SIFILIS [RAJA SINGA]


 

SIFILIS

 

 

Definisi

Sifilis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Treponema pallidum, bersifat kronis, sistemik, dan dapat menyerang seluruh organ tubuh. Penularannya melalui kontak seksual dan transplasental, sehingga dapat menular pada bayi.

Penyebab

T. pallidum termasuk golongan Spirochaeta, berbentuk spiral, Gram negatif, bergerak berputar atau maju seperti pembuka tutup botol.

Perjalanan penyakit

Penularan sifilis adalah secara kontak langsung dari lesi infeksius. Treponema menembus selaput lendir, kemudian masuk ke kelenjar limfe, dari sini ia akan bermigrasi ke pembuluh darah, yang akhirnya dapat tersebar ke seluruh tubuh.

Perjalanan alamiah penyakit sifilis bila tanpa terapi akan melalui tahap-tahap:

  1. Sifilis primer
  2. Sifilis sekunder
  3. Sifilis laten dini
  4. Sifilis laten lanjut atau sifilis tertier benigna / sifilis kardiovaskuler / neurosifilis
  5. Sifilis lanjut

UJUD KELAINAN KULIT

1.  Sifilis Primer

  • Ulkus di daerah genital eksterna, muncul + 3 minggu setelah coitus suspectus (hubungan seks yang dicurigai sebagai awal penularan).
  • Lesi tunggal / multipel, ukuran 1-2 cm.
  • Lesi dimulai dengan adanya papula yang mengalami erosi, keras, permukaan tertutup krusta, lama-kelamaan terbentuk ulserasi.
  • Tepi ulkus meninggi, teraba keras (sehingga disebut ulkus durum / chancre).
  • Pembesaran limfonodi inguinal bilateral akibat penjalaran treponema ke kelenjar limfe.
  • Tidak terasa sakit, biasanya sembuh spontan dalam 4-6 minggu.

2.  Sifilis Sekunder

  • Muncul ruam pada kulit, selaput lendir, dan organ tubuh lain.
  • Disertai gejala prodromal (demam, malaise).
  • Lesi kulit simetris, berupa makula atau papula (menyerupai jerawat / acne atau psoriasis yang tidak sembuh-sembuh).
  • Lesi dapat pula berupa folikulitis, papuloskuamosa, pustula.
  • Pada rambut terjadi alopesia : moth-eaten alopecia (botak yang khas dari sifilis yaitu tepi botak yang tidak jelas seperti digigit tikus), letaknya pada oksipital.
  • Kondilomata lata : papula basah di daerah lembab, warna keputihan, permukaan datar.
  • Lesi yang timbul pada mukosa mulut, kerongkongan, atau serviks berbentuk plakat.
  • Terjadi pembesaran kelenjar limfe multipel.
  • Splenomegali.

3.  Sifilis Laten Dini

  • Merupakan stadium sifilis tanpa gejala klinis.
  • Tes serologis reaktif (positif bila tes titer VDRL > 1 / 16).
  • Berlangsung kurang dari setahun.

4.  Sifilis Laten Lanjut

  • Lesi berupa gumma (bentuknya hampir sama dengan ulkus durum / ulkus primer). Gumma dapat terjadi di semua organ. Gumma pada kulit berupa lesi granulomatous berbentuk nodul dengan ulserasi (nodulo-ulseratif) mengeluarkan cairan mirip getah atau perkejuan.
  • Dapat terjadi endarteritis obliterans pada bagian ujung arteriola dan pembuluh darah kecil yang menyebabkan terjadinya peradangan dan nekrosis.
  • Dapat terjadi neurosifilis atau kardiosifilis.

