Category Archives: TUGAS MAHASISWA
Kerusakan Hutan
MANUSIA DAN LINGKUNGAN
(KERUSAKAN HUTAN)
Disusun oleh:
YUNITRI
NIM. 06091009031
MPK VI
MATAKULIAH PERKEMBANGAN KEPRIBADAIAN
(MPK)
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2009
BAB 1
PENDAHULUAN
Hutan sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa yang dianugerahkan kepada Bangsa Indonesia, merupakan kekayaan yang dikuasai oleh Negara yang memberikan manfaat serbaguna bagi umat manusia, cenderung kondisinya semakin menurun. Hutan juga merupakan salah satu sumber daya alam yang berperan dalam menjaga, mempertahankan dan meningkatkan ketersediaan air dan kesuburan tanah. Ketersediaan air dan kesuburan tanah merupakan urat nadi kehidupan manusia.
Indonesia dikenal memiliki hutan tropis yang cukup luas dengan keaneka-ragaman hayati yang sangat tinggi dan bahkan tertinggi kedua di dunia setelah Brazillia. Berdasarkan data yang dipublikasikan oleh Badan Planologi Kehutanan RI tahun 2000 bahwa luas hutan Indonesia adalah 120,3 juta hektar atau 3,1% dari luas hutan dunia (Suhendang, 2002). Seiring dengan berjalannya waktu dan tingkat kebutuhan akan kayu semakin meningkat, mendorong masyarakat baik secara individu maupun kelompok melakukan eksploitasi hasil hutan dengan tidak memperhatikan kelestariannya. Eksploitasi hasil hutan tersebut biasanya dilakukan secara ilegal seperti melakukan pembalakan liar, perambahan, pencurian yang mengakibatkan kerusakan hutan di Indonesia tidak terkendali (laju kerusakan hutan Indonesia 2,8 juta hektar per tahun). Akibatnya, kerusakan hutan atau lingkungan tak terkendali tersebut mengakibatkan luas hutan semakin menurun, lahan kritis semakin bertambah, dan sering terjadi bencana alam seperti banjir, tanah longsor, dan lain sebagainya.
Kerusakan hutan di Indonesia tidak hanya terjadi pada hutan alam tetapi juga telah terjadi pada hutan lindung. Padahal, hutan lindung memiliki fungsi yang spesifik terutama berkaitan dengan ketersediaan air. Air merupakan sumber kehidupan yang sangat penting terhadap keberlanjutan kehidupan bagi semua mahluk hidup. Hal ini seperti telah tertuang dalam Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Ketentuan Pokok Kehutanan yang menjelaskan bahwa hutan lindung merupakan kawasan hutan karena keadaan sifat alamnya diperuntukkan guna pengaturan tata air, pencegahan banjir dan erosi serta pemeliharaan kesuburan tanah. Oleh karena itu, hutan lindung perlu perhatian yang serius dari semua pihak agar kelestariannya tetap terjamin.
Kerusakan hutan yang terus terjadi telah mengakibatkan malapetaka dan bencana yang menelan korban harta dan jiwa yang tidak sedikit, seperti musibah kebakaran dan kekeringan pada musim kemarau, banjir dan tanah longsor pada musim hujan dan lain sebagainya. Hal ini tertentu merupakan tantangan bagi semua pihak untuk mencari akar permasalahan dan solusi pemecahannya.
BAB II
PEMBAHASAN
A.Pengertian Hutan
Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan.
Kawasan hutan adalah wilayah tertentu yang ditunjuk dan atau ditetapkan oleh pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap.
Hutan lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah.
Kawasan hutan lindung adalah kawasan hutan yang telah ditentukan oleh pemerintah untuk dilindungi dari segala macam aktivitas manusia yang mengakibatkan kerusakan hutan atau kehilangan fungsi hutan, seperti mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah.
B.Peran Hutan Terhadap Lingkungan
a.Peran hutan
Hutan bukanlah warisan nenek moyang, tetapi pinjaman anak cucu kita yang harus dilestarikan. Jika terjadi bencana, maka dipastikan, biaya ‘recovery’ jauh lebih besar ketimbang melakukan pencegahan secara dini. Begitu pentingnya fungsi hutan sehingga pada 21 Januari 2004 Presiden Megawati merasa perlu mencanangkan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GN-RHL) yaitu gerakan moral yang melibatkan semua komponen masyarakat bangsa untuk memperbaiki kondisi hutan dan lahan kritis. Dengan harapan, agar lahan kritis itu dapat berfungsi optimal, yang juga pada gilirannya bermanfaat bagi masyarakat sendiri. Tujuan melibatkan komponen masyarakat, tentu saja, agar mereka menyadari bahwa hutan dan lingkungan itu sangat penting dijaga kelestariannya.
Hutan memiliki fungsi yang penting bagi kehidupan manusia diantaranya sebagai berikut:
1.Pelestrian Plasma Nutfah
Plasma nutfah merupakan bahan baku yang penting untuk pembangunan di masa depan, terutama di bidang pangan, sandang, papan, obat-obatan dan industri.
