalanya. Memastikan handuk atau kainnya bersih dan kering.
48. Menganjur ibu untuk memulai pemberian ASI.
Evaluasi
49. Melanjutkan pemantauan kontraksi uterus dan perdarahan pervaginam:

  • 2-3 kali dalam 15 menit pertama pascapersalinan.
  • Setiap 15 menit pada 1 jam pertama pascapersalinan.
  • Setiap 20-30 menit pada jam kedua pascapersalinan.
  • Jika uterus tidak berkontraksi dengan balk, melaksanakan perawatan yang sesuai untuk menatalaksana atonia uteri.

Jika ditemukan laserasi yang memerlukan penjahitan, lakukan penjahitan dengan anestesia lokal dan menggunakan teknik yang sesuai.

50. Mengajarkan pada ibu/keluarga bagaimana melakukan masase uterus dan memeriksa kontraksi uterus.
51. Mengevaluasi kehilangan darah.
52. Memeriksa tekanan darah, nadi dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit selama satu jam pertama pascapersalinan dan setiap 30 menit selama jam kedua pascapersalinan.

  • Memeriksa temperatur tubuh ibu sekali setiap jam selama dua jam pertama pascapersalinan.
  • Melakukan tindakan yang sesuai untuk temuan yang tidak normal.
KEGIATAN KASUS
Kebersihan dan keamanan
53. Menempatkan semua peralatan di dalam larutan klorin 0,5% untuk dekontaminasi (10 menit).Mencuci dan membilas peralatan setelah didekontaminasi.
54. Menempatkan semua peralatan di dalam larutan klorin 0,5% untuk dekontaminasi (10 menit).Mencuci dan membilas peralatan setelah didekontaminasi.
55. Membersihkan ibu dengan menggunakan air disinfeksi tingkat tinggi.Membersihkan cairan ketuban, lendir dan darah. Membantu ibu memakai pakaian yang bersih dan kering.
56. Memastikan bahwa ibu nyaman. Membantu ibu memberikan ASI. Menganjurkan keluarga untuk memberikan ibu minuman dan makanan yang diinginkannya
57. Mendekontaminasi daerah yang digunakan untuk melahirkan dengan arutan klorin 0,5% dan membilasnya dengan air bersih.
58. Mencelupkan sarung tangan kotor ke dalam larutan klorin O, membalikkan bagian dalam ke luar dan merendamnya dalam larutan klorin 0,5% selarna 10 menit
59. Mencuci kedua tangan dengan sabun dan air mengalir.
Dokumentasi
60. Melengkapi partograf (halaman depan dan belakang).