PENGARUH KOMPOS ALANG-ALANG (Imperata cylindrica L.) DAN KOTORAN AYAM TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN CAISIM (Brassica juncea L.) DAN SUMBANGANNYA PADA MATA PEMBELAJARAN BIOLOGI DI SMA


ABSTRAK
Penelitian dengan menggunakan kompos alang-alang (Imperata cylindrica L.) dan kotoran ayam telah dilakukan untuk mengetahui pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman caisim (Brassica juncea L.). Metode yang digunakan adalah metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri dari tujuh perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan pada penelitian ini yaitu P1 (0%AA : 100%KA), P2 (20%AA : 80%KA), P3 (40%AA : 60%KA), P4 (50%AA : 50%KA), P5 (60%AA : 40%KA), P6 (80%AA : 20%KA), P7 (100%AA : 0%KA). Data dianalisis dengan perhitungan sidik ragam dan uji BJND. Hasil penelitian didapatkan rata-rata jumlah daun tanaman caisim yang tertinggi pada perlakuan P6 yaitu 15,00 helai, rata-rata berat basah taruk tertinggi pada perlakuan P6 yaitu 63,93 gram, rata-rata basah akar tertinggi pada perlakuan P6 yaitu 2,18 gram, rata-rata berat kering taruk tertinggi pada perlakuan P6 yaitu 4,24 gram dan rata-rata berat kering akar tertinggi pada perlakuan P6 yaitu 0,29 gram. Analisis keragaman dan Uji Beda Jarak Nyata Duncan (BJND) menunjukkan bahwa kompos alang-alang dan kotoran ayam pada perlakuan P6 merupakan perlakuan memberikan hasil paling efektif dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman caisim. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kompos alang-alang dan kotoran ayam berpotensi dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman caisim. Informasi hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi alternatif contoh kontekstual pada pembelajaran Biologi Kelas XII Semester 1 pada KD. 3.1 Menganalisis hubungan antara faktor internal dan eksternal dengan proses pertumbuhan dan perkembangan pada makhluk hidup berdasarkan hasil percobaan.

Kata kunci : kompos alang-alang, kotoran ayam, caisim, pertumbuhan

Skripsi Mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UNSRI

Nama : Puspita Sari

Nomor Induk Mahasiswa : 06091009033

Dosen Pembimbing : 1. Dr. Rahmi Susanti, M.Si

  1. Drs. Endang Dayat, M.Si

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tumbuhan alang-alang (Imperata cylindrica L.) atau ilalang lebih sering dikenal sebagai tumbuhan penggangu atau gulma. Di Indonesia alang-alang menyebar di seluruh pulau. Tumbuhan ini banyak tumbuh liar di tanah yang kering dan banyak mendapat sinar matahari. Alang-alang memiliki kemampuan bersaing yang tinggi dengan tanaman lain dalam penggunaan hara dan air, dapat mengeluarkan zat yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman lain (allelopathy) dan rentan terhadap bahaya kebakaran (Kharisma, 2006). Mengingat jumlahnya yang melimpah, maka merupakan langkah positif bila terdapat usaha-usaha untuk meningkatkan nilai manfaat dari alang-alang.

Daun alang-alang merupakan bahan organik yang mengandung unsur makro dan mikro yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber hara bagi pertumbuhan tanaman. Menurut Rauf dan Ritonga (1998) dalam Gusniwati, dkk., (2008), kandungan unsur makro dan mikro pada daun alang-alang adalah 0,71% N; 0,67% P, 1,07% K; 0,76% Ca; 0,55% Mg; 5,32% Si. Dilihat dari kandungan unsur makro dan mikro pada alang-alang, diketahui bahwa alang-alang merupakan sumber hara yang jumlahnya cukup besar dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kompos. Namun alang-alang memiliki nisbah C/N yang cukup tinggi sekitar 87,44 pada keadaan kering (Quddusy, 1999). Nisbah C/N yang tinggi pada bahan organik tidak dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman jika tidak dikomposkan terlebih dahulu. Sebab proses penguraian bahan organik tersebut akan terjadi di dalam tanah, yang berakibat terjadinya persaingan antara tanaman dan mikroba dalam memperbutkan unsur makro dan mikro yang terdapat di dalam tanah. Selain itu nisbah C/N yang tinggi akan membuat proses pengomposan semakin lama. Sehingga perlu ditambahkan bahan lain seperti kotoran ternak yang memiliki nisbah C/N yang rendah.