Penguasaannya merupakan keuntungan komparatif yang besar bagi Indonesia di masa depan. Oleh karena itu, plasma nutfah perlu terus dilestarikan dan dikembangkan bersama untuk mempertahankan keanekaragaman hayati.
2.Penahan dan Penyaring Partikel Padat dari Udara
Udara alami yang bersih sering dikotori oleh debu, baik yang dihasilkan oleh kegiatan alami maupun kegiatan manusia. Dengan adanya hutan, partikel padat yang tersuspensi pada lapisan biosfer bumi akan dapat dibersihkan oleh tajuk pohon melalui proses jerapan dan serapan. Partikel yang melayang-layang di permukaan bumi sebagian akan terjerap pada permukaan daun, khususnya daun yang berbulu dan yang mempunyai permukaan yang kasar dan sebagian lagi terserap masuk ke dalam ruang stomata daun. Ada juga partikel yang menempel pada kulit pohon, cabang dan ranting. Dengan demikian hutan menyaring udara menjadi lebih bersih dan sehat.
3.Penyerapan Partikel Timbale dan Semen
Kendaraan bermotor merupakan sumber utama timbal yang mencemari udara di daerah perkotaan. Diperkirakan sekitar 60-70 % dari partikel timbal di udara perkotaan berasal dari kendaraan bermotor. Hutan dengan kanekaragaman tumbuhan yang terkandung di dalamnya mempunyai kemampuan menurunkan kandungan timbal dari udara.
Debu semen merupakan debu yang sangat berbahaya bagi kesehatan, karena dapat mengakibatkan penyakit sementosis. Oleh karena itu debu semen yang terdapat di udara bebas harus diturunkan kadarnya.
4.Peredam Kebisingan
Pohon dapat meredam suara dan menyerap kebisingan sampai 95% dengan cara mengabsorpsi gelombang suara oleh daun, cabang dan ranting. Jenis tumbuhan yang paling efektif untuk meredam suara ialah yang mempunyai tajuk yang tebal dengan daun yang rindang. Berbagai jenis tanaman dengan berbagai strata yang cukup rapat dan tinggi akan dapat mengurangi kebisingan, khususnya dari kebisingan yang sumbernya berasal dari bawah.
5.Mengurangi Bahaya Hujan Asam
Pohon dapat membantu dalam mengatasi dampak negatif hujan asam melalui proses fisiologis tanaman yang disebut proses gutasi. Proses gutasi akan memberikan beberapa unsur diantaranya ialah : Ca, Na, Mg, K dan bahan organik seperti glumatin dan gula. Bahan an-organik yang diturunkan ke lantai hutan dari tajuk melalui proses through fall dengan urutan K>Ca> Mg>Na baik untuk tajuk dari tegakan daun lebar maupun dari daun jarum.
Hujan yang mengandung H2SO4 atau HNO3 apabila tiba di permukaan daun akan mengalami reaksi. Pada saat permukaan daun mulai dibasahi, maka asam seperti H2SO4 akan bereaksi dengan Ca yang terdapat pada daun membentuk garam CaSO4 yang bersifat netral. Dengan demikian adanya proses intersepsi dan gutasi oleh permukaan daun akan sangat membantu dalam menaikkan pH, sehingga air hujan menjadi tidak begitu berbahaya lagi bagi lingkungan. pH air hujan yang telah melewati tajuk pohon lebih tinggi, jika dibandingkan dengan pH air hujan yang tidak melewati tajuk pohon.
6.Penyerap Karbon-monoksida
Mikro organisme serta tanah pada lantai hutan mempunyai peranan yang baik dalam menyerap gas. Tanah dengan mikroorganismenya dapat menyerap gas ini dari udara yang semula konsentrasinya sebesar 120 ppm (13,8 x 104 ug/m3) menjadi hampir mendekati nol hanya dalam waktu 3 jam saja.
7.Penyerap Karbon-dioksida dan Penghasil Oksigen
Hutan merupakan penyerap gas CO2 yang cukup penting, selain dari fitoplankton, ganggang dan rumput laut di samudera. Cahaya matahari akan dimanfaatkan oleh semua tumbuhan baik di hutan kota, hutan alami, tanaman pertanian dan lainnya dalam proses fotosintesis yang berfungsi untuk mengubah gas CO2 dan air menjadi karbohidrat dan oksigen. Dengan demikian proses ini sangat bermanfaat bagi manusia, karena dapat menyerap gas yang bila konsentrasinya meningkat akan beracun bagi manusia dan hewan serta akan mengakibatkan efek rumah kaca. Di lain pihak proses ini menghasilkan gas oksigen yang sangat diperlukan oleh manusia dan hewan.
8.Penahan Angin
Angin kencang dapat dikurangi 75-80% oleh suatu penahan angin yang berupa hutan kota.
9.Penyerap dan Penapis Bau
Daerah yang merupakan tempat penimbunan sampah sementara atau permanen mempunyai bau yang tidak sedap. Tanaman dapat menyerap bau secara langsung, atau tanaman akan menahan gerakan angin yang bergerak dari sumber bau.
