Jaringan Pengangkut (Xilem, Floem)

Jaringan Pengangkut

Jaringan pengangkut pada tumbuhan terdiri dari xylem yang menggunakan jaringan pengangkut air dan floem sebagai jaringan pengangkut bahan organic (bahan-bahan makanan). Xylem dan Floem bersama-sama sering disebut sebagai berkas pengangkut (berkas vascular). Tumbuhan yang mempunyai jaringan pengangkut disebut tumbuhan vaskular, termasuk di dalamnya Pteridophyta dan Spermatophyta. Dari kedua bagian berkas pengangkut itu, xilem mempunyai struktur yang lebih tegar sehingga dapat utuh sewaktu berubah menjadi fosil dan dapat dipakai sebagai bahan identifikasi bagi tumbuhan jenis vaskular.
A.     XILEM
Pada dasarnya xilem merupakan jaringan kompleks karena terdiri dari beberapa tipe sel yang berbeda, baik yang hidup maupun tidak hidup. Penyusun utamanya adalah trakeid dan trakea sebagai saluran transpor dan penyokong. Xilem juga dapat mempunyai serabut sklerenkim sebagai jaringan penguat, serta sel-sel parenkim yang hidup dan berfungsi dalam berbagai kegiatan metabolisme.
Pada awalnya xilem merupakan hasil aktivitas meristem apikal lewat pembentukan prokambium. Xilem yang terbentuk dari prokambium dinamakan xilem primer. Bila tumbuhan ini setelah pertumbuhan primernya lengkap, kemudian membentuk jaringan sekunder sebagai hasil aktivitas kambium, maka xilem yang terbentuk itu dinamakan xilem sekunder. Meskipun xilem primer dan xilem sekunder itu tidak berbeda bentuknya, tetapi keduanya akan berbaur pada pertumbuhan selanjutnya.
Bila xilem primer diamati secara seksama akan ditemukan perbedaan perkembangan dan struktur xilem yang dibentuk pertama kali (protoxilem) dengan xilem yang dibentuk kemudian (metaxilem). Protoxilem menduduki tempat yang khas dalam struktur jaringan pengangkut primer. Pada tumbuhan tingkat tinggi, protoxilem batang letaknya paling dekat dengan empulur (di tengah, disebut xilem endarch) sedang di akar letaknya di sebelah luar metaxilem (disebut xilem exarch)
Jaringan Xilem terdapat pada bagian kayu tanaman. Xilem terdiri atas unsur-unsur sebagai berikut :
a.      Trakeid dan Trakea
Telah menjadi anggapan umum bahwa trakeid merupakan unsur xilem yang lebih primitif dibanding trakea karena tumbuhan anggota Pteridophyta, Gymnospermae dan Spermatophyta fosil hanya mempunyai trakeid. Trakea dianggap berasal dari trakeid. Keduanya dalam keadaan dewasa berbentuk bulat panjang, berdinding sekunder terdiri dari lignin dan tidak mengandung kloroplas. Perbedaan pokok antara keduanya adalah bahwa pada trakeid tidak terdapat perforasi (lubang-lubang) sedangkan pada trakea ujung-ujungnya penuh lubang-lubang. Transpor air dan zat hara dalam trakea dapat berlangsung antara sel yang satu dengan sel lain secara bebas lewar perforasi, sedangkan dalam trakeid peristiwa itu berlangsung lewat noktah antara sel-selnya. Sel-sel pembentuk trakea tersusun sedemikian sehingga merupakan deretan memanjang (ujung bertemu ujung) dan perforasi pada ujung sel itu sangat sempurna atau bahkan dinding selnya hilang sehingga membentuk pipa panjang. Setelah terbentuk pipa ini, dinding yang tidak mengalami perfoasi mengadakan penebalan sekunder. Bentuk penebalan tersebut dapat seperti cincin, spiral atau jala. Tidak selalu ketiga bentuk itu dapat dijumpai pada tumbuhan yang sama
b.        Serabut Xilem
Serabut ini strukturnya serupa serabut sklerenkim meskipun asalnya dari trakeid yang berdiferensiasi lebih lanjut dengan dinding yang tebal dan noktah sederhana. Serabut dan trakeid saling melekat sehingga sulit dipisahkan, tetapi umunya sel serabut lebih panjang dari trakeid karena ujungnya yang runcing dapat masuk di antara sel-sel sewaktu memanjang. Serabut xilem ini terlihat jelas pada xilem yang unsurnya terdiri dari trakeid dan trakea, sedang xilem yang hanya terdiri dari trakeid, serabut itu tidak jelas adanya.
c.      Parenkim Xilem
Seperti halnya parenkim di tempat lain, sel-sel ini merupakan sel hidup, terdapat baik pada xilem primer maupun sekunder. Pada xilem sekunder, parenkim itu berasal dari kambium yang berbentuk fusiform atau bentuk sel jari-jari, sehingga diperoleh sel-sel yang sumbu panjangnya mengikuti arah jari-jari organ. Sel-sel parenkim ini mengandung berbagai senyawa umumnya tepung atau lipid, karena parenkim berfungsi sebagai penimbun cadangan makanan.
B.     FLOEM
Floem juga merupakan jaringan kompleks, terdiri dari beberapa unsur dengan tipe yang berbeda, yaitu buluh tapisan, sel pengiring, parenkim, serabut dan sklereid. Kadang-kadang ada sel atau jaringan sekretori yang bergabung di dalamnya, misalnya kelenjar getah. Fungsi floem sebagai jaringan translokasi bahan organik (asimilat) yang terutama berisi karbohidrat. Dalam jumlah kecil ditemukan juga asam amino dan hormon.
Seperti halnya pada xilem, floem yang berasal dari perkembangan prokambium disebut floem primer dan yang merupakan hasil perkembangan kambium disebut floem sekunder. Harus diperhatikan di sini bahwa floem dan xilem yang strukutur dan fungsinya berbeda itu pada pertumbuhan sekundernya berasal dari sel yang sama. Meskipun pada mulanya berkas-berkas floem letaknya terpisah, tetapi pada perkembangan selanjutnya akan membentuk kesatuan sistem karena saling beranastomisis (membentuk anyaman).
Jaringan Floem terdapat pada bagian kulit kayu. Jaringan Floem terdiri atas unsur-unsur sebagai berikut :
a.      Pembuluh
Unsur penyusun pembuluh terdiri dari dua bentuk yaitu sel tapisan yang merupakan sel tunggal dan bentuknya memanjang dengan bidang tapisan terletak di samping atau ujung sel, terdapat pada tumbuhan Pteridophyta dan Gymnospermae. Bentuk kedua adalah buluh tapisan, terdapat pada Angiospermae, berupa berkas sel-sel memanjang yang masing-masing merupakan bagian dari buluh itu dan dihubungkan oleh satu atau lebih bidang tapisan biasanya terletak di ujung sel.
Sifat khas unsur pembuluh adalah adanya bidang tapisan pada dinding selnya, serta terdapatnya modifikasi protoplas yaitu tanpa nukleus. Bidang tapisan itu merupakan sekelompok lubang-lubang yang membatasi dua sel yang berdampingan dan dihubungkan oleh benang-benang plasma yang terdapat di dalam lubang-lubang tapisan itu (semacam plasmodesma pada saluran noktah). Lubang-lubang tapisan itu biasanya dilapisi oleh kalose yaitu semacam polimer glukose, sehingga lubangnya menjadi kecil. Kalose ini akan menipis (sehingga lubangnya membesar) bila pembuluh sedang aktif menyalurkan asimilat.
Jumlah bidang tapisan yang terdapat pada pembuluh berbeda-beda tergantung pada jenis tumbuhannya. Selain itu besarnya lubang tapisan juga bervariasi, umumnya yang besar terdapat di ujung sel.
Dinding sel unsur penyusun pembuluh adalah selulose, tidak pernah dijumpai penebalan lignin. Nukleus tidak terdapat pada sel yang telah dewasa, dan hilangnya nukleus itu terjadi pada saat diferensiasi. Pada awalnya sel pembuluh itu serupa sel prokambium yang lain, mempunyai banyak vakuola dan intinya tegas. Kemudian inti itu mengalami disintegrasi ke dalam plasma dan plasma itu sendiri kemudian membentuk benang-benang memanjang sejajar sumbuh sel dan bersambungan dengan plasma sel sambungannya di lubang tapisan. Pada tumbuhan Dicotyledoneae pembuluh-pembuluh ini biasanya terisi lendir yang terdiri dari protein.
b.      Sel Pengiring
Sel-sel pembuluh pada Dicotyledoneae dan Monocotyledoneae biasanya diikuti oleh sel parenkim khusus yang disebut sel pengiring. Sel itu terbentuk dari sel induk yang sama dengan sel pembuluh. Sel intuk itu membelah satu atau dua kali secara memanjang serta tidak sama besar, menghasilkan sel pembuluh yang besar dan sel pengiring yang kecil. Dinding bersama antara sel pengiring dan sel pembuluh biasanya tipis, penuh dengan plasmodesmata. Berbeda dengan sel pembuluh, sel pengiring ini tetap mempunyai nukleus pada waktu dewasa. Sel pengiring tidak dijumpai pada tumbuhan Gymnospermae dan Pteridophyta dan juga tidak ada pata protofloem Dicotyledoneae.
c.      Parenkim Floem
Selain terdiri dari pembuluh dan selpengiring, floem juga mengandung sejumlah sel parenkim yang fungsinya serupa sel parenkim lainnya, misalnya sebagai penimbun lemak dan tepung. Sel parenkim ini secara fungsional berintegrasi dengan sel pengiring. Bentuk sel parenkim ini memanjang dan sumbu panjangnya sejajar dengan sumbu berkas pengangkut.
Seperti halnya pada parenkim xilem, floem sekunder juga mempunyai dua macam bentuk parenkim sesuai dengan bentuk sel kambium yang membentuknya (fusiform atau jari-jari). Pada saat floem masih aktif, sel parenkim ini tidak mengalami penebalan dinding. Kemudian bila floem itu tidak berfungsi lagi, parenkim ini akan berubah menjadi sklerenkim atau menjadi felogen.
d.      Serabut Floem
Serabut floem terdapat baik pada floem primer maupun sekunder. Serabut ini segera membentuk dinding sekunder setelah selesai pertumbuhan memanjangnya. Umumnya penebalan itu berupa lignin, ada yang selulose. Noktah yang terjadi sederhana. Serabut ini berfungsi sebagai penguat sejak awal atau terjadi dari parenkim floem setelah sel pembuluh tidak berfungsi lagi.
C.     KAMBIUM
Kambium adalah lapisan sel atau lapisan jaringan pada tumbuhan yang aktif membelah. Kambium terdapat di antara Xilem dan Floem.
a.      Kambium Fasikuler (Kambium Primer).
Kambium ini terdapat di antara Xilem dan Floem pada tumbuhan dikotil dan Gymnospermae. Khusus pada tumbuhan monokotil, kambium hanya terdapat pada batang tumbuhan Agave dan Pleomele. Kambium fasikuler ke arah dalam membentuk Xilem dan ke arah luar membentuk floem. Sementara ke samping membentuk jaringan meristematis yang berfungsi memperluas cambium. Pertumbuhan oleh cambium ini disebut pertumbuhan sekunder.
b.      Kambium Sekunder (Kambium gabus/ Kambium Felogen)
Kambium ini terdapat pada permukaan batang atau akar yang pecah akibat pertumbuhan sekunder. Kambium gabus ke arah luar membentuk sel gabus pengganti epidermis dan ke arah dalam membentuk sel feloderm hidup.Kambium inilah yang menyebabkan terjadinya lingkar tahun pada tumbuhan.
DAFTAR PUSTAKA
Soerodikoesoemo, Wibisono, dkk,  1993, Anatomi dan Fisiologi Tumbuhan, Penerbit Universitas Terbuka, Depdikbud Jakarta.