5.  Sifilis Pada Kehamilan dan Sifilis Kongenital

  • Infeksi janin terjadi pada umur 10 minggu.
  • Infeksi ibu yang terjadi pada tingkat dini bila tidak diobati akan menular ke bayi.
  • Semakin lama ibu terkena infeksi (maksudnya semakin lama jarak antara infeksi dan kehamilan), maka semakin sedikit kemungkinan menginfeksi janin.
  1. a. Sifilis Kongenital Dini
  • Yaitu sifilis kongenital yang muncul sebelum umur 2 tahun
  • Lesi kulit terjadi segera setelah lahir, berupa lesi vesikobulosa yang akan berlanjut menjadi erosi. Beberapa minggu kemudian dapat terjadi papuloskuamosa
  • Pada mukosa hidung dan pharing terjadi perdarahan
  • Pada tulang dapat terjadi osteokondritis tulang panjang
  • Anemia hemolitik
  • Hepatosplenomegali
  • Gangguan SSP (kejang-kejang)
  1. b. Sifilis Kongenital Lanjut
  • Yaitu sifilis kongenital yang muncul sesudah umur 2 tahun
  • Keratitis interstisialis terjadi pada umur pubertas dan bilateral
  • Gigi Hutchinson (gigi yang kecil seperti gergaji akibat gangguan pembentukan gigi susu sentral)
  • Gigi Mulberry (gigi berbentuk kubah menyerupai buah mulberry)
  • Gangguan saraf pusat VIII – tuli
  • Neurosifilis
  • Sklerosis tulang yang memberi gambaran seperti pedang (saber appearance)
  • Rhagade (garis-garis sekitar mulut, mata, lubang hidung akibat sikatriks radier)
  • Gangguan kardiovaskular

PEMERIKSAAN LABORATORIUM

  1. Pemeriksaan mikroskop medan gelap (dark field) : Ulkus / lesi dibersihkan dengan NaCl, kemudian ambil serum yang keluar, diletakkan pada object glass, lalu dilihat di bawah mikroskop. Apabila tidak ditemukan T. pallidum, lakukan lagi selama 3 hari berturut-turut.
  2. Tes serologis dengan antibodi serum : VDRL atau TPHA

-          Tes VDRL (Venereal Disease Research Laboratory) menggunakan antigen kardiolipin, bersifat tidak spesifik karena sebagian besar penyakit kolagen akan positif pada tes ini. Namun tes VDRL cukup diandalkan untuk penapisan (screening) karena murah dan mudah dikerjakan. Tes VDRL dinyatakan positif bila titernya > 1/16.

-          Tes TPHA (Treponema Pallidum Hemaglutinin Assay) bersifat lebih spesifik, tetapi mahal dan sulit dikerjakan.

TERAPI

  1. 1. Sifilis primer & sekunder
  • Benzatin penisilin G 2,4 juta IU, IM, dosis tunggal
  • Untuk anak : 50.000 IU/kg , IM, dosis tunggal
  1. 2. Sifilis laten
  • Sifilis laten dini : Benzatin penisilin G  2,4 juta IU, IM, dosis tunggal
  • Sifilis laten lanjut : Benzatin penisilin G 2,4 juta IU, IM/minggu, selama 3 minggu
  • Anak :           50.000 IU/kg, IM, dosis tunggal, atau

50.000 IU/kg, IM/minggu, selama 3 minggu

  1. 3. Sifilis tersier
  • Benzatin penisilin G 2,4 juta IU/minggu, selama 3 minggu
  • Tindak lanjut : ulang tes serologis setelah 6, 12, dan 24 bulan
  • Terapi berhasil jika titer turun 4 kali lipat

KEMUNGKINAN KOMPLIKASI

  • Penyakit kardiovaskular
  • Penyakit system saraf pusat
  • Glomerulonefritis membranosa
  • Paroxysmal cold hemoglobinemia
  • Kerusakan organ
  • Jarisch-Herxheimer reaction, ditandai oleh demam, menggigil, sakit kepala, myalgia, rash baru yang biasanya muncul pada awal pengobatan (pada sifilis primer atau skunder, namun jarang terjadi pada sifilis tersier) akibat lisis treponema dan harus dibedakan bukan merupakan reaksi terhadap antibiotik. Biasanya penatalaksanaannya dengan pemberian antihistamin dan antipiretik.

from web source.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s