10.Mengatasi Penggenangan
Daerah bawah yang sering digenangi air perlu ditanami dengan jenis tanaman yang mempunyai kemampuan evapotranspirasi yang tinggi. Jenis tanaman yang memenuhi kriteria ini adalah tanaman yang mempunyai jumlah daun yang banyak, sehingga mempunyai stomata yang banyak pula.
11.Mengatasi Intrusi Air Laut dan Abrasi
Kota-kota yang terletak di tepi pantai seperti DKI Jakarta pada beberapa tahun terakhir ini dihantui oleh intrusi air laut. Pemilihan jenis tanaman dalam pembangunan hutan kota pada kota yang mempunyai masalah intrusi air laut harus betul-betul diperhatikan. Upaya untuk mengatasi masalah ini yakni membangun hutan lindung kota pada daerah resapan air dengan tanaman yang mempunyai daya evapotranspirasi yang rendah.
Hutan berupa formasi hutan mangrove dapat bekerja meredam gempuran ombak dan dapat membantu proses pengendapan lumpur di pantai. Dengan demikian hutan selain dapat mengurangi bahaya abrasi pantai, juga dapat berperan dalam proses pembentukan daratan.
12.Produksi Perbatas
Hutan memiliki fungsi in-tangible juga tangible. Sebagai contoh, pohon mahoni di hutan kota Sukabumi sebanyak 490 pohon telah dilelang dengan harga Rp. 74 juta. Penanaman dengan tanaman yang menghasilkan biji atau buah yang dapat dipergunakan untuk berbagai macam keperluan warga masyarakat dapat meningkatkan taraf gizi dan penghasilan masyarakat.
13.Ameliorasi Iklim
Salah satu masalah penting yang cukup merisaukan penduduk perkotaan adalah berkurangnya rasa kenyamanan sebagai akibat meningkatnya suhu udara di perkotaan. Hutan kota dapat dibangun untuk mengelola lingkungan perkotaan agar pada saat siang hari tidak terlalu panas, sebagai akibat banyaknya jalan aspal, gedung bertingkat, jembatan layang, papan reklame, menara, antene pemancar radio, televisi dan lain-lain. sebaliknya pada malam hari dapat lebih hangat karena tajuk pepohonan dapat menahan radiasi balik (reradiasi) dari bumi.
14.Pelestarian Air Tanah
Sistem perakaran tanaman dan serasah yang berubah menjadi humus akan memperbesar jumlah pori tanah. Karena humus bersifat lebih higroskopis dengan kemampuan menyerap air yang besar maka kadar air tanah hutan akan meningkat.
Jika hujan lebat terjadi, maka air hujan akan turun masuk meresap ke lapisan tanah yang lebih dalam menjadi air infiltrasi dan air tanah dan hanya sedikit yang menjadi air limpasan. Dengan demikian pelestarian hutan pada daerah resapan air dari kota yang bersangkutan akan dapat membantu mengatasi masalah air dengan kualitas yang baik.
15. Penapis Cahaya Silau
Manusia sering dikelilingi oleh benda-benda yang dapat memantulkan cahaya seperti kaca, aluminium, baja, beton dan air. Apabila permukaan yang halus dari benda-benda tersebut memantulkan cahaya akan terasa sangat menyilaukan dari arah depan, akan mengurangi daya pandang pengendara.
Keefektifan pohon dalam meredam dan melunakkan cahaya tersebut bergantung pada ukuran dan kerapatannya.
16. Mengurangi Stress, Meningkatkan Pariwisata dan Pencinta Alam
Kehidupan masyarakat di lingkungan hidup kota mempunyai kemungkinan yang sangat tinggi untuk tercemar, baik oleh kendaraan bermotor maupun industri. Petugas lalu lintas sering bertindak galak serta pengemudi dan pemakai jalan lainnya sering mempunyai temperamen yang tinggi diakibatkan oleh cemaran timbal dan karbon-monoksida. Oleh sebab itu gejala stress (tekanan psikologis) dan tindakan ugal-ugalan sangat mudah ditemukan pada anggota masyarakat yang tinggal dan berusaha di kota atau mereka yang hanya bekerja untuk memenuhi keperluannya saja di kota. Hutan kota juga dapat mengurangi kekakuan dan monotonitas.
b. Kerusakan Hutan dan Lingkungan
Ternyata dengan semakin tidak harmonisnya hubungan manusia dengan alam tumbuhan mengakibatkan keadaan lingkungan di perkotaan menjadi hanya maju secara ekonomi namun mundur secara ekologi. Padahal kestabilan kota secara ekologi sangat penting, sama pentingnya dengan nilai kestabilannya secara ekonomi. Oleh karena terganggunya kestabilan ekosistem perkotaan, maka alam menunjukkan reaksinya berupa: meningkatnya suhu udara, penurunan air tanah, banjir, penurunan permukaan tanah, intrusi air laut, abrasi pantai, pencemaran air berupa air minum berbau, mengandung logam berat, pencemaran udara seperti meningkatnya kadar CO2, ozon, karbon-dioksida, oksida nitrogen dan belerang, debu, suasana yang gersang, monoton, bising dan kotor.