Kerusakan Hutan

MANUSIA DAN LINGKUNGAN

(KERUSAKAN HUTAN)

Disusun oleh:

YUNITRI

NIM. 06091009031

MPK VI

MATAKULIAH PERKEMBANGAN KEPRIBADAIAN

(MPK)

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

2009

BAB 1

PENDAHULUAN

Hutan sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa yang dianugerahkan kepada Bangsa Indonesia, merupakan kekayaan yang dikuasai oleh Negara yang memberikan manfaat serbaguna bagi umat manusia, cenderung kondisinya semakin menurun. Hutan juga merupakan salah satu sumber daya alam yang berperan dalam menjaga, mempertahankan dan meningkatkan ketersediaan air dan kesuburan tanah. Ketersediaan air dan kesuburan tanah merupakan urat nadi kehidupan manusia.

Indonesia dikenal memiliki hutan tropis yang cukup luas dengan keaneka-ragaman hayati yang sangat tinggi dan bahkan tertinggi kedua di dunia setelah Brazillia. Berdasarkan data yang dipublikasikan oleh Badan Planologi Kehutanan RI tahun 2000 bahwa luas hutan Indonesia adalah 120,3 juta hektar atau 3,1% dari luas hutan dunia (Suhendang, 2002). Seiring dengan berjalannya waktu dan tingkat kebutuhan akan kayu semakin meningkat, mendorong masyarakat baik secara individu maupun kelompok melakukan eksploitasi hasil hutan dengan tidak memperhatikan kelestariannya. Eksploitasi hasil hutan tersebut biasanya dilakukan secara ilegal seperti melakukan pembalakan liar, perambahan, pencurian yang mengakibatkan kerusakan hutan di Indonesia tidak terkendali (laju kerusakan hutan Indonesia 2,8 juta hektar per tahun). Akibatnya, kerusakan hutan atau lingkungan tak terkendali tersebut mengakibatkan luas hutan semakin menurun, lahan kritis semakin bertambah, dan sering terjadi bencana alam seperti banjir, tanah longsor, dan lain sebagainya.

Kerusakan hutan di Indonesia tidak hanya terjadi pada hutan alam tetapi juga telah terjadi pada hutan lindung. Padahal, hutan lindung memiliki fungsi yang spesifik terutama berkaitan dengan ketersediaan air. Air merupakan sumber kehidupan yang sangat penting terhadap keberlanjutan kehidupan bagi semua mahluk hidup. Hal ini seperti telah tertuang dalam Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Ketentuan Pokok Kehutanan yang menjelaskan bahwa hutan lindung merupakan kawasan hutan karena keadaan sifat alamnya diperuntukkan guna pengaturan tata air, pencegahan banjir dan erosi serta pemeliharaan kesuburan tanah. Oleh karena itu, hutan lindung perlu perhatian yang serius dari semua pihak agar kelestariannya tetap terjamin.

Kerusakan hutan yang terus terjadi telah mengakibatkan malapetaka dan bencana yang menelan korban harta dan jiwa yang tidak sedikit, seperti musibah kebakaran dan kekeringan pada musim kemarau, banjir dan tanah longsor pada musim hujan dan lain sebagainya. Hal ini tertentu merupakan tantangan bagi semua pihak untuk mencari akar permasalahan dan solusi pemecahannya.

BAB II

PEMBAHASAN

A.Pengertian Hutan

Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan.

Kawasan hutan adalah wilayah tertentu yang ditunjuk dan atau ditetapkan oleh pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap.

Hutan lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah.

Kawasan hutan lindung adalah kawasan hutan yang telah ditentukan oleh pemerintah untuk dilindungi dari segala macam aktivitas manusia yang mengakibatkan kerusakan hutan atau kehilangan fungsi hutan, seperti mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah.

B.Peran Hutan Terhadap Lingkungan

a.Peran hutan

Hutan bukanlah warisan nenek moyang, tetapi pinjaman anak cucu kita yang harus dilestarikan. Jika terjadi bencana, maka dipastikan, biaya ‘recovery’ jauh lebih besar ketimbang melakukan pencegahan secara dini. Begitu pentingnya fungsi hutan sehingga pada 21 Januari 2004 Presiden Megawati merasa perlu mencanangkan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GN-RHL) yaitu gerakan moral yang melibatkan semua komponen masyarakat bangsa untuk memperbaiki kondisi hutan dan lahan kritis. Dengan harapan, agar lahan kritis itu dapat berfungsi optimal, yang juga pada gilirannya bermanfaat bagi masyarakat sendiri. Tujuan melibatkan komponen masyarakat, tentu saja, agar mereka menyadari bahwa hutan dan lingkungan itu sangat penting dijaga kelestariannya.

Hutan memiliki fungsi yang penting bagi kehidupan manusia diantaranya sebagai berikut:

1.Pelestrian Plasma Nutfah

Plasma nutfah merupakan bahan baku yang penting untuk pembangunan di masa depan, terutama di bidang pangan, sandang, papan, obat-obatan dan industri.