Kotoran ternak bermanfaat bagi tanaman karena mengandung unsur makro dan mikro yang dapat dimanfaatkan bagi pertumbuhan tanaman. Kandungan hara dalam kotoran ternak yang penting untuk tanaman antara lain unsur nitrogen (N), phospor (P), dan kalium (K). Ketiga unsur ini memiliki fungsi yang sangat penting bagi pertumbuhan tanaman. Masing-masing kotoran dari ternak yang berbeda memiliki nisbah C/N yang berbeda pula. Nisbah C/N kotoran domba yaitu 29 (Wibisono dan Basri (1993) dalam Wibowo (2011). Menurut Suwono (2005) dalam Yulianto, dkk., (2012), nisbah C/N kotoran sapi yaitu 20, nisbah C/N kotoran kuda yaitu 25, dan nisbah C/N kotoran ayam yaitu 10. Ditambahkan oleh Djaja (2008) bahwa kotoran ternak yang memiliki nisbah C/N yang paling rendah yaitu kotoran ayam dengan nisbah C/N 10. Kadar hara kotoran ayam yaitu 1,00% N; 0,80% P; 0,40% K, dan 55,0% kadar air (Lingga, 1986). Umumnya kotoran ayam mengandung N tinggi dan sedikit kering, karena itu menggunakan kotoran ayam sebaiknya dicampur dengan serbuk gergaji atau serutan kayu sehingga memiliki kualitas kompos yang baik.

Kompos merupakan hasil pelapukan bahan-bahan berupa daun-daunan, jerami, alang-alang, rumput, kotoran hewan, sampah kota, dan lain sebagainya yang proses pelapukannya dapat dipercepat dengan bantuan manusia. Prinsip pengomposan adalah menurunkan kadar C/N (karbon/nitrogen) yang terdapat pada sisa tanaman masih segar umumnya masih tinggi (bergantung pada jenis tanamannya) sehingga perbandingan C/N-nya mendekati C/N tanah. Proses penguraian bahan organik yang memiliki nisbah C/N yang tinggi akan dilakukan di dalam tanah yang dapat menyebabkan terjadinya persaingan antara tanaman dan mikroba dalam memperebutkan unsru hara. Oleh sebab itu, bahan organik yang memiliki nisbah C/N yang tinggi sebaiknya dikomposkan terlebih dahulu sebelum diaplikasikan ke tanaman (Lingga, 1986).

Nisbah C/N sangat penting untuk diperhatikan sebab berpengaruh langsung terhadap kehidupan mikroorganisme yang berperan dalam proses pengomposan. Nisbah C/N dalam bahan komposan yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dapat menghambat laju pertumbuhan mikroorganisme yang menyebabkan proses pengomposan menjadi terganggu dan berjalan lambat sehingga akan berpengaruh terhadap produksi dan penyusutan bahan komposan (Yurmiati dan Yuli, 2008). Nisbah C/N yang baik menurut Standar Nasional Indonesia (SNI) yaitu berkisar 10-20 (Badan Standarisasi Nasional, 2004). Bahan kompos seperti daun alang-alang dengan nisbah C/N yang tinggi sebaiknya ditambahkan dengan kotoran ternak yang memiliki nisbah C/N rendah. Kotoran ternak yang memiliki nisbah C/N rendah yaitu kotoran ayam dengan nisbah C/N 10. Penggabungan bahan organik berupa daun alang-alang yang memiliki nisbah C/N tinggi dengan kotoran ayam yang memiliki nisbah C/N rendah diharapkan dapat menghasilkan kompos berkualitas baik yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman.