Dalam waktu dua tahun terakhir kita merasakan peristiwa alam, seperti bencana banjir dan longsor. Diawali banjir bandang di Pacet, Mojokerto, Jawa Timur, pada 11 Desember 2002. Tak kurang dari 26 orang meninggal dunia dengan tragis. Di awal tahun 2003, banjir bandang Jakarta mengakibatkan beberapa penduduk tewas, puluhan ribu masyarakat harus mengungsi di Jakarta, Tangerang, dan Bekasi. Akibat ikutan lain, adanya banjir di Jakarta ini melumpuhkan kegiatan sektor swasta, termasuk pengiriman barang-barang ekspor mereka.
Di Mandalawangi, Garut, Jawa Barat pada tanggal 28 Januari 2003 telah terjadi tanah longsor dengan jumlah korban meninggal 21 orang. Memasuki akhir musim penghujan tahun 2002/2003 dikejutkan dengan peristiwa hujan lebat dan longsor di Flores, yang kemudian disusul peristiwa alam yang didominasi oleh kekeringan di Pantura Pulau Jawa. Pada akhir 2003 terjadi bencana banjir bandang yang sangat dahsyat di Bukit Lawang; Bahorok, Sumatera Utara pada tanggal 2 November 2003 yang membawa korban tidak kurang dari 134 orang meninggal serta ratusan lainnya hilang. Pada Desember 2003 beberapa wilayah Jambi terendam banjir sampai sekitar seminggu. Yang terakhir adalah peristiwa banjir besar di kota Mojokerto 4-5 Februari 2004.
Peristiwa alam dan lingkungan tersebut sebenarnya menunjukkan bahwa alam sedang bergolak menuju keseimbangan baru. Kondisi ini akan terus bergerak menyesuaikan diri terhadap intervensi manusia yang tidak pernah berhenti mempengaruhinya, serta kemungkinan perubahan alam itu sendiri yang perlu dicermati. Proses alam dalam menuju keseimbangan baru ini sering kurang bisa ditangkap maknanya oleh manusia, sebaliknya manusia seringkali saling menyalahkan bukannya mencari solusi yang arif.
Bencana alam, seperti banjir, yang terjadi pada tahun 2003 dan yang berlanjut sampai awal tahun 2004 kalau ditelusuri disebabkan oleh dua kelompok faktor yakni faktor yang tidak dapat dikendalikan manusia dan faktor yang dapat dikendalikan manusia. Curah hujan kecepatan angin, dan geologi merupakan contoh faktor yang tidak dapat dikendalikan oleh manusia.
Penelusuran faktor-faktor yang berpengaruh pada peristiwa alam yang menimbulkan bencana dua tahun terakhir ini menunjukkan bahwa ada faktor alamiah yang tidak bisa dikendalikan manusia, tetapi juga banyak faktor yang sebetulnya berasal dari intervensi manusia, termasuk arah kebijakan yang tidak tepat. Curah hujan dan intensitas hujan yang tinggi, angin kencang, gempa bumi, dan letusan gunung berapi merupakan contoh-contoh faktor alam yang tidak bisa dikendalikan manusia. Sedangkan masalah invasi spesies eksotik, illegal logging di kawasan hutan, pemukiman, dan budidaya pertanian di lereng gunung merupakan bentuk intervensi yang sebetulnya dapat dikendalikan manusia. Semua itu berpengaruh besar terhadap peristiwa banjir bandang dan tanah longsor. Antara faktor alam dan
faktor manusia sangat sulit dipisahkan karena adanya interaksi timbal balik dalam suatu ekosistem .
BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Hutan lindung sebagai salah satu sumber daya alam yang berperan menjaga, mempertahankan dan meningkatkan ketersediaan air dan kesuburan tanah merupakan urat nadi kehidupan manusia yang saat ini cenderung menurun keberadaannya. Perambahan dan pembalakan liar (illegal logging) terjadi di mana-mana dan menyebabkan kerusakan hutan yang tidak terkendali. Akibatnya bencana alam seperti banjir, tanah longsor sudah menjadi langganan pada musim hujan tiba yang tidak jarang menelan korban ratusan jiwa masyarakat yang tidak berdosa. Ironisnya, banyak pihak termasuk pemerintah selalu menyalahkan dan bahkan menuduh masyarakat sekitar kawasan hutan sebagai penyebab utama kerusakan hutan.
Tuduhan ini sangat tidak beralasan, apalagi jika dilihat secara dekat kondisi kehidupan masyarakat sekitar kawasan hutan, seperti kehidupan masyarakat sekitar kawasan hutan lindung Rogo Jampi yang sebagian besar (78%) dalam kondisi miskin dan tidak berdaya. Kondisi inilah perlu dipahami dan dijadikan salah satu pertimbangan dalam pengambilan kebijakan dan perencanaan penyusunan program, agar setiap kebijakan dan program tentang pengaturan pengelolaan hutan yang diambil tetap memperhatikan kondisi sosial budaya dan ekonomi masyarakat sekitar kawasan hutan lindung.