Penguasaannya merupakan keuntungan komparatif yang besar bagi Indonesia di masa depan. Oleh karena itu, plasma nutfah perlu terus dilestarikan dan dikembangkan bersama untuk mempertahankan keanekaragaman hayati.

2.Penahan dan Penyaring Partikel Padat dari Udara

Udara alami yang bersih sering dikotori oleh debu, baik yang dihasilkan oleh kegiatan alami maupun kegiatan manusia. Dengan adanya hutan, partikel padat yang tersuspensi pada lapisan biosfer bumi akan dapat dibersihkan oleh tajuk pohon melalui proses jerapan dan serapan. Partikel yang melayang-layang di permukaan bumi sebagian akan terjerap pada permukaan daun, khususnya daun yang berbulu dan yang mempunyai permukaan yang kasar dan sebagian lagi terserap masuk ke dalam ruang stomata daun. Ada juga partikel yang menempel pada kulit pohon, cabang dan ranting. Dengan demikian hutan menyaring udara menjadi lebih bersih dan sehat.

3.Penyerapan Partikel Timbale dan Semen

Kendaraan bermotor merupakan sumber utama timbal yang mencemari udara di daerah perkotaan. Diperkirakan sekitar 60-70 % dari partikel timbal di udara perkotaan berasal dari kendaraan bermotor. Hutan dengan kanekaragaman tumbuhan yang terkandung di dalamnya mempunyai kemampuan menurunkan kandungan timbal dari udara.

Debu semen merupakan debu yang sangat berbahaya bagi kesehatan, karena dapat mengakibatkan penyakit sementosis. Oleh karena itu debu semen yang terdapat di udara bebas harus diturunkan kadarnya.

4.Peredam Kebisingan

Pohon dapat meredam suara dan menyerap kebisingan sampai 95% dengan cara mengabsorpsi gelombang suara oleh daun, cabang dan ranting. Jenis tumbuhan yang paling efektif untuk meredam suara ialah yang mempunyai tajuk yang tebal dengan daun yang rindang. Berbagai jenis tanaman dengan berbagai strata yang cukup rapat dan tinggi akan dapat mengurangi kebisingan, khususnya dari kebisingan yang sumbernya berasal dari bawah.

5.Mengurangi Bahaya Hujan Asam

Pohon dapat membantu dalam mengatasi dampak negatif hujan asam melalui proses fisiologis tanaman yang disebut proses gutasi. Proses gutasi akan memberikan beberapa unsur diantaranya ialah : Ca, Na, Mg, K dan bahan organik seperti glumatin dan gula. Bahan an-organik yang diturunkan ke lantai hutan dari tajuk melalui proses through fall dengan urutan K>Ca> Mg>Na baik untuk tajuk dari tegakan daun lebar maupun dari daun jarum.

Hujan yang mengandung H2SO4 atau HNO3 apabila tiba di permukaan daun akan mengalami reaksi. Pada saat permukaan daun mulai dibasahi, maka asam seperti H2SO4 akan bereaksi dengan Ca yang terdapat pada daun membentuk garam CaSO4 yang bersifat netral. Dengan demikian adanya proses intersepsi dan gutasi oleh permukaan daun akan sangat membantu dalam menaikkan pH, sehingga air hujan menjadi tidak begitu berbahaya lagi bagi lingkungan. pH air hujan yang telah melewati tajuk pohon lebih tinggi, jika dibandingkan dengan pH air hujan yang tidak melewati tajuk pohon.

6.Penyerap Karbon-monoksida

Mikro organisme serta tanah pada lantai hutan mempunyai peranan yang baik dalam menyerap gas. Tanah dengan mikroorganismenya dapat menyerap gas ini dari udara yang semula konsentrasinya sebesar 120 ppm (13,8 x 104 ug/m3) menjadi hampir mendekati nol hanya dalam waktu 3 jam saja.

7.Penyerap Karbon-dioksida dan Penghasil Oksigen

Hutan merupakan penyerap gas CO2 yang cukup penting, selain dari fitoplankton, ganggang dan rumput laut di samudera. Cahaya matahari akan dimanfaatkan oleh semua tumbuhan baik di hutan kota, hutan alami, tanaman pertanian dan lainnya dalam proses fotosintesis yang berfungsi untuk mengubah gas CO2 dan air menjadi karbohidrat dan oksigen. Dengan demikian proses ini sangat bermanfaat bagi manusia, karena dapat menyerap gas yang bila konsentrasinya meningkat akan beracun bagi manusia dan hewan serta akan mengakibatkan efek rumah kaca. Di lain pihak proses ini menghasilkan gas oksigen yang sangat diperlukan oleh manusia dan hewan.

8.Penahan Angin

Angin kencang dapat dikurangi 75-80% oleh suatu penahan angin yang berupa hutan kota.

9.Penyerap dan Penapis Bau

Daerah yang merupakan tempat penimbunan sampah sementara atau permanen mempunyai bau yang tidak sedap. Tanaman dapat menyerap bau secara langsung, atau tanaman akan menahan gerakan angin yang bergerak dari sumber bau.

10.Mengatasi Penggenangan

Daerah bawah yang sering digenangi air perlu ditanami dengan jenis tanaman yang mempunyai kemampuan evapotranspirasi yang tinggi. Jenis tanaman yang memenuhi kriteria ini adalah tanaman yang mempunyai jumlah daun yang banyak, sehingga mempunyai stomata yang banyak pula.

11.Mengatasi Intrusi Air Laut dan Abrasi

Kota-kota yang terletak di tepi pantai seperti DKI Jakarta pada beberapa tahun terakhir ini dihantui oleh intrusi air laut. Pemilihan jenis tanaman dalam pembangunan hutan kota pada kota yang mempunyai masalah intrusi air laut harus betul-betul diperhatikan. Upaya untuk mengatasi masalah ini yakni membangun hutan lindung kota pada daerah resapan air dengan tanaman yang mempunyai daya evapotranspirasi yang rendah.

Hutan berupa formasi hutan mangrove dapat bekerja meredam gempuran ombak dan dapat membantu proses pengendapan lumpur di pantai. Dengan demikian hutan selain dapat mengurangi bahaya abrasi pantai, juga dapat berperan dalam proses pembentukan daratan.

12.Produksi Perbatas

Hutan memiliki fungsi in-tangible juga tangible. Sebagai contoh, pohon mahoni di hutan kota Sukabumi sebanyak 490 pohon telah dilelang dengan harga Rp. 74 juta. Penanaman dengan tanaman yang menghasilkan biji atau buah yang dapat dipergunakan untuk berbagai macam keperluan warga masyarakat dapat meningkatkan taraf gizi dan penghasilan masyarakat.

13.Ameliorasi Iklim

Salah satu masalah penting yang cukup merisaukan penduduk perkotaan adalah berkurangnya rasa kenyamanan sebagai akibat meningkatnya suhu udara di perkotaan. Hutan kota dapat dibangun untuk mengelola lingkungan perkotaan agar pada saat siang hari tidak terlalu panas, sebagai akibat banyaknya jalan aspal, gedung bertingkat, jembatan layang, papan reklame, menara, antene pemancar radio, televisi dan lain-lain. sebaliknya pada malam hari dapat lebih hangat karena tajuk pepohonan dapat menahan radiasi balik (reradiasi) dari bumi.

14.Pelestarian Air Tanah

Sistem perakaran tanaman dan serasah yang berubah menjadi humus akan memperbesar jumlah pori tanah. Karena humus bersifat lebih higroskopis dengan kemampuan menyerap air yang besar maka kadar air tanah hutan akan meningkat.

Jika hujan lebat terjadi, maka air hujan akan turun masuk meresap ke lapisan tanah yang lebih dalam menjadi air infiltrasi dan air tanah dan hanya sedikit yang menjadi air limpasan. Dengan demikian pelestarian hutan pada daerah resapan air dari kota yang bersangkutan akan dapat membantu mengatasi masalah air dengan kualitas yang baik.

15. Penapis Cahaya Silau

Manusia sering dikelilingi oleh benda-benda yang dapat memantulkan cahaya seperti kaca, aluminium, baja, beton dan air. Apabila permukaan yang halus dari benda-benda tersebut memantulkan cahaya akan terasa sangat menyilaukan dari arah depan, akan mengurangi daya pandang pengendara.