Pada penelitian ini kompos alang-alang dan kotoran ayam akan diuji pengaruhnya pada tanaman caisim (Brassica juncea L.) yang merupakan tanaman sayuran yang memiliki nilai komersial dan digemari masyarakat Indonesia. Tanaman caisim memiliki masa panen yang singkat dan pasar yang terbuka luas. Kandungan zat gizi dalam 100 gram sawi mengandung protein 2,3 g, lemak 0,3 g, karbohidrat 4,0 g, Ca 220,0 mg, P 38,0 mg, Fe 2,9 mg, vitamin A 1.940,0 mg, vitamin B 0,09 mg, dan vitamin C 102,0 mg. Caisim juga bermanfaat sebagai obat yaitu penyembuh sakit kepala dan mampu bekerja sebagai pembersih darah (Haryanto, dkk., 2007)

Informasi hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan materi pembelajaran biologi di SMA kelas XII semester I pada Kompetensi Dasar 3.1 Menganalisis hubungan antara faktor internal dan eksternal dengan proses pertumbuhan dan perkembangan pada makhluk hidup berdasarkan hasil percobaan. Penulis menyumbangkan hasil penelitian dalam bentuk perangkat pembelajaran (Silabus, RPP, Wacana hasil penelitian dan LKS).

1.2 Rumusan Masalah

  1. 1. Apakah ada pengaruh kompos alang-alang (Imperata cylindrica) dan kotoran ayam terhadap pertumbuhan tanaman caisim (Brassica juncea L.)?
  2. 2. Berapa perbandingan takaran kompos alang-alang (Imperata cylindrica) dan kotoran ayam yang dapat memberikan pengaruh sifnifikan pada pertumbuhan tanaman caisim (Brassica juncea L.)?

1.3 Batasan Masalah

Untuk mempermudah dalam pelaksanaan penelitian ini, maka peneliti membatasi permasalahan sebagai berikut :

  1. Bahan kompos merupakan bagian tajuk alang-alang,
  2. Ukuran bahan alang-alang dicacah 0,5 cm hingga 1 cm,
  3. Kotoran ayam yang digunakan merupakan pupuk kandang kotoran ayam yang telah kering yang tercampur dengan bahan lain.
  4. Tanaman yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanaman caisim (Brassica juncea)
  5. Parameter yang diamati adalah jumlah daun, berat basah tajuk dan akar, berat kering tajuk dan akar.

1.4 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk :

  1. Mengetahui apakah ada pengaruh kompos alang-alang (Imperata cylindrica) dan kotoran ayam terhadap pertumbuhan tanaman caisim (Brassica juncea L.)?
  2. Menentukan takaran kompos alang-alang (Imperata cylindrica) dan kotoran ayam yang memberikan pengaruh terbaik pada pertumbuhan tanaman caisim (Brassica juncea L.)

1.5 Hipotesis

H0 : Kompos alang-alang (Imperata cylindrica L.) dan kotoran ayam tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan tanaman caisim (Brassica juncea L.)

H1 : Kompos alang-alang (Imperata cylindrica L.) dan kotoran ayam berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan tanaman caisim (Brassica juncea L.)

1.6 Manfaat Penelitian

  1. 1. Hasil penelitian diharapkan dapat memberi informasi mengenai pemanfaatan alang-alang dan kotoran ayam sebagai kompos yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman
  2. 2. Sebagai masukan dalam pelajaran Biologi di SMA Kelas XII, semester I pada Kompetensi Dasar 3.1 Menganalisis hubungan antara faktor internal dan eksternal dengan proses pertumbuhan dan perkembangan pada makhluk hidup berdasarkan hasil percobaan. Peneliti menyumbangkan hasil penelitian berupa rencana pelaksanaan pembelajaran, wacana hasil penelitian, dan LKS.
Pengaruh Kompos Alang-alang (Imperata cylindrica L.) dan Kotoran Ayam terhadap Pertumbuhan Tanaman Caisim (Brassica juncea L.)

Wacana Hasil Penelitian

Caisim (Brassica juncea L.) merupakan salah satu jenis sayuran yang yang digemari oleh masyarakat Indonesia (Nurshanti, 2009). Tangkai daunnya panjang, langsing, dan berwarna putih kehijauan, daunnya lebar memanjang, tipis, dan berwarna hijau. Rasanya yang renyah dan segar dengan sedikit sekali rasa pahit, membuat sawi ini banyak diminati. Selain enak ditumis dan dioseng, caisim banyak dibutuhkan oleh pedagang mi bakso, mie ayam atau restoran masakan cina (Haryanto, dkk., 2007)

gambar tidak bisa ditampilkan

Gambar 1. Tanaman Caisim (Brassica juncea L.) (sumber : Sari, 2014)