Paradigma perencanaan pengelolaan hutan dan pemberdayaan masyarakat yang sentralistik yaitu program dirancang dari atas tanpa melibatkan masyarakat harus diubah kearah peningkatan partisipasi masyarakat lokal secara optimal.
Anggapan sebagian elit bahwa untuk mencapai efisiensi pembangunan, masyarakat tidak mempunyai kemampuan menganalisis kondisi dan merumuskan permasalahan, serta solusi pemecahannya, harus diubah bahwa setiap individu memiliki potensi yang dapat dikembangkan dan masyarakatlah yang paling mengetahui dan mengenal potensi dan permasalahan yang mereka hadapi.
Perencanaan sentralistik dan anggapan bahwa masyarakat tidak mampu menganalisis dan merumuskan permasalahannya, disinyalir merupakan salah satu penyebab kegagalan program pengelolaan hutan dan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.
B. Saran
Dari penjelasan yang disampaikan pada bab-bab terdahulu maka dapat disarankan hal-hal sebagai berikut :
- Faktor-faktor yang mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat sekitar kawasan hutan lindung dapat segera diidentifikasi oleh pemerintah dan masyarakat sehingga dapat segera dicarikan solusi untuk proses pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan hutan lindung .
- Kepada masyarakat luas agar lebih memperhatikan kelestarian kawasan hutan lindung agar terhindar dari segala dampak buruk kerusakan hutan.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Kerusakan Hutan, (http: //id. Wikipedia. Org/ kerusakan Hutan (27/05/2010))
Anonim. Kerusakan Hutan, (http: //www. bpkpenabur. or. id/node (27/05/2010))
Soemarwoto, Otto. 1997. Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Jakarta: Penerbit Djambatan.
Pengaruh Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Terhadap Kehidupan Manusia
MAKALAH
Ilmu Sosial Budaya Dasar
Pengaruh Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Terhadap Kehidupan Manusia
Disusun oleh:
Ayu Septyani (06091009006)
Pendidikan Biologi
Dosen Pengasuh: Dra. Yulia Djahir
Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2009/2010
……………………………………….
KATA PENGANTAR
Bismillahirrohmanirohhim,
Allah Maha Suci yang telah mengajarkan sebagian ilmunya dengan hikmah kepada hambanya. Syukur Alhamdulilah pemakalah haturkan kehadirat Allah yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga pemakalah dapat menyelasaikan makalah ini dengan judul ” Pengaruh Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Terhadap Kehidupan Manusia”. Makalah ini ditulis dan disusun sebagai upaya untuk memenuhi tugas makalah Ilmu Sosial Budaya Dasar semester genap tahun pelajaran 2009-2010.
Melalui kesempatan ini pemakalah mengucapkan terima kasih yang sedalam – dalamnya kepada :
-
Dra. Yulia Djahir selaku dosen pengasuh mata kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar
-
Semua pihak yang tidak bisa pemakalah sebutkan satu persatu yang telah memberikan bantuan baik moril maupun materil dalam penulisan.
Pemakalah menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, pemakalah sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi penyempurnaan Makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat. Amin.
Indralaya, 2 Juni 2010
Pemakalah
Ayu Septyani
………………………………………………………
Daftar Isi
Kata Pengantar…………………………………………………………………………i
Daftar isi……………………………………………………………………………….ii
Bab I Pendahuluan……………………………………………………………….…….1
1.1.Latar belakang……………………………………………………………… 1
1.2. Rumusan masalah………………………………………………………………………….. 1
1.3. Tujuan…………………………………………………………………………………………… 1
Bab II Tinjauan Pustaka…………………………………………………………………………………… 2
1.1. Pengertian Ilmu Pengetahuan…………………………………………………………… 2
1.2. Pengertian Teknologi……………………………………………………………………… 2
Bab III Pembahasan………………………………………………………………………………………… 3
3.1. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi………………………………………………………. 3
3.2. Penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kehidupan………………….. 5
3.3. Tanggung Jawab Manusia Terhadap Alam………………………………………….. 6
Bab IV Penutup………………………………………………………………………………………………. 7
4.1.Simpulan………………………………………………………………………………………… 7
4.2.Saran……………………………………………………………………………………………… 7
Daftar Pustaka
………………………………………………..
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Manusia sebagai salah satu makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, kedatangannnya di muka bumi dilengkapi dengan berbagai potensi. Potensi yang paling utama yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya adalah akal, budi, cipta rasa, karsa dan karya. Adanya potensi inilah manusia diangkat menjadi khalifah dimuka bumi ini dengan tugas pokok adalah mengurus, merawat, menjaga, dan lain-lain alam ini. Dengan adanya akal maka manusia bias menggunakan akal mereka untuk berpikir dan menghasilkan pemikiran yaitu ilmu pengetahuan dan teknologi.
Bidang-bidang yang secara dominan memberikan identitas kepada dinamika kreatifitas suat bangsa adalah ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan bisnis.