Keefektifan pohon dalam meredam dan melunakkan cahaya tersebut bergantung pada ukuran dan kerapatannya.

16. Mengurangi Stress, Meningkatkan Pariwisata dan Pencinta Alam

Kehidupan masyarakat di lingkungan hidup kota mempunyai kemungkinan yang sangat tinggi untuk tercemar, baik oleh kendaraan bermotor maupun industri. Petugas lalu lintas sering bertindak galak serta pengemudi dan pemakai jalan lainnya sering mempunyai temperamen yang tinggi diakibatkan oleh cemaran timbal dan karbon-monoksida. Oleh sebab itu gejala stress (tekanan psikologis) dan tindakan ugal-ugalan sangat mudah ditemukan pada anggota masyarakat yang tinggal dan berusaha di kota atau mereka yang hanya bekerja untuk memenuhi keperluannya saja di kota. Hutan kota juga dapat mengurangi kekakuan dan monotonitas.

b. Kerusakan Hutan dan Lingkungan

Ternyata dengan semakin tidak harmonisnya hubungan manusia dengan alam tumbuhan mengakibatkan keadaan lingkungan di perkotaan menjadi hanya maju secara ekonomi namun mundur secara ekologi. Padahal kestabilan kota secara ekologi sangat penting, sama pentingnya dengan nilai kestabilannya secara ekonomi. Oleh karena terganggunya kestabilan ekosistem perkotaan, maka alam menunjukkan reaksinya berupa: meningkatnya suhu udara, penurunan air tanah, banjir, penurunan permukaan tanah, intrusi air laut, abrasi pantai, pencemaran air berupa air minum berbau, mengandung logam berat, pencemaran udara seperti meningkatnya kadar CO2, ozon, karbon-dioksida, oksida nitrogen dan belerang, debu, suasana yang gersang, monoton, bising dan kotor.

Dalam waktu dua tahun terakhir kita merasakan peristiwa alam, seperti bencana banjir dan longsor. Diawali banjir bandang di Pacet, Mojokerto, Jawa Timur, pada 11 Desember 2002. Tak kurang dari 26 orang meninggal dunia dengan tragis. Di awal tahun 2003, banjir bandang Jakarta mengakibatkan beberapa penduduk tewas, puluhan ribu masyarakat harus mengungsi di Jakarta, Tangerang, dan Bekasi. Akibat ikutan lain, adanya banjir di Jakarta ini melumpuhkan kegiatan sektor swasta, termasuk pengiriman barang-barang ekspor mereka.

Di Mandalawangi, Garut, Jawa Barat pada tanggal 28 Januari 2003 telah terjadi tanah longsor dengan jumlah korban meninggal 21 orang. Memasuki akhir musim penghujan tahun 2002/2003 dikejutkan dengan peristiwa hujan lebat dan longsor di Flores, yang kemudian disusul peristiwa alam yang didominasi oleh kekeringan di Pantura Pulau Jawa. Pada akhir 2003 terjadi bencana banjir bandang yang sangat dahsyat di Bukit Lawang; Bahorok, Sumatera Utara pada tanggal 2 November 2003 yang membawa korban tidak kurang dari 134 orang meninggal serta ratusan lainnya hilang. Pada Desember 2003 beberapa wilayah Jambi terendam banjir sampai sekitar seminggu. Yang terakhir adalah peristiwa banjir besar di kota Mojokerto 4-5 Februari 2004.

Peristiwa alam dan lingkungan tersebut sebenarnya menunjukkan bahwa alam sedang bergolak menuju keseimbangan baru. Kondisi ini akan terus bergerak menyesuaikan diri terhadap intervensi manusia yang tidak pernah berhenti mempengaruhinya, serta kemungkinan perubahan alam itu sendiri yang perlu dicermati. Proses alam dalam menuju keseimbangan baru ini sering kurang bisa ditangkap maknanya oleh manusia, sebaliknya manusia seringkali saling menyalahkan bukannya mencari solusi yang arif.

Bencana alam, seperti banjir, yang terjadi pada tahun 2003 dan yang berlanjut sampai awal tahun 2004 kalau ditelusuri disebabkan oleh dua kelompok faktor yakni faktor yang tidak dapat dikendalikan manusia dan faktor yang dapat dikendalikan manusia. Curah hujan kecepatan angin, dan geologi merupakan contoh faktor yang tidak dapat dikendalikan oleh manusia.

Penelusuran faktor-faktor yang berpengaruh pada peristiwa alam yang menimbulkan bencana dua tahun terakhir ini menunjukkan bahwa ada faktor alamiah yang tidak bisa dikendalikan manusia, tetapi juga banyak faktor yang sebetulnya berasal dari intervensi manusia, termasuk arah kebijakan yang tidak tepat. Curah hujan dan intensitas hujan yang tinggi, angin kencang, gempa bumi, dan letusan gunung berapi merupakan contoh-contoh faktor alam yang tidak bisa dikendalikan manusia. Sedangkan masalah invasi spesies eksotik, illegal logging di kawasan hutan, pemukiman, dan budidaya pertanian di lereng gunung merupakan bentuk intervensi yang sebetulnya dapat dikendalikan manusia. Semua itu berpengaruh besar terhadap peristiwa banjir bandang dan tanah longsor. Antara faktor alam dan

faktor manusia sangat sulit dipisahkan karena adanya interaksi timbal balik dalam suatu ekosistem .

BAB III

PENUTUP

A.Kesimpulan

Hutan lindung sebagai salah satu sumber daya alam yang berperan menjaga, mempertahankan dan meningkatkan ketersediaan air dan kesuburan tanah merupakan urat nadi kehidupan manusia yang saat ini cenderung menurun keberadaannya. Perambahan dan pembalakan liar (illegal logging) terjadi di mana-mana dan menyebabkan kerusakan hutan yang tidak terkendali. Akibatnya bencana alam seperti banjir, tanah longsor sudah menjadi langganan pada musim hujan tiba yang tidak jarang menelan korban ratusan jiwa masyarakat yang tidak berdosa. Ironisnya, banyak pihak termasuk pemerintah selalu menyalahkan dan bahkan menuduh masyarakat sekitar kawasan hutan sebagai penyebab utama kerusakan hutan.

Tuduhan ini sangat tidak beralasan, apalagi jika dilihat secara dekat kondisi kehidupan masyarakat sekitar kawasan hutan, seperti kehidupan masyarakat sekitar kawasan hutan lindung Rogo Jampi yang sebagian besar (78%) dalam kondisi miskin dan tidak berdaya. Kondisi inilah perlu dipahami dan dijadikan salah satu pertimbangan dalam pengambilan kebijakan dan perencanaan penyusunan program, agar setiap kebijakan dan program tentang pengaturan pengelolaan hutan yang diambil tetap memperhatikan kondisi sosial budaya dan ekonomi masyarakat sekitar kawasan hutan lindung.

Paradigma perencanaan pengelolaan hutan dan pemberdayaan masyarakat yang sentralistik yaitu program dirancang dari atas tanpa melibatkan masyarakat harus diubah kearah peningkatan partisipasi masyarakat lokal secara optimal.

Anggapan sebagian elit bahwa untuk mencapai efisiensi pembangunan, masyarakat tidak mempunyai kemampuan menganalisis kondisi dan merumuskan permasalahan, serta solusi pemecahannya, harus diubah bahwa setiap individu memiliki potensi yang dapat dikembangkan dan masyarakatlah yang paling mengetahui dan mengenal potensi dan permasalahan yang mereka hadapi.

Perencanaan sentralistik dan anggapan bahwa masyarakat tidak mampu menganalisis dan merumuskan permasalahannya, disinyalir merupakan salah satu penyebab kegagalan program pengelolaan hutan dan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.

B. Saran

Dari penjelasan yang disampaikan pada bab-bab terdahulu maka dapat disarankan hal-hal sebagai berikut :

  1. Faktor-faktor yang mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat sekitar kawasan hutan lindung dapat segera diidentifikasi oleh pemerintah dan masyarakat sehingga dapat segera dicarikan solusi untuk proses pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan hutan lindung .
  2. Kepada masyarakat luas agar lebih memperhatikan kelestarian kawasan hutan lindung agar terhindar dari segala dampak buruk kerusakan hutan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Kerusakan Hutan, (http: //id. Wikipedia. Org/ kerusakan Hutan (27/05/2010))

Anonim. Kerusakan Hutan, (http: //www. bpkpenabur. or. id/node (27/05/2010))

Soemarwoto, Otto. 1997. Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Jakarta: Penerbit Djambatan.

