ASAL-USUL KUMANDANG ADZAN


ASAL-USUL KUMANDANG ADZAN

Kamis, 28 Muharram 1423/ 11 April 2002

created by : syihab

shared by : me

(Riwayat : Anas r.a; Abu Dawud; Al Bukhari)

Seiring dengan berlalunya waktu, para pemeluk agama Islam yang semula sedikit, bukannyasemakin surut jumlahnya. Betapa hebatnya perjuangan yang harus dihadapi untukmenegakkan syiar agama ini tidak membuatnya musnah. Kebenaran memang tidak dapatdmusnahkan.

Semakin hari semakin bertambah banyak saja orang-orang yang menjadi penganutnya.

Demikian pula dengan penduduk dikota Madinah, yang merupakan salah satu pusat penyebaranagama Islam pada masa-masa awalnya. Sudah sebagian tersebar dari penduduk yang adadikota itu sudah menerima Islam sebagai agamanya.

Ketika orang-orang Islam masih sedikit jumlahnya, tidaklah sulit bagi mereka untuk bisaberkumpul bersama-sama untuk menunaikan sholat berjama` ah.

Kini, hal itu tidak mudah lagi mengingat setiap penduduk tentu mempunyai ragam kesibukan yang tidak sama. Kesibukanyang tinggi pada setiap orang tentu mempunyai potensi terhadap kealpaan ataupun kelalaianpada masing-masing orang untuk menunaikan sholat pada waktunya.

Dan tentunya, kalau hal ini dapat terjadi dan kemudian terus-menerus berulang, maka bisadipikirkan bagaimana jadinya para pemeluk Islam. Ini adalah satu persoalan yang cukup beratyang perlu segera dicarikan jalan keluarnya.

Pada masa itu, memang belum ada cara yang tepat untuk memanggil orang sholat. Orangorangbiasanya berkumpul dimasjid masing -masing menurut waktu dan kesempatan yangdimilikinya. Bila sudah banyak terkumpul orang, barulah sholat jama `ah dimulai.

Atas timbulnya dinamika pemikiran diatas, maka timbul kebutuhan untuk mencari suatu carayang dapat digunakan sebagai sarana untuk mengingatkan dan memanggil orang-orang untuksholat tepat pada waktunya tiba.

Ada banyak pemikiran yang diusulkan. Ada sahabat yang menyarankan bahwa manakala waktusholat tiba, maka segera dinyalakan api pada tempat yang tinggi dimana orang-orang bisadengan mudah melihat ketempat itu, atau setidak-tidaknya asapnya bisa dilihat orangwalaupun ia berada ditempat yang jauh. Ada yang menyarankan untuk membunyikan lonceng.

Ada juga yang mengusulkan untuk meniup tanduk kambing. Pendeknya ada banyak saran yangtimbul.Saran-saran diatas memang cukup representatif. Tapi banyak sahabat juga yang kurangsetuju bahkan ada yang terang-terangan menolaknya.

Alasannya sederhana saja : itu adalahcara-cara lama yang biasanya telah dipraktekkan oleh kaum Yahudi. Rupanya banyak sahabatyang mengkhawatirkan image yang bisa timbul bila cara-cara dari kaum kafir digunakan. Makadisepakatilah untuk mencari cara-cara lain.

Lantas, ada usul dari Umar r.a jikalau ditunjuk seseorang yang bertindak sebagai pemanggilkaum Muslim untuk sholat pada setiap masuknya waktu sholat. Saran ini agaknya bisaditerima oleh semua orang, Rasulullah SAW juga menyetujuinya. Sekarang yang menjadipersoalan bagaimana itu bisa dilakukan ? Abu Dawud mengisahkan bahwa Abdullah bin Zaidr.a meriwayatkan sbb :

“Ketika cara memanggil kaum muslimin untuk sholat dimusyawarahkan, suatu malam dalamtidurku aku bermimpi. Aku melihat ada seseorang sedang menenteng sebuah lonceng. Akudekati orang itu dan bertanya kepadanya apakah ia ada maksud hendak menjual lonceng itu.

Jika memang begitu aku memintanya untuk menjual kepadaku saja.

Orang tersebut malah bertanya,” Untuk apa ? Aku menjawabnya,”Bahwa dengan membunyikanlonceng itu, kami dapat memanggil kaum muslim untuk menunaikan sholat.” Orang itu berkatalagi,”Maukah kau kuajari cara yang lebih baik ?” Dan aku menjawab ” Ya !

“Lalu dia berkata lagi, dan kali ini dengan suara yang amat lantang , ” Allahu Akbar,AllahuAkbar..”

Ketika esoknya aku bangun, aku menemui Rasulullah SAW dan menceritakan perihal mimpi itukepada beliau. Dan beliau berkata,”Itu mimpi yang sebetulnya nyata. Berdirilah disampingBilal dan ajarilah dia bagaimana mengucapkan kalimat itu. Dia harus mengumandangkan adzanseperti itu dan dia memiliki suara yang amat lantang.”

Lalu akupun melakukan hal itu bersamaBilal.”Rupanya, mimpi serupa dialami pula oleh Umar r.a, ia juga menceritakannya kepada RasulullahSAW . Nabi SAW bersyukur kepada Allah SWT atas semua ini.

Tulisan diambil dari Al-Islam Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s