Dalam setiap kebudayaan selalu terdapat ilmu pengetahuan dan teknologi, yang digunakan sebgai acuan untuk menginterprestasikan dan memahami lingkungan beserta isinya yang digunakan sebagai alat untuk mengeksploitasi, mengelola dan memanfaatkannya untuk pemenuhan kebutuhan hidup manusia.
Dalam konteks ruang, manusia dengan alam saling mempengaruhi. Kualitas hubungan manusia dengan alam sangatlah bervariasi tergantung sejauh mana penguasaan manusia terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Atas dasar penguasaan ini ada beberapa masyarakat yang hidupnya sangat tergantung pada alam lingkungan, ada yang sudah mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya, ada yang mampu mengelola serta memanfaatkannya bagi keseuahteraan hidup mereka.
Ilmu pengetahuan dan teknologi semakin berkembang dan maju dari zaman ke zaman. Pola pemikiran manusia sudah berkembang dengan pesat untuk menciptakan sesuatu yang baru dan mempermudah dalam kehidupan bermasyarakat.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka rumusan masalah ini dirumuskan sebagai berikut “bagaimana pengaruh ilmu pengetahuan dan teknologi terhadap kehidupan manusia?.”
1.3. Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah dapat memahami:
-
Makna dari ilmu pengetahuan dan teknologi.
-
Pengaruh IPTEK terhadap kehidupan manusia
………………………………………………………….
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Ilmu Pengetahuaan
Dari sudut pandang filsafat ilmu
-
Ilmu adalah pengetahuan yang sudah diklasifikasi, diorganisasi, disistimatisasi, dan diinterprestasi sehingga menghasilkan kebenaran objektif, sudah diuji kebenarannya dan dapat di uji ulang secara ilmiah.
-
Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia melalui tangkapan panca indra, instuisi, dan firasat.
Secara etimologi
Ilmu berarti kejelasan, karena itu segala yang terbentuk dari akar katanya mempunyai ciri kejelasan.
Ilmu (science) dan pengetahuan (knowledge) mempunyai pengertian yang berbeda. Ilmu adalah pengetahuan yang telah memiliki sistematika tertentu atau memiliki ciri-ciri khas serta merupakan spesies dari genus yang disebut pengetahuan.
2.2. Pengertian Teknologi
-
Teknologi adalah salah satu unsur budaya sebagai hasil penererapan praktis dari ilmu pengetahuan.
-
Teknologi merupakan ilmu tentang teknik.
-
Teknologi adalah aplikasi dari prinsip-prinsip keilmuan sehingga menghasilkan sesuatu yang berarti bagi kehidupan manusia.
……………………………………………………………….
BAB III
PEMBAHASAN
3.1. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Dari sudut pandang filsafat, ilmu lebih khusus dibandingkan dengan pengetahuan. Suatu pengetahuan dapat dikategorikan sebgai ilmu apabila memenuhi tiga unsur pokok, yaitu:
-
Ontologi
Ontologi merupakan bidang studi yang bersangkutan memiliki objek studi yang jelas. Objek studi harus dapat diidentifikasikan, dapat diberi batsan, dapat diuraikan, sifat-sifatnya yang esensial. Objek studi sebuah ilmu ada dua yaitu objek material dan objek formal.
-
Efistimologi
Efistimologi merupakan bidang studi yang bersangkutan memiliki metode kerja yang jelas. Ada tiga metode kerja suatu bidang tertentu yaitu metode deduksi, induksi, dan eduksi.
-
Aksiologi
Aksiologi merupakan bidang yang bersangkutan memiliki nilai guna atau kemanfaatannya. Bidang studi tersebut dapat menunjukkan nilai-nilai teoritis, hukum-hukum, generalisasi, kecenderungan umum, konsep-konsep dan kesimpulan-kesimpulan logis, sistematis, dan koheren. Dalam teori dan konsep tersebut tidak terdapat atau kesemerautan pikiran atau penentangan kontradiktif diantara satu sama lain.
Dalam pemikiran sekuler, ilmu pengetahuan mempunyai tiga karakteristik yaitu:
-
objektif
-
netral
-
bebas nilai
Pada dasarnya teknologi juga karakteristik yaitu:
-
objektif
-
netral
(dalam situasi tertentu teknologi tidak netral lagi karena memiliki potensi untuk merusak dan potensi kekuasaan).
Kata ilmu dengn berbagai bentuknya terulang 854 kali al Quran. Kata ini digunakan dalam proses pencapaian pengetahuan dan objek pengetahuan sehingga memperoleh kejelasan. Dalam pemikiran islam ada dua sumber ilmu yaitu wahyu dan akal.
Ilmu mempunyai ciri-ciri dan standar-standar tertentu sebagai hasil konsensus para ilmuan. Ada semacam criteria of demarcation (Kaplan, 1963) antara pengetahuan yang telah berstatus ilmu dengan pengetahuan yang semta-mata hanya akal lumrah (common sense). Kriteria tersebut, yaitu:
-
ilmu memiliki objek formal dan materiil tertentu
-
sistematika isi dan wilayah studi yang disebut disiplin
-
terbuka
-
memiliki metode-metode tertentu.