Pengaruh Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Terhadap Kehidupan Manusia

MAKALAH

Ilmu Sosial Budaya Dasar

Pengaruh Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Terhadap Kehidupan Manusia
Disusun oleh:
Ayu Septyani (06091009006)
Pendidikan Biologi
Dosen Pengasuh: Dra. Yulia Djahir
Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2009/2010
……………………………………….
KATA PENGANTAR
Bismillahirrohmanirohhim,
Allah Maha Suci yang telah mengajarkan sebagian ilmunya dengan hikmah kepada hambanya. Syukur Alhamdulilah pemakalah haturkan kehadirat Allah yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga pemakalah dapat menyelasaikan makalah ini dengan judul Pengaruh Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Terhadap Kehidupan Manusia”. Makalah ini ditulis dan disusun sebagai upaya untuk memenuhi tugas makalah Ilmu Sosial Budaya Dasar semester genap tahun pelajaran 2009-2010.
Melalui kesempatan ini pemakalah mengucapkan terima kasih yang sedalam – dalamnya kepada :
  1. Dra. Yulia Djahir selaku dosen pengasuh mata kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar
  2. Semua pihak yang tidak bisa pemakalah sebutkan satu persatu yang telah memberikan bantuan baik moril maupun materil dalam penulisan.
Pemakalah menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, pemakalah sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi penyempurnaan Makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat. Amin.
Indralaya, 2 Juni 2010
Pemakalah
Ayu Septyani
………………………………………………………
Daftar Isi
Kata Pengantar…………………………………………………………………………i
Daftar isi……………………………………………………………………………….ii
Bab I Pendahuluan……………………………………………………………….…….1
1.1.Latar belakang……………………………………………………………… 1
1.2. Rumusan masalah…………………………………………………………………………..  1
1.3. Tujuan…………………………………………………………………………………………… 1
Bab II Tinjauan Pustaka…………………………………………………………………………………… 2
1.1.  Pengertian Ilmu Pengetahuan…………………………………………………………… 2
1.2.  Pengertian Teknologi……………………………………………………………………… 2
Bab III Pembahasan………………………………………………………………………………………… 3
3.1. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi………………………………………………………. 3
3.2. Penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kehidupan………………….. 5
3.3. Tanggung Jawab Manusia Terhadap Alam………………………………………….. 6
Bab IV Penutup………………………………………………………………………………………………. 7
4.1.Simpulan………………………………………………………………………………………… 7
4.2.Saran……………………………………………………………………………………………… 7
Daftar Pustaka
………………………………………………..
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Manusia sebagai salah satu makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, kedatangannnya di muka bumi dilengkapi dengan berbagai potensi. Potensi yang paling utama yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya adalah akal, budi, cipta rasa, karsa dan karya. Adanya potensi inilah manusia diangkat menjadi khalifah dimuka bumi ini dengan tugas pokok adalah mengurus, merawat, menjaga, dan lain-lain alam ini. Dengan adanya akal maka manusia bias menggunakan akal mereka untuk berpikir dan menghasilkan pemikiran yaitu ilmu pengetahuan dan teknologi.
Bidang-bidang yang secara dominan memberikan identitas kepada dinamika kreatifitas suat bangsa adalah ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan bisnis.
Dalam setiap kebudayaan selalu terdapat ilmu pengetahuan dan teknologi, yang digunakan sebgai acuan untuk menginterprestasikan dan memahami lingkungan beserta isinya yang digunakan sebagai alat untuk mengeksploitasi, mengelola dan memanfaatkannya untuk pemenuhan kebutuhan hidup manusia.
Dalam konteks ruang, manusia dengan alam saling mempengaruhi. Kualitas hubungan manusia dengan alam sangatlah bervariasi tergantung sejauh mana penguasaan manusia terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Atas dasar penguasaan ini ada beberapa masyarakat yang hidupnya sangat tergantung pada alam lingkungan, ada yang sudah mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya, ada yang mampu mengelola serta memanfaatkannya bagi keseuahteraan hidup mereka.
Ilmu pengetahuan dan teknologi semakin berkembang dan maju dari zaman ke zaman. Pola pemikiran manusia sudah berkembang dengan pesat untuk menciptakan sesuatu yang baru dan mempermudah dalam kehidupan bermasyarakat.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka rumusan masalah ini dirumuskan sebagai berikut “bagaimana pengaruh ilmu pengetahuan dan teknologi terhadap kehidupan manusia?.”
1.3. Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah dapat memahami:
  • Makna dari ilmu pengetahuan dan teknologi.
  • Pengaruh IPTEK terhadap kehidupan manusia
………………………………………………………….
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Ilmu Pengetahuaan
Dari sudut pandang filsafat ilmu
  • Ilmu adalah pengetahuan yang sudah diklasifikasi, diorganisasi, disistimatisasi, dan diinterprestasi sehingga menghasilkan kebenaran objektif, sudah diuji kebenarannya dan dapat di uji ulang secara ilmiah.
  • Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia melalui tangkapan panca indra, instuisi, dan firasat.
Secara etimologi
Ilmu berarti kejelasan, karena itu segala yang terbentuk dari akar katanya mempunyai ciri kejelasan.
Ilmu (science) dan pengetahuan (knowledge) mempunyai pengertian yang berbeda. Ilmu adalah pengetahuan yang telah memiliki sistematika tertentu atau memiliki ciri-ciri khas serta merupakan spesies dari genus yang disebut pengetahuan.
2.2. Pengertian Teknologi
  • Teknologi adalah salah satu unsur budaya sebagai hasil penererapan praktis dari ilmu pengetahuan.
  • Teknologi merupakan ilmu tentang teknik.
  • Teknologi adalah aplikasi dari prinsip-prinsip keilmuan sehingga menghasilkan sesuatu yang berarti bagi kehidupan manusia.
……………………………………………………………….
BAB III
PEMBAHASAN
3.1. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Dari sudut pandang filsafat, ilmu lebih khusus dibandingkan dengan pengetahuan. Suatu pengetahuan dapat dikategorikan sebgai ilmu apabila memenuhi tiga unsur pokok, yaitu:
  1. Ontologi
Ontologi merupakan bidang studi yang bersangkutan memiliki objek studi yang jelas. Objek studi harus dapat diidentifikasikan, dapat diberi batsan, dapat diuraikan, sifat-sifatnya yang esensial. Objek studi sebuah ilmu ada dua yaitu objek material dan objek formal.
  1. Efistimologi
Efistimologi merupakan bidang studi yang bersangkutan memiliki metode kerja yang jelas. Ada tiga metode kerja suatu bidang tertentu yaitu metode deduksi, induksi, dan eduksi.
  1. Aksiologi
Aksiologi merupakan bidang yang bersangkutan memiliki nilai guna atau kemanfaatannya. Bidang studi tersebut dapat menunjukkan nilai-nilai teoritis, hukum-hukum, generalisasi, kecenderungan umum, konsep-konsep dan kesimpulan-kesimpulan logis, sistematis, dan koheren. Dalam teori dan konsep tersebut tidak terdapat atau kesemerautan pikiran atau penentangan kontradiktif diantara satu sama lain.
Dalam pemikiran sekuler, ilmu pengetahuan mempunyai tiga karakteristik yaitu:
  1. objektif
  2. netral
  3. bebas nilai
Pada dasarnya teknologi juga karakteristik yaitu:
  1. objektif
  2. netral
(dalam situasi tertentu teknologi tidak netral lagi karena memiliki potensi untuk merusak dan potensi kekuasaan).
Kata ilmu dengn berbagai bentuknya terulang 854 kali al Quran. Kata ini digunakan dalam proses pencapaian pengetahuan dan objek pengetahuan sehingga memperoleh kejelasan. Dalam pemikiran islam ada dua sumber ilmu yaitu wahyu dan akal.
Ilmu mempunyai ciri-ciri dan standar-standar tertentu sebagai hasil konsensus para ilmuan. Ada semacam criteria of demarcation (Kaplan, 1963) antara pengetahuan yang telah berstatus ilmu dengan pengetahuan yang semta-mata hanya akal lumrah (common sense). Kriteria tersebut, yaitu:
  • ilmu memiliki objek formal dan materiil tertentu
  • sistematika isi dan wilayah studi yang disebut disiplin
  • terbuka
  • memiliki metode-metode tertentu.
Goldstein dan goldstein (1980) mengemukakan beberapa pengertian tentang ilmu, yaitu:
  • ilmu diartikan secra sempit, terbatas pada ilmu-ilmu eksakta seperti fisika, kimia, astronomi, dan matematika sebagi alatnya (organon, menurut aristoteles). Ilmu- ilmu ini ditandai oleh generalistik yang luas dan daya prediksi yang akurat. Akan tetapi, jika kriteria hukum generalistas dan kemampuan meramalkan sesuatu secara akuart dijadikan dasar pendefinisian ilmu, maka ilmu-ilmu sosial dan kemnusiaan akan sangat sulit memnuhinya, karena objek yang dihadapinya adalah menusia yang memiliki perasaan, pikiran dan kehendak.
  • Ilmu mengimplikasikan kemampuan untuk melalkukan eksperimen terkendali dalam rangka menguji teori dan hipotesis.
  • Ilmu dipahami berdasarkan dimensi pasifnya yang mengacu pada akumulasi fakta dan informasi sehingga membentuk suatu sistematika.
  • Ilmu dipandang berdasarkan dimensi aktifnya, yang lebih dari hanya akumulasi informasi, fakta, konsep, teori, melainkan sitem berpikir (Liek Wilardjo, 1987).
Ilmu merupakan cara kita memandang dunia, memahaminya dan mengubahnya (Goldstein dan goldstein, 1980). Cara pandang terhadap dunia mengimplikasikan bahwa ilmu merupakan aktivitas kreatif dan imajinatif manusia dalm upaya mencari dan menemukan kebenaran keilmuan. Aktifitas kreatif dan imajinatif ini diabdikan bagi kepentingan dan kesejahteraan umat manusia melalui upaya memajukan kebudayaan dan peradaban.
Teknologi adalah aplikasi dari prinsip-prinsip keilmuan sehingga menghasilkan sesuatu yang berarti bagi kehidupan manusia. Aplikasi prinsip-prinsip ini dapat dalam lapangan teknik maupun sosial. Melalui aplikasi inilah ilmu menemukan arti sosialnya, bukan hanya demi kepuasan intelektual ilmuan semata-mata. Dalam perkembangan kemudian, bukan hanya teknologi yang menggantungkan diri pada penemuan-penemuan sains, melainkan perkembangan sains mengikuti irama perkembangan teknologi.
Dengan memanfaatkan hasil-hasil inovasi teknologi, penelitian sains semakin berkembang cepat dan berbagai perspektif baru antara ilmu pengetahuan dengan teknologi membuat keduanya tidak bisa dipisahkan.
Teknologi dapat membawa dampak positif berupa kemajuan dan kesejahteraan bagi manusia juga sebaliknya dapat membawa dampak negatif berupa ketimpangan-ketimpangan dalam kehidupan manusia dan lingkungannya yang berakibat kehancuran alam semesta. Netralitas teknologi dapat digunakan untuk kemanfaatan sebesar-besarnya bagi kehidupan manusia atau digunakan untuk kehancuran manusia itu sendiri.
3.2. Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi bagi Kehidupan
Hal-hal yang bisa dilakukan manusia bagi kehidupan, yaitu
  1. Meningkatkan daya dukung lingkungan
  2. Mengembangkan potensi
  3. Pemanfaatan sumber daya alam menggunakan IPTEK.
  4. Manusia bisa menggunakan IPTEK dalam menciptakan sesuatu.
Penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kehidupan, yaitu:
  1. Perekayasaan pertanian untuk meningkatkan daya dukung lingkungan, berupa:
    • Pemupukan (kimia dan organik).
    • Pengelolaan tanah yang lebih baik (mekanik).
    • Pemilihan bibit unggul (hayati).
    • Perbaikan pengairan melalui organisasi dan kelembagaan (sosial).
  2. Daya dukung lingkungan hutan, berupa:
  • Penggunaan mesin-mesin berat untu menebang pohon.
Dampak positif dalam penerapan IPTEK
  1. Meningkatkan daya dukung lingkungan
  2. Meningkatkan kesejahteraan umat manusia
  3. Mempermudah pekerjaan
  4. Pengetahuaan semakin berkembang.
  5. Membuat manusia semakin kreatif dalam menciptakan sesuatu.
Selain itu, ada dampak negatifnya:
  1. Tekanan terhadap lingkungan, berupa:
    • Eksploitasi hutan, sungai, laut dan lain-lain.
  2. Menimbulkan masalah lingkungan, misalnya erosi, pencemaran, dan banjir.
  3. Ketimpangan-ketimpangan dalam kehidupan manusia dan lingkungannya yang berakibat kehancuran alam semesta.
3.3. Tanggung Jawab Manusia Terhadap Alam
Manusia sebagai khalifah adalah untuk bertanggung jawab menjaga keseimbangan alam dan lingkungannya tempat tinggal. Manusia diberikan kebebasan untuk mengeksplorasi, menggali sumber-sumber daya, serta memanfaatkannya dengan sebesar-besar kemanfaatan.
Untuk menggali potensi alam dan memanfaatkannya diperlukan ilmu pengetahuan yang memadai. Hanya orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan  yang cukup  atau para ilmuan yang sanggup mengeksplorasi sumber alam ini.
………………………………………………………………….
BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
  1. Ilmu (science) dan pengetahuan (knowledge) mempunyai pengertian yang berbeda. Ilmu adalah pengetahuan yang telah memiliki sistematika tertentu atau memiliki ciri-ciri khas serta merupakan spesies dari genus yang disebut pengetahuan.
  2. Teknologi adalah aplikasi dari prinsip-prinsip keilmuan sehingga menghasilkan sesuatu yang berarti bagi kehidupan manusia.
  3. Penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kehidupan sanagt baik dan manusia harus mempunyai tanggung jawab terhadap kehidupan.
4.2. Saran
Dengan kita memanfaatkan hasil-hasil inovasi teknologi, penelitian sains semakin berkembang cepat dan berbagai perspektif baru maka kehidupan kita akan lebih maju.
…………………………………………………………….
DAFTAR PUSTAKA
Tim Penyusun. 2009. Ilmu sosial Budaya Dasar. Indralaya: Penerbit Unsri.
Supriadi, Dedi. 1998. Kreatifitas, Kebudayaan, dan Perkembangan IPTEK. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Masalah Belajar Pada Anak