Caisim bukan merupakan tanaman asli Indonesia. Tanaman sawi dapat tumbuh di tempat yang berhawa panas maupun berhawa dingin, sehingga dapat diusahakan di dataran tinggi maupun dataran rendah. Meskipun begitu, tanaman sawi dapat tumbuh baik dengan iklim yang kering pada suhu 15-20 0C dan ketinggian 5 – 1200 m dpl. Adapun syarat-syarat penting bertanam caisim ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus, drainasenya baik, dan pH tanahnya antara 6-7. Waktu tanam yang baik ialah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian, tanaman ini dapat pula ditanam pada musim kemarau asalkan tersedia cukup air (Sunarjono, 2013). Pertumbuhan caisim dipengaruhi oleh 2 faktor, yaitu faktor internal meliputi gen dan hormon, dan faktor eksternal meliputi nutrisi, udara, oksigen, cahaya matahari, dan kelembapan udara.

Nutrisi dapat dperoleh dari penambahan pupuk terhadap tanaman, selain juga dapat diperoleh dari tanah. Pupuk ialah bahan yang diberikan ke dalam tanah baik yang organik maupun yang anorganik dengan maksud untuk menggantikan kehilangan unsur hara dari dalam tanah dan bertujuan meningkatkan produksi tanaman (Sutedjo, 1999). Pupuk dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam, yaitu pupuk organik dan pupuk anorganik. Pupuk organik atau salah satunya kompos adalah pupuk yang terbuat dari bahan-bahan organik, sepertu daun-daun, batang, ranting yang melapuk, atau kotoran ternak.

Pupuk anorganik adalah pupuk yang terbuat dari bahan-bahan kimia, seperti urea, ZA, TSP, SP-36, dan KCl. Kompos merupakan salah satu contoh pupuk organik, merupakan hasil fermentasi atau dekomposisi dari bahan-bahan organik seperti tanaman, hewan, atau limbah organik lainnya. Kompos mempunyai beberapa sifat yang menguntungkan antara lagi; memperbaiki struktur tanah berlempung sehingga menjadi ringan, memperbesar daya ikat tanah berpasing sehingga tanah tidak berderai, menmabah daya ikat air pada tanah, memperbaiki drainase dan tata udara dalam tanah, dan meningkatkan daya ikat tanah terhadap zat hara (Indriani, 2012).

Dilakukan penelitian mengenai pengaruh pemberian kompos alang-alang dan kotoran ayam terhadap pertumbuhan tanaman caisim. Tanaman caisim tersebut ditanaman di dalam polybag. Sebelum menanam tanaman caisim, terlebih dahulu diberikan kompos dengan takaran berbeda pada media tanaman yaitu dapat dilihat pada Tabel 1 dibawah ini.

Tabel 1.Perbandingan Persentase Bahan Kompos Alang-alang dan Kotoran Ayam

Perlakuan Perbandingan Bahan (%)
Alang-Alang (%) Kotoran Ayam (%)
P1 0 100
P2 20 80
P3 40 60
P4 50 50
P5 60 40
P6 80 20
P7 100 0

Setelah 40 hari atau saat masa panen, ternyata setiap perlakuan menunjukkan hasil yang berbeda terhadap pertumbuhan tanaman caisim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kompos pada perlakuan P6 berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman caisim seperti jumlah daun, berat basah taruk dan akar, serta berat kering taruk dan akar, dibandingkan dengan perlakuan lain.

gambar tidak bisa ditampilkan

Gambar 2. Pertumbuhan Tanaman Caisim; a. Diberi kompos perlakuan P6, b. Diberi kompos perlakuan P7 (Sumber : Sari, 2014)

Pada gambar 2 menunjukkan bahwa pada perlakuan P6 memiliki jumlah daun yang paling banyak, berat basah tajuk dan akar tertinggi, serta berat kering tajuk dan akar tertinggi. Setelah kemilhat hasil panennya, kemudian diduga bahwa pemberian kompos alang-alang dan kotoran ayam mengandung hara mineral yang dibutuhkan oleh tanaman caisim.

credit : diambil dari skripsi adik saya πŸ™‚

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s