Goldstein dan goldstein (1980) mengemukakan beberapa pengertian tentang ilmu, yaitu:
-
ilmu diartikan secra sempit, terbatas pada ilmu-ilmu eksakta seperti fisika, kimia, astronomi, dan matematika sebagi alatnya (organon, menurut aristoteles). Ilmu- ilmu ini ditandai oleh generalistik yang luas dan daya prediksi yang akurat. Akan tetapi, jika kriteria hukum generalistas dan kemampuan meramalkan sesuatu secara akuart dijadikan dasar pendefinisian ilmu, maka ilmu-ilmu sosial dan kemnusiaan akan sangat sulit memnuhinya, karena objek yang dihadapinya adalah menusia yang memiliki perasaan, pikiran dan kehendak.
-
Ilmu mengimplikasikan kemampuan untuk melalkukan eksperimen terkendali dalam rangka menguji teori dan hipotesis.
-
Ilmu dipahami berdasarkan dimensi pasifnya yang mengacu pada akumulasi fakta dan informasi sehingga membentuk suatu sistematika.
-
Ilmu dipandang berdasarkan dimensi aktifnya, yang lebih dari hanya akumulasi informasi, fakta, konsep, teori, melainkan sitem berpikir (Liek Wilardjo, 1987).
Ilmu merupakan cara kita memandang dunia, memahaminya dan mengubahnya (Goldstein dan goldstein, 1980). Cara pandang terhadap dunia mengimplikasikan bahwa ilmu merupakan aktivitas kreatif dan imajinatif manusia dalm upaya mencari dan menemukan kebenaran keilmuan. Aktifitas kreatif dan imajinatif ini diabdikan bagi kepentingan dan kesejahteraan umat manusia melalui upaya memajukan kebudayaan dan peradaban.
Teknologi adalah aplikasi dari prinsip-prinsip keilmuan sehingga menghasilkan sesuatu yang berarti bagi kehidupan manusia. Aplikasi prinsip-prinsip ini dapat dalam lapangan teknik maupun sosial. Melalui aplikasi inilah ilmu menemukan arti sosialnya, bukan hanya demi kepuasan intelektual ilmuan semata-mata. Dalam perkembangan kemudian, bukan hanya teknologi yang menggantungkan diri pada penemuan-penemuan sains, melainkan perkembangan sains mengikuti irama perkembangan teknologi.
Dengan memanfaatkan hasil-hasil inovasi teknologi, penelitian sains semakin berkembang cepat dan berbagai perspektif baru antara ilmu pengetahuan dengan teknologi membuat keduanya tidak bisa dipisahkan.
Teknologi dapat membawa dampak positif berupa kemajuan dan kesejahteraan bagi manusia juga sebaliknya dapat membawa dampak negatif berupa ketimpangan-ketimpangan dalam kehidupan manusia dan lingkungannya yang berakibat kehancuran alam semesta. Netralitas teknologi dapat digunakan untuk kemanfaatan sebesar-besarnya bagi kehidupan manusia atau digunakan untuk kehancuran manusia itu sendiri.
3.2. Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi bagi Kehidupan
Hal-hal yang bisa dilakukan manusia bagi kehidupan, yaitu
-
Meningkatkan daya dukung lingkungan
-
Mengembangkan potensi
-
Pemanfaatan sumber daya alam menggunakan IPTEK.
-
Manusia bisa menggunakan IPTEK dalam menciptakan sesuatu.
Penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kehidupan, yaitu:
-
Perekayasaan pertanian untuk meningkatkan daya dukung lingkungan, berupa:
-
Pemupukan (kimia dan organik).
-
Pengelolaan tanah yang lebih baik (mekanik).
-
Pemilihan bibit unggul (hayati).
-
Perbaikan pengairan melalui organisasi dan kelembagaan (sosial).
-
-
Daya dukung lingkungan hutan, berupa:
-
Penggunaan mesin-mesin berat untu menebang pohon.
Dampak positif dalam penerapan IPTEK
-
Meningkatkan daya dukung lingkungan
-
Meningkatkan kesejahteraan umat manusia
-
Mempermudah pekerjaan
-
Pengetahuaan semakin berkembang.
-
Membuat manusia semakin kreatif dalam menciptakan sesuatu.
Selain itu, ada dampak negatifnya:
-
Tekanan terhadap lingkungan, berupa:
-
Eksploitasi hutan, sungai, laut dan lain-lain.
-
-
Menimbulkan masalah lingkungan, misalnya erosi, pencemaran, dan banjir.
-
Ketimpangan-ketimpangan dalam kehidupan manusia dan lingkungannya yang berakibat kehancuran alam semesta.
3.3. Tanggung Jawab Manusia Terhadap Alam
Manusia sebagai khalifah adalah untuk bertanggung jawab menjaga keseimbangan alam dan lingkungannya tempat tinggal. Manusia diberikan kebebasan untuk mengeksplorasi, menggali sumber-sumber daya, serta memanfaatkannya dengan sebesar-besar kemanfaatan.