Jenis-jenis Masalah Belajar dan Faktor Penyebabnya

Masalah belajar adalah suatu kondisi tertentu yang dialami oleh murid dan menghambat kelancaran proses belajarnya. Kondisi tertentu itu dapat berkenaan dengan keadaan dirinya, yaitu berupa kelemahan-kelemahan yang dimilikinya dan dapat juga berkenaan dengan lingkungan yang tidak menguntungkan bagi dirinya.
Masalah-masalah belajar ini tidak hanya dialami oleh murid-murid yang lambat saja dalam belajarnya, tetapi juga dapat menimpa murid-murid yang pandai atau cerdas.
Dari pengertian masalah belajar di atas maka jenis-jenis masalah belajar dapat dikelompokkan kepada murid-murid yang mengalami.
  1. Keterlambatan akademik, yaitu keadaan murid yang diperkirakan memiliki intelegensi yang cukup tinggi, tetapi tidak dapat memanfaatkan secara optimal.
  2. Kecepatan dalam belajar, yaitu keadaan murid yang memiliki bakat akademik yang cukup tinggi atau memilki IQ 130 atau lebih, tetapi masih memerlukan tugas-tugas khusus untuk memenuhi kebutuhan dan kemampuan belajarnya yang amat tinggi.
  3. Sangat lambat dalam belajar, yaitu keadaan murid yang memilki bakat akademik yang kurang memadai dan perlu dipertimbangkan untuk mendapatkan pendidikan atau pengajaran khusus.
  4. Kurang motivasi belajar, yaitu keadaan murid yang kurang bersemangat dalam belajar, mereka seolah-olah tampak jera dan malas.
  5. Bersikap dan kebiasaan buruk dalam belajar, yaitu kondisi murid yang kegiatannya atau perbuatan belajarnya sehari-hari antagonistik dengan seharusnya, seperti suka menunda-nunda tugas, mengulur-ulur waktu, membenci guru, tidak mau bertanya untuk hal-hal yang tidak diketahui dan sebagainya.
  6. Sering tidak sekolah, yaitu murid-murid yang sering tidak hadir atau menderita sakit dalam jangka waktu yang cukup lama sehingga kehilanggan sebagian besar kegiatan belajarnya.
Faktor yang menyebabkan timbulnya masalah belajar, yaitu :
A.. Faktor-faktor internal (faktor-faktor yang berada pada diri murid itu sendiri), yaitu :
1. Gangguan secara fisik, seperti kurang berfungsinya organ-organ perasaan, alat bicara, gangguan panca indera, cacat tubuh, serta penyakit menahun.
2. Ketidakseimbangan mental (adanya gangguan dalam fungsi mental), seperti menampakkan kurangnya kemampuan mental, taraf kecerdasan cenderung kurang.
3.  Kelemahan emosional, seperti merasa tidak aman, kurang bisa menyusuaikan diri (maladjusment), tercekam rasa takut, benci dan antipati, serta ketidak matangan emosi.
4.  Kelemahan yang disebabkan oleh kebiasaan dan sikap yang salah, seperti kurang perhatian dan minat terhadap pelajaran sekolah malas dalam belajar, dan sering bolos atau tidak mengikuti pelajaran.
B.   Faktor-faktor eksternal (faktor-faktor yang timbul dari luar diri individu), yaitu berasal dari:
1. Sekolah, antara lain:
  • · Sifat kurikulum yang kurang fleksibel
  • · Terlalu berat beban belajar (murid) dan untuk mengajar (guru)
  • · Metode mengajar yang kurang memadai
  • · Kurangnya alat dan sumber untuk kegiatan belajar.
2. Keluarga (rumah), antara lain:
  • · Keluarga tidak utuh atau kurang harmonis
  • · Sikap orang tua yang tidak memperhatikan pendidikan anaknya
  • · Keadaan ekonomi.