Untuk menggali potensi alam dan memanfaatkannya diperlukan ilmu pengetahuan yang memadai. Hanya orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan yang cukup atau para ilmuan yang sanggup mengeksplorasi sumber alam ini.
………………………………………………………………….
BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
-
Ilmu (science) dan pengetahuan (knowledge) mempunyai pengertian yang berbeda. Ilmu adalah pengetahuan yang telah memiliki sistematika tertentu atau memiliki ciri-ciri khas serta merupakan spesies dari genus yang disebut pengetahuan.
-
Teknologi adalah aplikasi dari prinsip-prinsip keilmuan sehingga menghasilkan sesuatu yang berarti bagi kehidupan manusia.
-
Penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kehidupan sanagt baik dan manusia harus mempunyai tanggung jawab terhadap kehidupan.
4.2. Saran
Dengan kita memanfaatkan hasil-hasil inovasi teknologi, penelitian sains semakin berkembang cepat dan berbagai perspektif baru maka kehidupan kita akan lebih maju.
…………………………………………………………….
DAFTAR PUSTAKA
Tim Penyusun. 2009. Ilmu sosial Budaya Dasar. Indralaya: Penerbit Unsri.
Supriadi, Dedi. 1998. Kreatifitas, Kebudayaan, dan Perkembangan IPTEK. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Masalah Belajar Pada Anak
Jenis-jenis Masalah Belajar dan Faktor Penyebabnya
Masalah belajar adalah suatu kondisi tertentu yang dialami oleh murid dan menghambat kelancaran proses belajarnya. Kondisi tertentu itu dapat berkenaan dengan keadaan dirinya, yaitu berupa kelemahan-kelemahan yang dimilikinya dan dapat juga berkenaan dengan lingkungan yang tidak menguntungkan bagi dirinya.
Masalah-masalah belajar ini tidak hanya dialami oleh murid-murid yang lambat saja dalam belajarnya, tetapi juga dapat menimpa murid-murid yang pandai atau cerdas.
Dari pengertian masalah belajar di atas maka jenis-jenis masalah belajar dapat dikelompokkan kepada murid-murid yang mengalami.
-
Keterlambatan akademik, yaitu keadaan murid yang diperkirakan memiliki intelegensi yang cukup tinggi, tetapi tidak dapat memanfaatkan secara optimal.
-
Kecepatan dalam belajar, yaitu keadaan murid yang memiliki bakat akademik yang cukup tinggi atau memilki IQ 130 atau lebih, tetapi masih memerlukan tugas-tugas khusus untuk memenuhi kebutuhan dan kemampuan belajarnya yang amat tinggi.
-
Sangat lambat dalam belajar, yaitu keadaan murid yang memilki bakat akademik yang kurang memadai dan perlu dipertimbangkan untuk mendapatkan pendidikan atau pengajaran khusus.
-
Kurang motivasi belajar, yaitu keadaan murid yang kurang bersemangat dalam belajar, mereka seolah-olah tampak jera dan malas.
-
Bersikap dan kebiasaan buruk dalam belajar, yaitu kondisi murid yang kegiatannya atau perbuatan belajarnya sehari-hari antagonistik dengan seharusnya, seperti suka menunda-nunda tugas, mengulur-ulur waktu, membenci guru, tidak mau bertanya untuk hal-hal yang tidak diketahui dan sebagainya.
-
Sering tidak sekolah, yaitu murid-murid yang sering tidak hadir atau menderita sakit dalam jangka waktu yang cukup lama sehingga kehilanggan sebagian besar kegiatan belajarnya.
Faktor yang menyebabkan timbulnya masalah belajar, yaitu :
A.. Faktor-faktor internal (faktor-faktor yang berada pada diri murid itu sendiri), yaitu :
1. Gangguan secara fisik, seperti kurang berfungsinya organ-organ perasaan, alat bicara, gangguan panca indera, cacat tubuh, serta penyakit menahun.
2. Ketidakseimbangan mental (adanya gangguan dalam fungsi mental), seperti menampakkan kurangnya kemampuan mental, taraf kecerdasan cenderung kurang.
3. Kelemahan emosional, seperti merasa tidak aman, kurang bisa menyusuaikan diri (maladjusment), tercekam rasa takut, benci dan antipati, serta ketidak matangan emosi.
4. Kelemahan yang disebabkan oleh kebiasaan dan sikap yang salah, seperti kurang perhatian dan minat terhadap pelajaran sekolah malas dalam belajar, dan sering bolos atau tidak mengikuti pelajaran.
B. Faktor-faktor eksternal (faktor-faktor yang timbul dari luar diri individu), yaitu berasal dari:
1. Sekolah, antara lain:
-
· Sifat kurikulum yang kurang fleksibel
-
· Terlalu berat beban belajar (murid) dan untuk mengajar (guru)
-
· Metode mengajar yang kurang memadai
-
· Kurangnya alat dan sumber untuk kegiatan belajar.
2. Keluarga (rumah), antara lain:
-
· Keluarga tidak utuh atau kurang harmonis
-
· Sikap orang tua yang tidak memperhatikan pendidikan anaknya
-
· Keadaan ekonomi.