Kerusakan Lingkungan Pedesaan

Usaha untuk menaikkan dayadukung lingkungan dengan menaikkan luas lahan yang digunakan untuk pertanian adalah salah satu reaksi terhadap kenaikan kepadatan penduduk yang sangat umum terjadi. Reaksi itu merupakan kekuatan yang disebut tekanan penduduk. Usaha itu dapat dilakukan secara orang-seorang dan dapat juga dilakukan oleh Pemerintah, seperti misalnya transmigrasi. Perluasan yang dilakukan secara orang-seorang umumnya terjadi di daerah yang dekat dengan desa pemukimannya. Perluasan itu pada mulanya dilakukan pada lahan yang sesuai untuk pertanian, yaitu lahan yang datar atau berlereng landai dan yang subur. Hutan di dataran rendah di Jawa dan Bali, misalnya, telah lama hilang dan telah berubah menjadi daerah pertanian. Lama kelamaan terambil juga lahan yang kurang sesuai, tidak subur dan daerah yang lerengnya curam.
Tekanan penduduk terhadap lahan diperbesar oleh  bertambahnya luas lahan pertanian yang digunakan untuk keperluan lain, misalnya pemukiman, jalan, dan pabrik. Lahan yang dipakai untuk keperluan ini biasanya justru yang subur. Sebab di negara agraris pemukiman tumbuh di daerah yang subur. Pemukiman itu menjadi pusat pertumbuhan, dengan prasarana yang relatif baik dan dekat dengan pasar. Beberapa contoh ialah tumbuhnya pemukiman dan perindustrian di sekitar kota besar, seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya. Pesawahan yang subur makin tertelan habis. Yang serupa kita lihat di Lombok. Lombok Barat yang subur mengalami pertumbuhan yang cepat. Di daerah ini terdapat banyak sawah. Sebaliknya Lombok Timur yang kurang subur, pertumbuhannya lamban. Akibatnya di Lomboh sawah makin berkurang.
Ironinya, orang desa pemilik sawah dan para buruh tani yang kehilangan sawahnya dan lapangan pekerjaannya, tidak banyak yang dapat menikmati pembangunan itu, oleh karena pendidikannya yang rendah dan tidak adanya ketrampilan. Para pemilik sawah masih agak lumayan, karena mereka menerima ganti rugi untuk lahannya. Mereka dapat membeli lahan lagi, namun pada gilirannya pembelian ini menggusur petani yang lain. Para buruh tani tidak mendapat ganti rugi apa-apa. Ketidakmampuan petani dan buruh tani untuk memanfaatkan pembangunan itu meruapkan juga faktor penting yang menyebabkan kenaikan tekenan penduduk terhadap lahan dengan menyempitkan lahan pertanian.
Proses perubahan tataguna lahan dapat diikuti dengan membandingkan peta tatauna lahan dari berbagai tahun. Dapat juga dengan membandingkan potret udara dan citra satelit dari bebagai tahun. Dari perbandingan itu dapat dilihat bertambahnya jumlah desa, bertambahnya luas daerah pemukiman dan berkurangnya luas daerah pertanian dan hutan. Dengan cara ini dapat diketahui, bahwa, misalnya, hutan di DAS Citarum hulu di Jawa Barat telah menyusut dengan kira-kira 30% dalam tahun 1960-an. Di Jawa Barat, hutan dataran rendah praktis telah habis. Hutan bakau juga sudah banyak berkurang. Yang relatif masih banyak hutan ialah di pegunungan di atas 1.500 m.
Di daerah perladangan berpindah kenaikan kepadatan penduduk juga meningkatkan tekanan penduduk terhadap lahan karena naiknya kebutuhan akan pangan. Akibatnya ialah diperpendeknya masa istirahat lahan. Misalnya, masa istirahat semula 25 tahun. Dalam masa istirahat yang panjang ini hutan mempunyai cukup waktu untuk pulih lagi. Di lantai hutan terbentuk lapisan seresah cukup tebal. Hutan sekunder ini, apabila dibuka untuk perladangan, dapat memberikan hasil yang baik. Dengan makin naiknya kepadatan penduduk, masa istirahat akan makin pendek yang berarti periosde untuk tumbuhnya kembali hutan juga makin pendek. Dengan demikian hutan yang terbentuk makin buruk, sampai akhirnya hutan tidak dapat lagi terbentuk kembali. Paling-paling hanya semak belukar saja, atau bahkan sama sekali tidak ada hutan lagi.
Kerusakan hutan membawa banyak akibat
Hutan mempunyai fungsi perlindungan terhadap tanah. Tetesan hujan yang jatuh dari awan mempunyai energi tertentu, karena gerak jatuhnya. Energi gerak itu disebut energi kinetis, dengan energinya itu tetesan hujan memukul permukaan tanah dan melepaskan butir tanah. Hal ini dapat kita lihat, misalnya, pada tembok halaman yang bagian bawahnya setinggi 25-50 cm berwarna coklat karena tertutup oleh butiran tanah yang terlempar oleh kekuatan tetesan hujan. Ini disebut erosi percikan.
Air hujan yang tidak meresap ke dalam tanah akan mengalir di atas permukaan tanah. Aliran air ini mempunyai juga energi tertentu. Makin curam dan panjang lereng tempat air mengalir, makin besar energinya. Energi kinetik aliran ini akan mengelupas permukaan tanah, yaitu yang disebut erosi permukaan. Aliran air permukaandapat pula menyebabkan terbetnuknya alur pada permukaan tanah, dan disebut erosi alur. Alur yang terbentukd apat kecil atau besar.
Jika ada hutan, tetesan air hujan akan jatuh di tajuk hutan yang umumnya berlapis-lapis. Sebagian air hujan itu akan menguap kembali ke udara. Sebagian lagi lolos jatuh ke bawah melalui tajuk teratas dan berturut-turut jatuh ke lapisan tajuk yang makin rendah. Akibatnya kekuatan energi kinetik air hujan dipatahkan oleh tajuk pohon yang berlapis-lapis itu. Akibatnya waktu air hujan jatuh dari tajuk yang rendah, energi kinetiknya tinggal kecil saja, sehingga kekuatan pukulan pada permukaan tanah tidak lagi besar. Dengan demikian erosi percikan hanyalah kecil saja.
Sebagian air yang jatuh di tajuk akan mengalir melalui dahan ke batang pohon dan selanjutnya mengalir ke bawah melalui batang pokok sampai ke tanah. Di hutan di atas permuikaan tanah terdapat seresah, yaitu daunk, dahan dan kayu yang membusuki. Seresah ini bekerja sebagai spons dan menyerap air. Seresah juga membuat tanah menjadi gembur dan membuat air mudah meresap ke dalam tanah. Karena penyerapan air oleh seresah dan peresapan air ke dalam tanah, aliran air permukaan menjadi kecil, sehingga erosi lapisan dan erosi alur juga kecil.
Dengan hilangnya hutan, fungsi perlindungan hutan terhadap tanah juga hilang. Terjadilah erosi. Erosi makin besar dengan makin curamnnya dan panjangnya lereng. Erosi juga makin besar dengan makin tinggi intensitas hujan. Yang dimaksud dengan intensitas hujan aialah curahan hujan persatuan waktu. Di Indonesia intesitas hujan pada umumnya tinggi. Oleh karena itu, walaupun Nusa Tenggara Timur, misalnya, musim hujannya pendek, tetapi karena intensitas hujannya tinggi, bahaya erosi toh besar juga.
Erosi mempunyai beberapa akibat buruk. Pertama, penurunan kesuburan tanah. Tanah yang subur ialah yang tersapat di lapisan atas. Tanah lapisan bawah tidaklah subur. Dengan hilangnya lapisan atas oleh erosi, hilanglah kesuburan tanah. Akibat berikutnya ialah menurunnya produksi, yang selanjutnya akan mengurangi pendapatan petani. Oleh karena itu erosi mempunyai efek mengurangi persediaan makanan dan memelaratkan penduduk. Hal ini terlihat dengan jelas di daerah yang mengalami erosi berat, seperti di daerah Solo Selatan. Karena penduduk melarat dan kekurangan makanan secara kronis, mereka tidak dapat mengambil tindakan pencegahan erosi tanpa bantuan. Dengan demikian erosi berjalan terus, tingkat kehidupan dan kesehatan makin merosot dan tingkat kemampuan untuk melindungi tanah makin berkurang. Terjadilah proses spiral yang meluncur ke bawah, makin lama makin buruk.
Efek ersoi tidak hanya lokal, melainkan menyebar jauh ke hilir. Tanah yang tererosi terbawa oleh air dan menjadikan air itu berwarna coklat. Air yang mengandung lumpur ini subur, karena lumpur itu berasal dari tanah permukaan yang subur. Karena itu air itu baik untuk pengairan. Tetapi lumpur itu akan mengendap, manakala arus air berkurang kecepatannya. Akibatnya ialah sungai, waduk, saluran pengairan dan pelabuhan menjadi dangkal. Pendangkalan sungai berarti berkurangnya volume alur sungai, sehingga kemampuan sungan untuk mengalirkan air juga berkurang. Karena itu waktu musim hujan, bahaya meluapnya banjir meningkat.
Pendangkalan sungai juga menghambat lalu lintas sungai. Misalnya, Bengawan Solo, yang dalam lagu Bengawan Solo masih disebutkan dapat dilayari oleh perahu sampai jauh ke pedalaman, kin praktis tidak dapat lagi, terutama dalam musim kemarau. Banyak sungai di Sumatera dan Kalimantan sedang mengalami proses yang sama. Demikian pula Selat Malaka mengalami proses pendangkalan oleh endapan lumpur yang terbawa sungai yang bermuara di selat itu. Pendangkalan ini mempersulit lalu lintas kapal besar, misalnya kapal tangker raksasa.
Pendangkalan waduk mengurangi umur waduk. Hal ini terjadi secara drastis di waduk Selorejo, Karangkates dan Wanagiri. Dengan berkurangnya umur waduk dari yang diperhitungkan semula, nisbah manfaat terhadap biaya akan menjadi lebih kecil, yang berarti merupakan kerugian ekonomi. Oleh karena di banyak tempat erosi menunjukkan kecenderungan yang meningkat, perhitungan umur dan nisbah manfaat terhadap biaya waduk tidak cukup dihitung dari laju erosi pada waktu waduk direncanakan , melainkan harus pula diperhatikan laju kenaikan erosi.
Pedangkalan salurn pengairan mengakibatkan naiknya biaya pemeliharaan. Lumpur juga mengendap di petak sawah dan mempersulit masuknya air dari saluran ke sawah. Lumpur ini harus disingkirkan secara teratur. Tetapi dalam banyak hal lumpur itu tidak dapat dibuang dan terpaksa di tumpuk. Dan terjadilah petak tanah yang lebih tinggi yang ditanami dengan palawija di tengah petak sawah. Keadaan ini tentulah mengurangi produksi padi, walaupun produksi palawija meningkat.
Pendangkalan pelabuhan terjadi di banyak tempajt. Karena pendangkalan ini garis pantai bergerak terus ke arah laut, terutama di dekat muara sungai. Ditemukannya perahu di bawah tanah di kota Semarang pada waktu membangun pondasi gedung, menunjukkan bahwa dulu pelabuhan Semarang terletak jauh ke arah daratan dari sekarang. Pendangkalan pelabuhan tentulah mempunyai efek ekonomi yang merugikan. Ukuran kapal yang dapat berlabuh berkurang. Karena gerakan pantai, para nelayan harus mengeluarkan ongkos yang lebih banyak untuk mengangkut ikan dari tempat tambatan ke pasar.
Kandungan lumpur yang tinggi dalam air sungai dan waduk, juga menurunkan produksi ikan. Efek lainnya ialah menurunnya nilai estetis, dan dengan demikian menrunkan potensi pariwisata, waduk yang jernih lebih menarik bagi wisatawan dari waduk yang airnya keruh.
Lumpur yang terbawa oleh sungai ke laut juga mematikan terumbu karang. Kematian terumbu karang mengurangi produksi ikan dan menghilangkan potensi pariwisata.
Uraian di atas menunjukkan betapa besar dan luasnya pengaruh erosi terhadap lingkungan hidup. Menurut perkiraan Bank Dunia di Jawa kerugian per tahun yang disebabkan oleh erosi berkisar antar US $ 340,6 dan US $ 406,2 juta.
Hutan juga mempunyai fungsi perlindungan terhadap tata air. Dengan adanya seresah di lantai hutan dan struktur tanah hutan yang gembur, air hujan terserap oleh serasah dan masuk ke dalam tanah. Karena itu di dalam musim hujan debit maksimum air dapat dikurangi. Kecuali itu naiknya debit air karena turunnya hujan, terjadi dengan perlahan-lahan. Dengan demikian bahaya banjir berkurang. Bahaya banjir sekonyong-konyong, yaitu yang disebut banjir bandang, juga menurun.
Karena banyak air hujan yang meresap ke dalam tanah, persediaan air tanah bertambah. Sebagian air tanah akan keluar lagi di daerah yang lebih rendah sebagai mata air. Karena itu dengan bertambahnya cadangan air tanah, mata air dan sumur yang hidup dalam musim kemarau juga lebih banyak daripada tanah hutan. Jadi efek hutan adalah mengurangi risiko kekurangan air dalam musim kemarau.
Tetapi hutan juga mempunyai segi negatifnya. Penguapan air di daerah yang berhutan, yaitu evapotranspirasi, lebih besar dari di daerah yang tidak berhutan. Karena itu, dengan adanya hutan presentasi air hujan yang dapat dimanfaatkan berkurang. Misalnya, diketahui bahsa di DAS  Citarum curahan hujan yang menjadi aliran sungai pada waktu sebelum Perang Dunia II adalah 47% dan dalam tahun 1970-an  meningkat menjadi 52%. Peningkatan ini berbarengan dengan berkurangnya luas hutan. Jadi hutan tidaklah menambah persediaan air, melainkan justru mengurangi, tetapi hutan mengurangi bahaya banjir.
Fungsi hutan adalah juga untuk menyimpan sumberdaya gen. Karena itu efek kerusakan hutan lain yang penting dan perlu diperhatikan ialah erosi sumberdaya gen. Artinya, jumlah jenis hewan dan tumbuhan berkurang. Banyak orang  berpendapat Indonesia kaya raya dalam sumber daya gen dan kerena luasnya hutan kita, kerusakan hutan tidak banyak pengaruhnya terhadap kekayaan sumberdaya gen itu. Tetapi yang kurang diinsyafi ialah karena jumlah jenisnya banyak, jumlah individu per jenis tidaklah besar. Karena itu banyak jenis kepekaan besar terhadap kepunahan. Kepuhan jenis mengurangi kekayaan sumberdaya gen.
Lahan yang telah mengalami kerusakan hidro-orologi dan sosial-ekonomi disebut lahan kritis.